Oleh: lutfifauzan | Januari 28, 2012

KHUTBAH NIKAH

Membangun Hunian Masyarakat Makmur-Aman-Sejahtera

Dalam Balutan Cinta dan Kasih-Sayang Dan Nilai-Nilai Fithrah Pernikahan

Lutfi Fauzan

 Assalaamualaikum wr wb,

اَلْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِىَ لَهُ  اَشْهَدُ اَنْ لاَالهَ اِلاَّ اللهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَرْسَلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ

 اَللّهُمَّ صَلّ وَسَلّمْ وَبَا رِكْ عَلى مُحَمَّدٍ وَعَلى الِه   وَاَصْحَابِه

يَااَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَااَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَاْلاَرْحَامَ اِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَااَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا

يُصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعْ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لاَ تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللهِ ذَلِكَ الدّينُ الْقَيّمُ

وَلَكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajah mu dengan lurus kepada agama (Islam) (sesuai) fithrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan Manusia tidak mengerti QS.30:30

Pernikahan adalah bagian dari fithrah jiwa insani dan sunnah para Nabi.  Darinya melahirkan gugusan cahaya keluhuran dan kemuliaan yang mewujud pada akhlaqul karimah dalam kehidupan bermasyarakat. Pernikahan demikian itu tercapai manakala diperjalankan oleh kedua belah-pihak suami-istri dengan niat semata beribadah karena Allah, lurus berada di jalan syar’i, mengikuti sunnah Nabi untuk dapat berlabuh di dermaga syurgawi yakni Rumah tangga yang Sakinah Mawaddah wa Rahmah, sebagaimana kehidupan rumah tangga Nabi Muhammad saw yang masyhur dikenal dari sabdanya “baitiy jannatiy/rumahtanggaku adalah syurgaku”. Inilah inti dan fithrah pernikahan dua insan yang nantinya melahirkan dan menumbuh-kembangkan jiwa-jiwa fithrah berupa generasi sholeh-sholeha. Dengan lahirnya anak turun sholeh-sholehah itu terbentanglah hunian hidup masyarakat Makmur-Aman-Sejahtera Dalam Balutan Cinta dan Kasih-Sayang.

Masyarakat yang marhamah hanya dapat terbangun melalui keluarga sakinah yang penuh dengan cinta dan kasih sayang. Demikian itu karena:

  • Cinta adalah pondasi sekaligus ruh tenaga pengggerak yang akan menjalankan kehidupan rumah tangga.
  • Kasih-sayang adalah naungan atap pelindung bagi rumah tangga.
  • Agar cinta dan kasih-sayang senantiasa seiring-sejalan dalam tujuan harus diikat-rajut dengan Iman yang berfungsi selaku cahaya penerang penuntun ketepat-pastian arah perjalanan kehidupan rumah tangga.
  • Cinta dan Kasih-sayang yang diikat-rajut dengan Iman melahirkan ketenangan-kedamaian berfungsi sebagai oksigen yang memberikan kesejukan nafas kehidupan dalam perjalanan menuju rumah tangga syurgawi.

Untuk itu yang perlu diperhatikan, sebaik-baik cinta adalah cinta yang tumbuh-berkembang karena Allah, sebagaimana dinyatakan salah satu golongan yang mendapat naungan di hari berbangkit dan dapat merasakan lezatnya iman adalah orang-orang yang bercinta karena Allah untuk kemudian hati mereka berlabuh di dermaga cinta Allah. Sungguh luar biasa kekuatan cinta dan kasih-sayang dalam kehidupan rumah tangga yang terjalin-erat karena Allah, memberikan sumbangan tersendiri pada kehidupan alam masyarakat semesta dengan andil memperkokoh tiang semesta.

Kokohnya tiang semesta adalah keadaan yang dibenci iblis, karena semakin kokoh tiang semesta semakin panjang deretan derita-siksa yang dirasakannya. Untuk mempersingkat penyiksaan dari jalan penangguhan hisab, maka dari segala arah-penjuru iblis mengerahkan semua pasukannya untuk membuat kehancuran di muka bumi agar kiamat segera terjadi. Sudah barang tentu karena pangkal kebahagiaan dan ketenteraman hidup ada di dalam rumah tangga, maka rumah tanggalah yang dijadikan sasaran pertama untuk dihancurkan. Adapun jalan kehancuran itu adalah perceraian. Perceraian memang jalan yang Allah halalkan tetapi ia dapat menggoncangkan Arsy Allah. Jika Arsy Allah saja bergoncang saat thalak dijatuhkan, apalagi tiang penyangga semesta.

Perceraian merupakan pisau tajam pemutus tali cinta dan kasih-sayang yang terjalin karena Allah. Generasi yang semula terlahir dari kebahagiaan cinta dan kasih-sayang berubah tumbuh-berkembang tanpa cinta dan kasih-sayang lagi karena adanya perceraian. Generasi yang tumbuh-berkembang tanpa cinta dan kasih-sayang paling mudah dijadikan iblis sebagai sarana kaki tangan untuk melangsungkan kehancuran di muka bumi. Iblis berharap-rencana melalui kehancuran rumah tangga dapat memperkecil lahirnya manusia atau generasi beriman penebar nilai cinta dan kasih-sayang. Generasi beriman penebar cinta kasih sayang itu, keberadaannya dapat mencegah datangnya qiamat — qiamat tidak akan terjadi selama masih banyak manusia beriman.

Jangan dikira penangguhan hukuman yang Allah berikan pada iblis merupakan suatu kenikmatan atau kebaikan; justru dengan penangguhan tersebut adalah siksa sepanjang hidup bagi iblis, sehingga segala cara diupayakan iblis untuk menyegerakan datangnya qiamat-kehancuran agar penyiksaan dapat berakhir. Jalan yang ditempuh iblis membuat kehancuran dalam rumah tangga adalah perceraian. Oleh karena itu mari kita semua selalu ingat dan renungkan firman Allah pada QS.2:102 yang mengisyaratkan Iblis tidak akan pernah tinggal diam melihat kerukunan-kedamaian dalam kehidupan rumah tangga, ia dan pasukannya tiada berhenti menyihir keluarga bahagia untuk bercerai. Sampai kapanpun tidak akan ada kata damai antara anak turun manusia dengan Iblis, sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah Iblis adalah musuh yang nyata (aduwwum mubin) bagi manusia —- Bagi manusia, musuh sudah tersedia yakni Iblis, maka tidak layak jika suami memandang istri sebagai musuh atau sebaliknya istri memandang suami sebagai Iblis.

Sesaat kita kenang kembali bagaimana dengkinya Iblis melihat cinta-kasih dan kebahagiaan yang tercipta antara Nabi Adam dan Hawa. Syahdan saat itu Nabi Adam dan Hawa menempati hunian hidup di syurga dengan segala kenikmatan dan kebahagiaan lengkap-tercukupi, hanya satu yang dilarang mendekati satu pohon yang apabila dilanggar cukup membuat mereka terhina. Menyaksikan cinta-kasih dan kebahagiaan Nabi Adam dan Hawa di syurga menambah dendam dan kedengkian Iblis, maka dengan segala upaya bujuk-rayu digodalah Adam dan Hawa sehingga keluar dari syurga, bahkan hidup terpisah dalam hitungan waktu cukup panjang. Demikian itulah iblis selalu berupaya mencerai-beraikan kehidupan suami-istri.

Tegasnya, kebahagiaan yang tercipta dalam rumah tangga yang terbina melalui cinta dan kasih sayang karena Allah merupakan bagian dari sarana turut andil menjaga kekokohan tiang penyangga semesta. Demikian besarnya pengaruh cinta dan kasih-sayang yang terbina dalam kehidupan rumah tangga wajar jika dinyatakan “pernikahan adalah bagian pelaksanaan separoh dari ibadah sehingga kita diperintahkan untuk memelihara separoh yang lainnya”, sebagaimana penegasan Hadits:

Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi”. (HR Thabrani dan Hakim).

Namun sejauh ini, masih banyak manusia tidak menyadari betapa luhur dan mulianya tujuan pernikahan yang tidak hanya memberikan kebahagiaan pada diri pribadi bersangkutan melalui tersalurnya syahwat yang sebelumnya haram kecuali didahului aqdun nikah, namun secara kesemestaan, alam pun ikut merasakan kebahagiaan karena semakin memperkokoh tiang semesta.

Sadarkah kita bahwa pernikahan  bukan hanya sekedar terpenuhinya shahwat dan untuk kesenangan waktu sesaat ataupun suatu senda gurau yang apabila salah satu pihak mulai merasakan adanya ketidakcocokan, begitu mudah mengungkapkan kata cerai? Padahal melalui pernikahan dapat menghantarkan seorang hamba pada tingkat bercinta dan bercumbu-mesra dengan Allah Sang Pencipta. Manakala suami-istri dalam hubungan biologis tidak semata-mata ditujukan pada terpenuhinya syahwat namun lebih jauh untuk dapat menyatukan dua rasa yang berbeda, hal itu menjadi jalan-sarana menyatunya hamba dalam cinta dan cumbu-mesra dengan Pencipta. Mustahil seorang hamba akan sampai pada puncak percintaan dengan Allah, jika penyatuan rasa suami-istri gagal diperoleh. Luhur dan mulianya tujuan pernikahan tidak saja berdampak pada nilai-nilai rahmatan lil ‘alamin tetapi juga dapat menghantarkan hamba pada jenjang hubbubiyah (tingkatan hamba bercinta dan bercumbu-mesra dengan Allah sebagai puncak dari rasa bersyukurnya).

Pernikahan adalah fithrah dengan kesakralan sedemikian luhur dan agung karena terikat-rajut dalam buhul janji  suci ijab-qobul. Kesetaraan ikrar (ijab dan Qabul) ini, sebagai mitsaqan ghalidha, nilainya sebanding perjanjian Allah dengan Bani Israil, setara pula dengan nilai perjanjian Allah dengan para Nabi. Pertanyaan pada diri kita masing-masing, baik yang telah lama menikah maupun khusus bagi kedua anak kami Rizki dan Nurul yang hendak melangsungkan pernikahan, hendak dibawa kemana ikrar janji suci ijab-Qobul nanti? Apakah akan dikhianati sebagaimana Bani Israil mengkhianati perjanjian dengan Allah, sehingga hidup bersandangkan laknat dan kutukan? Ataukah ijab-qobul dipelihara dan dirawat sebagaimana para Nabi memenuhi perjanjian dengan Allah, sehingga  hidup mulya di dunia dan akhirat? Kesemuanya berpulang pada niat tulus kalian berdua.

Perlu kita ketahui kehidupan di akhirat adalah kelanjutan dari kehidupan di dunia, apabila di dunia yang ditumbuhkan suasana kehidupan syurga Insya Allah kelanjutan di akhirat adalah syurga, sebaliknya bila yang dirasa dan dijalankan dalam kehidupan dunia suasana kemarahan tanpa kedamaian dipastikan kelanjutan di kehidupan akhirat adalah neraka.

Sebenarnya tidaklah terlalu sulit untuk memulai membina rumah-tangga dengan nuansa syurgawi. Diawali dengan hal yang mudah dan tampaknya sangat sederhana yaitu menghias-hidupkan suasana kamar peraduan dengan lantunan lembut wahyu Al-Qur’an cukup sudah untuk mengundang hadirnya para Malaikat yang senantiasa memayungi kebersamaan dan memohonkan ampunan serta rahmat untuk kita. Bukankah hal ini sangat mudah dan sederhana, hanya dengan melantunkan wahyu Al-Qur’an di antara dua pasangan, sembari berbaring di peraduan, yang dijadikan kalam penutup aktivitas harian, dilakukan setiap kali hendak tidur, mempunyai nilai-makna yang luar biasa dalam membina cinta dan kasih-sayang dalam kehidupan rumah tangga. Belum terlambat bagi kita yang sudah memasuki usia pernikahan dalam hitungan tahun, dan sangat baik bagi anak kami berdua Rizki dan Nurul, memulai membangun rumah tangga dengan menghias-hidupkan kamar peraduan dengan senandung lantunan lembut wahyu Al-Qur’an.

Pernah dikisahkan dalam kehidupan salah satu keluarga Muslim; saat itu disuatu malam menjelang tidur sang istri meminta suaminya membacakan wahyu Al-Qur’an, karena sang istri memang sangat suka dengan suara bacaan Al-Qur’an suaminya. Suami pun memenuhi permintaan sang istri, wahyu Al-Qur’an dibacakan dalam keadaan sang istri bermanja mesra sambil mengikuti bacaan sang suami. Apa yang terjadi dalam tidurnya sang istri dimimpikan, para Malaikat berebut untuk mendekat. Terbuai para Malaikat dalam bauran rasa tertegun-heran, tersipu-malu dan riang bergembira melihat keadaan suami-istri bermesra-manja sambil melantunkan wahyu Al-Qur’an. Keterkaguman makluq Malaikat pada penyaksian terungkap dalalm kata: “betapa indahnya hati insan suami-istri bercinta, berkasih-sayang dalam rajutan dan lantunan kalam Ilahi. Seketika itu pula, makhluq terlaknat, iblis, lari menjauh dengan ketakutan tak mampu menjamah apalagi sampai menggoda. Sedangkan Malaikat sepanjang malam menjaga ke dua pasangan itu.

Sudah barang tentu, akan lebih indah lagi bila lantunan firman Allah tersebut diikuti dengan penghayatan akan isi-makna yang ditindaklanjuti dengan penyikapan dan pengamalan. Langit yang gelap seakan terang-benderang memancarkan cahaya penerang, menuntun hati dan jiwa hanyut dalam Ke-Agungan dan kebesaran nikmat Allah. Damailah dunia, kokohlah singgasana Arsy Allah dalam ikatan kuat tali hamba bercinta dan berkasih-sayang karena Allah.

Banyak kaum Muslim tidak mengetahui haqiqi kebersamaan kasih-sayang sejati yang timbul dalam keadaan masing-masing hati lepas dari beban fikiran dan perasaan, tetapi menyatu dalam kemesraan dan keromantisan irama merdu wahyu Al-Qur’an. Keadaan suami-istri demikian itu dapat dijelaskan secara isyarat-perlambang awal Nabi menerima wahyu dalam keadaan ketakutan bersambutkan  dengan pelukan istrinya, Khodijah. Demikian pula, wahyu banyak turun di kamar ‘Aisyah dalam suasana bahagia, hati berbaur dalam kasih sayang.

Oleh karena itu, perlu disadari kedua belah pihak suami-istri dalam  mengarungi samudra kehidupan rumah tangga adalah tekad dan kesadaran akan makna tujuan pernikahan. Luruskanlah niat sejak awal bahwa pernikahan dilangsungkan atas dasar ibadah semata karena Allah, yang dengan sendirinya masing-masing fihak suami-istri akan sadar dengan fungsi dan tanggung-jawabnya masing-masing. Binalah rumah tangga dengan cinta dan kasih-sayang karena Allah, karena tanpa kecuali di dalam setiap jiwa insani merindukan adanya tautan tempat bersandarnya cinta. Pernikahan adalah bagian dari jalan mempertautkan cinta. Betapa luhurnya harkat-martabat manusia, ia dicipta untuk dicinta oleh Allah Sang Maha Pencipta lagi Maha Pencinta terhadap hambaNya. Subhanalllah adalah kata paling utama diungkapkan manakala kita sadar azas penciptaan kita adalah cinta. Jika pada masing-masing suami-istri menyadari haqiqi dipersatukan dengan ijab-qobul karena cinta, tentu akan selalu berupaya menjaga cinta itu agar tetap tumbuh indah dalam kerekatan kasih-sayang.

Mengakhiri khutbah ini saya mewakili kedua orang tua hendak menyampaikan pesan kepada ananda berdua Rizki dan Nurul: Hari ini akan menjadi satu di antara hari-hari paling indah dan bersejarah di dalam kehidupan ananda berdua. Sebentar lagi ananda akan menjadi sepasang suami-isteri, darinya kelak akan lahir anak-anak yang sholeh dan sholehah yang akan menambah indahnya rentangan hunian hidup yang syurgawi.

Rentang waktu perjalanan hidup manusia yang dirasa begitu panjang, sebenarnya sangat singkat. Begitu pula dengan gelombang-badai, liku-liku dan pernak-pernik kerumitan hidup, sesungguhnya bila dihayati, sederhana pula, sepanjang kesadaran tetap terjaga bahwa kita semua diciptakan oleh ALLAH dengan takdir dan kehendak-Nya dan untuk beribadah semata kepada-NYA. Dan akhir dari perjalanan hidup ini adalah perjumpaan dengan Allah yang sudah barang tentu jalan perjumpaan tersebut hanya lewat jalan yang Allah ridhai. Untuk itu perlu adanya upaya masing-masing pihak suami istri untuk menyelaraskan kehendak diri pada sunnah Nabi dan segala bentuk sikap dan tindakan hendaklah didasari atas dasar semata-mata di dalam rangka menperoleh ridha Allah.

Kepada ananda Rizki selaku calon suami saya ingatkan:

Wanita dinikahi karena empat perkara yaitu hartanya, keturunannya, kecantikannya dan  agamanya. Maka seutama-utama memilih wanita adalah karena agamanya, Insya Allah sebagai suami akan mudah membawanya menuju mahligai kehidupan syurgawi. Dihimbaukan kepada suami agar mempergauli istri dengan cara baik.

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالمَعْرُوفِ

Dan pergaulilah pasanganmu dengan baik

Adapun tauladan yang baik bagi seorang suami adalah Nabi Muhammad saw yang begitu sangat lembut memperlakukan istri. Kita sama-sama ketahui perumpamaan penciptaan wanita adalah laksana tulang rusuk yang bengkok, apabila ia diluruskan dengan cara keras dan paksa patahlah tulang rusuk tersebut, sebaliknya bila didiamkan saja tentu ia akan bengkok selamanya. Baik tidaknya dalam mempergauli istri menjadi cermin kadar keimanan diri sekaligus kesempurnaan akhlaq. Jika diibaratkan rumah tangga adalah kapal yang sedang berlayar maka akhlaq adalah sebagai bahan bakar atau bahan perlengkapan dalam perjalanan. Suami adalah imam atau pemimpin bagi wanita atau laksana Nakhoda yang menentukan arah perjalanan bahtera rumah tangga. Sebagai suami agar dapat memimpin rumah tangga dengan baik penuhilah syarat sebagai seorang pemimpin di antaranya: berupaya untuk memenuhi keperluam-kebutuhan nafkah lahir-batin, membimbing-menuntun ke arah jalan taqwa, dan mengayomi. Jadilah suami yang bertanggung jawab, arif, lemah-lembut terhadap keluarga,  sehingga isteri merasa hangat, tentram dan damai di sisi suami, menjadi teladan yang baik bagi istri dan anak-anak nanti, yang dengan hal itu dapat menimbul rasa bangga dan bahagia pada anak-isteri.

 

Selanjutnya, kepada ananda Nurul selaku calon istri saya ingatkan:

Dalam Hadits disebutkan apabila datang seorang laki-laki yang baik agama (akhlaqnya) terimalah ia, atau jika tidak, maka dapat menimbulkan fitnah. Kita yakin ananda Nurul menerima Rizki sebagai calon suami dengan pertimbangan karena agama dan akhlaqnya. Oleh karena itu, sebagai calon istri luruskanlah niat-hati melalui pernikahan ini sebagai jalan beribadah dan berbakti kepada suami. Disebutkan seutama-utama pengabdian laki-laki adalah kepada ibunya dan seutama-utama pengabdian seorang wanita adalah kepada suami. Bahkan dengan tegas Nabi mengatakan sekiranya diperkenankan antara sesama makhluq untuk bersujud, maka mula pertama yang diperintahkan sujud adalah istri kepada suaminya. Oleh karena itu kepada Nurul sebagai calon istri kami berharap-doa agar menjadi istri yang sholehah, yang dapat menyejukkan pandangan suami. Sebagai orang tua kami menghimbau :

  • Terima dan sambutlah suamimu  dengan kehangatan cinta
  • Layanilah ia dengan ketaatan dan kasih-sayang
  • Manjakanlah ia dengan belain lembut dan tutur kata yang indah
  • Semangatkanlah ia dengan kelincahan dan kecerdasan jiwa
  • Bantulah ia dengan doa dan kesabaran
  • Hiburlah ia dengan tutur kata berhikmah
  • Gairahkanlah ia dengan keceriaan dan kelembutan bermanja
  • Tutupilah kekurangannya dengan menampilkan selalu kelebihannya 

Apabila keadaan demikian itu berhasil diwujudkan seorang istri tidak ada kata dan penghargaan yang dapat diberikan kecuali predikat selaku wanita-istri yang sholehah. Bagi wanita, tidak banyak yang dituntut dalam beribadah, cukup dengan menjalankan sholat wajib dan puasa wajib di bulan Romadhan serta mentaati suami (selama suami itu taat kepada Allah), maka ia berhak memasuki syurga dari pintu mana saja yang ia suka.

إذا صلت المرأة خمسها و صامت شهرها وحصنت فرجها وأطاعت زوجها قيل لها

ادخلي الجنة من أي أبواب الجنة شئت

 “Apabila isteri telah menunaikan shalat 5 waktu dan puasa di bulan Ramadhan sedangkan ia taat kepada suaminya (selama suami juga taat kepada Allah) maka kelak Allah berfirman kepadanya: silakan engkau masuk ke dalam syurgaku lewat pintu mana saja yang engkau sukai” (HR Ahmad, At Thabrany dan dishahihkan oleh Al Albany).

 Kalau dunia adalah perhiasan dalam kehidupan maka sebaik-baik nilai perhiasan adalah istri yang sholehah. Satu hal yang banyak tidak diketahi para wanita dalam kegiatannya sehari-hari selaku istri, apabila kesibukkan atau kegiatan rutinnya sehari-hari di dalam rumah tangga diniat-lakukan sebagai bakti pada suami karena taqwa, maka semuanya akan bernilai ibadah. Sekiranya hal ini disadari para istri tentunya tidak akan mudah baginya menghadirkan dan menyerahkan urusan rumah tangga pada pembantu, apalagi yang berkaitan langsung dengan suami. Disadari ataupun tidak, istri yang dalam kegiatan rumah-tangganya lebih banyak diserahkan pembantu, langsung ataupun tidak langsung akan membentuk pribadi yang suka memerintah, yang pada akhirnya akan mudah pula baginya untuk bersikap memerintah kepada suami. Untuk itu tidak ada salahnya dalam kesempatan ini kita kenang dan hayati kembali pesan-nasihat Nabi saw kepada putrinya, Fatimah, dengan harapan kita yang telah menjadi penganten lawas dapat merenofasi citra dan nuansa kehidupan rumah tangga ke arah syurgawi, sedangkan untuk ananda berdua, Rizki dan Nurul, sedari dini berupayalah menghiasi rumah tangga dengan nuansa syurgawi. Pesan-nasehat Nabi pada putrinya Fatimah terangkum pada satu riwayat:

Suatu hari Rasulullah Saw datang menjenguk Fatimah. Ditemuinya Fatimah sedang membuat tepung dengan alat penggiling sambil menangis. Rasulullah Saw bertanya, “kenapa menangis wahai anakku?” Fatimah menjawab,” ayah, aku menangis karena batu penggiling ini, dan aku menangis karena merasa lelah dengan kesibukanku yang silih berganti. Fatimah kemudian meminta kepada Nabi saw agar Ali ra membelikan seorang budak yang dapat meringankan pekerjaannya. Apakah Nabi memenuhi permintaan Fatimah. Nasihat yang diberikan Nabi saw kepada Fatimah diantaranya ialah:

Wahai Fatimah

  • Setiap istri membuatkan tepung untuk suami dan anak-anaknya, maka Allah mencatat baginya kebajikan dari setiap butir biji yang tergiling dan menghapus keburukannya serta meninggikan derajatnya. Betapa mulia dan mudahnya bagi seorang istri hanya dengan membuatkan hidangan atau masakan bagi suami dapat mendatangkan kebajikan dan peningkatan derajat.
  • Setiap istri yang berkeringat karena membuatkan bahan makanan untuk suaminya, maka Allah pisahkan antara dirinya dengan neraka
  • Setiap istri menyisirkan rambut anak-anaknya serta mencucikan baju mereka, Allah catatkan untuknya pahala seperti pahala orang yang memberi makan seribu orang sedang kelaparan, dan seperti pahala orang yang memberi pakaian seribu orang telanjang.
  • Apabila  seorang istri mengandung, maka para malaikat memohonkan ampun untuknya dan setiap hari baginya dicatat memperoleh seribu kebajikan dan seribu keburukannya dihapus, apabila rasa sakit (menjelang melahirkan) datang, Allah mencatat untuknya pahala seperti pahala orang-orang berjihad di jalan Allah.
  • Setiap istri yang melayani suaminya dengan niat yang benar, maka dirinya terbebas dari dosa-dosanya sebagaimana ia dilahirkan. Dan Allah memberinya pahala seperti seribu orang berhaji dan berumroh dan seribu malaikat memohonkan ampunan untuknya hingga kiamat.
  • Dan Setiap istri yang tersenyum manis di hadapan suaminya, Allah memperhatikannya dengan penuh rahmat

Sebagai penutup untuk ananda berdua, Rizki dan Nurul, melalui rangkaian ayat-ayat suci Al Qur’an dan Hadits-Hadits Nabi, Kami semua hanya dapat mengantar kalian hingga di dermaga, selanjutnya bahtera rumah-tangga  akan ananda arungi berdua. Samudera manapun  tidak akan sepi dari ombak dan badai. Oleh karena itu berpegang-teguhlah selalu pada wahyu Al-Qur’an selaku pedoman atau kompas yang akan menngarahkan perjalanan menuju keselamatan dan tetaplah berada di atas jalan taqwa, Insya Allah akan kalian dapati Allah memberikan jalan kelapangan dan kemudahan.

Akhirnya para undangan yang hadir  selaku penyaksi disini akan mendo’akan  kalian berdoa

باَرَكَ اللّهُ لَكَ وَباَرَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَ فِيْ خَيْرٍ

“BAARAKALLAHU LAKA WA BAARAKA’ALAIKA

WAJAMA’ABAINAKUMAA FII KHOIR”

Semoga Allah melimpahkan barakah kepada kamu dan menurunkan kebahagiaan atasmu, serta menghimpun kamu berdua dalam kebaikan.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرّيَّاتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ اِمَامًا

Ya Allah, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri dan keturunan yang menyejukkan sebagai cindera matahati kami, dan jadikanlah kami Imam bagi orang-orang yang bertaqwa”. (Q.S.25: 74)

أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ

 


Responses

  1. maaf copas semoga bermanfaat ilmu anda.amiin


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: