Perkuliahan

Halaman ini berisi silabus perkuliahan bimbingan dan konseling, materi perkuliahan, pesan dan tugas-tugas untuk mahasiswa.

Responses

  1. KOMUNIKASI NON VERBAL

    MAKALAH
    Untuk memenuhi tugas mata kuliah
    Keterampilan Dasar Komunikasi
    Yang dibina oleh Drs. Lutfi Fauzan, M. Pd.

    OLEH KELOMPOK 2:

    BTARI INDRA SAVITRI ( 208 111 415 652 )
    IMAM AGUNG HARIYADI ( 208 111 415 676 )
    JAMI’ATUL ROHMAH ( 208 111 411 602 )
    MEGAWATI PRATIWI ( 208 111 411 594 )
    ROYEN DYANASTA ( 208 111 415 662 )

    UNIVERSITAS NEGERI MALANG
    FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
    JURUSAN BIMBINGAN KONSELING DAN PSIKOLOGI
    PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
    Oktober 2009

    KATA PENGANTAR

    Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan karunia dan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulisan makalah ini dapat diselesaikan dengan baik.
    Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak, baik yang berupa saran, kritik, bimbingan maupun bantuan lainnya. Penulis menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
    1.Bapak Lutfi Fauzan yang telah memberikan bimbungan dan pengarahan dalam penulisan makalah ini.
    2.Orang Tua yang selalu memberikan doa dan dukungan.
    3.Teman-teman yang telah membantu dalam penulisan makalah ini.
    Semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat dan karuniaNya kepada semua pihak yang telah membantu dan memberikan motivasi serta bimbingan kepada penulis.
    Demikian penulisan makalah ini, penulis menyadari banyak keterbatasan dan kekurangan pada di dalamnya. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi peningkatan wawasan kami dalam memberikan penulisan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat pada semua pihak.

    Malang, Oktober 2009

    Penulis

    DAFTAR ISI

    Halaman
    KATA PENGANTAR i
    DAFTAR ISI ii

    BAB I PENDAHULUAN
    1.1 Latar belakang 1
    1.2 Rumusan Masalah 1
    1.3 Tujuan .. 1

    BAB II PEMBAHASAN
    2.1Pengertian Komunikasi Non Verbal 2
    2.2Fungsi Komunikasi Non Verbal 2
    2.3Klarifikasi Pesan Non Verbal 4
    2.4Bahasa Tubuh 4
    2.5Ruang, Kewilayahan, dan Komunikasi Sentuhan 8
    2.6Implikasi Komunikasi Non Verbal Terhadap Bimbingan dan Konseling 11

    BABA III PENUTUP
    3.1Kesimpulan 12
    3.2Saran 12

    DAFTAR PUSTAKA

    LAMPIRAN :
    Laporan Hasil Presentasi Kelompok 2

    BAB I
    PENDAHULUAN

    1.1Latar Belakang
    Komunikasi non verbal sering kali kita lakukan pada kegiatan sehari-hari, tetapi kita belum terlalu memahami bagaimana komunikasi non verbal tersebut terjadi. komukasi non verbal mempunyai peranan yang sangat besar bagi perkembangan komunikasi terutama bagi orang yang mempunyai kekurangan dalam berkomunikasi seperti orang tuna rungu dan lain-lain.
    Komunikasi nonverbal juga berguna dalam proses belajar mengajar juga dalam kehidupan sehari-hari oleh karena itu kita harus lebih memahami apa yang dimaksud dengan komunikasi non verbak sehingga kita dapat lebih terampil dan memanfaatkan komunikasi non verbal secara tepat. dari berbagai fungsi dan manfaat komunikasi non verbal sangat diperlukan da membantu kegiatan bimbingan dan konseling. komunikasi ini sangat mempengaruhi keberhasilan dari kegiatan konseling.
    1.2 Rumusan Masalah
    1.2.1 Apa pengertian komunikasi non verbal ?
    1.2.2 Apa fungsi komunikasi non verbal ?
    1.2.3 Apa saja klarifikasi komunikasi non verbal ?
    1.2.4 Apa yang dimaksud dengan bahasa tubuh ?
    1.2.5 Bagaimana ruang kewilayahan dan komunikasi sentuhan ?
    1.2.6 Bagaimana implikasi komunikasi non verbal terhadap BK?
    1.3 Tujuan
    1.3.1 Untuk memahami pengertian komunikasi non verbal.
    1.3.2 Untuk mengetahui fungsi dari komunukasi non verbal.
    1.3.3 Untuk mengetahui klarifikasi komunikasi non verbal.
    1.3.4 Untuk mengetahui yang dimaksud dengan bahasa tubuh.
    1.3.5 Untuk mengetahui ruang kewilayahan dan komunikasi sentuhan.
    1.3.6 Untuk mengetahui implikasi komunikasi non verbal terhadap BK.

    BAB II
    PEMBAHASAN

    2.1PENGERTIAN KOMUNIKASI NONVERBAL
    Komunikasi nonverbal adalah proses komunikasi dimana pesan disampaikan tidak menggunakan kata-kata. Contoh komunikasi nonverbal ialah menggunakan gerak isyarat, bahasa tubuh, ekspresi wajah dan kontak mata, penggunaan objek seperti pakaian, potongan rambut, dan sebagainya, simbol-simbol, serta cara berbicara seperti intonasi, penekanan, kualitas suara, gaya emosi, dan gaya berbicara.
    Para ahli di bidang komunikasi nonverbal biasanya menggunakan definisi “tidak menggunakan kata” dengan ketat, dan tidak menyamakan komunikasi non-verbal dengan komunikasi nonlisan. Contohnya, bahasa isyarat dan tulisan tidak dianggap sebagai komunikasi nonverbal karena menggunakan kata, sedangkan intonasi dan gaya berbicara tergolong sebagai komunikasi nonverbal. Komunikasi nonverbal juga berbeda dengan komunikasi bawah sadar (reflek) yang dapat berupa komunikasi verbal ataupun nonverbal.

    2.2FUNGSI KOMUNIKASI NONVERBAL
    Meskipun secara teoritis komunikasi nonverbal dapat dipisahkan dari komunikasi verbal, dalam kenyataan kedua jenis komunikasi itu jalin menjalin dalam komunikasi tatap muka sehari-hari. Istilah nonverbal biasanya digunakan untuk melukiskan semua peristiwa komunikasi diluar kata-kata terucap dan tertulis.
    Perbedaan pokok antara komunikasi verbal dengan nonverbal :
    1.Sementara perilaku verbal adalah saluran tunggal, perilaku nonverbal bersifat multisaluran. Kata-kata dating dari satu sumber, misalnya yang diucapkan orang yang kitabaca dalam media cetak, tetapi isyarat nonverbal dapat dilihat, didengar, dirasakan, dibaui, atau dicicipi dan beberapa isyarat boleh jadi berlangsung secara simultan. Bila kita mendengar suatu kata dalam bahasa asing yang tidak kita ketahui, kita dapat memeriksanya dalam kamus atau buku tentang frase dan memperkirakan apa yang dimaksud pembicara. Kita dapat pula meminta pembicara mengulangi dan menjelaskan kata yang diucapkannya. Namun, kita sulit mengecek apa makna perilaku nonverbal pembicara, Meskipun kita bisa mengajukan pertanyaan ganjil, “Anda baru saja tersenyum dan menggerakkan kepala anda seperti ini; Apa maksud anda?”
    2.Pesan verbal terpisah-pisah, sedangkan pesan nonverbal sinambung. Artinya orang dapat mengawali dan mengakhiri pesan verbal kapan pun ia mengkehendakinya, sedangkan pesan nonverbalnya tetap “mengalir”, sepanjanga ada orang yang hadir di dekatnya. Ini mengingatkan kita pada salah satu prinsip komunikasi bahwa kita tidak dapat tidak berkomunikasi; setiap perilaku punya potensi untuk ditafsirkan. Jadi meskipun anda dapat menutup saluran linguistic anda untuk berkomunikasi dengan menolak berbicara atau menulis, anda tidak mungkin menolak berperilaku nonverbal.
    3.Komunikasi nonverbal lebih banyak mengandung muatan emosional daripada komunikasi verbal. Sementara kata-kata umumnya digunakan untuk menyampaikan fakta, pengetahuan atau keadaan, pesan nonverbal lebih potensial untuk menyatakan perasaan seseorang, yang terdalam sekalipun, seperti rasa sayang atau rasa sedih. Ketika lamaran kerja anda ditolak, anda mungkin berkata ”Tidak apa-apa“,tetapi ekspresi wajah dan pandangan mata anda boleh jadi menunjukkan kekecewaan yang mendalam.

    Lebih jauh lagi, dalam hubungannya dengan perilaku vebal, perilaku nonverbal memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut :
    Perilaku nonverbal dapat mengulangi perilaku verbal, misal anda menganggukan kepala ketika anda mengatakan “Ya” atau menggelengkan kepala ketika mengatakan “Tidak”. Atau menunjukkan arah kemana seseorang harus pergi untuk menemukan WC.
    Memperteguh, menekankan atau melengkapi perilaku verbal. Misalnya anda melambaikan tangan anda seraya mengucapkan ”Selamat jalan” atau sering disebut affect display.
    Perilaku nonverbal dapat menggantikan perilaku verbal, jadi berdiri sendiri, misalnya anda menggoyangkan tangan anda dengan telapak tangan mengarah ke depan (sebagai pengganti kata Tidak) ketika seorang pengamen mendatangi mobil anda.
    Perilaku nonverbal dapat meregulasi perilaku verbal. Misalnya anda sebagai mahasiswa membereskan buku-buku atau melihat jam tangan anda menjelang kuliah berakhir, sehingga dosen segera menutup kuliahnya.
    Perilaku nonverbal dapat membantah atau bertentangan dengan perilaku verbal. Misalnya seorang dosen melihat jam tangannya dua-tiga kali, padahal ia tadi mengatakan bahwa ia mempunyai waktu untuk berbicara dengan anda sebagai mahasiswanya.

    2.3KLARIFIKASI PESAN NONVERBAL
    Jurgen Ruesch mengklarifikasikan isyarat nonverbal menjadi tiga bagian :
    Bahasa tanda : Acungan jempol untuk menumpang mobil secara gratis; bahasa isyarat tuna rungu
    Bahasa tindakan : Semua gerakan tubuh yang tidak digunakan secar eklusif untuk memberikan sinyal, misalnya berjalan.
    Bahasa objek : Pertunjukan benda, pakaian dan lambang nonverbal bersifat publik lainnya seperti ukuran ruangan, bendera, lukisan, musik dan lain sebagainya secara sengaja atau tidak.
    Larry A. Samovar dan Ricard E. Porter membagi pesan-pesan nonverbal menjadi dua kategori verbal :
    Perilaku yang terdiri dari penampilan dan pakaian, gerakan dan postur tubuh, ekspresi wajah, kontak mata, sentuhan , bau-bauan, dan parabahasa
    Ruang, waktu, dan diam.

    2.4BAHASA TUBUH
    Isyarat Tangan
    Kiata sering menyertai ucapan kita dengan isyarat tangan. Isyarat tangan atau “berbicara dengan tangan” termasuk apa yang disebut emblem yang dipelajari, yang punya makna dalam suatu budaya atau subkultur. Meskipun isyarat tangan yang digunakan sama, maknanya boleh jadi berbeda, namun maksudnya sama. Untuk menunjuk diri sendiri (“Saya!” atau “Saya?”), seperti juga orang Kenya dan orang Korea Selatan, orang Indonesia menunjuk dadanya dengan telapak tangannya atau telunjuknya, sedangkan orang Jepang menunjuk hidungnya dengan telunjuk.
    Penggunaan isyarat tangan dan maknanya jelas berlainan dari budaya ke budaya. Meskipun di beberapa negara, telunjuk digunakan untuk menunjukkan sesuatu, hal itu tidak sopan di Indonesia seperti juga di banyak negeri di Timur Tengah dan Timur Jauh. Tentu saja selalu ada pengecualian. , Orang Batak seperti orang Amerika biasa menunjuk dengan telunjuk tanpa bermaksud kasar pada orang yang dihadapinya. Begitu juga orang Betawi yang tidak jarang menunjuk dengan memonyongkan mulut sambil berucap : “Kesono-no!”. Beberapa suku Afrika menunjuk dengan mencibirkan bibir bawah menganggap cara menunjuk Amerika sebagai kasar.
    Di Amerika, seperti di Belanda orang memanggil orang lain (“Kesini!”) untuk mendekat dengan satu jari atau semua jari dengan telapak tangan menghadap ke atas, sementara tangannya bergerak ke arah pemanggil. Di banyak Negara di Asia, Mediterania dan Amerika Selatan, memenggil orang lain dengan melengkungkan tangan dengan telapak tangan menghadap ke bawah dan gerakan tangannya berlawanan arah dengan cara Amerika. Orang Indonesia yang memenggil orang Amerika dengan cara Indonesiasering dianggap “melambaikan tangan untuk berpisah” oleh orang Barat sehingga yang dipanggil malah pergi.Kebingungan atau kesalahpahaman dapat terjadi bila kita tidak menyadari makna cultural yang melekat pada isyarat-isyarat tangan tersebut.

    Gerakan Kepala
    Di beberapa Negara, anggukan kepala malah berarti “tidak” seperti di Bulgaria, sementara isyarat untuk “ya” di Negara itu adalah menggelengkan kepala. Orang Inggris seperti orang Indonesia, menganggukan kepala yang berarti mereka mendengar, dan tidak berarti menyetujui.
    Di beberapa wilayah di India dan Ceylon, “ya” dapat dikomunikasikan dengan melemparkan kepala ke belakang dan memutar leher sedikit, dengan menyentakan kepala ke bawah-kanan, atau memutar kepala secara cepet dalam suatu gerakan melingkar.

    Postur Tubuh dan Posisi Kaki
    Postur tubuh sering bersifat simbolik. Beberapa postur tubuh tertentu diasosiasikan dengan status sosial dan agama tertentu. Selama berabad-abad rakyat tidak boleh duduk lebih tinggi daripada (kaki) raja atau kaisarnya.
    Cara berdiri atau dduduk sering dimaknai berbeda di tiap negara. Tamu harus menundukkan kepala ketika bertemu dengan Dalai Lama di Tibet, jangan menatap matanya, jangan menyentuhnya, dan baru bicara setelah Dalai Lama berbicara. Dalam banyak budaya, orang yang berdiri dipandang berwibawa daripada orang yang duduk, sebagaimana orang tinggi dipersepsikan lebih dominan daripada orang yang pendek.
    Cara berjalan tampaknya dapat dikategorikan menjadi cara berjalan yang maskulin atau feminim. Misalnya di Indonesia, sering membawa buku kuliahnya dengan tangan di depan dada. Kita akan memnganggap perilaku mahasiswi yang demikian sebagai feminim,

    Ekspresi Wajah dan Tatapan Mata
    Banyak orang yang menganggap perilaku nonverbal yang paling banyak “berbicara” adalah ekspresi wajah, khususnya pandangan mata, Meskipun mulut tidak berkata-kata. Menurut Albert Mehrabian, andil wajah bagi pengaruh pesan adalah 55% sementara vocal 30%, dan verbal hanya 7%. Menurut Birdwhistell, perubahan sangat sedikit saja dapat menciptakan perbedaan yang besar. Ia menemukan misalnya terdapat 23 cara berbeda dalam mengangkat alis yang masing-masing mempunyai makna yang berbeda.
    Kontak mata mempunyai dua fungsi dalam komunikasi antar pribadi. Pertama, fungsi pengatur, untuk memberi tahu orang lain apakah anda akan melakukan hubungan dengan orang itu atau menghindarinya. Kedua, fungsi ekspresif, memberi tahu orang lain bagaimana perasaan anda terhadapnya.
    Di banyak Negara seperti Amerika Latin dan kepulauan Karibia, tidaklah sopan menatap orang asing. Di Indonesia dan Spanyol, wanita terhormat tidak akan membalas tatapan kaum pria, apalagi di negeri muslim seperti Arab Saudi, Iran, dan Pakistan.
    Orang Amerika Serikat terbiasa memandang orang lainuntuk menunjukkan niat baik. Mereka menganggap orang yang tidak menatap lawan bicara sebagai, mencurigakan, tidak jujur, mau menipu, merasa bersalah, gugup, atau rendag diri. Orang Inggris terdidik menganggap menatap lawan bicara sebagai perilaku mendengarkan yang baik dan mereka mengedipkan mata untuk menunjukkan bahwa mereka mengerti, sedangkan orang Amerika menganggukan kepala atau mengeluarkan sejenis gumaman, namun tatapan mereka terhadap lawan bicara tidak semantaap orang Inggris.
    Secara umum dapat dikatakan bahwa makana ekspresi wajah dan pandangan mata tidaklah universal, melainkan sangat dipengaruhi oleh budaya. Dalam suatu budata pun terdapat kelompok-kelompok yang menggunakan ekspresi wajah secara berbeda dengan budaya dominan. Pearson, West dan Turner melaporkan bahwa dibandingkan dengan pria, wanita menggunakan lebih banyak ekspresi wajah dan lebih ekspresif, lebih cenderung membalas senyum dan lebih tertarik pada orang lain yang tersenyum.

    Dilihat dari fungsinya, Paul Ekman menyebutkan lima fungsi pesan nonverbal, seperti yang dapat dilukiskan dengan perilaku mata, yakni sebagai berikut :
    Emblem : Gerakan mata tertentu merupakan simbol yang memiliki kesetaraan dengan simbol verbal. Kedipan mata dapat mengatakan ”Saya tidak sungguh-sungguh”
    Ilustrator : Pandangan kebawah dapat menunjukkan depresi atau kesedihan.
    Regulator : Kontak mata berarti saluran percakapan terbuka. Memalingkan menandakkan ketidaksediaan berkomunikasi.
    Penyesuai : Kedipan mata cepat meningkat ketika orang berada dalam tekanan. Itu merupakan respon tidak disadari yang merupakan upaya tubuh untuk mengurangi kecemasan.
    Affect Display : Pembesaran manik mata (pupil dilation) menunjukkan peningkatan emosi. Isyarat wajah lainnya menunjukkan perasaan takut, terkejut atau senang

    2.5RUANG, KEWILAYAHAN DAN KOMUNIKASI SENTUHAN
    1)Komunikasi Ruang
    Penggunaaan ruang mengungkapkan diri kita sejelas dan sepasti kata-kata dan kalimat. Pembicara yang berdiri di dekat pndengarnya, dengan tangan berada di bahu pendengar dan matanya menatap langsung ke pendengar mengkomunikasikan sesuatu yang sangat berbeda dengan pembicara yang duduk mendekam di pojok ruangan dengan tangan terlipat dan mata melihat lantai.
    2)Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi Ruang
    Status : Orang dengan status setara menjaga jarak yang lebih dekat diantara mereka ketimbang orang dengan status yang berbeda. Bila status tidak sama, orang dengan status yang lebih tinggi mungkin mendekati orang yang berstatus lebih rendah lebih rapat ketimbang orang dengan status lebih rendah mendekati orang yang berstatus lebih tinggi.
    Kultur : Orang Amerika berdiri cukup jauh bila sedang bercakap-cakap, setidaknya jika dibandingkan dengan orang Eropa tertentu dan orang Timur Tengah. Orang Arab misalnya, berdiri cukup dekat satu sama lain ketimbang orang Amerika. Orang Italia dan Spanyol mengambil jarak yang relatif berdekatan bila berinteraksi ketimbang banyak orang Eropa Utara.
    Konteks : Umumnya, makin besar ruang fisik kita berada makin kecil jarak antarpribadi. Jadi misalnya, jarak antara dua orang yang berbincang-bincang di jalan akan lebih kecil ketimbang di rumah. Jarak ini akan lebih kecil di ruangan yang besar ketimbang di ruangan yang kecil. Makin besar ruangan kelihantanya kita perlu saling mendekatkan diri untuk membuat konteks komunikasi terkendali.
    Masalah yang dibahas : Jika kita sedang membicarakan masalah pribadi atau sedang berbagi rahasia, kita mengambil jarak yang dekat. Bila kita membicarakan hal-hal yang umum yang tidak pribadi, jarak yang kita ambil biasanya lebih besar. Secara psikologis kita berusaha mencegah orang lain ikut mendengarkan meskipun secara fisik tidak seorangpun yang berada dalm jarak pendengaran.
    Usia dan jenis kelamin : Wanita berdiri lebih berdekatan antara satu sama lain ketimbang pria. Pasangan dari jenis kelamin yang berbeda berdiri berjauhan. Demikian pula, kultur Amerika lebih memungkinkan kaum wanita saling menyentuh satu sama lain ketimbang kaum pria dan pasangan pembicara-pendengar yang berlainan jenis.
    Evaluasi positif dan negatif : Kita berdiri berjauhan dari musuh ketimbang dari kawan, dan orang yang berstatus lebih tinggi ketimbang rekan sejawat. Kita menjaga jarak yang lebih jauh antara diri kita dan orang-orang yang secara tidak sadar kita nilai negatif.
    3)Kewilayahan
    Salah satu konsep yang paling menarik dalam etologi adalah kewilayahan. Luas dan lokasi wilayah manusia juga menggambarkan status. Kantor di daerah segitiga emas di Jakarta misalnya, merupakan wilayah yang sangat bergensi. Mahalnya wilayah ini membuat hanya merekalah yang mempunyai uang banyak yang mampu memasukinya.
    Status juga diisyaratkan oleh hukum yang tidak tertulis yang memberikan hak untuk invasi. Orang dengan status yang lebih tinggi mempunyai hak yang lebih besar untuk memasuki wilayah pihak lain ketimbang sebaliknya. Misalnya, direktur sebuah perusahaan besar, dapat memasuki wilayah seorang eksekutif muda dengan memasuki ruang kantornya, tetapi hal sebaliknya tentu tidak pernah terbayangkan.
    Beberapa periset mengatakan bahwa sifat kewilayahan merupakan sifat bawaan dan membuktikan sifat bawaan agresif dari manusia. Periset lain mengatakan bahwa kewilayahan merupakan perilaku yang dipelajari dan didasarkan pada kultur. Tetapi sebagaian besar sependapat banyak sekali perilaku manusia yang dapat dipahami dan dijelaskan sebagai sifat kewilayahan, dari manapun asalnya.
    4)Komunikasi Sentuhan
    Stanley Jones dan Elaine Yarbrough (1985) mengidentifikasikan lima makna sentuhan utama sebagai berikut :
    Afeksi positif : Sentuhana dapat mengkomunikasikan emosi positif. Ini utamanya terjadi antara pasangan intim atau semacamnya yang memiliki hubungan yang relatif dekat. Menurut Desmond Morris (1972), ”Sentuhan merupakan sisitem saraf yang ampuh, dan ian begitu erat berkaitan dengan perasaan emosional diantara kita sehingga dalam penjumpaan biasan sentuhan ini dilakukan pada tingkat minimum. Bila hubungan berkembang, sentuhan juga ikut berkembang.
    Bercanda : Sentuhan sering kali mengkomunikasikan keinginan kita untuk bercanda, dengan perasaan kasih sayang ataupun secara agresif. Bila kita mengkomunikasikan afeksi atau agresi dengan cara bercanda, emosi akan kendur dan ini mengisyaratkan kepada orang lain untuk tidak memandangnya terlalu serius. Sentuhan canda memeriahkan interaksi.
    Mengarahkan/mengendalikan : Sentuhan mungkin juga mengarahkan perilaku, siakap atau perasaan orang lain. Pengarahan demikian dapat mengkomunikasikan sejumlah pesan. Misalnya, dalam bentuk perintah, kita menyentuh orang lain untuk mengkomunikasikan ”pindahlah” dan ”kerjakan”
    Ritual : Sentuhan ritualistik terpusat pada salam dan perpisahan. Menjabat tangan untuk mengatakan ”halo” atau ”sampai jumpa” merupakan contoh yang jelas dari sentuhan ritualistik. Sentuhan ritual yang meliputi pelukan, ciuman atau meletakkan lengan anda di bahu orang lain ketika memberi salam dan mengucapkan selamat berpisah.
    Keterkaitan dengan tugas : Sentuahan yang berkaitan dengan tugas dilakukan sehubungan pelaksanaan fungsi tertentu. Ini dapat bermacam-macam mulai dari membantu seseorang keluar dari mobilnya atau menyentuh dahi seseorang untuk mengetahui apakah ia panas.

    2.6IMPLIKASI KOMUNIKASI NON VERBAL TERHADAP BIMBINGAN DAN KONSELING.
    Komunikasi non-verbal sangat penting dikarenakan komunikasi non-verbal dapat memperkuat dan memperjelas/melengkapi komunikasi verbal. Komunikasi nonverbal juga merupakan penggambaran emosi yang tidak dapat di ungkapkan dalam komunikasi verbal. Hal itu dikarenakan komunikasi nonverbal tidak dapat dipisahkan ( jalin menjalin) dengan komunikasi verbal. Komunikasi nonverbal dapat digunakan kapan saja dan oleh siapa saja termasuk orang-orang yang memiliki kelainan fisik. Serta saat seseorang itu sulit menggungkapkan perasaan melalui komunikasi verbal.
    Tidak selalu komunikasi non verbal dapat mencerminkan keinginan hati dikarenakan setiap orang dapat saja bermain peran dengan menutupi keadaan hati sebenarnya demi keprofesionalitasan bermain perannya. Sebagai contoh seorang KONSELOR yang harus dapat mengesampingkan kehidupan pribadinya saat sedang menghadapi KONSELI. Seorang konselor bermain peran dengan menutupi keadaan kehidupan pribadinya seberat apapun masalah yang sedang dihadapi demi tujuan yang ingin dicapai dalam proses konseling. Dan seorang konselor diharapkan mampu mengetahui landasan sosial budaya komunikasi non verbal dimana komunikasi itu berlangsung agar proses konseling berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

    BAB III
    PENUTUP

    3.1KESIMPULAN
    Komunikasi non verbal merupakan komunikasi dengan menggunakan bahasa isarat baik dengan bahasa tubuh maupun dengan gerakan tangan. komunikasi ini sangat perlu dimengerti oleh konselor untuk lebih memahami peserta didik atau konseli agar dapat menentukan dengan tepat cara dalam melaksanakan kegiatan Bimbingan dan Konseling.

    3.2 SARAN
    Dengan adanya makalah ini diharapkan mahasiswa dapat meningkatkan pemahaman akan pentingnya Komunikasi non verbal dalam proses konseling.
    Diharapkan mahasiswa dapat menerapkan Komunikasi non verbal dalam memperlancar praktek konseling.

    DAFTAR PUSTAKA

    Mulyana, deddy. 2004. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar . Bandung: PT Remaja Rosdakarya
    Siahaan, S.M. 1990. Komunikasi Pemahamannya dan Penerapannya. Jakarta: PT BPK Gunung Muliya
    Widjaja, H. A .2000. Ilmu Komunikasi: Pengantar Studi. Jakarta : Rineka Cipta

    LAMPIRAN:

    LAPORAN HASIL PRESENTASI KELOMPOK 2
    MATA KULIAH KETERAMPILAN DASAR KOMUNIKASI
    Selasa, 13 Oktober 2009

    NAMA KELOMPOK :

    BTARI INDRA SAVITRI ( 208 111 415 652 )
    IMAM AGUNG HARIYADI ( 208 111 415 676 )
    JAMI’ATUL ROHMAH ( 208 111 411 602 )
    MEGAWATI PRATIWI ( 208 111 411 594 )
    ROYEN DYANASTA ( 208 111 415 662 )

    Pertanyaan dan Jawaban :
    1.Pertanyaan dari DEKA kelompok 10 :
    Seberapa penting komunikasi non-verbal dan kapan komunikasi non-verbal itu digunakan?
    Jawaban dari MEGA:
    Komunikasi non-verbal sangat penting dikarenakan komunikasi non-verbal dapat memperkuat dan memperjelas/melengkapi komunikasi verbal. Komunikasi nonverbal juga merupakan penggambaran emosi yang tidak dapat di ungkapkan dalam komunikasi verbal. Hal itu dikarenakan komunikasi nonverbal tidak dapat dipisahkan ( jalin menjalin) dengan komunikasi verbal. Komunikasi nonverbal dapat digunakan kapan saja dan oleh siapa saja termasuk orang-orang yang memiliki kelainan fisik. Serta saat seseorang itu sulit menggungkapkan perasaan melalui komunikasi verbal.

    2.Pertanyaan dari ASTRIA kelompok 6 :
    Seberapa efektifkah komunikasi non verbal itu digunakan dibanding komunikasi verbal?
    Jawaban dari ROYEN & BTARI:
    Pada dasarnya komunikasi verbal dengan komunikasi non verbal itu saling berhubungan. Setiap kita melakukan interaksi dengan orang lain, dan dalam proses interaksi tsb kita menggunakan komunikasi verbal, secara sadar maupun tidak sadar dalam proses komunikasi tsb pasti terdapat komunikasi non verbal. Entah itu dengan menggunakan bahasa tubuh, gerakan kepala, ekspresi wajah, dll. Ibarat perumpamaan sayur akan terasa hambar tanpa ada garam. Seperti pula dalam proses komunikasi akan terasa tidak lengkap tanpa komunikasi non verbal. Selain itu pula komunikasi non verbal akan terasa sangat efektif apabila kita sedang berinteraksi dengan saudara-saudara kita yang mengalami keterbatasan fisik. Seperti yang kita ketahui satu-satunya jalan kita bisa berinteraksi dengan orang yang mengalami cacat fisik seperti tuna rungu, tuna wicara, dll, adalah menggunakan bahasa isyarat atau komunikasi non verbal. Sehingga proses komunikasi bisa berjalan efektif.

    3.Pertanyaan dari NANDA kelompok 3 :
    Apakah bisa 1 contoh komunikasi non verbal menjadi 2 arti?
    Jawaban dari JAMI’ :
    Ya bisa, karena komunikasi non verbal juga dipengaruhi oleh budaya dimana komunikasi tsb digunakan. Contohnya saja di beberapa Negara, anggukan kepala malah berarti ”TIDAK” seperti di Burgaria, sementara isyarat untuk ”YA” di Negara itu adalah menggelengkan kepala. Orang Inggris seperti orang Indonesia, menganggukkan kepala yang berarti mereka mendengar, dan tidak berarti menyetujui. Itulah salah satu contoh komunikasi non verbal yang dapat memiliki arti yang berbeda.

    4. Pertanyaan dari AUNUR RAFIQ kelompok 5 :
    Apakah komunikasi non verbal selalu mencerminkan keinginan hati? Jika digunakan terus menerus efektifkah dan punya pengaruh baik atau burukkah?
    Jawaban dari BTARI & MEGA :
    Tidak selalu komunikasi non verbal dapat mencerminkan keinginan hati dikarenakan setiap orang dapat saja bermain peran dengan menutupi keadaan hati sebenarnya demi keprofesionalitasan bermain perannya. Sebagai contoh seorang KONSELOR yang harus dapat mengesampingkan kehidupan pribadinya saat sedang menghadapi KONSELI. Seorang konselor bermain peran dengan menutupi keadaan kehidupan pribadinya seberat apapun masalah yang sedang dihadapi demi tujuan yang ingin dicapai dalam proses konseling. Dan masalah efektifitas serta pengaruh yang ditimbulkan semua tergantung situasi dan kondisi saat komunikasi tersebut berlangsung.

  2. model konseling tolong d uraikan 1 persatu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: