Oleh: lutfifauzan | Agustus 11, 2012

Menuju Puncak Ma’rifatullah melalui I’tikaf
di Bulan Ramadhan

Inti tauhid adalah ma’rifatullah (mengenal Allah), sebab alangkah nista jika manusia tidak mengenal siapa yang telah menciptanya. Berpaling dari Allah, tidak mesngenal-Nya merupakan satu bentuk kesombongan manusia terhadap Pencipta. Sudah sampaikah pemahaman pada kita, ketika Allah smendahului memperkenalkan DIRINYA kepada manusia? Susungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada illah kecuali Aku Allah (Q.S.20:14). Bagaimana kedudukan manusia kalau Allah sudah memperkenalkan DIRINYA tetapi manusia tidak mempedulikannya? Allah juga menyayangkan manakala manusia tidak mengenal Allah dengan pengenalan yang benar dengan segala Sifat Indah yang wajib difahami sang hamba (Q.S.22:74) sebagai langkah awal untuk mampu menam-pilkannya dalam perilaku keseharian. Takhalluqu bikhuluqillah, berakhlaqlah engkau dengan akhlaq Allah (al-Hadits).

Di sisi lain Allah juga memerintahkan kepada manusia untuk meneliti apa yang ada pada diri mereka. Wafii anfusikum afala tubshirun, dan di dalam dirimu sendiri apakah engkau tidak memperhatikannya. Penelusuran dan perenungan terhadap jati diri ini diperintahkan karena dapat menghantarkan manusia pada pengenalan terhadap Allah (ma’rifatullah). Ahli hikmah mengatakan: “man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu”, siapa yang mengenal dirinya niscaya ia akan sampai pada pengenalan terhadap Rabbnya.

Allah memerintahkan mencermati berbagai keajaiban yang tergelar di alam semesta, ujung perjalanan yang diharapkan tidak lain supaya manusia sampai pada penyaksian akan Kemahabesaran dan Kemahakuasaan Allah. Lihatlah berulang-ulang adakah dari ciptaan Allah itu yang tidak setimbang? (Q.S.67:3). Alam semesta yang demikian rumit tata susunannya diciptakan dan dikendalikan oleh Allah Yang Tunggal, sekiranya Allah itu berbilang tentulah terjadi benturan-benturan yang menyebabkan kehancuran.

Tiga jalan menuju penyaksian dan pengenalan kepada Allah (ma’rifatullah) sebagaimana dikemukakan tadi dapat ditempuh manusia malalui i’tikaf yang disyariatkan terutama pada 10 hari terakhir bulan ramadhan. Apa inti dan rahasia di sebalik i’tikaf ini?

Kata i’tikaf terbentuk dari kata dasar عكف yang berarti: menetap, ber-mukim, tinggal, bertekun diri. Di dalam Al-Quran terdapat 9 kata yang ter-bentuk dari kata dasar tersebut, namun bentukan kata yang mengarahkan artinya pada ibadah i’tikaf hanya dua. Dua kata itu tercantum pada Q.S. Al-Baqarah 187 عاكفون dan Q.S. Al-Baqarah 125 العكفين yang berarti orang-orang yang beri’tikaf, yakni yang tinggal, berdiam namun tetap bertekun diri. Ini menunjukkan bahwa secara zhahir orang yang beri’tikaf itu tinggal berdiam diri di masjid, namun secara ruhani ia bertekun diri menempuh perjalanan ruhani ( ف = huruf ke 20 = Surah 20) dengan senantiasa memelihara kekhu-su’an suasana (ف + ع = 20+18, senilai kata خشع 18+13+7) dan kesetimbangan gerak aqal dan rasa untuk dapat menyempurnakan perjalanannya ( ك = huruf ke 22= Surah 22, simbol kesetimbangan sempurna) sampai pada puncak penca-paian yakni lebur dalam KEMAHABESARAN ALLAH yang dikenal dengan istilah fana. Manusia fana, lebur dengan Allah namun tidak dalam pengertian manunggaling kawula-Gusti. Allah tetap Allah, manusia tetap sebagai hamba. Leburnya hamba hanyalah ibarat air di dalam botol yang berada pada tengah-tengah samudera. Air dalam botol itu seolah-olah menyatu dengan samudera namun tetap terpisah adanya. Sedang pengalaman spiritual sang hamba, diri su-dah tidak terlihat karena pandangan hanya terpaku pada Keindahan dan Kea-gungan Allah. Itulah puncak ma’rifat (ع / عرف ) yang mampu dicapaikan pada manusia. Perjalanan ruhani sampai pada puncak inilah yang disebut dengan mudik, manusia pulang kembali untuk berkumpul sebagai keluarga Allah (annaasu iyaalullah). Secara ruhani (bukan dalam pandangan syar’i), manusia yang telah mudik inilah yang layak berhari raya karena telah bertemu Allah dan mendapat hidangan langit dari Allah berupa ilmu dan petunjuk (Q.S.64:11) atau bahkan amanat (Q.S.33:72). Pengaruh nyata yang dirasakan oleh hamba pada puncak pencapaian ini adalah ketentraman bathiniah. Sebagaimana dibentangkan penjelasannya oleh Allah pada Q.S. Al-Maidah 113-114:
5:113. mereka berkata: “Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya ten-teram hati Kami dan supaya Kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada Kami, dan Kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu”.
6:114. Isa putera Maryam berdoa: “Ya Tuhan Kami turunkanlah kiranya kepada Kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi Kami Yaitu orang-orang yang bersama Kami dan yang datang sesudah Kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezekilah Kami, dan Engkaulah pemberi rezki yang paling Utama”.

Sangat disayangkan inti perjalanan dan tujuan puncak ibadah seperti ini jarang menjadi perhatian manusia. Kebanyakan manusia beribadah terjebak pada tujuan-tujuan duniawi. Mereka beribadah kepada Allah dengan orientasi dagang, menuntut diperolehnya laba dengan segera. Lihatlah betapa banyak manusia beribadah bukan dalam rangka mewujudkan syukur dan memperoleh ridha Allah kemudian bertemu Allah, melainkan untuk tujuan-tujuan yang remeh, seperti kekayaannya bertambah, sembuh dari sakit, naik pangkat dan jabatannya, usahanya lancar, sekolah mendapat nilai tinggi, lulus dan mudah dapat pekerjaan dan tujuan-tujuan duniawi lainnya, yang ketika itu dirasa tidak dikabulkan mereka kecewa, putus asa dan melontarkan prasangka-prasangka buruk kepada Allah. Padahal ketika Allah telah ridha kepada hamba-Nya maka Allah akan memberikan apa saja yang dapat menyenangkan hamba-Nya. Allah malu jika hamba yang dicintai-Nya sampai lebih dahulu meminta sedangkan Allah Mahatahu terhadap kebutuhan sang hamba.

Jalan perjumpaan melalui i’tikaf
Selama i’tikaf, mu’takif (orang yang i’tikaf) dapat mengisinya dengan berbagai amalan ibadah, seperti: shalat, membaca dan mentadaburi Al-Quran, berdzikir dengan berbagai kalimat thayyibah (baik), saling bertaushiyah dari antara mu’takif yang hadir pada satu masjid, bermunajad dengan berbagai doa, namun yang tidak kalah penting adalah melakukan muhasabah (mawas diri) dengan merenungi keberadaan diri dalam hubungannya dengan tujuan ma’rifat dan penunaian tugas hidup yang telah diamanatkan oleh Allah tanpa tercemari oleh urusan-urusan duniawi.

Bertafakur dalam keadaan berdiri, duduk, ataupun berbaring yang perlu dilakukan adalah mempersambungkan tali hati dengan Satu Titik yaitu Allah dan menyisihkan berbagai pertalian dengan selain-Nya. Ketika berupaya mempersambungkan tali hati ini hendaknya dengan kesadaran bahwa diri ini lemah. Sebab, layakkah manusia merasa dirinya kuat sedangkan Allah nyata menegaskan manusia dicipta dalam keadaan lemah (wakhuliqal insaana dhaifa). Selain kesadaran diri lemah, tidak memiliki daya apa-apa, hendaknya diri juga merasa bodoh, hina, dan tidak memiliki amalan yang berarti, kecuali yang telah diperbuat adalah kezhaliman dan menumpuk-numpuk dosa. Jangan ada perasaan diri sudah mempunyai tabungan melimpah dari ibadah shalat, puasa, infaq, haji yang telah dilakukan berulang. Kita tidak tahu kadar ke-murnian atau keikhlasan ibadah kita yang akan menentukan hasil buahnya bagus ataukah busuk semuanya. Oleh karena itu lebih sopan jika sang hamba, ketika bersimpuh di hadapan Allah mengaku bodoh dan tidak mempunyai amalan yang berguna.

Dalam keadaan seperti itu apalagi yang diharap oleh hamba kecuali am-punan dan rahmat Allah. Harapan yang dibaluri rasa malu dan takut kalau Allah tidak mau memandang pada keberadaan dan kehadiran kita, tidak mau mendengar pinta kita, Allah berpaling dan tidak ngreken kita. Kalau harap dan perasaan malu serta takut itu berpadu akan membentuk kumparan dalam hati yang akan menimbulkan getaran sehingga menggetarkan sendi, kulit, dan pada setiap kalimat thayibah yang kita bisikkan — lisan hanyalah corong dari ungkapan hati.
Lakukanlah proses penempuhan seperti ini secara terus menurus sekalipun dirasakan sulit dan jatuh bangun untuk mempersambungkan hati dengan Satu Titik Allah ini. Pada saatnya, ketika Allah telah menyaksikan bahwa sang hamba telah nyata berusaha dan jatuh bangun hingga kehabisan tenaga, Allah akan mengulurkan tali perolongan-Nya supaya dipegang oleh hamba. Lebih lanjut Allah akan menuntun perjalanan hamba hingga sampai pada puncak ma’rifat dalam keadaan ridha dan diridhai. Jika itu terlaksana, maka fithrah yang selama itu “menghilang” terbungkus oleh debu-debu duniawi, tercabik- cabik oleh berbagai jebakan iblis, terperosok dan tenggelam pada jurang ke-nistaan telah dientaskan melalui proses pertobatan hingga kembali dalam ke-adaan suci, ia mudik sebagai keluarga Allah, maka sebagai rasa syukurnya dikumandangkanlah takbir pada hara raya. Wallahu a’lam bishshawab.
(Lutfi Fauzan)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: