Khutbah Idul Adha 1435

MENDULANG ASA DI TENGAH RERUNTUHAN IMAN
MENITI TAUHID LAHIRKAN KEHIDUPAN LUHUR BERCITRA QUR’ANI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ اَنْزَلَ الْعِيْدَ مِنْ اَكْبَرِ شَعَآ ئِرِ الاِسْلاَمِ …

اَللهُ اَكْبَر Getar membahana suara takbir di hamparan mayapada, sujud-bertasbih jiwa semesta, berkesadaran luhur ungkapkan puja-puji Kebesaran Ilahi, berbukti pada maha karya-cipta di jagad raya, Tak layak diri-insani sombong bersaing kebesaran.
لآ اِلهَ اِ لاَّ الله, Lirih-merdu alunan tahlil di segenap penjuru kehidupan, mengetuk iba sukma yang mati dibelenggu dosa penggadaian iman, tuntutan nafsu dipertuhankan, mata rantai bencana dan kesulitan sebagai tanda kasih Ilahi lahan peringatan, kiranya tumbuhkan benih kesadaran merakit iman tegakkan pondasi tauhid sebagai pilar kehidupan
وَلله الْحَمْدُ, syahdu mendayu lantunan tahmid paparkan keterpujian Ilahi pada rancangan penciptaan semesta, tumbuh-berkembang dalam keselarasan dan keteraturan, berhias kedamaian tanpa keingkaran pertanda kepatuhan pada sunnatullah. Ketakjuban menggugah sanubari ungkapkan kata: Masyaallah, la quwwata illa billah.

Ma’asyiral Muslimin-muslimat rha,
Kita bersyukur kepada Allah, yang tiada henti-hentinya melimpahkan rahmat dan nikmat-Nya untuk kita semua dan seluruh mahkluqnya. Khususnya pada hari nahr, 10 Dzulhijjah ini, Allah menjamu hamba-hamba-Nya di hari yang dimuliakan-Nya dengan kenikmatan ampunan dan pahala berlipat-ganda, yakni bagi hamba yang telah mendaya-manfaatkan kesempatan yang disediakan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, melalui serangkaian proses ibadah bertaqarrub, mendekatkan diri kepada Allah.

Melalui dzikir yang dianjurkan di hari-hari Allah itu, hantarkan jiwa di keheningan perenungan suci, sesaat berefleksi diri, tumbuhkan kesadaran hati, tersingkaplah makna kesejatian insani sebagai hamba Allah berkeadaan lemah, hina tak berdaya arti. Kesadaran demikian tumbuhkan pemahaman, keyaqinan, & ketunduk-patuhan secara total kepada Allah. Tercapai pula kesadaran, lagak laku sombong di muka bumi, demontrasi pembangkangan di hadapan Allah tiadalah layak bagi hamba. Pantaslah bagi sang hamba ungkapan takbir, tahlil dan tahmid sebagai dorongan mulia dari kesadaran luhur sebagai ungkapan syukur puja dan puji pada Ilahi Rabbi atas limpahan rahmat yang didekatkan-Nya.
Bagaimanakah dengan muslim yang datang berduyun-duyun dalam satu barisan di tanah lapang mushalla dan masjid? Takbir, tahlil dan tahmid dikumandangkan, apakah sekedar ucapan, komat-kamit membasahi bibir tanpa pengertian dan kesadaran? sungguh merugilah jika demikian halnya. Sebaliknya dalam harapan dan niatan suci, semoga gerak langkah kaki kaum muslimin dan muslimat yang datang berduyun-duyun menuju tanah lapang mushalla dan masjid-masjid disertai kumandang takbir, tahlil dan tahmid untuk bersholat Id, tak terkecuali kita di tempat dan saat ini, semata-mata didorong niat luhur bersimpuh di hadapan Allah dengan segala kerendahan dan kehinaan diri, sebagai perwujudan rasa syukur atas limpahan karunia rahmat Ilahi Rabbi.

Ma’asyiral Muslimin-muslimat rahimakumullah
Pelaksanaan hari raya bagi ummat Islam memiliki dua dimensi yang satu sama lain tidak terpisahkan, dimensi robbaniyah dan dimensi insaniyyah. Robbaniyah dengan berbagai rangkaian ibadah pendekatan diri kepada Allah sedangkan insanniyah sebagai sarana berbagi kasih yang salah satunya dengan syariat qurban. Betapa luhur-paripurna nilai ajaran kehidupan yang diberikan Allah kepada ummat manusia. Semua terukir dalam sejarah kemanusiaan yang telah ditempuh oleh manusia-manusia pilihan khususnya Nabiyullah Ibrahim as beserta keluarganya lanjut-bersambung hingga Nabi Muhammad saw, yang dengan perjuangan dan pengorbanannya berhasil menancapkan sendi-sendi keimanan tauhid di dada ummatnya. Kepatuhan dan pengorbanan yang dilakukan Nabiyullah Ibrahim dan keluarganya, menjadikannya pelajaran untuk membangkitkan semangat kesadaran menempuh jalan kehidupan dengan segala tantangan dan romantikanya.

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ
Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada diri Ibrahim (QS.60:4)
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang menjadi teladan kepatuhan kepada Allah lagi hanif. dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang musyrik (QS.16:120

Pengorbanan merupakan modal utama melahirkan pondasi tauhid yang mengokohkan tegaknya pilar-pilar keimanan sehingga terbentuklah bangunan utuh masyarakat makmur dengan mental yang luhur. Peletakan pondasi keimanan tauhid di dalam kehidupan keluarga dengan naungan atap akhlaq indah-terpuji, dapat merubah keadaan yang semula hamparan padang pasir tandus menjadi makmur. Tidakkah kita perhatikan betapa luar biasanya pengaruh tauhid di dalam pribadi seorang beriman, dari ketauhidan melahirkan jiwa yang fithrah, dari kefithrahan melahirkan mata air pertanda kesubur-makmuran suatu hunian.

Sejenak mari kita menapaktilasi ringkas perjalanan Nabi Ibrahim as dan keluarganya. Suatu hari, Beliau mengajak isterinya menempuh perjalanan.dengan membawa bayinya. Perjalanan panjang ditempuh melintasi pepohonan, padang rumput, bebatuan dan padang pasir sampai akhirnya masuk jazirah Arab. Ibrahim menuju ke sebuah lembah yang tidak ditumbuhi tanaman dan tidak ada mata air, suatu daerah yang tidak ada kehidupan di dalamnya. Di tempat itu beliau turun dari punggung hewan tunggangannya, kemudian menurunkan istri dan anaknya. Tanpa berkata-kata beliau meninggalkan istri dan anaknya dengan bekal sekantung makanan dan sedikit air yang tidak cukup untuk dua hari. Setelah melihat kiri dan kanan beliau meninggalkan tempat itu.

Tentu saja Siti hajar terperangah diperlakukan demikian, dia membuntuti suaminya dari belakang sambil bertanya“Ibrahim hendak ke mana engkau?” Apakah engkau akan meninggalkan kami di lembah sepi tak perpenghidupan ini? Ibrahim as tidak menjawab pertanyaan istrinya. Beliau terus saja berjalan, Siti hajar kembali mengulangi pertanyaannya, tetapi Ibrahim as tetap membisu. Akhirnya Siti hajar paham (tanggap ing sasmito) bahwa suaminya pergi bukan karena kemauannya sendiri. Dia mengerti bahwa Allah memerintahkan suaminya untuk pergi. Maka kemudian dia bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkanmu untuk pergi meninggalkan kami?” Ibrahim menjawab, “benar“. mendengar jawaban itu spontan Siti Hajar berkata,” baiklah, pasti Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.” Ibrahim pun terus berjalan meninggalkan mereka.

Perhatikanlah keyakinan mereka kepada Allah SWT, bahwa selagi mereka merasa punya Allah, bersama Allah, dalam lindungan Allah, pasti tidak akan tersia-siakan. Kita lihat sekarang pada banyaknya manusia yang frustasi, stres, depresi, merasa menderita dalam kehidupan ini bukan karena sedikitnya nikmat yang Allah berikan kepada mereka melainkan karena lemahnya keyakinan kepada Allah dan sedikitnya husnu dzon (berbaik sangka) kepada Allah. Sedikit ketemu persoalan sudah nglokro, menghadapi masalah dengan aqal pendek. Lihat saja, masak gara-gara selisih pendapat dengan orang tua sudah minggat. wiss sak Indonesia geger. bagaimana gak sak Indonesia geger. Beritanya anak itu diculik oleh laki-laki kekar. Keluarga panik, sekolah bingung, aparat disibukkan, masyarakat memprihatinkan begitu membaca berita di media massa baik cetak maupun online.

Pertanyaannya saat seperti itu, saat manusia terbentur permasalahan, ia memposisikan Allah di mana? padahal Allah sudah menegaskan:
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي
Aku selalu mengikuti sangkaan hamba Ku, dan Aku selalu bersamanya, membantunya selama ia ingat kepada-Ku. (Bukhari, Muslim).

Lihat betapa mudah manusia menyepelekan bantuan Allah karena lemah dzikirnya kepada Allah. Kalau ingat dan taat ke Allah tidak akan seperti itu. Dzikir itu ingat dan taat. Tidak dikatakan dzikir kalau sekedar ingat tetapi tidak taat. Itu dzikir yang tidak sempurna. Ucapan dan ingatannya bertakbir, tetapi takaburnya amit-amit, itu belum dzikir. Ucapan dan ingatan bertahlil, tetapi masih suka pergi ke dukun, percaya pada kekuatan selain Allah, itu belum dzikir. Ucapan dan ingatan bertahmid, tetapi kita dihina orang marah-marah, tidak mendapat sanjungan mencak-mencak. Itu belum bisa disebut dzikir. Ingat dzikir yang sempurna adalah ingat dan taat.

Ma’asyiral Muslimin-muslimat rahimakumullah
Manusia wajib berbaik sangka kepada Allah apapun adanya. Allah akan berbuat terhadap hamba-Nya sesuai dengan persangkaan dan keyakinannya. Jika hamba itu bersangka baik, maka Allah akan memberikan keputusan yang baik untuknya. Jika hamba itu berburuk sangka, maka berarti ia telah menghendaki keputusan yang buruk dari Allah untuknya. Dapat dikata persangkaan itu sejajar dengan doa.
Seorang hamba yang bijak adalah mereka yang senantiasa berbaik sangka bahkan yaqin kepada Allah dalam setiap keadaan. Itulah yang menjadi persangkaan baik bahkan keyaqinan Siti Hajar ketika ditinggal di lembah gersang bersama bayi dalam gendongan. Keyakinannya, Allah pasti melindungi dan menolongnya. Sedangkan Nabi Ibrahim as dengan tawakal yang tinggi tidak ada keraguan meninggalkan isteri dengan bayi di gendongannya, karena keyakinannya asal nurut kepada Allah mesti becik pungkasane, pasti baik kesudahannya.

Ma’asyiral Muslimin-muslimat rahimakumullah
Tidak sedikit inspirasi dan nilai pelajaran dapat dipetik dari kehidupan keluarga Nabi Ibrahim as, untuk memperbaiki dan membangun mental manusia yang tangguh dan unggul sehingga terwujud ketahanan dan kemandirian pribadi, keluarga, masyarakat dan bangsa. Sebagai uswah hasanah, teladan kebaikan, Nabi Ibrahim as merupakan teladan “Selaku Pendidik”, yang berhasil menjadikan isteri yang shalihah, beliau juga mengukir Nabi Ismail as sebagai anak yang shalih dan penyantun. Tidakkah kita perhatikan bagaimana mulianya akhlaq Nabi Ismail, sebagai anak yang belum beranjak remaja menyerahkan dirinya demi terpenuhi tujuan ayahnya Nabi Ibrahim melangsungkan perintah Allah.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah ayah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS37:102).

Bagaimana tidak santun dan sabar, diriwayatkan: setelah sampai di suatu tempat, dalam keadaan tenang Ismail berkata kepada ayahnya : ”ayah, kuharap kaki dan tanganku diikat, supaya aku tidak dapat bergerak leluasa, sehingga menyusahkan ayah. Hadapkan mukaku ke tanah, supaya ayah tidak melihatnya, sebab kalau ayah melihat nanti akan merasa kasihan. Lepaskan bajuku, agar tidak terkena darah yang nantinya menimbulkan kenangan yang menyedihkan. Asahlah tajam-tajam pisau ayah, agar penyembelihan berjalan singkat, sebab sakaratul maut dahsyat sekali. Berikan bajuku kepada ibu untuk kenang-kenangan serta sampaikan salamku kepadanya supaya dia tetap sabar, saya dilindungi Allah SWT, jangan cerita bagaimana ayah mengikat tanganku. Jangan izinkan anak-anak sebayaku datang ke rumah, agar kesedihan ibu tidak terulang kembali, dan apabila ayah melihat anak-anak sebayaku, janganlah terlampau jauh untuk diperhatikan, nanti ayah akan bersedih.”

Nabi Ibrahim menjawab ”baiklah anakku, Allah swt akan menolongmu”. Setelah Ismail, putra tercinta ditelentangkan diatas sebuah batu, dan pisau diletakkan di atas lehernya, Ibrahim pun menyembelih dengan menekan pisau itu kuat-kuat, namun tidak mempan, bahkan tergorespun tidak.
Pada saat itu, Allah swt membuka dinding yang menghalangi pandangan malaikat di langit dan di bumi, mereka tunduk dan sujud kepada Allah SWT, takjub menyaksikan keduanya. ”lihatlah hamba-Ku itu, rela menyembelih anaknya sendiri dengan pisau, semata-mata untuk memperoleh keridhaan-Ku.

Sementara itu, Ismail pun berkata : ”ayah.. bukalah ikatan kaki dan tanganku, agar Allah SWT tidak melihatku dalam keadaan terpaksa, dan letakkan pisau itu di leherku, supaya malaikat menyaksikan putra khalilullah Ibrahim taat dan patuh atas perintah-Nya.”
Ibrahim mengabulkannya. Lantas membuka ikatan dan menekan pisau itu ke lehernya kuat-kuat, namun lehernya tidak apa-apa, bahkan bila ditekan, pisau itu berbalik, yang tajam berada di bagian atas. Ibrahim mencoba memotongkan pisau itu ke sebuah batu, ternyata batu yang keras itu terbelah. ”hai pisau, engkau sanggup membelah batu, tapi kenapa tidak sanggup memotong leher” kata Ibrahim. Dengan izin Allah SWT, pisau itu menjawab, ”anda katakan potonglah, tapi Allah mengatakan jangan potong, mana mungkin aku memenuhi perintahmu wahai Ibrahim, jika akibatnya akan durhaka kepada Allah SWT”.
Dalam pada itu Allah SWT memerintahkan jibril untuk mengambil seekor kibasy dari surga sebagai gantinya. Dan Allah swt berseru dengan firmannya, menyuruh menghentikan perbuatannya, tidak usah diteruskan pengorbanan terhadap anaknya. Allah telah meridhai ayah dan anak memasrahkan urusan, tawakkal mereka. Sebagai imbalan keikhlasan mereka, Allah mencukupkan dengan penyembelihan seekor kambing sebagai qurban, sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an surat As-Shaffat ayat 107-110: Begitulah keyakinan dan ketaat-patuhan kepada Allah tidak akan memberikan akibat buruk bagi hamba, justru kemuliaan yang didapatkannya.

Dengan demikian keteladanan Nabi Ibrahim as yang tidak kalah hebatnya adalah melahirkan generasi muda dengan pondasi jiwa berkeimanan berhiaskan akhlaq indah terpuji.

Islam agama yang sangat mengedepankan dan memuliakan para pemuda. Al-Qu’an dan Hadits banyak meriwayatkan tentang pemuda, sebagaimana kisah pemuda di dalam gua dan sejumlah pemuda di sekeliling Rasulullah saw. Sejarah manusia memaparkan, pemuda adalah pelopor gerakan perubahan. Pemuda juga sebagai potret kehidupan masa depan suatu bangsa. Pemuda selaku generasi mempunyai tempat terpenting dalam proses regenerasi suatu bangsa. Kalianlah generasi muda yang akan menyambut tongkat estafet kepemimpinan suatu negeri. Keberhasilan perjuangan suatu bangsa tercermin nyata dari keberhasilan melahirkan generai tangguh berakhlaq terpuji, yang mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa.

Dalam lembar sejarah kebangkitan tercatat indah dengan tinta emas, bahwa tidak ada kebangkitan suatu ummat atau bangsa tanpa kiprah kaum pemuda. Namun demikian generasi muda hanyalah komponen dari bagian suatu masyarakat yang tidak terlepas dari masyarakat luas. Jika generasi muda mendapat pengajaran yang baik, maka akan lahir generasi harapan yang patut dibanggakan. Sebaliknya jika pemuda dibiarkan terjebak pada kegelapan, sejarah kelam akan dipenuhi catatan hitam kehancuran berkesinambungan dari generasi ke generasi. Dengan demikian nasib ummat berada di tangan kaum muda: apakah ummat akan tetap dalam kondisi terpuruk dan tenggelam di lumpur hitam, ataukah bangkit meraih kemuliaan hidup dunia dan akhirat, menjadi ummat yang terbaik.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
“Kamu adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah….. QS.3:110.

Namun apa yang terjadi pada pemuda di negeri yang kita cintai ini, badai krisis moral begitu kencang melanda generasi muda. Banyak di antara kaum muda dibuai kesenangan hidup sesaat, pandangan berorientasi kenikmatan materi jadi tujuan utama dalam hidup. Bukan hal yang mengejutkan lagi ketika berita ungkapkan fakta, begitu banyak dari generasi muda saat ini yang sudah jauh dari nilai-nilai agama, hancur moral-akhlaqnya, buruk perilakunya, hidup bebas tanpa aturan, hubungan seksual di luar pernikahan, dan narkoba dijadikan jalan pintas meraih kenikmatan khayali. Tuntunan agama diabaikan, pesan nasihat orang-orang tua disepelekan, sikap hati-hati dibuang, ceroboh sembrono di kedepankan, akhirnya jatuh pada lembah penyesalan berkepanjangan.

Baru pekan lalu kami menerima rujukan seorang siswi kelas 12 dari salah satu sekolah. Kasusnya, dia berkenalan dengan seorang mahsiswa via face book, kontak antar telpon terjadi dan akhirnya copy darat. dasar kurang waspada dan mau mengejar kesenangan sesaat, tidak mau menunda kenikmatan ia jatuh pada jeratan tipu daya pemuda mahasiswa itu. ketika si gadis menanyakan “kamu menyenangiku apa karena aku cantik atau apa? dijawabnya “kamu berbeda dengan yang lain, semenjak mengenalmu aku berubah, aku menjadi lebih dekat dan baik pada keluargaku, aku lebih rajin ke gereja, apalagi kalau kamu mau menemaniku.’ gadis itu semakin sering berkomunikasi dan berkunjung ke kos-kosannya, sampai akhirnya pemuda itu mengatakan, “kalau kamu sayang aku pasti kamu mau tidur bersamaku, itu buktinya, jika tidak berarti kamu tidak sayang aku. Dalam pemahaman sempit mengenai sayang dan cinta, dalam sempitnya pengalaman gadis itupun menuruti kemauan pemuda. Semenjak itu pula ia selalu terbayang wajah pemuda itu. Perkembangan lain, setiap kali mendengar adzan dan ayat-ayat Qur’an kepala pusing dan pendengarnya seakan mau pecah. Mengapa karena tanpa sepengetahuannya selembar rambut gadis yang tertinggal di tempat tidur pemuda itu diikat dijadikan media sihir oleh pemuda itu. Oleh karena itu hati-hatilah kalian yang belum berjilbab agar jangan sembarangan membiarkan rambut kalian tercecer yang mungkin disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Alhamdulillah dengan pertolongan Allah gadis tersebut bisa diselamatkan.

Satu terselamatkan, tapi masih banyak lainnya yang terjerembab pada kubangan. Kasusnya lebih mencengangkan, karena menyangkut 3 siswi setingkat SMP. Dari rumah pamit ke sekolah tapi 2 hari tidak pulang. Setelah diselidik ternyata mereka tinggal di suatu vila dengan pemuda; bahkan yang satu mengaku pernah sekamar dengan 2 laki-laki. Kita jadi bertanya-tanya. Bagaimana orang tua mengasuh anak-anaknya. Bagaimana guru mendidik murid-muridnya. Pelajaran apa yang mereka peroleh dari rumah dan sekolahnya. Apakah segenap daya dicurahkan hanya untuk mengarahkan anak mencapai prestasi akademik baik karena Nilai Ujian Nasional telah diberhalakan dan menjadi berhala paling diagungkan, sehingga orang tua dan guru lupa mengajarkan kehidupan. Padahal manfaat ajaran kehidupan jauh lebih penting dari pada angka yang tertera pada selembar kertas.
Di satu SMP juga ditemukan tindakan bullying, seorang anak dibuli, badannya diikat tali rafia, anak itu dimasukakan ke kotak sampah plastik yang ada dekat pintu depan kelas. Guru mondar-mandir di depannya tapi tidak mengetahui ada muridnya yang mengalami tindak kekerasan oleh temannya. Sebegitu padatkah beban para guru sehingga seluruh konsentrasi hanya tertuju pada ketuntasan pelajaran buku, tidak ada sisa untuk memperhatikan jiwa dan rohaniah anak. Mengapa anak didik kita lebih memilih diam, tidak berbagi pada orang tua dan guru ketika ditimpa masalah. Alih-alih cerita kepada teman sebaya yang sama-sama belum pengalaman, mereka lebih bebas bicara kepada mahasiswa yang sedang tugas praktik (PPL). Sadarlah wahai para orang tua dan pendidik, kadang anak-anak kita melesat begitu cepat, kita yang tertinggal sehingga mereka lepas dari pengamatan kita, tahu-tahu kita dibuatnya terbelalak karena mereka telah berada pada kondisi yang tidak pernah kita duga. Oleh karena itu kesatuan pandang dan kerjasama perlu dibangun untuk mampu membina mereka secara lebih baik.

Alhamdulillah, keadaan buruk itu tidak menimpa seluruh anak muda. Kendati sejumlah generasi muda tengah dilanda badai krisis moral, namun masih banyak pemuda pemudi yang berpegang teguh pada idealisme agamanya. Mereka pemuda-pemudi Islam yang senantiasa berusaha sekuat tenaga melaksanakan perintah Allah di tengah derasnya arus buruk dari globalisasi.

Harapan kami di saat ini, khususnya kalian wahai anak-anakku siswa-siswi sma Negeri 9 dan lainnya yang hadir.
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
Dan apa-apa yang diperintahkan rasul ambillah dan apa-apa yang dilarang rasul jauhilah QS.59:7

Sebagai penutup khutbah, di hari yang mulia ini izinkanlah saya, di hadapan sebagian besar kaum pemuda siswa-siswi, mewakili seluruh orang tua, berharap pinta dari kedalaman hati dalam untai kata:
Wahai anak-anakku kaum muda yang sangat aku cintai, betapa cemasnya kami dari waktu ke waktu memikirkan keselamatan kalian, ingin rasanya kedua tanganku memeluk kalian seerat-eratnya, agar kalian tidak terseret tipu daya syaithan, tapi apa daya, dengan keterbatasan ke dua tangan yang pendek ini. Derai air mata keringlah sudah, berganti penghantar do’a dan harapan agar kalian senantiasa berada dalam lindungan dan penjagaan Allah Yang Maha Perkasa.

Miris rasanya hati ini setiap mendengar berita ungkapkan fakta, anak-anakku kaum muda tergelincir di lembah nista. Sebagai orang tua kutitip pesan untuk kalian camkanlah bersama: Ketahuilah masa depan kalian masih panjang, sejuta bintang di langit menanti diraih, bentangan hamparan hidup yang mulia ada di hadapan.
Anak-anakku sayang!, dunia ini laksana lautan yang dalam, sudah banyak kapal kandas-tenggelam di dalamnya ditelan arus, dilanda badai gelombang. Hanya ada satu kekuatan yang dapat menyelamatkan, layarilah kapal itu dengan iman dan taqwa.

Wahai anak-anakku! aku tahu kalian tak mungkin hidup tanpa berteman, maka pesanku berhati-hatilah memilih teman, teman sejati adalah teman yang selalu ada dan mengingatkanmu agar tidak terperangkap di lembah nista. Khususnya saat tergoda dalam pertemanan lawan jenis, berhati-hatilah terhadap rayuan menggoda, sesungguhnya yang dijanjikan hanyalah kesenangan sesaat yang akan berakhir pada penderitaan dan kehancuran sepanjang hidupmu. Janganlah kemuliaanmu yang mahal kau obral dengan harga murah. Bertemanlah dengan orang yang berbudi luhur karena hatimu akan menjadi sejuk mendengar nasihatnya, hatimu akan menjadi hidup dengan cahaya iman dari mutiara hikmah yang disampaikannya.
Sebagi renungan akhir, mari kita bersama-sama berintropeksi diri, sudah sejauh manakah kita berkesungguhan meneladani Nabi Ibrahim as. Adakah pengorbanan ikhlas sudah dilangsungkan agar diperoleh ridha Allah? Jika kita sebagai bapak atau suami, sudahkah kita berhasil menanamkan pondasi tauhid pada diri dan keluarga istri dan anak-anak kita. Jika kita sebagai ibu atau istri, tumbuhkah sudah nilai ketaatan beriman tauhid pada diri yang dengannya sebagai modal menjaga-rawat anak-anak tumbuh dengan keimanan, tabah penuh perjuangan dan yakin dengan pertolongan Allah sebagai modal menghantarkan anak-anak pada keshalihan. Dan jika kita sebagai anak, sudahkah jiwa kita dalam genggaman idealisme yang tangguh, berperilaku santun tidak menyakiti orang tua dan melukai sesama.
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأبْتَرُ
Doa penutup …….

Jazakumullah khair bagi penulis yang tulisannya kami rujuk untuk melengkapi khutbah ini. Wassalam. Lutfi Fauzan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: