Oleh: lutfifauzan | Januari 3, 2013

Tauhid Pengikat Perbedaan

Indahnya Perbedaan dalam Ikatan Rajutan Tauhid
Lahirkan Pelangi Peradaban Hidup Kokoh Sejahtera nan Jaya

Lutfi Fauzan

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.Qs.8:46

Perbedaan merupakan bagian dari anugerah Allah, karena perbedaan bukan berarti pertentangan melainkan pasangan dan kelengkapan. Dalam pengertian ini, keberadaan perbedaan semestinya tidak melahirkan perselisihan yang berlanjut pada perpecahan yang menghacurkan nilai kehidupan berperadaban, tetapi sebagai benang emas perajut-ikat permadani kehidupan berperadaban mulia kokoh sejahtera nan jaya. Semesta pun sebagai karya-cipta Allah direntang dalam pusparagam pesona perbedaan. Dengan perbedaan itulah terbentang hunian kehidupan berkesemestaan yang indah nan kokoh. Satu sama lain saling menunjang, saling memperkuat dan saling memberikan buah manfaat bagi kelangsungan kehidupan.

Untuk sampai pada kondisi perbedaan bukan pertentangan melainkan pasangan dan kelengkapan, kesadaran nurani hati manusia perlu ditumbuhkan sampai pada tingkat menerima bahwa pusparagam perbedaan merupakan suatu hidangan indah dan agung yang dikaruniakan Allah untuk dinikmati dan disyukuri keberadaannya. Selain itu diperlukan sikap memelihara diri agar tidak secara berlebih-lebihan menjadikan perbedaan sebagai jurang pemisah dan benih perselisihan satu sama lain dari antara unsur-unsur kehidupan. Sikap dasar semacam itu terkandung pada nilai firman Allah:

وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ جَنَّاتٍ مَعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. QS.6:141

Kemahabesaran dan Kemahaluasan Allah dengan segala Keterpujian-Nya terentang-bentang pada ragam perbedaan karya-cipta-Nya. Demikianlah ketetapan Allah atas alam semesta ini, ada ragam warna, ragam rasa, ragam bentuk dan berbagai ragam perbedaan lainnya. Kesemuanya bersifat saling mengisi dan melengkapi dalam satu sistem kesetimbangan, bukan saling memusuhi dan menghancurkan. Adapun manusia selaku khalifah, pengemban amanah kehidupan di muka bumi ini diperintahkan agar merenungkan setiap ciptaan Allah yang beragam itu.

Sesaat dengan hati yang santun dan takjub pada Kekuasaan Allah, kita renungkan bagaimana keindahannya, dari perbedaan penciptaan melahirkan nilai potensi Keindahan dan Kekuatan. Tidak perlu jauh-jauh, untuk mengambil hujjah atas nilai keindahan perbedaan itu. Kita dapat melihat pada diri kita sendiri, karena Allah juga berfirman: “dan di dalam dirimu sendiri tidakkah kamu renung-fikirkan?”. Salah satu contoh yang mudah dapat kita amati adalah barisan gigi dengan bentuk dan ukuran berbeda yang menjadikannya tampak indah dan kokoh. Setiap gigi berolah fungsi tersendiri. Seandainya gigi dicipta dalam bentuk dan ukuran yang sama pasti tidak akan bisa berfungsi indah dan kokoh. Jari-jemari kita pun ada yang kecil dan besar, tinggi dan pendek, kesemuanya dalam bentuk dan fungsi yang berbeda. Ketika disatukan masing-masing potensi dan fungsi jemari itu, jadilah ia satu kekuatan kepalan (dapat berfungsi optimal sebagai peninju, pemegang dan pengendali) dan menjadi-kannya satu keindahan tersendiri dalam setiap aktivitas. Dari setiap unsur jasadiyah di dalam diri manusia memberikan nilai kontribusi produktif luar biasa dari adanya perbedaan itu.

Demikian pula dengan unsur energitis yang mencakup ketenagaan ruh, rasa, hati, aqal dan nafsu, masing-masing berbeda dalam tumbuh kembang dan fungsinya. Keberadaan, tumbuh kembang dan fungsi unsur energitis atau ruhaniah itu memerlukan ketepatan tempat dan keseiringsejalanan serta hidup saling melengkapi, terbebas dari perampasan hak hidup dan penindasan. Keadaan itu dapat terjadi hanya ketika setiap unsur senantiasa tetap terikat setia pada satu komando tunggal, Pengatur gerak, yakni Allah swt. Manakala masing-masing perbedaan baik unsur jasadiyah maunpun unsur energitis dalam diri manusia berada dan berjalan seiring-sejalan pada poros satu garis komando ketauhidan dan ketaatan pada Allah, terlahirlah manusia sebagai insan kamil pemakmur bumi dan pengokoh tiang kehidupan semesta, karena hal hidup setiap unsur semesta terjaga.

Kehidupan bersemesta terjaga kelestarian kehidupannya hanyalah jika dipersatukan dengan ketauhidan kepada Allah. Artinya semua makhluq tunduk-patuh pada ketentuan sunnatullah dalam satu garis komando Peng-Esaan Allah. Apa jadinya jika masing-masing unsur kehidupan berjalan mengikuti kehendak dan kepentingan pribadi, dipastikan kehidupan semesta hancur-luluh porak-poranda.

Begitu pula kita selaku ummat Islam yang berada dalam satu ikatan perjanjian Peng-Esaan Allah dalam satu payung Qur’an dan sunnah, semestinya menjadikan perbedaan di antara sesama lebur-bersama di telaga ketauhidan. Perbedaan bukan untuk menjadikan kita ummat yang terpecah-pecah dalam kelompok dan golongan sehingga menjadikan kita ummat yang lemah dan menjadi bahan cemoohan bagi yang lain. Sebagaimana Allah mengingatkan kita di dalam firman-Nya:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.Qs.3:1103

Tidak ada perpecahan yang ditimbulkan dari perbedaan faham atau pandangan yang tidak membawa petaka kehancuran dalam kehidupan ummat, tetapi mengapa ummat Islam tidak bisa mengambil pelajaran dari sejarah dan pengalaman yang terjadi? Apa penyebabnya?
Ummat Islam sebenarnya memiliki salah satu pakaian indah dari akhlaq mulia yaitu “pakaian malu”, saat ini pakaian malu hampir terlepas dari tubuh ummat Islam, akibatnya ummat Islam menjadi ummat yang selalu ditelanjangi dan dijadikan tontonan dan cemoohan pada segala jenis bentuk budaya ikut-ikutan dan saling menghancurkan. Inilah dampak jika antarsesama saudara seiman saling menjatuhkan melalui perbedaan faham. Satu hal yang kurang disadari ummat Islam dalam beragama cenderung mengutamakan fanatisme golongan, bukannya fanatisme ketauhidan kepada Allah. Inilah penyebab timbulnya perpecahan yang disulut oleh api perbedaan. Padahal jika masing-masing pribadi ummat Islam lebur-bersatu dalam ketauhidan iman hanya pada Allah dengan menumbuh-kembangkan potensi yang berbeda akan terlahir kehidupan ummat yang kokoh; ibarat bangunan, setiap unsurnya berbeda namun semua berada pada tempatnya, saling terikat dan saling memperkuat.

Perbedaan pun menjadi fithrah bagi makluq ciptaan, sekaligus memberikan bukti nyata bagi manusia akan kemutlaqan Ke-Esaan dan Kekuasaan Allah pada ciptaan-NYA. Allah yang telah menciptakan manusia dan segala sesuatu berada dalam keadaan yang berbeda bentuk-rupa dan potensi masing-masing, Allah pula yang memberikan jalan penyatuan melalui ketaatan-kepatuhan beribadah secara tauhid sebagai satu sunnatullahnya. Pedoman dan contoh lengkap diberikan yakni Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Jika masing-masing perbedaan tunduk pada ketauhidan dan ketaatan atas kandungan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, maka semua perbedaan lebur dalam satu rajutan jala-ikat benang emas yang melahirkan ragam potensi untuk kemakmuran bumi.

Kedudukan manusia sebagai khalifah dalam tugas-fungsi selaku pemakmur bumi, dengan tujuan pokok penciptaannya untuk beribadah hanya kepada Allah memberi pesan tegas tidak ada ikatan, pandangan atau ideologi manapun dari sesuatu melainkan hanya Allah yang Esa. Pertanyaan pokok, belumkah timbul kerinduan di hati ummat Islam untuk menyatukan pusparagam perbedaan sebagai jalan kebangkitan kejayaan ummat Islam dan sekaligus menjadi ummat penentu keadaan bukan sebagaimana saat ini menjadi ummat yang serba diarah-tentukan oleh pola-pandangan kehidupan Yahudi.

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلا الَّذِينَ أُوتُوهُ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ فَهَدَى اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.

Dari Firman Allah tersebut dapatlah kita mengambil satu petunjuk kebenar-an untuk bahwa timbulnya perselisihan yang memecah-belah ummat yang disalahsikapkan dari perbedaaan disebabkan kedengkian di antara ummat itu sendiri. Api kedengkianlah yang telah menyulut kehancuran perpecahan di tubuh ummat Islam. Sedangkan Allah hanya berkehendak untuk memberi petunjuk kepada orang-orang yang selalu istiqomah di jalan yang lurus.

Dalam konteks tugas memakmurkan bumi dan cinta tanah air, umat Islam juga tidak boleh melupakan makna perbedaan sebagai kekuatan dan keindahan. Negeri kita ini pun dianugrahi Allah dengan pusparagam dan pesona perbedaan sebagai pilar-pilar untuk menjadikan negara yang kokoh-berdaulat. Karsa itu perlu dipelopori umat Islam agar setiap anak bangsa menjunjung tinggi semboyan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda namun tetap dalam satu ikatan kesatuan bangsa Indonesia dengan berpedoman setia pada nilai-nilai Pancasila yang pada dasarnya bersumber dari nilai-nilai Ilahiah. Jika hal itu tidak dilakukan yang akan terjadi adalah kekacauan dan kehancuran, karena di sisi lain perbedaan itu bisa menjadi titik rawan bagi timbulnya perpecahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ketika tolok-ukur pandangan anak bangsa bergeser pada kepentingan pribadi, kelompok atau golongan, yang berarti lepas dari kepeloporan umat Islam untuk menjunjung tinggi nilai luhur Pancasila untuk kemajuan bersama, maka ambruknya negara tak terhindarkan. Lalu?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: