Oleh: lutfifauzan | Agustus 27, 2011

Khutbah Idul Fithri 1432

Kunjung Kasih Ramadhan Menuntun Nafsu dalam Rintihan di Pendakian Cinta Ilaahi,

Merentang Syukur Tebarkan Nikmat Kedamaian Insan-Berkesemestaan

oleh: Luthfi Fauzan

InsyaAllah dikhutbahkan di Lapangan SMAN 9 Malang; Lapangan Perum Bedali Indah Lawang; dan halaman Masjid Muhajirin Malang. Naskah bebas untuk diunduh dan diperbanyak. Untuk khutbah seyogyanya diringkas.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ اَنْزَلَ الْعِيْدَ مِنْ اَكْبَرِ شَعَآ ئِرِ الاِسْلاَمِ

اَشْهَدُ اَنْ لآ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَه لاَ شَرِيْكَ لَه

 وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُه وَرَسُوْلُه

 

اَللّهُمَّ صَلّ وَسَلّمْ وَبَا رِكْ عَلى مُحَمَّدٍ وَعَلى الِه  وَصَحْبِه

 وَسَلّمْ . اَمَّا بَعْدُ

فَيَآ اَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ وَالْمُسْلِمَاتُ رَحِمَكُمُ اللهُ اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِىْ بِتَقْوَى اللهَ وَكُوْ نُوْا مَعَ الصَّادِقِيْنَ

اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَا تِه وَلاَ تَمُوْ تُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

 

 

اَللهُ اَكْبرَُ اَللهُ اَكْبرَُ  لآ اِلهَ اِلاَّ اللهُ  وَاَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبرَُ وَللهِ الْحَمْدُ

اَللهُ اَكْبرَُ كَبِيْرًا وَّالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَّسُبْحنَ اللهِ بُكْرَةً وَّاَصِيْلاً

لآ اِلهَ اِلاَّ اللهُ  وَاَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبرَُ وَللهِ الْحَمْدُ

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبرَُ Kumandang takbir getarkan jiwa insan-bersemesta di hamparan ke Maha-besaran-Nya, malu tertunduk-hina karya diri hancurkan kesetimbangan jagad-raya, bukti Iman terpuruk-gadai di lumpur keingkaran, dipandang-rasa maha karya keunggulan diri.

لآ اِلهَ اِ لاَّ الله Lembutnya belaian alunan tahlil ke-Esaan Ilaahi menyusup sukma di antara celah-celah bongkahan keangkuhan jiwa, tumbuh-hidupkan benih kesa-daran merakit-rajut nilai kehidupan dalam ikatan iman, satukan hati dan pan-dangan tegakkan hidup berketauhidan.

وَللهِ الْحَمْد Lirih berbisik merdu senandung tahmid, tebar-gelar nilai Keterpujian-Nya pada rentangan Maha Karya pesona semesta dalam rajutan berkese-timbangan, kedamaian tanpa  tekanan dan paksaan, bukti nyata hidup seutuh-nya dalam kemurniaan ketaatan.

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبرَُ لآ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَاَللهُ اَكْبرَُ اَللهُ اَكْبرَُ وَللهِ الْحَمْد

 

Maasyiral Muslimin-muslimat rahimakumullah,

Senja di akhir Ramadhan, di setiap ruas bumi dan semesta, semarak sahut-menyahut  lantunan kumandang gema takbir, tahlil dan tahmid, syahdu terdengar menyentuh qalbu. Kumandang takbir, tahlil dan tahmid berperan makna berfungsi-ganda: menyambut kedatangan syawal si bulan fithriyah sekaligus lepas-hantarkan kepergian Ramadhan si Tamu Agung nan Mulia.

Tanpa kecuali sesaat jiwa-jiwa kehidupan bersemesta yang lelap-terlena tak berdaya dalam pelukan selimut malam, lepaskan lelah berganti olah dengan jiwa segar tertata indah. Takbir, tahlil dan tahmid tiada henti berkumandang hingga sang surya menyingsing di ufuk Timur, naik sepenggalah hingga Shalat Ied ditegakkan, isyaratkan sunatullah kebangkitan hidup kan terjadi, Cahaya surya di ufuk Timur yang menanjak-naik bagaikan jenjang pendakian, lembut menyapa ramah mengajak-himbau jiwa-jiwa insani bangkit-bersatu dalam kesatuan pandangan Ilaahi menyongsong kebangkitan serta menyingkap tirai-tirai gelap kebodohan, jalankan fungsi makhluq abdi Ilaahi dalam ketaat-patuhan tanpa reserve.

Di sisi lain, di lorong-lorong hamparan permadani semesta tampak kuncup-kelopak bunga-bunga kehidupan mekar-merekah sebar-tebarkan pesona keindahannya dengan berjuta warna kehidupan. Begitu pula dengan aroma semerbak mewanginya menterapi-bangkitkan semangat meniti hidup di kelurusan jalan Qur’ani, sebagai perilaku pembuktian nyata gerakan semesta dalam satu barisan komando, siap menyambut lahirnya insan-insan fithriyah yang hendak melangsungkan perjumpaan dengan Rabbnya, sebagai aplikasi perilaku adab melangsungkan Sholat Ied untuk ungkapan syukur kepada Ilaahi Rabbi.

اَللهُ اَكْبَرُ x3  وَللهِ الْحَمْدُ

Ragam-perbedaan adalah bagian dari ciri-perilaku gerak kehidupan makhluq semesta, namun itu bukan berarti jalan menuju perpecahan atau pertikaian merebutkan tugas dan fungsi, justru perbedaan menjadi khazanah perbendaharaan kekayaan perakit-rangkai jaringan kekuatan berkesetimbangan menuju puncak kesempurnaan, asalkan masing-masing unsur kehidupan berada pada gerakan satu barisan garis komanda Ilahiyah, taat-patuh tanpa komentar menjalankan fungsi-tugas kehidupan. Sampai kapanpun keberbedaan pandangan maupun fungsi dan tugas tidak akan dapat dipersatukan bila pijakan pandangan bersandar pada keinginan masing-masing diri atau unsur, hanya ketaat-patuhan pada tata-aturan Qur’ani yang dapat mempersatukan unsur keberbedaan. Dapatlah dikata Al-Qur’an adalah benang tali-emas pengikat-rajut nilai kesetimbangan dari setiap unsur keberbedaan, atau wadah tempat meleburkan-satukan setiap nilai keberbedaan menjadi tegak-kokoh berkesetimbangan. Lihat dan perhatikanlah sekali lagi adakah yang tidak setimbang pada penciptaan Allah? Keberbedaan akan menjadi hiasan permata-indah manakala ia diuntai-tenun dalam satu kebersamaan lembar-helaian Qur’ani.

Demikian itulah makhluq semesta dalam ragam-keberbedaan lurus berbaris pada nilai kesetimbangan tampil seakan saksi bisu, berdiam diri tanpa bahasa kata namun aktif dalam perilaku gerakan bahasa tubuh, menyambut dan ikut gembira menyaksikan kaum beriman dengan bermahkotakan kefithrahan berbondong-bondong bagaikan pasukan berbaris rapi menyambut kemenangan di medan laga. Ayunan derap-langkah  insan-insan fithriyah menuju tanah-tanah lapang dan masjid-masjid yang dimulyakan untuk bersholat Ied gambaran iringan deru kereta kencana membawa hamba menuju istana raja, luapkan gelora kerinduan bersegera jumpa dengan Rabbnya.

اَللهُ اَكْبَرُ x3  وَللهِ الْحَمْدُ

Bukankah wujud kerinduan  kala bibir insan-insan fithriyah basah-bergetar tak henti memuji-puja akan  Kebesaran-Kemuliaan dan Keagungan Rabbnya. Takbir, tahlil dan tahmid adalah ungkapan bentuk kata kerinduan dari bibir mereka. Hati mereka indah-bersinar terang dalam celup-batikan Asma  Indah Allah. Pandangan hatinya lurus menyorot pada penyaksian rubbubiyah, sesaat pinsan tak sadarkan diri, sesaat kemudia Allah hadir dalam bentuk perbuatan-sifat-Nya, sebagaimana Nabi Musa as dalam penyaksian rubbubiyah di bukit Thursina. Dari  kesadaran penyaksian rubbubiyah mendorong lahirnya rangkaian ungkap kata dari kedalaman lubuk hati: “begitu dekatnya Engkau wahai ya Rabbi, hamparan yang terpandang hanyalah kesempurnaan Maha Karya Cipta dan Perbuatan-Mu, jadilah kemanaun memandang hanyalah keindahan Wajah-Mu, tiadalah aku dan sesuatu  dalam tatap-pandangan melainkan lenyap-sirna dalam leburan karya-cipta-Mu.  Tiada yang berkekekalan kecuali hanya Engkau, Cahaya-Mu menyirnakan tatapan mata pada keberadaan sesuatu“.

Lembut bergerak dengan pasti getar-gerak rasa mendorong detak nafas-jantung berdegub kencang seakan membawa diri berlari menggendong harapan berbingkai kecemasan, lepaskan diri dalam pelukan kasih Ilaahi. Kegembiraan meluap manakala tenaga rasa bermain-manja benihkan kesadaran, mulianya perlakuan Ilaahi dengan kelembutan kasih sayang-Nya bersihkan diri dari segala dosa, sebagaimana diisyaratkan pada firman Allah:

فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمْ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ اَلاَّ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka. Bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. 3:170)

Puncak kegembiraan meluap-haru ketika hati sang hamba mendengar sapa-kata : “tobat mu Aku Allah terima wahai hamba”. Siapakah sang hamba yang tidak akan bergembira hati berbaur haru dengan nikmat karunia diterimanya tobat oleh Allah, karena hanya melalui pintu tobat jalan menuju puncak pendakian cinta Ilaahi sekaligus untuk  meraih keridhaan-Nya tercapai. Hamba ridha terhadap Allah, Allah pun ridha terhadap hamba, lebur-menyatulah sang hamba dalam celupan-batikan sifat indah Allah. Dikatakan mereka berakhlaq sebagaimana akhlaq Allah, dan mereka kembali menjadi keluarga Allah.

Maasyiral Muslimin-muslimat rahimakumullah,

Pada awalnya, saat manusia berada di alam ruh mereka menjadi keluarga Allah dengan penyaksian dan janji akan Keberadaan dan Keesaan Allah. Barulah ketika dipersatukan dengan nafsu jalan penempuhan terpecah dua: jalan taqwa, jalan kembali pada keluarga Allah, dan jalan ingkar, jalan menyatu pada keluarga iblis. Mereka yang bergabung dalam keluarga iblis pasti hina-binasa karena mereka hanya diperbudak sebagai kaki-tangan iblis untuk melangsungkan pembangkangan kepada Allah. Renungkanlah sesaat apa jadinya diri, Dia Allah yang telah mencipta, Dia Allah pula yang menjamin kelangsungan rezeki, tetapi dalam perjalanan hidup memilih iblis menjadi keluarga-sahabat, bersatu menantang Allah. Itulah serendah-rendah manusia bahkan lebih hina dan rendah dari binatang melata.

Luasnya bentangan sayap kasih Ilaahi melebihi murka dan kebencian-Nya, ampunan dan tobat senantiasa terbuka dan siap diambil di setiap saat. Bukankah itu sebagai bukti nyata bentangan hamparan permadani kasih Ilaahi pada setiap hamba. Ramadhan diutus hanya untuk penyucian jiwa sang hamba, sehingga berkepantasanlah sang hamba menjadikan puasanya hanya untuk-Ku Allah.

كلُّ عملِ ابن آدم له إلا  الصوم فإنه لى وانا أجزى به

Semua amalan anak adam adalah untuk mereka sendiri kecuali puasa, ia adalah untuk-Ku dan Akulah yang memberi ganjarannya (H.R. Bukhori)

اَللهُ اَكْبَرُ x3  وَللهِ الْحَمْدُ

Sesaat kita renungkan amsal-ibarat “pemberian KADO”. ketika seseorang memberikan bingkasan kado kepada yang sangat dicintai, sudah pasti kado diberikan dengan isi yang terbaik kemudian dibungkus dengan kertas indah, karena dorongan harapan kado itu disambut-terima oleh yang dicintai dan membuahkan rasa senang pada yang dicinta. Demikian itulah, puasa ibarat “kado” yang dipersembahkan kepada Allah. Akankah ia diberikan dengan isi yang menjijikan berupa tumpukkan lumpuran dosa dengan kertas pembungkus bergambarkan batikan kemunafiqan, kesombongan dan berbagai bentuk gambar-batikan perilaku akhlaq tercela. Bila demikian keadaan “kado” puasa yang dipersembahkan kepada Allah, yaqin dan pastikan pada diri, sesungguhnya puasa yang dijalani hanya memperoleh ganjaran menahan lapar dan dahaga. Merekalah orang-orang yang gagal meraih rahmat-ampunan dan kebaikan dari Rabb Sang Mahapencipta. semua amal-perbuatannya meskipun tampaknya  bernilai kebaikan, habis terbakar hangus menjadi debu-debu penumpuk dosa.

Ramadhan bulan penuh berkah dan kebaikan, yang di dalamnya manusia diwajibkan berpuasa agar diperoleh berkah dan kebaikan. Maka siapa yang tidak berhasil memperoleh kebaikan padanya maka tidaklah akan diperoleh untuk selama-lamanya. Puasa itu “kado” bagi Allah, namun tertolak karena isi di dalamnya berupa lumpur dosa yang hitam dan  menjijikkan. Ketertolakan “kado” puasa sebagaimana tertolaknya pengorbanan Qabil yang digambarkan dalam Al-Quran. Tertolak karena penuh cacat di dalamnya.

Belumkah juga tersentuh jiwa kita, umur yang terus berjalan mendekati hitungan tua,  pintu kubur pun kian mendekat terbuka-menganga yang tidak pernah diketahui kapan waktunya tiba menyeret raga. Dari Ramadhan ke Ramadhan ternyata terlalui sia-sia, hanya karena memperturutkan dan mempertahankan serta menuhankan nafsu, hanya diri beranggap-sangka telah berbuat kebaikan padahal sebaliknya. Berapa banyak jumlah manusia yang tertipu amal-perbuatannya, bahkan shalatnya pun menjadi pendorong langkah kakinya masuk ke neraka, karena sembrono dalam amaliahnya. Belumlah terlalmbat untuk mengoreksi dan memperbaiki laku diri. Sejenak di pagi yang berbahagia ini kita ajak-bawa jiwa kita bertafakur, merenungkan laku-perbuatan diri pada masa lampau. Berikanlah satu pertanyaan pada diri: “Sudahkah ampunan diperoleh dari Ramadhan ke Ramadhan?” Sebagai tolok-ukur rahmat-ampunan diperoleh pastilah terjadi perubahan pada diri yang senantiasa menebarkan pesona kebaikan kepada siapapun tanpa pilih-pilih, sekalipun terhadap pihak yang dirasa selalu menyakiti. Ingat belum dinyatakan seseorang sampai pada kebaikan sejati, manakala dirinya belum bisa berlaku baik kepada orang yang membenci dan menyakiti, orang yang memboikot, dan orang yang memutus tali silaturrahmi. Tentulah mudah bahkan boleh jadi bangga ketika seseorang berbuat-balas kebaikan kepada seseorang yang memang sudah terjalin hubungan baik kepadanya. Sebaliknya sulit bahkan bisa sampai pada tingkatan gengsi utuk berbuat baik kepada pihak yang dirasa selalu menyakiti hati.

Sebenarnya, jika saja mau jujur pada diri sendiri, saat diri terasa disakiti fihak lain haqiqinya bukanlah pihak lain itu yang menyakiti melainkan ia  tersakiti oleh dirinya sendiri, karena dirinya rapuh dari benteng sabar, dan jiwanya bugil tanpa kain penutup syukur. Artinya mereka adalah orang yang tidak bisa bersyukur, karena pandangannya tak mampu melihat sisi kebaikan yang banyak melainkan hanya melihat sisi keburukan yang sedikit. Perhatikanlah bagaimana Adam berjiwa besar ketika ditegur-perintah keluar dari syurga. sikap Adam tidak menyalahkan iblis, padahal iblislah yang telah mempengaruhi Adam. Bisa saja Adam berkata kepada Allah sekaligus menyalahkan iblis, bahwa dirinya melanggar larangan Allah karena bujuk-rayu iblis. Tetapi sikap Nabi Adam tidak demikian. Dia menyalahkan dirinya sendiri, karena lemahnya benteng pertahanan sehingga mudah dibujuk iblis. Sebaliknya  perhatikanlah sikap iblis yang ketika ia terkutuk seketika yang disalahkan Adam sebagai penyebab masalah. Demikianlah gambaran seseorang yang selalu merasa tersakiti pihak lain pada dasarnya ia sedang berpakaian sifat iblis yang dengan mudah menyalahkan orang lain, tanpa menyadari dirinya yang lemah dari berbentengkan kesabaran. Ingatlah Allah tidak hanya melihat pada ibadah rutinitas yang kita lakukan, tapi Allah melihat pada kebajikan-kebajikan yang dilangsungkan sebagai bukti ibadah kita benar.

اَللهُ اَكْبَرُ x3  وَللهِ الْحَمْدُ

Itulah sebabnya, sebulan sebelum kedatangan Ramadhan, Sa’ban si bulan persiapan, membuka lebar-lebar pintu kesempatan agar manusia mulai mempersiapkan diri menyambut datangnya Ramadhan. Ramadhan menjelang, kita bersihkan ranjau penghalang bagi jalan lempang Ramadhan bawakan rahmat-ampunan dari Allah.

Bila dikaji mendalam pernyataan pidato Nabi di akhir Sa’ban, nyata memberikan arahan kepada manusia untuk mulai berbenah-perbaiki diri sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Hal utama-pertama yang diperbaiki adalah hubungan sesama manusia, karena hubungan sesama manusia sangat menentukan corak warna hubungan hamba dengan Pencipta. Pertama, menyangkut hubungan antara anak dengan orang tua. Ke dua, hubungan antara suami dengan istri. Ke tiga, hubungan antara kerabat kaum muslim. Kapan terjadi cacat-hubungan pada salah satu di antara sesama dipastikan akan cacat pula hubungan dengan Allah. Kesempurnaan hubungan sesama menjadi syarat utama diterimanya puasa seorang hamba. Dan tidak akan pernah terjadi hubungan baik antara hamba dengan Allah Sang Pencipta sebelum terjalin hubungan baik pada sesama manusia. Tegas Allah mengatakan belum akan menghapus dosa kesalahan seorang hamba, bila kesalahan yang terjadi antara sesama belum terhapus dengan kain sutera bercorak maaf-memaafkan. Bahkan pada tingkatan tertentu keridhaan dari sesama diperlukan untuk memperoleh ampunan Allah.

اَللهُ اَكْبَرُ x3  وَللهِ الْحَمْدُ

Bulan suci Ramadhan adalah waktu istimewa bagi pembinaan jalinan-hubungan antara Allah dengan hamba. Namun sebelum itu, hendaklah dibina-perbaiki jalinan-hubungan antara sesama di bulan Sa’ban. Maksud terlebih dahulu membenahi jalinan-hubungan antara sesama di bulan Sa’ban supaya di bulan Ramadhan diperoleh kemudahan menjalin-hubungan dengan Allah, sehingga akhir dari rangkaian thariqah puasa adalah memberikan “kado” puasa yang terindah kepada Allah. Demikian itu, karena puasa itu untuk-Ku Allah (padahal Allah tidak butuh apa-apa dari makhluk).

Makna tersirat pada ungkapan “Puasa itu untuk-KU” memberikan pengertian  sebulan penuh Ramadhan adalah laku-thariqah mutlak untuk sambung-hubungan dengan Allah. Tidak akan sampai penempuhan laku seorang hamba menuju Allah, bahkan Allah menolak mutlak nilai puasa yang dilakukan manakala hubungan dengan sesama terputus tanpa tali-ikatan silaturrahmi. Haqiqat diputus atau terputusnya tali silaturrahmi merupakan pernyataan tegas dari seorang hamba menolak dan memutus tali kasih-sayang dari Allah. Mesikipun lidah mereka basah-berbuih ungkapkan kata: “sayangilah diri hamba dan tolonglah hamba ya Rabbi”, kasih-sayang Allah tidak akan pernah turun sebelum mereka menyayangi sesama saudaranya. Allah berfirman: “Irhamuu man fil ardh, yarhamkum man fis samaa’, sayangilah sesama maka Aku akan menyayangimu.

اَللهُ اَكْبَرُ x3  وَللهِ الْحَمْدُ

Meskipun Ramadhan merupakan tangga pendakian thariqah Ilaahiyah menuju terjalinnya hubungan cinta antara Allah dengan hamba, pada dasarnya sebagian besar dari rangkaian ibadah puasa merupakan jalan pembentukan jalinan hubungan silang-saling rasa di antara sesama. Sejak dari amaliah puasa yang tampak secara lahir menahan lapar-dahaga adalah bagian dari proses pembelajaran menumbuhkan rasa kebersamaan dengan sesama, ikut-serta merasakan sekelompok orang yang sulit memperoleh makan dan minum; begitu pula himbauan berzakat merupakan bagian dari proses ikut berbagi kenikmatan di antara kaum yang serba dalam keterbatasan dengan mereka yang berlimpah harta sekaligus sebagai sarana rentangkan rasa syukur atas nikmat yang diberikan-Nya. Dengan Puasa dan zakat itu lebur-bersatulah keberbedaan keadaan di antara sesama, sehingga terbentang hunian permadani kehidupan dalam naungan kedamaian.

Sebulan penuh Ramadhan menuntun nafsu di pendakian cinta Ilaahi meraih kefithrahan, modal pembentuk pribadi insanul kamil sebagai jaminan tiket masuk dalam barisan insan bercinta dengan Khaliq Sang Pencipta. Pertanyaannya, sudahkan tiket masuk menuju istana bercinta dengan Allah kita peroleh? Pertanyaan yang mengundang-hadir rasa pilu menyayat di dalam qalbu, menggelitik goda, manakala sesaat benih kesadaran menggugah ingatan, hamparkan lembaran demi lembaran potret kenangan diri berkubang lumpur dosa dan selalu gagal mengolah-patri kebaikan yang dibawakan oleh Ramadhan. Laksana tamu yang hanya dipandang-rasa sesaat singgah tak berarti-makna, demikianlah Ramadhan hadir di gubuk jiwa-jiwa yang bocor  dalam keimanan tapi kukuh bangga berselimut dosa kebodohan dan keingkaran. Bagaikan gubuk dengan pondasi dinding atap lapuk-reot dimakan rayap-rayap kemunafiqan, sang Ramadhan datang dengan belaian kasih-sayang hendak membasmi rayap-rayap hama pengrusak lanjut merenofasi-tata bangunan menjadi kokoh berbalut keindahan layak huni. Namun sang pemilik hunian kukuh bertahan-sandar diri pada dinding kebodohan, enggan meninggalkan gubuk-hatinya yang telah lapuk-reot dimakan rayap-rayap dosa kemunafiqan. Anggap-prasangka diri merasa telah menjamu kedatangan sang Ramadhan dalam bentukan perilaku lahir ritual sholat-berpuasa, tetapi hati dan jiwanya keras bagaikan besi-besi berkarat kemunafiqan dengan kembang-hiasan keangkuhan, kesombongan serta kedengkian. Setiap kali diri dihimbau-ajak bersatu berkebaikan dalam barisan saudara seiman selalu beralasan-jawab: “inilah yang terbaik bagi kami dan demikian ini sudah menjadi kebiasaan tradisi kami”. Demikian mereka kukuh dalam pandangan pendapat diri yang enggan melebur dalam satu-pandangan Ilaahi. Fenomena ini banyak terjadi dalam hubungan antarpribadi ataupun antar kelompok sesama muslim.

Tak ada paksaan dalam keimanan, namun yang pasti Allah tegas memperingatkan tidak akan mengubah keadaan seorang hamba ataupun kaum sebelum ia merubah keadaannya sendiri. Meskipun lidah mereka basah berbuih tiada henti memohon pertolongan, tidak akan diperoleh pertolongan dari Rabb tanpa upaya diri mengubah terlebih dahulu. Sesaat untuk kita renungkan bersama dari Ramadhan ke Ramadhan apa yang sudah kita peroleh. Adakah perubahan nyata berlangsung baik pada diri sendiri maupun mengimbas-bias pada sesama? Ketika kita berpuasa sebulan penuh Ramadhan, adakah perbedaan nyata antara berpuasanya orang-orang dewasa dengan anak-anak. Ingat dan renungkanlah berapa banyak jumlah manusia yang akhir dari kunjungan Ramadhan yang diperoleh hanya sekadar menahan lapar-dahaga, gubuk-hatinya tetap bocor dan reyot bahkan semakin tak berpondasi-rangka karena rayap-rayap pengrusak semakin berkembang-biak sehingga kematiannya bagaikan seonggok bangkai dalam rebutan ulat-ulat blatung, na’udzubillah min dzalik.

Tiadakah kerinduan untuk merasakan nikmat sebagaimana para hamba yang tenggelam dalam Samudera Kebesaran Allah, terbuai di tengah-tengah lantunan gema takbir, tahlil dan tahmid,  bawakan  diri hanyut tenggalam dalam kepiluan berbaur haru yang menyusup lembut bagaikan air sungai mengalir hingga di kedalaman qalbu. Manakala sesaat ingatan menggelitik-goda di dalam dada, kedatangan Ramadhan nyata dirasa sebagai jalan tempuh penghapus dosa, berkah-kebaikan nyata berlimpah telah dirasa, satu malam kemuliaan yang dijanjikan ikut singgah-menyapa sampaikan salam hingga berkepantasanlah diri mendapat kunjungan kemuliaan dari Raja Maha di Raja. Laksana Sang Raja datang berkunjung karena cintanya pada sang putri gadis jelita hendak dipersunting untuk dijadikan permaisuri sasaran sang raja merajut cinta, bercumbu-mesra. Demikian itu akhir terencana tujuan Ramadhan hadir di setiap lorong-lorong jiwa insani, bahagia jiwa-jiwa dalam kemenangan merentang asa nan  mulia, harapan abadinya kiranya Ramadhan di tahun depan dapat dijumpa, bahkan lebih jauh asa berkembang alangkah indahnya jika semua bulan dan hari dijadikan Ramadhan saja, demikian itu karena limpahan berkah-kebaikan nyata diperolehnya.

اَللهُ اَكْبَرُ x3  وَللهِ الْحَمْدُ

Sebagai akhir perenungan, kita panjatkan puji dan syukur ke hadhirat Ilaahi Rabbi, yang telah memberikan kesempatan kepada segenap insan muslimin menjamu kehadiran Ramadhan si Tamu Agung nan Mulia. Terlepas apakah semua insan kembali terlahir dengan kefithrahan, yang berarti padanya Ramadhan berhasil didaya-manfaatkan kehadirannya ataukah tidak; mari kita resapkan bersama rangkaian kalimat berikut ini, mudah-mudahan dapat menumbuhkan benih kesadaran, sehingga Ramadhan tahun depan tidak lagi berlangsung hampa dan sia-sia.

dari Ramadhan ke Ramadhan

Setahun diri berada dalam petualangan turuti nafsu, jatuh-terpuruk jiwa kefithrahan didesak-tekan keingkar-dustaan, sikap diri tak pernah sadar telah buahkan dosa yang menjerat langkah diri ke siksa adzab neraka.

Terperangkap diri dalam aggapan merasa berada dalam garis-lurus taat Ilaahi, kenyataan hati  tak dapat bersapa-kata dengan Ilaahi. Tiada guna sesal kemudian tatkala maut menjemput diri.

Kasih dan sayang Ilaahi tiada batas-tercurah, hadirkan Ramadhan si Tamu Agung nan Mulia, entas-bebaskan jiwa kehidupan dari jerat adzab neraka yang tak pernah disadari adanya.

Pahit dirasa nafsu hadirnya Ramadhan, di awal kegiatan tumbuh-bangkitkan kesadaran ruhani,  tersorot kejahatan laku-perbuatan nafsu menekan-bunuh nurani-hati ingin hidup akrab-Ilaahi.

Sebutir benih kesadaran dilontar-tumbuhkan Ramadhan si Tamu Mulia ke dalam qalbu insani, tumbuhkan rasa malu pada jiwa, sadarkan diri hidup dalam pembangkangan bersimbah dosa.

Terpancing kesadaran tumbuhkan gairah baru, membangun kemurnian iman tauhid pada kedalaman hati selaku pondasi dan perisai diri dari bujuk-kemunafiqan pendusta diri dan Ilaahi.

Laksana hujan turun mengguyur gurun-pasir  tandus,  kesegaran tersibak,  demikian Ramadhan hadir guyurkan rahmat-ampunan dan pelepasan jiwa  tandus dari adzab tak terperi.

Laksana si kecil tertatih jatuh-bangun, berlatih tegak-berdiri, demikianlah terhuyung langkah kefithrahan bergerak-bangkit menuju pensucian jiwa dalam titian Ramadhan Tamu Agung nan Mulia.

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنينَ وَالْمُؤْ مِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالاَمْوَاتِ

رَبَّنَا اتِنَا فِى الدّنْيَا حَسَنَةً وَّفِىالاخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبّكَ رَبّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلمٌ عَلى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: