Oleh: lutfifauzan | Agustus 29, 2011

khutbah Idul Fithri 1432 (ringkasan)

Khutbah Idul Fithri 1432 H (ringkasan)

Kunjung Kasih Ramadhan Menuntun Nafsu dalam Rintihan di Pendakian Cinta Ilaahi,

Merentang Syukur Tebarkan Nikmat Kedamaian Insan-Berkesemestaan

oleh: Luthfi Fauzan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ اَنْزَلَ الْعِيْدَ مِنْ اَكْبَرِ شَعَآ ئِرِ الاِسْلاَمِ

اَشْهَدُ اَنْ لآ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَه لاَ شَرِيْكَ لَه

وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُه وَرَسُوْلُه لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ

اَللّهُمَّ صَلّ وَسَلّمْ وَبَا رِكْ عَلى مُحَمَّدٍ وَعَلى الِه

وَصَحْبِه وَسَلّمْ   اَمَّا بَعْدُ

فَيَآ اَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ وَالْمُسْلِمَاتُ رَحِمَكُمُ اللهُ اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِىْ

بِتَقْوَى اللهَ وَكُوْ نُوْا مَعَ الصَّادِقِيْنَ

اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَا تِه وَلاَ تَمُوْ تُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

للهُ اَكْبرَ اَللهُ اَكْبرَ  لآ اِلهَ اِلاَّ اللهُ  وَاَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبرَ وَللهِ الْحَمْدُ

اَللهُ اَكْبرَ كَبِيْرًا وَّالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَّسُبْحنَ اللهِ بُكْرَةً وَّاَصِيْلاً

لآ اِلهَ اِلاَّ اللهُ  وَاَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبرَ وَللهِ الْحَمْدُ

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبرَ Kumandang takbir getarkan jiwa insan-bersemesta di hamparan ke Mahabesaran-Nya, malu tertunduk-hina karya diri hancurkan kesetimbangan jagad-raya, bukti Iman terpuruk-gadai di lumpur keingkaran, dipandang-rasa maha karya keunggulan diri.

لآ اِلهَ اِ لاَّ الله Lembutnya belaian alunan tahlil ke-Esaan Ilaahi menyusup sukma di antara celah-celah bongkahan keangkuhan jiwa, tumbuh-hidupkan benih kesa-daran merakit-rajut nilai kehidupan dalam ikatan iman, satukan hati dan pan-dangan tegakkan hidup berketauhidan.

وَللهِ الْحَمْد Lirih berbisik merdu senandung tahmid, tebar-gelar nilai Keterpujian-Nya pada rentangan Maha Karya pesona semesta dalam rajutan berkese-timbangan, kedamaian tanpa  tekanan dan paksaan, bukti nyata hidup seutuh-nya dalam kemurniaan ketaatan.

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبرَُ لآ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَاَللهُ اَكْبرَُ اَللهُ اَكْبرَُ وَللهِ الْحَمْد

Maasyiral Muslimin-muslimat rahimakumullah,

Takbir, tahlil dan tahmid adalah ungkapan kerinduan dari kaum beriman. Bukankah wujud kerinduan  kala bibir insan-insan fithriyah basah-bergetar  tak henti memuji Kemuliaan dan Keagungan Rabbnya. Hati mereka bersinar indah dalam celup-batikan Asma  Indah-Nya. Pandangan hatinya lurus menyorot pada penyaksian rububiyah; sesaat pingsan tak sadarkan diri, sesaat kemudian Allah hadir dalam bentuk perbuatan dan sifat-Nya, layaknya Nabi Musa as dalam penyaksian rububiyahnya di bukit Thursina. Dari  kesadaran penyaksian rububiyah terungkap kata dari dalam lubuk hati: “Begitu dekatnya Engkau Ya Allah, hamparan yang terpandang hanyalah kesempurnaan Maha Karya Cipta dan Perbuatan-Mu, kemanapun memandang hanyalah Keindahan Wajah-Mu, tiadalah aku dan sesuatu  dalam tatapan melainkan lenyap-sirna dalam Kebesaran-Mu. Tiada yang kekal kecuali Engkau, Cahaya-Mu menyirnakan tatapan mata atas keberadaan sesuatu“.

Kegembiraan meluap manakala rasa bermain-manja benihkan kesadaran akan mulianya perlakuan Ilaahi dengan kelembutan kasih sayang-Nya membersihkan diri kita dari segala dosa, sebagaimana diisyaratkan pada firman Allah:

فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمْ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ اَلاَّ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka. Bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. 3:170)

Puncak kegembiraan meluap ketika hati sang hamba mendengar sapa-kata : “Tobatmu Aku Allah terima wahai hamba”. Siapakah hamba yang tidak akan haru dengan nikmat karunia diterimanya tobat oleh Allah, karena hanya melalui pintu tobat jalan menuju puncak pendakian cinta Ilaahi sekaligus  keridhaan-Nya teraih. Hamba ridha kepada Allah, Allah pun ridha kepada hamba, lebur-menyatulah sang hamba dalam celupan-batikan Sifat Indah Allah. Jadilah mereka berakhlaq sebagaimana akhlaq Allah, dan mereka mudik kembali menjadi keluarga Allah.

اَللهُ اَكْبَرُ x3  وَللهِ الْحَمْدُ

Maasyiral Muslimin-muslimat rahimakumullah,

Pada awalnya, saat manusia berada di alam ruh mereka menjadi keluarga Allah dengan penyaksian akan Keesaan Allah. Barulah ketika dipersatukan dengan nafsu jalan penempuhan terpecah dua: jalan taqwa, dan jalan ingkar. Mereka yang ingkar bergabung sebagai keluarga iblis. Mereka menghinakan diri sebagai budak iblis untuk melangsungkan pembangkangan kepada Allah. Renungkanlah! Dia Allah yang telah mencipta, Dia Allah yang menjamin kelangsungan rezekinya, tetapi pengabdiannya kepada iblis. Itulah serendah-rendah manusia bahkan lebih hina dari binatang melata.

Sungguhpun begitu, luasnya bentangan sayap kasih-sayang Allah melebihi murka dan kebencian-Nya, pintu ampunan dan tobat senantiasa terbuka. Bukankah itu bukti nyata bentangan hamparan permadani kasih Ilaahi pada setiap hamba. Oleh karena itu Ramadhan diutus untuk menyucikan jiwa, sehingga berkepantasanlah sang hamba menjadikan puasanya hanya untuk-Ku Allah.

كلُّ عملِ ابن آدم له إلا  الصوم فإنه لى وانا أجزى به

Semua amalan anak Adam adalah untuk mereka sendiri kecuali puasa, ia adalah untuk-Ku dan Akulah yang memberi ganjarannya (H.R. Bukhori)

اَللهُ اَكْبَرُ x3  وَللهِ الْحَمْدُ

Sesaat kita renungkan amsal “pemberian KADO”. Ketika seseorang memberikan kado kepada yang sangat dicintai, sudah pasti kado diberikan dengan isi yang terbaik kemudian dibungkus dengan kertas indah, karena berharap kado itu diterima oleh yang dicintai dan membuahkan rasa senang. Demikian itulah, puasa ibarat “kado” kepada Allah. Akankah ia diberikan dengan isi yang menjijikkan berupa tumpukkan lumpur dosa dengan kertas pembungkus bergambarkan batikan kemunafiqan, kesombongan dan berbagai bentuk akhlaq tercela? Bila demikian keadaan “kado” puasa yang dipersembahkan kepada Allah, yaqinlah, sesungguhnya puasa yang dijalani hanya memperoleh ganjaran menahan lapar dan dahaga. Mereka gagal meraih rahmat-ampunan dan kebaikan dari Allah. Semua amalnya,  meskipun tampak  bernilai kebaikan, habis terbakar menjadi debu penumpuk dosa.

Ramadhan bulan penuh berkah dan kebaikan. Siapa yang tidak berhasil memperoleh kebaikannya, maka tidaklah akan diperoleh untuk selama-lamanya. Puasa itu “kado” bagi Allah, namun tertolak karena isinya hanya lumpur dosa, aib dan kesalahan. Ketertolakan “kado” puasa itu sebagaimana tertolaknya pengorbanan Qabil yang digambarkan dalam Al-Quran — Tertolak karena penuh cacat di dalamnya.

Belumkah tersentuh jiwa kita, umur terus berjalan,  pintu kubur kian mendekat, tetapi dari Ramadhan ke Ramadhan terlalui sia-sia, karena memperturutkan dan menuhankan nafsu; diri beranggap-sangka telah berbuat kebaikan, padahal sebaliknya. Berapa banyak jumlah manusia yang tertipu amal-perbuatannya, bahkan shalatnya pun menjadi pendorong langkah kakinya ke neraka, karena lalai dalam amaliahnya.

Sejenak di pagi yang berbahagia ini kita bertafakur, merenungkan laku-perbuatan diri pada masa lampau. Ajukan satu pertanyaan pada diri: “Sudahkah ampunan diperoleh dari Ramadhan ke Ramadhan?” Sebagai tolok-ukur rahmat-ampunan diperoleh pastilah terjadi perubahan pada diri yang senantiasa menebarkan kebaikan kepada siapapun, sekalipun terhadap pihak yang dirasa selalu menyakiti. Ingat! Belum dinyatakan seseorang sampai pada kebajikan sejati, manakala dirinya belum bisa berlaku baik kepada orang yang menyakiti, yang memboikot, dan yang memutus tali silaturrahmi. Tentulah mudah bahkan boleh jadi bangga ketika seseorang berbuat baik kepada seseorang yang hubunganny baik. Sebaliknya sulit bahkan gengsi utuk berbuat baik kepada pihak yang dirasa selalu menyakiti hatinya.

Sebenarnya, saat diri terasa disakiti fihak lain, haqiqinya bukanlah pihak lain itu yang menyakiti, melainkan ia  tersakiti oleh dirinya sendiri, karena dirinya rapuh dari benteng sabar, dan jiwanya bugil tanpa kain penutup syukur. Artinya mereka tidak bisa bersyukur, karena pandangannya tak mampu melihat sisi kebaikan yang banyak, tetapi lebih melihat sisi keburukan yang sedikit. Perhatikanlah bagaimana Adam as berjiwa besar ketika diusir dari syurga. sikap Adam tidak menyalahkan iblis. Bisa saja Adam berkata kepada Allah sekaligus menyalahkan iblis, bahwa dirinya melanggar larangan Allah karena bujuk-rayu iblis. Tetapi sikap Nabi Adam tidak demikian. Dia menyalahkan dirinya sendiri, karena lemahnya benteng pertahanannya sehingga mudah dibujuk iblis. Sebaliknya  perhatikanlah sikap iblis yang ketika terkutuk langsung menyalahkan Adam as sehingga dendamlah yang diabadikannya. Demikianlah gambaran seseorang yang selalu merasa tersakiti pihak lain pada dasarnya ia sedang berpakaian sifat iblis yang dengan mudah menyalahkan orang lain, tanpa menyadari dirinya lemah dari benteng kesabaran. Ingat! Allah tidak hanya melihat pada ibadah rutinitas, tapi Allah melihat pada kebajikan-kebajikan nyata sebagai bukti ibadah kita benar.

اَللهُ اَكْبَرُ x3  وَللهِ الْحَمْدُ

Itulah sebabnya, sebelum kedatangan Ramadhan, Sya’ban si bulan persiapan, membuka lebar-lebar pintu kesempatan agar manusia mulai mempersiapkan diri menyambut kehadiran Ramadhan. Ramadhan menjelang, kita bersihkan ranjau penghalang bagi jalan lempang Ramadhan membawakan rahmat-ampunan dari Allah.

Bila dikaji mendalam,  pernyataan khutbah Nabi di akhir Sya’ban, nyata memberikan arahan kepada manusia untuk mulai berbenah memperbaiki diri sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Hal pokok yang diperbaiki adalah hubungan antarmanusia, karena hubungan sesama manusia merupakan cermin hubungan hamba dengan Pencipta. Jika hubungan dengan sesama muslim buruk, hubungan baiknya dengan Allah bernilai dusta. Adapun hubungan yang perlu diperbaiki: Pertama, hubungan antara anak dengan orang tua. Ke dua, hubungan antara suami dengan istri. Ke tiga, hubungan antarkerabat kaum muslim. Kapan terjadi cacat-hubungan pada salah satu di antara sesama dipastikan cacat pula hubungan dengan Allah. Kesempurnaan hubungan sesama menjadi syarat pula  diterimanya puasa seorang hamba. Tegas Allah mengatakan belum akan menghapus dosa kesalahan seorang hamba, bila kesalahan yang terjadi antara sesama belum terhapus dengan kain sutera bercorak maaf-memaafkan. Bahkan pada tingkatan tertentu keridhaan dari sesama diperlukan untuk memperoleh ampunan Allah.

اَللهُ اَكْبَرُ x3  وَللهِ الْحَمْدُ

Bulan suci Ramadhan adalah waktu istimewa bagi pembinaan jalinan-hubungan antara Allah dengan hamba. Namun sebelum itu, hendaklah dibina-perbaiki jalinan-hubungan antara sesama di bulan Sya’ban. Maksud membenahi jalinan-hubungan antarsesama di bulan Sya’ban supaya di bulan Ramadhan diperoleh kemudahan menjalin-hubungan dengan Allah, sehingga akhir dari rangkaian thariqah puasa adalah memberikan “kado” puasa yang terindah kepada Allah. Demikian itu, karena puasa itu untuk-Ku Allah — sangat luar biasa kalimat ini, karena Allah tidak butuh apa-apa dari makhluk.

Makna tersirat pada ungkapan “Puasa itu untuk-KU” memberikan pengertian  sebulan penuh Ramadhan adalah laku-thariqah untuk sambung-hubungan dengan Allah. Tidak akan sampai penempuhan laku seorang hamba menuju Allah, bahkan Allah menolak mutlak nilai puasa yang dilakukan manakala hubungan dengan sesama terputus tanpa tali-ikatan silaturrahmi. Haqiqat pemutusan tali silaturrahmi merupakan pernyataan tegas dari seorang hamba menolak dan memutus tali kasih-sayang dari Allah. Ketika lidah mereka basah-berbuih ungkapkan kata: “sayangilah diri hamba dan tolonglah hamba ya Rabbi”, Allah berfirman: “Irhamuu man fil ardh, yarhamkum man fis samaa’, sayangilah sesama maka Aku akan menyayangimu.

اَللهُ اَكْبَرُ x3  وَللهِ الْحَمْدُ

Meskipun Ramadhan merupakan thariqah Ilaahiyah menuju terjalinnya hubungan cinta antara Allah dengan hamba, pada dasarnya sebagian besar dari rangkaian ibadah puasa merupakan jalan pembentukan jalinan hubungan kasih di antara sesama. Sejak dari amaliah puasa, menahan lapar-dahaga adalah bagian dari proses pembelajaran menumbuhkan rasa kebersamaan dengan sesama, ikut-serta merasakan penderitaan yang kesulitan; begitu pula himbauan berzakat merupakan bagian dari proses ikut berbagi kenikmatan dari yang berlimah kepada yang kekurangan, sekaligus sebagai wujud syukur atas nikmat yang diberikan-Nya. Dengan Puasa dan zakat itu lebur-bersatulah keberbedaan keadaan di antara sesama, sehingga terbentang hunian permadani kehidupan dalam naungan kedamaian.

Sebulan penuh Ramadhan menuntun nafsu di pendakian cinta Ilaahi meraih kefithrahan, modal pembentuk pribadi insan kamil sebagai jaminan tiket masuk dalam barisan insan bercinta dengan Sang Pencipta. Pertanyaannya, sudahkah tiket masuk menuju istana bercinta dengan Allah kita peroleh? Pertanyaan yang mengundang-hadir rasa pilu menyayat qalbu, manakala menyaksikan hamparan lembar demi lembar potret kenangan, diri berkubang lumpur dosa dan selalu gagal mengolah-patri kebaikan yang dibawakan Ramadhan. Laksana tamu singgah sesaat tak berarti-makna, demikianlah Ramadhan hadir di gubuk jiwa-jiwa yang bocor  dalam keimanan tapi kukuh bangga berselimut dosa kebodohan dan keingkaran. Bagaikan gubuk dengan pondasi dinding atap lapuk-reyot dimakan rayap-rayap kemunafiqan, sang Ramadhan datang dengan belaian kasih-sayang hendak membasmi rayap-rayap hama pengrusak lanjut merenofasi tata bangunan menjadi kokoh-indah layak huni. Namun, sang pemilik hunian kukuh bertahan pada dinding kebodohan, enggan meninggalkan gubuk-hatinya yang telah lapuk-reyot dimakan rayap-rayap dosa kemunafiqan. Anggapan diri merasa telah menjamu Ramadhan dalam bentukan perilaku lahir ritual shalat-berpuasa, tetapi hati dan jiwanya keras bagaikan besi berkarat kemunafiqan dengan kembang-hiasan keangkuhan, kesombongan dan kedengkian. Setiap kali mereka dihimbau bersatu dalam barisan saudara seiman selalu beralasan-jawab: “inilah yang terbaik bagi kami dan demikian ini sudah menjadi tradisi kami”. Mereka kukuh dalam pandangan pendapat diri dan enggan melebur dalam satu-pandangan Ilaahi. Fenomena ini banyak terjadi dalam hubungan antarpribadi ataupun antarkelompok sesama muslim.

Tak ada paksaan dalam keimanan, namun yang pasti Allah tegas memperingatkan tidak akan mengubah keadaan seorang hamba ataupun kaum, sebelum ia mengubah keadaannya sendiri. Sesaat kita renungkan bersama dari Ramadhan ke Ramadhan apa yang sudah kita peroleh. Adakah perubahan nyata berlangsung baik pada diri sendiri maupun mengimbas-bias pada sesama? Ingat dan renungkanlah berapa banyak manusia yang pada akhir Ramadhan hanya memperoleh lapar dan dahaga, gubuk-hatinya tetap bocor dan reyot bahkan semakin tak berpondasi-rangka karena rayap pengrusak semakin berkembang-biak sehingga kematian-nya bagaikan seonggok bangkai dalam rebutan ulat-ulat blatung, na’udzubillah min dzalik.

Tiadakah kerinduan merasakan nikmat sebagaimana para hamba yang tenggelam dalam Samudera Kebesaran Allah, terbuai di tengah-tengah lantunan gema takbir, tahlil dan tahmid,  diri hanyut dalam kepiluan berbaur haru yang menyusup lembut bagaikan air sungai mengalir hingga di kedalaman qalbu. Kedatangan Ramadhan nyata dirasa sebagai jalan tempuh penghapus dosa, berkah-kebaikan nyata berlimpah atasnya, satu malam kemuliaan yang dijanjikan ikut singgah-menyapa sampaikan salam hingga berkepantasanlah diri mendapat kunjungan kemuliaan dari Raja Maha di Raja. Laksana Sang Raja datang berkunjung karena cintanya pada sang putri jelita hendak dipersunting untuk dijadikan permaisuri, sasaran sang raja merajut cinta dan bercumbu-mesra. Demikian itu akhir terencana tujuan Ramadhan hadir di setiap lorong-lorong jiwa insani, bahagia jiwa-jiwa dalam kemenangan merentang asa nan  mulia, harapan abadinya kiranya Ramadhan di tahun depan dapat dijumpa, bahkan lebih jauh asa berkembang alangkah indahnya jika semua bulan dan hari dijadikan Ramadhan saja, demikian itu karena limpahan berkah-kebaikan nyata diperolehnya. Semoga kita dimasukkan pada golongan mereka. Amin.

Sebagai akhir renungan, kita resapkan rangkaian kalimat berikut ini, semoga dapat menumbuhkan benih kesadaran, sehingga Ramadhan tahun depan tidak lagi hadir sia-sia.

dari Ramadhan ke Ramadhan

Setahun diri berada dalam petualangan turuti nafsu, jatuh-terpuruk jiwa kefithrahan didesak-tekan keingkar-dustaan, sikap diri tak pernah sadar telah buahkan dosa yang menjerat langkah diri ke siksa adzab neraka.

Terperangkap diri dalam aggapan merasa berada dalam garis-lurus taat Ilaahi, kenyataan hati  tak dapat bersapa-kata dengan Ilaahi. Tiada guna sesal kemudian tatkala maut menjemput diri.

Kasih dan sayang Ilaahi tiada batas-tercurah, hadirkan Ramadhan si Tamu Agung nan Mulia, entas-bebaskan jiwa kehidupan dari jerat adzab neraka yang tak pernah disadari adanya.

Pahit dirasa nafsu hadirnya Ramadhan, di awal kegiatan tumbuh-bangkitkan kesadaran ruhani,  tersorot kejahatan laku-perbuatan nafsu menekan-bunuh nurani-hati ingin hidup akrab-Ilaahi.

Sebutir benih kesadaran dilontar-tumbuhkan Ramadhan si Tamu Mulia ke dalam qalbu insani, tumbuhkan rasa malu pada jiwa, sadarkan diri hidup dalam pembangkangan bersimbah dosa.

Terpancing kesadaran tumbuhkan gairah baru, membangun kemurnian iman tauhid pada kedalaman hati selaku pondasi dan perisai diri dari bujuk-kemunafiqan pendusta diri dan Ilaahi.

Laksana hujan turun mengguyur gurun-pasir  tandus,  kesegaran tersibak,  demikian Ramadhan hadir guyurkan rahmat-ampunan dan pelepasan jiwa  tandus dari adzab tak terperi.

Laksana si kecil tertatih jatuh-bangun, berlatih tegak-berdiri, demikianlah terhuyung langkah kefithrahan bergerak-bangkit menuju pensucian jiwa dalam titian Ramadhan Tamu Agung nan Mulia.

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنينَ وَالْمُؤْ مِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالاَمْوَاتِ

رَبَّنَا اتِنَا فِى الدّنْيَا حَسَنَةً وَّفِىالاخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبّكَ رَبّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلمٌ عَلى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: