Oleh: lutfifauzan | Oktober 30, 2011

Khutbah Idul Adha 1432H di Masjid Al-Ihsan jl.Teratai Pekanbaru

Kesejatian Iman Bertauhid dengan Untaian Akhlaq Ilahiyah

Labuhkan Jiwa Kehidupan di Dermaga Hunian Berkah Berkemakmuran

Lutfi Fauzan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ اَنْزَلَ الْعِيْدَ مِنْ اَكْبَرِ شَعَآ ئِرِ الاِسْلاَمِ

اَشْهَدُ اَنْ لآ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَه لاَ شَرِيْكَ لَه اِلهٌ اِبْتَلى اِبْرَا هِيْمَ خَلِيْلَه

وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُه وَرَسُوْلُه لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ

اَللّهُمَّ صَلّ وَسَلّمْ وَبَا رِكْ عَلى مُحَمَّدٍ وَعَلى الِه   وَصَحْبِه

كَمَا صَلَّيْتَ  وَسَلَّمْتَ عَلى اِبْرَا هِيْمَ وَعَلى الِ اِبْرَا هِيْمَ وَسَلّم تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا   اَمَّا بَعْدُ

فَيَآ اَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ وَالْمُسْلِمَاتُ رَحِمَكُمُ اللهُ اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِىْ بِتَقْوَى اللهَ وَكُوْ نُوْا مَعَ الصَّادِقِيْنَ

اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَا تِه وَلاَ تَمُوْ تُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

اَللهُ اَكْبرَ اَللهُ اَكْبرَ  لآ اِلهَ اِلاَّ اللهُ  وَاَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبرَ وَللهِ الْحَمْدُ

اَللهُ اَكْبرَ كَبِيْرًا وَّالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَّسُبْحنَ اللهِ بُكْرَةً وَّاَصِيْلاً لآ اِلهَ اِلاَّ اللهُ  وَاَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبرَ وَللهِ الْحَمْدُ

قَالَ اللهُ تَعَالى فِىْ كِتَابِهِ الْعَزِيْزُ 

اِنَّآ اَعْطَيْنكَ الْكَوْثَرَط فَصَلّ لِرَبّكَ وَانْحَرْط اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الاَ بْتَرُ

  اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ gema takbir hangat berkumandang di bentangan samudra ke-MahabesaranNYA, bangkit-getarkan kesadaran jiwa-insani yang terlena-buai dalam ayunan kegelap-bodohan, tak sadar laku diri telah guncang-hancurkan tata-rajutan kesetimbangan bersemesta, bukti iman kandas-terupuruk di lumpur keingkaran.

لآ اِلهَ اِ لاَّ الله syahdu lembut tahlil mengalunkan ke-Esaan Ilaahi, di hamparan lorong-lorong hati yang tandus kering-kerontang, bak daun-daun kering berguguran, hina tak berdaya dalam kuasa putaran angin, dengan sentuhan lembut kasih Ilaahi tumbuhkan bibit kesadaran merakit iman dan pandangan tegakkan hidup berpondasi ketauhidan.

وَ لله الْحَمْدُ lantunan merdu senandung tahmid tampilkan keterpujian Ilaahi, dalam keajaiban Maha-karya Ilaahi pada hamparan semesta, dalam jalinan nilai ke-Esaan himpunkan satu-rajutan angggun berkesetimbangan, tumbuh-berkembang dalam kedamaian isyaratkan hidup tanpa pembangkangan melainkan utuh dalam kemurniaan ketaatan.

Ma’asyiral Muslimin-Muslimat rahimakumullah,

10 Dzulhijjah, seiring fajar bergerak berjenjang naik menyibak tirai kegelapan hidup,  getar menggema alunan takbir, tahlil dan tahmid, berkumandang syahdu di seluruh ruas-lorong alam semesta. Jiwa-jiwa yang sakit tertimpa puing-puing runtuhan iman pun turut merangkak bersatu dalam barisan derap langkah berketauhidan iman, berbondong-bondong menuju tanah-tanah lapang dan masjid-masjid yang dimulyakan untuk bersholat Id— Idul Adha bertandang disambut oleh ummat dalam ragam kualitas iman.

اَللهُ اَكْبرَ وَللهِ الْحَمْد

Sebagian yang imannya baru sebatas pengenalan bercampur keraguan, mereka melantunkan takbir dan melaksanakan shalat  sebatas taklid ikut-ikutan tanpa ilmu dan pengertian, mereka mengagungkan Allah masih dalam keadaan mabuk karena tidak mengerti apa yang diucapkan. Mereka hidup dalam keredupan cahaya iman namun sering sombong dan berbangga dengan dosa kebodohan dan keingkaran. Mereka datang bersholat Id dengan memamerkan pakaian batikan warna-warni kemusyrikan dan kemunafiqan, tanpa  beban rasa malu di hadapan Allah. Hidup terjerat dalam rangkaian kesulitan dan musibah pun tidak disadari sebagai akibat laku perbuatan diri menelantarkan iman. Kemusyriqan paling nyata berlangsung pada diri mereka adalah mempersekutukan Allah dengan hawa nafsu, karena gerak-laku perbuatannya dipimpin dan diperintahkan syahwat yang rendah, bukan dari iman yang tumbuh berakar di dalam hati, mereka menjadi orang-orang yang diperbudak nafsunya sendiri.

Sebagian yang lain, yang imannya penuh keyakinan, takbir, tahlil dan tahmid serta sholat Idul Adha yang ditegakkan adalah bagian dari luapan gelora kerinduan bersegera jumpa-sapa dengan Robbnya. Shalatnya sebagai wujud syukur atas limpahan nikmat rahmat dan berkah dalam segala keadaan.  Bukankah nyata wujud kerinduan hati kala bibir-bibir insan-insan berkeimanan murni basah-bergetar tiada henti memuja Kebesaran-Kemuliaan dan Keagungan Robbnya dalam bentuk ungkapan takbir tahlil dan tahmid. Hanya jiwa-jiwa berkelembutan hati yang dapat menyerap setiap getar alunan takbir, tahlil dan tahmid,  lanjut menyusup lembut  di relung-relung hati paling dalam, menyibak-singkap ihwal keberadaan diri yang sesungguhnya lenyap sirna di hamparan samudra ke-Agungan dan ke-Muliaan Ilaahi. tidak ada lagi keakuan diri yang ada dan tampak hanya Dia Allah dengan segala kuasa perbuatan-Nya. Laksana setetes air hujan jatuh di tengah samudra luas, sirnalah diri dari pandangan, demikian haqiqat keberadaan diri kecil tiada berarti lenyap tak terpandang di tengah hamparan kemahabesaran Ilaahi pada bentangan kuasa-ciptaNya di tengah-tengah kehidupan bersemesta. Mereka berada dalam kesaksian  nyata, kemanapun mereka memandang yang terlihat hanyalah ke-Agungan dan ke-Indahan wajah Allah. Pujian terhadap Allah bukan sekedar ungkapan lisan, melainkan bersumber dari ketauhidan-iman, hadirkan cahaya batin menuntun sorot-persaksian Rubbubiyah, sebagaimana penyaksian Nabi Musa di Bukit Thursina, sesaat diri pinsan lenyap dalam leburan Kebesaran Ilaahi lanjut kemudian bangkit ihlaskan hati dalam berketaatan. Hati mereka indah-bersinar terang dalam celup-batikan Asma  Indah Allah. Perbuatan mereka disandangi pakaian indah bermodelkan akhlaq Ilaahiyah indah nan terpuji. Jiwa mereka benar-benar tulus kepada Allah, pengenalan dan pendekatan kepada Allah mereka lakukan melalui penyucian jiwa dan pengolahan akhlaq indah-terpuji. Terbentuklah pada pribadi mereka  keselarasan sifat dengan sifat Allah.

اَللهُ اَكْبرَ وَللهِ الْحَمْد

Apabila hamba berakhlaq terpuji pasti melahirkan perbuatan terpuji pula, maka alam semesta turut menyambut dan menyapa ramah kepada mereka karena turut merasakan pengaruh positif atas keberadaan hamba mukmin sejati, sebagaimana Nabi Muhammad saw, kehadirannya menebarkan rahmat bagi semesta. Sebagai timbal baliknya, alam pun menyerahkan dirinya untuk dikelola, didayamanfaatkan oleh manusia, sehingga terjadilah persahabatan di antara insan dan alam, maka goncangan musibah pun enggan bertandang. Kandungan kekayaan alam yang tersimpan menyerahkan diri kepada hamba beriman selaku khalifatullah di muka bumi untuk merakit-bangun kemakmuran hidup bagi terwujudnya peradaban luhur-sejahtera sebagaimana Allah perintahkan.

اِنَّا نَحْنُ نَرِثُ اْلاَرْضَ وَمَنْ عَلَيْهَا وَاِلَيْنَا يُرْجَعُونَ

Sesungguhnya Kami mewarisi bumi dan semua orang-orang yang ada di atasnya, dan hanya kepada Kamilah mereka dikembalikan. (QS. 19:40)

ُ هُوَ اَنشَاَكُمْ مِنْ اْلاَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا اِلَيْهِ اِنَّ رَبّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ

… Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya kemudian bertobatlah kepada-Nya… (QS. 11:61)

Demikian hamparan kehidupan yang terjadi, bila penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa maka Allah berkahi mereka dari langit dan bumi. Sebagaimana difirmankan:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنْ السَّمَاءِ وَاْلاَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَاَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. 7:96)

اَللهُ اَكْبرَ وَللهِ الْحَمْد

Jamaah Shalat Id rahimakumullah,

Dalam rangkaian ibadah Idul Adha salah satunya disyariatkan memotong hewan qorban, mengisyaratkan manusia diperintahkan menyembelih atau mengorbankan nafsu kebinatangan pada dirinya. Mudah bagi orang berkemampuan harta untuk mengorbankan seekor binatang. namun bagaimana kesediaan mereka mengorbankan nafsu kebinatangannya? Kasihan pula mereka yang berkekurangan harta yang tidak mampu menyediakan binatang qorban jika dipandang syariat itu hanya menyangkut mengorbankan binatang. Dalam makna yang luas sesungguhnya Allah telah memberikan kesempatan kepada setiap hamba-Nya tanpa pandang bulu untuk bersedia mengorbankan nafsu kebinatangannya. Tamak, serakah, tak tahu adat, menindas yang lemah, hanya mengutamakan kepentingan diri adalah contoh-contoh nafsu kebinatangan yang dapat merusak tatanan kehidupan. Selama nafsu tercela dominan di dalam diri, dipastikan segala perbuatan seseorang meskipun tampak bernilai kemanusiaan pada akhirnya menghasilkan kerusakan bagi diri dan pihak lain. Kemakmuran hanya akan terwujud manakala kehidupan tidak lagi didominasi nafsu yang gemar pada ketercelaan akhlaq.

Keimanan tauhid murni akan membawa jiwa seseorang pada tingkat rela berqorban. mengutamakan kepentingan pihak lain dari pada kepentingan diri pribadi sekalipun diri sangat membutuhkan. Sebagaimana dicatat dengan tinta emas dalam tarikh perang Yarmuk. Setelah pasukan Muslim berhasil memukul mundur pasukan Roma, ditemukanlah 3 orang mujahid terluka parah, meregang nyawa dan sangat kehausan. Mereka adalah Al-Harits bin Hisyam, Ayyasy bin Abi Rabi’ah dan Ikrimah bin Abu Jahal. Al-Harits meminta air minum kepada yang tampak membawa kantung minum. Ketika air didekatkan ke mulutnya, ia melihat Ikrimah dalam keadaan seperti yang ia alami. “Berikan dulu kepada Ikrimah,” kata Al-Harits. Ketika air didekatkan ke mulut Ikrimah, ia melihat Ayyasy menengok kepadanya. “Berikan dulu kepada Ayyasy!” ujar Ikrimah. Ketika air minum didekatkan ke mulut Ayyasy, dia telah wafat. Orang yang memberikan air minum segera kembali ke hadapan Harits dan Ikrimah, namun keduanya pun telah menghembuskan nafas terakhirnya sebagai syuhada. Demikian itu gambaran akhlaq terpuji dalam keadaan sakit dan membutuhkan masih juga mengutamakan pihak lain, cerminan jiwa berqorban yang tidak diragukan lagi. Al-Quran juga mengabadikan sikap orang-orang Anshar terhadap kaum Muhajirin yang cintanya kepada saudaranya melebihi cintanya kepada diri sendiri, Sebagaimana difirmankan:

وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ

Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (Q.S. 59: 9)

  Kalau cermin itu kita kita terakan pada kehidupan masyarakat kita dalam berbangsa dan bernegara apa yang dapat kita katakan? Masih tumbuh suburkah karakter masyarakat yang gemar bergotong royong, santun, bersahaja, dan peduli kepada pihak lain itu? Ataukah semua telah tergerus oleh sikap pragmatis-materialistik yang masing-masing maunya mementingkan dan memperkaya diri sendiri sehingga memandang remeh terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Hubungan dengan sesama tidak lebih hanya untuk kepentingan sesaat dan memperalat.  Bagaimana suatu bangsa dapat menghamparkan hunian anggun-berkemakmuran, jika masing-masing pribadi bangsa dan para pelaku jalannya kehidupan bangsa bersibuk diri memenuhi kepentingan pribadi karena rendahnya akhlaq yang mereka miliki. Jaya atau hancurnya suatu bangsa sangat ditentukan pada ada tidaknya akhlaq indah-terpuji, yang diawali pada masing-masing pribadi, dilazimkan dalam keluarga dan disebarkan dalam kehidupan bermasyarakat dengan poros penggeraknya adalah para pemimpin, karena pemimpin mempunyai fungsi untuk mempengaruhi dan mengarahkan yang dipimpin.

اَللهُ اَكْبرَ وَللهِ الْحَمْد

Manusia diperintahkan agar berakhlaq sebagaimana akhlaq Allah dan tidaklah Rasulullah Muhammad saw diperintah kecuali untuk menyempurnakan akhlaq manusia. Nabi adalah ukuran dan teladan dalam akhlaq indah terpuji, dan ketika ‘Aisyah ditanya tentang akhlaq Nabi, dijawab akhlaqnya adalah Al-Qur’an. Lalu, bagaimanakah akhlaq indah terpuji itu tampil dalam berkehidupan jika masyarakat telah meninggalkan Al-Quran. Al-Furqan ayat 25 sangat relevan untuk menggambarkan keadaan masyarakat saat ini:

وَقَالَ الرَّسُولُ يَارَبّ اِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

Berkatalah Rasul: “Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang tidak diacuhkan”. (QS. 25:30)

Ma’asyiral Muslimin-Muslimat rahimakumullah,

Sejenak kita buka lembaran sejarah kehidupan Nabi Ibrahim a.s. sebagai Bapak tauhid dan pemimpin orang-orang bertaqwa yang membangun pondasi ketauhidan pada kehidupan keluarga dan masyarakt dengan buah akhlaq indah-terpuji.  Nabi ibrahim a.s. dapat merubah keadaan  yang semula hamparan tandus menjadi makmur. Tidakkah kita perhatikan betapa dahsyat luar biasanya pengaruh tauhid pada orang  beriman, baik sebagi pribadi maupun sebagai pemimpin yang peduli terhadap generasi yang berada di bawah tanggung jawab kepemimpinannya. Telah ditunjukkan oleh Ibrahim as dan keluarganya,  dari ketauhidan melahirkan jiwa yang fithrah (Ismail as), dari kefithrahan melahirkan mata air pertanda kesubur-makmuran suatu hunian. Dilambangkan ketika Siti Hajar berlari-lari mencari air dihamparan padang pasir tandus, dengan ketauhidan dan berserah diri kepada Allah, dari kaki mungil Nabi Ismail yang dihentakkan memancarkan mata air zam-zam yang hingga saat ini tak pernah ada habisnya. Dari ritual Idul Adha yang terjadi pada peritiwa Nabi Ibrahim as dan kelurganya menyimpulkan keyakinan kita bahwa ketauhidan menyebabkan makmurnya kehidupan suatu bangsa, sebaliknya syirik menyebabkan kehancuran.

Allah telah memulyakan Ibrahim as dan menjadikannya hamba pilihan karena kemurnian tauhidnya yang melahirkan akhlak tinggi, ditunjukkan pada kepeduliannya terhadap genarasi keturunan dan umat yang dipimpinnya

اِنَّا اَخْلَصْنَاهُمْ بِخَالِصَةٍ ذِكْرَى الدَّارِ

Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. (QS. 38:46)

Kepedulian Ibrahim as sebagian tercermin dari doanya:

رَبّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ اَنْ نَعْبُدَ اْلاَصْنَامَ

… “Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala. (QS. 14:35)

 Hasilnya, N. Ibrahim as meninggalkan generasi dengan akhlak yang tinggi pula. Dapat kita perhatikan akhlaq terpuji tercermin dari jawaban pemuda Ismail as yang meskipun siap untuk melaksanakan perintah Allah swt berupa penyembelihan dirinya, mengorbankan diri demi tegaknya tauhid dan terpeliharanya kemakmuran, namun ia tidak mengakui dirinya sebagai orang yang paling baik atau paling sabar, tetapi ia merasa hanyalah bagian dari orang-orang yang sabar karena generasi terdahulu juga sudah banyak yang sabar.

Pertanyaan diarahkan kepada kaum pemuda selaku generasi bangsa, sumbangan apakah yang hendak dipersembahkan sebagai bentuk keikutsertaan membangun tauhid dan kemakmuran bangsa. Akankah pemuda  malah turut andil memperpuruk kondisi negeri dan bangsa yang telah kehilangan pondasi sekaligus pilar-pilar ketauhidan iman dan terlepas dari naungan akhlaq indah terpuji. Menghabiskan waktu di hadapan tayangan tidak bermutu atau suntuk berselancar pada situs-situs murahan dan tak bermoral juga pada aneka game yang tidak mencerdaskan serta membunuh waktu emasmu dengan kegiatan yang tidak bermanfaat dan meningkatkan martabat? Wahai Pemuda Muslim, ketika generasi tua telah meremehkan pentingnya keteladanan, kalianlah harapan bagi negeri ini. Jadilah kalian pemuda yang berpendirian. Tetaplah berpihak pada kebenaran. Pelihara iman dan semangat fitrah kebaikan yang ada pada kalian. Jangan biarkan tercemar oleh virus-virus sekelompok pihak yang tak berguna dan tak bertanggung jawab. Ingatlah jaya-mulya atau runtuhnya suatu bangsa bergantung pada bagaimana akhlak yang disandang pendudukannya, terutama kaum pemuda. Suatu bangsa akan kekal dan berkemakmuran selama masing-masing individu penghuni masyarakat tersebut berpayung-pagar akhlak terpuji. Sebaliknya bila akhlak terpuji telah lenyap, lenyaplah bangsa itu dengan nilai-nilai peradabannya.

اَللهُ اَكْبرَ وَللهِ الْحَمْد

Ma’asyiral Muslimin-Muslimat rahimakumullah,

Pertanyaan untuk kita renung-fikirkan bersama, melihat kenyataan di negeri kita dengan mayoritas Islam terbesar di dunia, marak dilanda bencana-musibah berantai, keramahan persahabatan alamkah terjadi atau kemarahan alam. Boleh jadi muncul pandangan yang lahir dari sebatas mata kepala memandang; “musibah alam adalah bagian dari prilaku alam yang wajar terjadi dalam kurun waktu tertentu”. Pandangan-pendapat demikian hanya akan menjauhkan kehidupan manusia dari keimanan. Mereka dilengah-lalaikan oleh pandangan nafsu-fikiran, hati mereka dibutakan dari kekuasaan Allah, sesungguhnya Allah  yang telah mencipta segala sesuatu dan kehidupan di langit dan di bumi berada dalam genggaman-Nya. Hukum-Nya telah pasti, “Apabila kamu bersyukur Kami Allah tambahkan nikmat kepadamu, dan apabila kamu kufur ketahuilah sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (Q.S.14:7). Lebih lanjut Allah ingatkan melalui firman-Nya pula, “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya” (Q.S.8:25). Kalau mata rantai kesulitan-musibah yang saat ini terus melanda kehidupan belum berhasil menyentuh hati-kesadaran, akankah kita menunggu sehingga dihancurkan sehancur-hancurnya sebagaimana umat-umat terdahulu? Naudzubillah min dzalik. Hanya kemudian Allah menghimbau dengan kelembutan: Belum tibakah saatnya, bagi orang-orang beriman itu untuk tunduk hati mengingat  kepada Allah dan pada kebenaran yang telah turun kepada mereka? (Q.S.57:16).

 Takbir, tahlil dan tahmid menghimbau penuh kasih, pada jiwa-jiwa renta  terbuai nikmat dosa, bangkit membuka kesadaran hati

Lepas-tinggalkan nafsu angkara dilema-nista, bertahta dalam kepongahan jiwa, korbankan fihak lain dengan tekan-paksa

Tunas-tunas muda tertimbun kubur kedzoliman berkuasa, terhentak bangkit tumbuhkan   semangat baru nan membaja

Buka lembar-kelopak kehidupan terpadu dalam kemerdekaan dan keadilan  dalam naungan mahkamah kebenaran

 Langkah tersimpang terjerat di jurang kebanggaan hidup hanya pertontonkan dosa nan nista

Berpacu waktu berkendara kemunafiqan iman menggapai ranumnya buah kejahatan dosa

Jiwa-jiwa ringkih berucap dusta  bagai rongsokan tua pasrah digilas bujuk manis dunia

Terbuai lena dalam masa yang panjang disuntik bius nikmatnya kursi kekuasaan

Tak sadari diri gadaikan iman murni berketauhidan, generasi pun ditelantarkan

 Lihainya virus kegelapan  mencumbu jiwa, tiada sadar hanyut dibawa arus kebodohan

Terjerat langkah di lubang kesulitan berantai, tak sadari wujud dari kemurkaan Ilaahi

Mahligai khayal jadikan manusia mati terkubur tak mampu melihat tanda isyarat

Sesaat boleh jadi berkuasa, tapi tunas kebenaran tak dapat ditimbun rekayasa

Pertolongan Ilaahi bebaskan tunas kebenara dari penjajahan panjangnya

Buka kehidupan makmur bersahaja pondasi santun-berkesetimbangan

Demikianlah takbir, tahlil dan tahmid pada hari  Idul Adha bawakan pesan bagi ummat manusia

Akhirnya, harapan hamba-Mu di tempat ini dan di tempat lainnya Ya Allah:

اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنينَ وَالْمُؤْ مِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالاَمْوَاتِ

Ya Allah ya Rabb kami, bila tidak karena apa yang tidak kami ketahui tentang urusan kami, tentulah kami tidak mengeluh atas segala kehinaan kami. Bila tidak karena dosa-dosa kami, tentulah tidak kami tumpahkan segala air mata kami. Ya Allah ya Rabb kami, dosa-dosa kami telah memenuhi sempadan-sempadan langit dan memberatkan bumi. Betapa banyak rahmat karunia dan kesempatan yang telah Kau curahkan kepada kami, hanya kami sajalah yang senantiasa lengah dan tak pandai bersyukur. Tiada bisa lagi kami beralasan, sebab, telah putus segala jalan untuk beralasan. Kami akui segala dosa kami, ampunilah dosa-dosa kami yang banyak itu, dengan amalan-amalan kebajikan kami yang sedikit.

Rabb, bila Engkau tidak merahmati kecuali yang sungguh-­sungguh ta’at kepada-Mu, maka kami adalah orang yang bersalah – yang bersandar kepada-Mu. Bila Engkau tidak memulia­kan kecuali pada mereka yang berbuat baik, maka kami telah berbuat banyak kesalahan. Jika di hari kiamat kelak tidak ada yang selamat kecuali hanya mereka yang bertaqwa, maka, bagaimanakah kami yang banyak dosa akan berharap per­tolongan? Rabb bila Engkau berkenan mengampuni kami, itu adalah hak dan kuasa-Mu yang Mahaterpuji, tetapi Ya Allah, bagaimana jika Engkau berpaling dari kami, tak mau lagi mendengar kami, dan tidak mengampuni kami, lalu pada siapa kami harus memohon ampun. Sedangkan pemilik ampunan dan rahmat hanyalah Engkau. Jika Engkau berpaling dan tak mau menganggap lagi kepada kami, lalu pada bumi mana kami akan berpijak, pada langit mana kami akan bernaung, sedang seluruh isi semesta adalah milik-Mu, Dan kami tidak lain hanyalah makhluk ciptaan dan hamba-Mu.

Rabb, bila amat kecil ta’at kami, maka pengharapan kami atas rahmat-Mu amatlah besar. Bagaimana kami bisa kembali dengan rasa kecewa sebab tidak mendapatkan anugerah-Mu sedangkan kami masih berharap atas kemurahan-Mu. Rabb, bila dosa-dosa kami mengecilkan harapan atas kemurahan-Mu, maka, besarnya keyakinan kami terhadap kemurah­an-Mu lah yang membesarkan hati kami. Kami masih berbaik sangka dan penuh harap atas kemurahan-Mu. Kami bukanlah mereka yang berputus asa untuk mendapatkan rahmat-Mu. Karena itu, janganlah Engkau kecewa­kan kami.

Rabb, bila Engkau tidak menunjukkan Kebenaran Kalam-Mu, tak mungkin kami sampai padanya. Bila Engkau tidak melepaskan lidahku dan Kau buka hati kami buat berdo’a pada-Mu, tak mungkin kami bisa berdo’a. Rabb, jiwa kami telah Engkau muliakan dengan beriman kepada-Mu, bagaimana akan Engkau hinakan di tumpukan bara api-Mu. Rabb, Engkau telah menunjukkan untuk memohon syurga sebelum kami me­ngenalnya. Lalu, bagaimanakah bila Engkau menolak setelah kami me­mohonnya? Bukankah Engkau Maha Terpuji atas segala apa yang Engkau lakukan, wahai Dzat yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi!

Rabb, jika kami tidak pantas untuk mendapatkan rahmat yang selalu  kami mohon, maka sesungguhnya Engkaulah Dzat yang Mahapan­tas melimpahkan rahmat-Mu kepada kaum yang berdosa berkat Kemahaluasan rahmat-Mu.

Rabb, ketenangan kami takkan terwujud melain­kan dengan pemberian-Mu; cita-cita kami takkan terpenuhi melainkan dengan karuniaMu. Rabb, kumohon petunjuk yang selalu mendekat­kan kami kepada-Mu.

رَبَّنَا اتِنَا فِى الدّنْيَا حَسَنَةً وَّفِىالاخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبّكَ رَبّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلمٌ عَلى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

 

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Catatan: untuk khutbah lisan seyogyanya lebih diringkaskan. Syukron


Responses

  1. ASSALAMU’ALIKUM WR. WB, UDA CAKEP BANGET


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: