Oleh: lutfifauzan | Agustus 12, 2012

khutbah Idul Fithri 1433 H

Khutbah Idul Fithri 1433 H

PECUT-KASIH RAMADHAN HANTARKAN FITHRAH JIWA INSANI
DI PUNCAK KENIKMATAN SERAMBI CINTA ILLAHI

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

إِنَّ اْلحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شرَيِكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً
اَللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ
dst …. اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا

Ma’asyiral Muslimin-muslimat rha,

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرْ genderang takbir membahana, saat sang cahaya sabit tampakkan dirinya, isyaratkan syawal pembawa fithrah hadir hantarkan ribuan nikmat tak terbilang jumlahnya. Sujud bersimpuh setiap jiwa semesta, Agungkan Dia Allah dalam rentangan karya-cipta alam semesta tegak-kokoh tampilkan keindah-sempurnaan dalam keteraturan rajutan jala sistem berkesetimbangan. Hina tak berarti jiwa insani tertatap diri laksana setetes air hujan hilang-lenyap di tengah samudera. Demikian keberadaan diri manusia hina tak terpandang berada di tengah samudera Ke-Maha-Agungan Allah. Semata rahmat kasih Ialahi, manusia dicipta sebagai makhluq utama berpakaian derajat kemuliaan mengemban amanah selaku khalifah pemakmur bumi, dalam perantauan kembali ke pangkuan Ilaahi.

لاَ اِلَهَ اِ لاْ الله lantunan tahlil luluh-lantahkan diri berkesombongan, bangkitkan kesadaran rasa-hati membangun pondasi tauhid murni lurus-bergantung bersandar hidup pada Ke-Esaan Kuasa Allah, sujud-bersimpuhlah diri. Pemahaman menghantarkan jiwa menggugah kesadaran getarkan hati ungkapkan kalam: “Esakan Dia Allah”, dari Ke-Maha Tunggalan tercipta rentangan kehidupan dalam satu komando kata kun fayakun, sujud semesta dalam keteraturan satu sistem rajutan getaran ketenagaan Ilaahiyah, jalankan kehidupan tunduk-patuh ikuti kodrat sunnatullah.

وَ للهِ الْحَمْدُ Tahmid bersenandung-rindu mendesak hati lirih-ungkapkan kata: “kemanapun kamu memandang di sanalah wajah Allah” di setiap perbuatan cipta-karya-Nya membatik wujud-pola Keterpujian-Nya. Kasih dan sayang-Nya laksana warna-warni pada setiap lembar benang-benang halus yang terajut indah di lembaran kain, menjadi jala-pancing bagi hamba yang merindukan jalan kembali pada Ilaahi. Gerbang ampunan tempuhan jiwa meraih kedekatan hidup untuk merajut tali hubung bermesra-cinta dalam bersapa-kata

اَللهُ اَكْبَرُ ×3 وَ للهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral Muslimin-muslimat rha,
Seiring-jalan saat surya-mentari tenggelam di ufuk barat kembali ke peraduannya, senja satu syawal si bulan Fithriah hadir beranjangsana di sudut-ruas jiwa semesta dan di pelataran hati insani, disambut indahnya cahaya rembulan tampakkan diri laksana sabit berwarna emas, iring-gantikan kepergian Ramadhan si tamu agung nan mulia. Tanpa kecuali, seluruh makhluq ciptaan di muka bumi diliputi suasana gembira berbaur haru suka cita termasuk manusia yang mampu merasakan suasana keindahannya. Berbagai pernak-pernik tampil menghiasi kumandang takbir, tahlil dan tahmid hingga pelaksanaan shalat Ied. Berbondong-bondong kaum beriman mendatangi tanah lapang dan masjid-masjid yang dimuliakan lengkap berpakaian serba indah dan baru. Lisan-lisan kaum beriman bergetar basahkan bibir perdengarkan merdu ungkapan dzikir: takbir, tahlil dan tahmid. Demikian suasana ritual rutinitas yang selalu terjadi di setiap 1 Syawal. Sesaat indah-gembira suasana tampak mata kepala memandang seakan riuh-gemuruh meriahnya pesta kemenangan. Namun tidak demikian sorotan-pandang tatapan nurulllah, pilu menyayat qalbu yang dirasakan. Dalam bahasa lisan terungkap-ucap: sangat disayangkan tidak setiap jiwa insan yang diliputi suasana suka-cita di hari Fithri adalah mereka yang memperoleh kemenangan meraih nikmat kebaikan yang dibawakan oleh Ramadhan. Sebagaimana disinyalir dalam hadits: Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga saja.

Sinyalemen hadits tersebut memberikan gambaran bahwa: dari tahun ke tahun yang dapat diberlangsungkan dan diperoleh kebanyakan manusia dari kunjungan Ramadhan hanyalah mendatangkan ritual rasa lapar dan dahaga dari puasanya. Tidak ada perubahan dan pembaharuan berarti yang dapat dibukti-rasakan dalam berkehidupan, kecuali yang selalu muncul hanya keluh-kesah atas kesulitan berantai menjalani kehidupan. Seakan hadits tersebut tampil sebagai kaca cermin besar yang menunjukkan puasa kebanyakan manusia layaknya puasa anak-anak. Anak-anak itu berbangga dalam berpuasa agar memperoleh berbagai hadiah yang diiming-imingkan yang kesemuanya bersifat keindahan dan kesenangan nafsu semata. Ketika bentuk keindahan-kesenangan nafsu tidak terpenuhi mereka kecewa putus asa dan perhatiannya lebih terpaku pada kesulitan yang ditemui daripada kasih Ilaahi.

Untuk itu mari sejenak di bulan yang fithrah ini kita tunduk-renungkan diri hadirkan Allah selaku saksi kejujuran, diri bertanya pada nurani-hati. Pada tingkatan puasa apakah yang sudah berhasil kita langsungkan selama ini? Tentunya masing-masing pribadi beriman tidak hendak puasanya dinilai-persepsikam sama dengan puasanya anak-anak, kecuali yang diharapkan dari berpuasa dapat menghantarkan jiwa pada kedekatan cinta dengan Allah. Namun demikiankah yang diperoleh?

Ketika nafsu masih terus menerus bergejolak, lebih diunggulkan daripada tuntunan Kitab Suci,
ketika sesuatu yang terjadi tidak sesuai dengan harapan-keinginan masih melahirkan kecewa-putus asa,
ketika kebencian terhadap sesama muslim ulang-terjadi dan membekas di hati sebagai tanda maaf belum diberi,
ketika kesalahan diri atau fihak lain masih kekeh tersembunyikan dan disimpan rapat pada sudut-sudut kedalaman hati

Dapatkah dikatakan puasanya telah menghantarkan pada kedekatan cinta dengan Allah? Ini baru gambaran segelintir contoh gejolak nafsu dan dosa-kesalahan bertaut-hubung dengan sesama, belum lagi dosa-kesalahan langsung kepada Allah.

Sebagai tolok ukur apakah puasa kita berhasil hantarkan jiwa pada kedekatan cinta dengan Allah, tergantung pada tingkat berhasil tidaknya menata nafsu tunduk-patuh kepada Allah tanpa komentar dan sanggahan, kecuali dengan satu sikap dan ucap: “Sami’na wa atha’na. Demikian itu pertanda nafsu telah tenang dan berdamai dengan unsur ketenagaan ruh, rasa, hati dan ‘aqal. Nafsu berkeadaan demikian itulah yang mendapat sapa-panggilan dari Allah sang Kekasih yang lama dirindukan:
 • •      •       • 
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, Dan masuklah ke dalam syurga-Ku. (Q.S 89:27-30)

Dalam hal ini sang hamba mendapatkan perkenan melangsungkan perjalanan wisata rohani ke suatu wilayah bernama “Daarussalam” dan Allah sendiri sebagai pemandu perjalanannya, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya:
          
Allah menyeru (manusia) ke darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang Lurus (Islam) (Qs.10:25)

اَللهُ اَكْبَرُ ×3 وَ للهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral Muslimin-muslimat rha,
Jiwa siapa yang tidak akan terlena-bahagia, haru dalam kemasyu’an suasana ketika Allah Dzat Maha Mulia menyeru sang hamba dengan keridhaan-Nya. Seketika diri tersungkur-sujud dalam balutan pakaian malu, tak mampu bibir berucap-kata, kecuali desah nafas didalam dada tak henti pujakan Dia Allah, sebagai desak-ungkapan syukur bersama jatuhnya butiran air mata membasahi wajah dan sajadah. Malu, ketika kesadaran menggugahnya, diri tertatap hina bergelimang dosa, namun belaian lembut kasih Allah menyentuh jiwa hampa, seketika diri seakan hilang-fana lebur-tenggelam di tengah ke-Maha-Besaran-Nya di lautan cinta-Nya.

Lapis demi lapis hijab hati disingkap laksana lembar kelopak jantung pisang menghasilkan buah hikmah-manfaat yang dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat. Demikian itulah sebenarnya kehadiran Ramadhan datang berkunjung untuk membuka tirai hijab dosa yang menutupi hati sehingga layak bertandang dalam jamuan Ilaahi. Di saat itulah sang hamba memperoleh ucap salam: “sejahteralah hamba di malam itu sampai terbit fajr. Itulah malam kemuliaan yang selalu dikejar ummat Islam di malam sepuluh hari akhir Ramadhan, namun sayang kebanyakan masih dengan perhitungan untung-rugi dengan hanya mengambil malam-malam ganjil, padahal Rasulullah tidak mengajarkan seperti itu, kecuali lengkap beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir tanpa membedakan tanpa menganaktirikan yang genap dari yang ganjil. Mereka yang meneladani Rasulullah saw adalah hamba-hamba Allah yang berhasil meraih kemenangan di hari fithri.

Masihkah diri merasa telah berhasil menjalankan puasa, bila kenyataan diri belum dapat mengenal Allah dengan segala Kebesaran cinta dan sapa-Nya. Jangankan untuk sampai pada tingkat mengenal Allah, mengenal siapa dirinya sendiri masih banyak yang gagal. Padahal siapa didunia tidak mengenal Allah maka di akhirat ia akan lebih buta.

Anggapan boleh saja berkembang dengan berpuasa diri telah beriman dan berhasil meraih ampunan, dengan bukti-bukti lahiriyah shalat wajib dan sunnah terpenuhi, puasa sebulan dijalani, infaq dan shadaqah tersalurkan. Ketahuilah kesemua itu tidak cukup menjadi jaminan diri berada dalam ampunan dan kedekatan cinta kepada Allah, manakala nafsu terus bergejolak berupaya memenuhi tuntutan, mengejar-inginkan kesenangan dan keuntungan pribadi dan tidak ridha dengan ujian atau musibah yang Allah kirimkan. Di dalam Al-Qur’an Allah berfirman:
 ••     •   
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS.29:2)

Ayat tersebut mengisyaratkan berapa banyak manusia terjebak dalam perangkap anggap-sangka diri telah beriman dengan berbagai ritual rutinitas ibadah dan amal-kebajikan lahiriyah. Sedangkan Allah tidaklah melihat pada perbuatann lahiriyah melainkan lebih kepada hatinya. Hati yang tidak memiliki keikhlasan, keras membatu untuk menerima kebenaran, berontak terhadap taqdir Allah adalah cermin hati yang belum tersucikan dan tersegarkan oleh amal lahiriyahnya.

Demikian halnya dengan hati yang banyak menyimpan dendam-kebencian pada sesama muslim karena dirinya merasa tersakiti, padahal haqiqatnya bukanlah diri itu yang disakiti melainkan ia berbuat dzalim menyakiti dirinya dengan jalan tidak ridha terhadap bala-ujian yang Allah datangkan. Sebagai contoh, bagaimana sambutan sikap hati, ketika Allah menghimbau “jadilah engkau pemaaf”, tersirat makna bahwa diri dihimbau untuk menjalin hubungan baik terhadap orang yang telah berbuat khilaf, yang memusuhi, yang memutus tali silaturrahmi, yang dikenal kikir, dan yang menyakiti, melalui sedekah pemberian maaf. Kepemaafan yang tulus tanpa melihat besar kecilnya kesalahan mencerminkan kesejatian iman seseorang sebagaimana diteladankan oleh Nabi Yusuf as yang memaafkan saudara-saudaranya yang menyakitinya dan Nabi Muhammad saw yang memaafkan orang-orang yang memeranginya. Orang yang bisa memaafkan dengan tulus tahu, bahwa segala sesuatu terjadi menurut kehendak Allah dan berjalan sesuai takdir-Nya, karena itulah mereka berserah diri kepada Allah, menyerahkan semua permasalahan kepada Allah. Mereka tidak terbelenggu dan tersiksa oleh amarah, sakit hati, karena telah dihanyutkan oleh kesegaran memaafkan.

اَللهُ اَكْبَرُ ×3 وَ للهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral Muslimin-muslimat rha,
Banyak manusia tidak mengetahui himbauan berinfaq tidaklah terbatas pada pengertian harta, berinfaq memberi maaf dan menahan amarah termasuk infaq bernilai luhur. Kepada hamba yang demikian itulah Allah menjatuhkan cinta-Nya. Sebagaimana dijelaskan “Pasti akan mendapat cinta-Ku orang-orang yang cinta-mencintai karena Aku, saling mengunjungi karena Aku, dan saling memberi karena Aku.” Nyatalah, baik-buruknya hubungan seseorang dengan Allah tercermin pada baik-buruknya hubungan pada sesama muslim. Buruknya hubungan sesama muslim pertanda buruknya hubungan dengan Allah, meski ibadah ritual shalat, berpuasa dan berinfaq dijalankan tidak dapat mengangkat dirinya bermartabat selaku hamba beriman. Iman bukanlah sekedar merasa anggap-sangka melainkan berbukti pada pakaian akhlaq berbudi luhur. Iman memiliki celupan-batikan khusus pada pakaian akhlaq, yakni bercelupkan dengan asmaul-husna sebagai pakaian yang layak dan seharusnya disandang saat melangsungkan shalat Ied. Itulah pakaian indah dan baru terlahir sebagai fithrah. Pakaian akhlaq itu menjadi indah dan baru karena telah disuci-hamakan melalui ibadah puasa. Sabda Rasulullah Saw.: “Siapa yang puasa di bulan Ramadhan dengan iman dan bermawas diri niscaya Allah mengampuni dosa-dosanya.”

Allah telah mewujudkan kasih sayang kepada hamba-Nya dengan memberi ampunan, kecuali dosa terhadap sesama manusia, yang belum diampuni sampai ada keridhaan dan memaafkan di antara mereka. Untuk menghapus dosa ini tidak cukup dengan memohon ampun kepada Allah SWT.

Allah memerintahkan kita untuk memberi maaf kepada sesama manusia sebagai bukti telah membiasnya sifat Kepemaafan Allah dan sebagai perwujudan karakter orang yang bertaqwa, sebagaimana dinyatakan oleh Allah dalam Al-Quran Surah 3:133-134:
     •     
dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,

         ••    
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Bukankah himbauan Allah tersebut mengarahkan diri pada pembentukan akhlaq luhur dan kebaikan sikap hati. Semakin berat hati menjalankan himbauan Allah tersebut menjadi ukuran besarnya dosa tertimbun di dalam hati.

Musibah pun adakalanya Allah kirimkan sebagai jalan pembersihan dosa. Tidakkah dapat dirasakan betapa kasih-sayang Allah yang tak hendak membiarkan hambaNya bergelimang dosa. Musibah dan ujian yang ditimpakan Allah juga menjadi bukti rahmat kasih-sayangNya kepada manusia. Demikian itu, karena manakala jiwa ridha menerimanya, jadilah ia sebagai jalan pembersihan diri dari dosa dan peningkatan derajatnya di sisi Allah. Pada satu hadits dijelaskan: “Sesungguhnya pahala yang besar itu, bersama dengan cobaan yang besar pula. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan menimpakan musibah kepada mereka. Barangsiapa yang ridha maka Allah akan ridha kepadanya. Dan barangsiapa yang murka, maka Allah murka pula kepadanya”

اَللهُ اَكْبَرُ ×3 وَ للهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral Muslimin-muslimat rha,
Perlu pula disadari, kehadiran Ramadhan sebulan penuh adalah dalam rangka penggemblengan dan pendidikan terhadap nafsu yang selama ini merejalela mempecundangi ruh, rasa, hati dan aqal, akibatnya masing-masing potensi mati tidak dapat menjalankan fungsi sebagaimana mestinya. Ruh yang seharusnya berfungsi menjalin cinta dengan Allah menyimpang mencintai isi dunia, Hati yang seharusnya tempat Allah bersapa-kata membuka kabar-berita menjadi tempat jajahan dan sapa-kata diri dengan syaithan. Rasa yang seharusnya merasakan kelembutan kasih-sayang dari Allah menjadi keras membatu merasakan permasalahan hidup akibat tidak ridha dengan ketentuan Rabb. Aqal yang seharusnya berfungsi merenungkan cipta-karya Allah menjadi sibuk menyoroti keburukan orang lain dan memikirkan keuntungan diri sendiri. Bilamana terhadap sesama unsur di dalam diri gagal mewujudkan perdamaian dengan memberi kesempatan masing-masing unsur berfungsi menjalankan tugasnya bagaimana akan berdamai dan berkasih-sayang dengan sesama.

Begitulah, bila dosa telah menutupi qalbu manusia, sulit baginya memilah-pilih kebaikan dan keburukan. Karat dan kotoran dosa menjadikan manusia tidak lagi mampu mendengar suara nurani karena qalbu sudah kehilangan cahaya-Nya terkikis oleh dosa-kejahatan. Bahkan qalbu sakit yang berada pada stadium kronis, tidak lagi dapat merasakan perbuatan dosa sebagai dosa atau kejahatan, karena syaitan menghiaskan kejahatan seakan-akan kebaikan; dan itulah yang disebut stadium kebangkrutan ruhani, yang menyeret manusia keluar dari keimanan, naudzubillah min dzalik

Semoga dengan pelaksanaan Ramadhan ini kita terlindungi dari kebangkrutan ruhani dan kita termasuk dalam sekelompok kecil insan yang dapat meraih kemenangan di hari fithri ini, yang kembali terlahirkan laksana bayi suci-bersih dari dosa, berkeadaan fithrah meraih kedekatan hidup bercinta dengan Allah. Inilah sesungguhnya kemenangan sejati di hari fithri. Baginya takbir, tahlil dan tahmid merupakan ungkapan rasa cinta antara hamba hina dengan Allah Maha Perkasa dengan segala KemuliaanNya. Baginya pelaksaan sholat Idul Fithri adalah sarana jumpa ungkapkan syukur atas rahmat-nikmat cinta yang diperoleh dari kedatangan Ramadhan yang membawa-bagikan rahmat tak terbilang jumlahnya bagi setiap jiwa yang beriman, sebagaimana dijelaskan: Sesungguhnya telah datang bulan ramadhan kepadamu, bulan yang penuh dengan limpahan rahmat dan berkah. Dengan itu hamba diperjalankan menuju serambi kenikmatan bercinta dengan Ilaahi, di sanalah sang hamba kembali berkumpul layaknya keluarga, karena pada awalnya manusia adalah bagian dari keluarga Allah jua.

Demikianlah pecut ramadhan mengajak kita sejenak merenung mengulang-kaji Ramadhan yang telah kita lalui, sudahkah Ramadhan yang telah berlalu berhasil menghantarkan masing-masing diri kita pada puncak kenikmatan serambi cinta Ilaahi. Ataukah sebagaimana disinyalir hadits baru sebatas memperoleh rasa lapar dan dahaga? Untuk itu janganlah kita berputus-asa dari rahmat ampunan Allah, semoga di tahun mendatang kedatangan Ramadhan lebih bermakna untuk kita tempuh.

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنينَ وَالْمُؤْ مِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالاَمْوَاتِ ِانَّكَ سمِيْعٌ قَرِيْبٌ
مجُيْبُ الدَّعَوَاتِ يَا قَا ضِىَ الحْاَجَاتِ وَيَا كَافيَ الْمُهِمَّاتِ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Ya Allah ya Rabb kami, bila tidak karena apa yang tidak kami ketahui tentang urusan kami, tentulah kami tidak mengadu atas segala kehinaan kami.
Bila tidak karena dosa-dosa kami,
tentulah tidak kami tumpahkan segala air mata kami.
Rabb, dosa-dosa kami telah memenuhi sempadan-sempadan langit dan memberatkan bumi.
Betapa banyak rahmat karunia dan kesempatan yang telah Kau curahkan
hanya kami sajalah yang senantiasa lengah dan tak pandai bersyukur.
Tiada bisa lagi kami beralasan,
sebab, telah putus segala jalan untuk beralasan.
Kami akui segala dosa kami, ampunilah dosa-dosa kami yang banyak itu,
dengan amal kebajikan kami yang sedikit.
Rabb, bila amat kecil ta’at kami,
maka pengharapan kami atas rahmat-Mu amatlah besar.
Bagaimana kami bisa kembali dengan rasa kecewa tidak mendapatkan anugerah-Mu sedangkan kami masih berharap atas kemurahan-Mu.
Ilaahi
Kami adalah manusia yang sangat membutuhkan akan kasih sayang-Mu
Jadikanlah kami manusia yang selalu ingat akan hal itu, dan menjadi aqidah bagi kami,
Sehingga di saat apapun kami selalu mengingat-Mu, memanjatkan do’a kepada-Mu,
dan bersikap ta’at menuju-Mu.
Ilaahi
Pandanglah kami dengan pandangan kasih-Mu
karena dengan pandangan itu kami yang berlumuran dosa
akan mendapat pengampunan-Mu lewat kasih sayang-Mu.
Jauhkanlah azab kesengsaraan dalam hidup kami
Kalaulah itu tetap harus berlaku dengan lantaran takdir-Mu, jadikanlah kami manusia-manusia yang sabar menghadapinya hingga bertemu denganMu.
Ilaahi
Jadikanlah keluarga dan keturunan kami
Keluarga dan keturunan yang selalu beribadah dan mengabdi kepada-Mu
Manakala kami seorang ayah, jadikanlah ayah yang sanggup menjadi imam di antara orang-orang taqwa di keluarga kami.
Manakala kami seorang Ibu, jadikanlah ibu diantara anak-anak kami sebagai tempat tumpuan belai kasih sayang keluarga kami.
Manakala kami sebagai anak, jadikanlah kami anak yang berbakti pada orangtua kami.
اَلَّلهُمَّ أَعِنَّا عَلىَ ذِكْرِكَ وَ شُكْرِكَ وَ حُسْنِ عِبَادَتِكَ
اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَ قِيَامَنَا وَ قِرَاءَتَنَا وَ زَكَاتَنَا وَ عِبَادَتَنَا كُلَّهاَ . اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ يَا كَرِيْمُ
وَ تُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ.
رَبَّنَا آتِنَا فيِ الدُنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قَنَا عَذاَبَ النَارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ اْلعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَاْلحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ .

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: