Oleh: lutfifauzan | Desember 31, 2009

makalah aplikatif teknik desensitisasi sistematis

MAKALAH APLIKATIF

TEKNIK DESENSITISASI SISTEMATIS

PRAKTIK TEKNIK KONSELING

Disusun untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah

Praktik Teknik Konseling

Yang dibimbing oleh Drs. Lutfi Fauzan, M.Pd

Oleh :

Kelompok 6

Fitriana Ratnaningtyas 107111401428

Siti Latifah 107111406839

Winda Hayu D.N 107111406848

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING DAN PSIKOLOGI

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING

Desember 2009

  1. IDENTITAS LAYANAN
    1. Jenis : Konseling Individu
    2. Fungsi : Kuratif
    3. Masalah : Kecemasan yang berlebihan saat menjelang ujian,

sehingga tidak berani menghadapi ujian dan sampai jatuh

sakit.

4. Sumber Media : Konselor, Ruang konseling, alat tulis dan buku untuk

mencatat hirarki kecemasan, buku kontrak kecemasan.

    1. Waktu : 2X45 menit
    2. Pelaku : Konselor dan konseli
  1. GAMBARAN UMUM
    1. Identitas Konseli :
      • Nama : Dewi Masita (Sita)
      • TTL : Malang, 10 Oktober 1993
      • Alamat : Jl. B.S Riyadi 40 A- Malang
      • Kelas : X-C
      • Sekolah : SMAN 7 Malang
    2. Gambaran Masalah :

Sita adalah seorang siswa kelas X SMA. Sita adalah anak yang berprestasi, terbukti dia mendapatkan peringkat 3 besar di kelasnya. Namun, Sita mengalami gangguan kecemasan yang berlebihan terutama saat akan menjelang ujian. Seringkali Sita terpaksa mengikuti ujian susulan. Hal ini dikarenakan kecemasan berlebihan yang menjadi masalah Sita seringkali membuatnya jatuh sakit sebelum ujian.

Masalah yang dihadapi Sita (kecemasan berlebihan saat akan ujian) telah dialami Sita sejak SMP. Sebelumnya Sita tidak pernah berani mengungkapkan masalahnya kepada orang lain. Namun, hal ini dirasa Sita sangat mengganggu terutama karena Sita akan menghadapi ujian kenaikan kelas. Sita khawatir apabila masalah yang dihadapinya tidak segera diselesaikan, dia tidak naik kelas. Akhirnya Sita menceritakan masalahnya kepada konselor untuk mendapatkan layanan bantuan dalam menyelesaikan masalah yang sedang dihadapainya.

  1. KOMPETENSI

Konseli dapat mengatasi gangguan kecemasan berlebihan yang dihadapinya saat menjelang ujian.

  1. TUJUAN UMUM

Konseli mampu mengurangi kecemasannya yang berlebihan saat menjelang ujian.

TUJUAN KHUSUS

  • Konseli tidak merasakan kecemasan yang berlebihan saat menjelang ujian.
  • Konseli tidak sampai jatuh sakit saat menjelang ujian.
  • Konseli bisa mengikuti ujian sesuai dengan jadwal, tanpa harus mengikuti ujian susulan.
  • Konseli bisa meningkatkan prestasinya di sekolah.
  • Konseli bisa mengatasi kecemasannnya yang berlebihan sendiri
  1. INDIKATOR KETERCAPAIAN
  • konseli sudah bisa mengurangi gangguan kecemasannya yang berlebihan saat menjelang ujian
  • konseli tidak sampai jatuh sakit saat menjelang ujian
  • konseli bisa mengikuti ujian sesuai dengan jadwal tanpa harus mengikuti ujian susulan
  1. ORIENTASI TEKNIK

Orientasi teknik ini, memabnatu konseli untuk bisa mengatasi gangguan kecemasannya yang berlabihan, khususnya saat menjelang ujian.

  1. PROSES PENERAPAN

Proses penerapan pada teknik, antara lain :

    1. Analisis Perilaku Yang Menimbulkan Masalah

    2. Penyusunan Hierarkhi Situasi Yang Menimbulkan Masalah Dari Tingkat Yang Rendah Hingga Yang Tinggi
    3. Latihan relaksasi otot
    4. Tahap membayangkan situasi yang menyenangkan.

    5. Tahap membayangkan situasi yang menimbulkan kecemasan.

    6. Tahap penyusunan tingkatan kecemasan (tertulis)
  1. SKENARIO KONSELING

No.

SUBJEK

DIALOG

TAHAP/ TEKNIK

1.

konseli

Assalamualaikum……………..

2.

konselor

Waalaikumsalam Wr.Wb.

Sita, mari silahkan masuk…, silahkan duduk pilih tempat duduk mana yang paling nyaman disini atau disana?

PENYAMBUTAN opening
3. konseli

Disini saja Bu, lebih nyaman….

4. konselor

Oh ya Sita, jam ini kan seharusnya masih ada kelas?

TOPIK NETRAL

5.

konseli

Benar Bu, jam ini seharusnya masih ada jam pelajaran akan tetapi saya diminta untuk ke ruang BK oleh wali kelas.

6.

konselor

Wali kelasmu meminta kamu datang kemari…

7.

konseli

Benar Bu, kemarin saya menceritakan permasalahan saya ke Wali kelas. Kemudian beliau menyuruh saya untuk menemui ibu.

8.

konselor

Ibu senang sekali kamu telah bersedia datang kemari. Namun demikian, ibu tidak akan tahu permasalahan yang kamu hadapi sebelum kamu bercerita pada ibu. Jangan khawatir, semua yang akan kamu ceritakan, tidak akan diketahui oleh siapapun. Ibu akan menjaga kerahasian masalahmu.

PENGALIHAN TOPIK INTI

Confidentiality limit

9.

konseli

Diam….(menunduk cemas)

Begini Bu, saya selalu merasa cemas yang berlebihan terutama saat akan menjelang ujian. Seringkali saya terpaksa mengikuti ujian susulan karena saya jatuh sakit sebelum ujian dilaksanakan.

10.

konselor

Sita merasa cemas menjelang ujian…

Analisis Perilaku Yang Menimbulkan Masalah

11.

konseli

Iya Bu.. saya seringkali mengalami kecemasan tersebut sejak SMP. Tetapi selama ini, saya tidak pernah berani mengungkapkan masalah saya pada orang lain.

12.

konselor

Sita telah mengalami kecemasan itu sejak SMP…

restatement

13.

konseli

Ya… (diam sambil menunduk)

Saya sering takut jika saya tidak bisa mengerjakan soal ujian dengan benar, akibatnya nilai saya bisa jelek. Sehingga saya bisa menjadi yang terjelek nilainya di kelas.

14.

konselor

Nada-nadanya, sita sangat khawatir dan malu jika hal tersebut terjadi

Reflection of feeling

15.

konseli

Saya memang akan sangat malu bu..

Sebab, saya selalu mendapat peringkat 3 besar di kelas. Apa kata teman-teman di kelas jika nilai saya turun dan saya tidak bisa mendapat peringkat 3 besar lagi di kelas.

16.

konselor

Jadi, selama pembicaraan kita tadi, intinya Sita lebih mencemaskan apa yang dikatakan oleh teman-teman di kelas terhadap Sita..

Jika Ibu simpulkan, susunan situasi yang menimbulkan kecemasan pada diri Sita yaitu:

  • Sita cemas jika tidak bisa mengerjakan soal ujian dengan benar

  • Sita cemas jika nilainya menjadi jelek

  • Sita cemas tidak bisa mendapat peringkat 3 besar lagi di kelas

  • Dan yang terakhir, Sita cemas menjadi yang terjelek nilainya di kelas karena akan dicemooh oleh teman-teman sekelas.

Clarification

Penyusunan Hierarkhi Situasi Yang Menimbulkan Masalah Dari Tingkat Yang Rendah Hingga Yang Tinggi

17.

konseli

…… (diam)

Ya bu, memang benar seperti itu..

(diam kembali)

18.

konselor

Ibu memahami apa yang kamu rasakan….(sambil menepuk pundak Sita)

Acceptance

19.

konseli

Beberapa minggu ini, saya merasa kecemasan yang saya alami sangat mengganggu terutama karena sebentar lagi saya akan mengikuti ujian kenaikan kelas. Saya khawatir jika tidak dapat menghadapi masalah ini saya akan tidak naik kelas.

20.

konselor

Dengan kata lain, Sita ingin mengurangi kecemasan yang Sita alami..

Clarification

21.

konseli

Ya Bu, Saya sangat ingin kecemasan yang saya alami berkurang karena itu sangat mengganggu saya. Selama ini saya telah mencoba untuk mengurangi kecemasan saya dengan berlatih pernafasan ketika kecemasan itu datang.

22.

konselor

Sita berlatih pernafasan untuk mengurangi kecemasan…

restatement

23.

konseli

Ya, saya pernah membaca sebuah artikel tentang cara mengurangi kecemasan dengan berlatih pernafasan. Namun, upaya yang saya lakukan kurang berhasil karena kecemasan itu masih sering muncul secara berlebihan.

24.

Konselor

Pada intinya, Sita telah melakukan upaya untuk mengurangi kecemasan dan belum berhasil. Sedangkan Sita belum mengetahui cara lain yang dapat dilakukan untuk mengurangi kecemasan.

clarification

25.

konseli

Ya itu Bu, saya tidak mengetahui cara lain untuk mengatasi permasalahan saya.

26.

konselor

Ya, Ibu mengerti apa yang kamu rasakan. Namun sebelumnya, sudahkah Sita tahu tentang arti dari kecemasan itu sendiri?

Acceptance, lead

27.

konseli

Belum Bu, saya merasakannya tapi belum mengerti definisinya. Saya cemas biasanya ketika mendengar akan ujian.

28.

konselor

Bagus sekali Sita, Sita ternyata telah mengenali kapan kecemasan yang Sita alami muncul. Kecemasan itu sendiri adalah kekhawatiran yang berlebihan akan sesuatu yang kemungkinan belum pasti terjadi. Bukankah begitu Sita?

approval

29.

konseli

Ya Bu, memang sesuatu yang saya cemaskan itu belum pasti terjadi tetapi tetap saja mengganggu saya dan saya tidak bisa menghilangkannya.

30.

konselor

Baik-baik, Sita telah memahami betul tentang kecemasan yang kamu alami. Salah satu cara mengatasi kecemasan adalah dengan latihan pernafasan seperti yang telah Sita lakukan. Dan yang perlu Sita tahu, sebelum Sita melakukan latihan pernafasan kondisi Sita harus rileks terlebih dahulu. Adapun cara yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah merilekskan anggota tubuh kita dengan relaksasi otot. Sudahkah Sita melakukannya?

Advice, lead

31.

konseli

Belum Bu, selama ini saya langsung melakukan latihan pernafasan ketika rasa cemas itu muncul.

32. konselor Baiklah, sekarang kita bisa melatih cara relaksasi otot. Kita akan mulai relaksasi dari lengan hingga kaki. Sekarang perhatikan dan ikuti gerakan relaksasi otot yang Ibu lakukan. (Konselor memberikan contoh gerakan relaksasi)

Latihan relaksasi otot

33.

konseli

(Menirukan gerakan konselor)

34. konselor Bagaimana Sita? Apa yang kamu rasakan? Apakah kamu sudah merasa relaks sekarang? lead
35. konseli

Sudah Bu, saya merasa lebih relaks sekarang.

36.

konselor

Baiklah, sekarang silahkan kamu duduk kembali dan carilah posisi yang paling nyaman menurut kamu. Selanjutnya, pejamkan matamu dan bayangkan situasi yang menyenangkan menurut kamu. Bayangkan situasi apa saja yang membuat kamu merasa senang dan nyaman.

Tahap membayangkan situasi yang menyenangkan.

37.

konseli

(memejamkan mata dan mengikuti instruksi yang diberikan konselor)

38.

konselor

CUKUP…. Tapi tetaplah dalam kondisi memejamkan mata.

(Konselor memberikan instruksi kepada konseli untuk membayangkan situasi yang menimbulkan kecemasan dari tahap ke tahap mulai dari yang taraf terendah sampai taraf yang paling tinggi sambil mengamati mimik muka konseli, dan jika ada tanda-tanda munculnya kecemasan maka konseli diminta untuk mengehentikan bayangan tentang kecemasan yang muncul kemudian konseli diarahkan untuk membayangkan situasi yang menyenangkan kembali. Hal ini diulangi sampai konseli dapat mangatasi masalah kecemasannya hingga taraf yang paling tinggi)

Tahap membayangkan situasi yang menimbulkan kecemasan.

39.

konseli

(memejamkan mata dan mengikuti instruksi yang diberikan konselor)

40.

konselor

Heeeem…Sita telah mengikuti instruksi dengan benar. Apakah yang Sita rasakan setelah latihan yang kita lakukan tadi?

Acceptance, lead

41.

konseli

Saya sudah merasakan adanya perubahan Bu, tetapi sepertinya belum maksimal.

42.

konselor

Baguslah, berarti kamu sudah dapat menerapkan latihan tersebut untuk mengurangi masalah kecemasan yang kamu hadapi. Memang latihan ini tidak dapat dilakukan hanya sekali, perlu ada pengulangan latihan tersebut agar mendapatkan hasil yang maksimal.

approval

43.

konseli

Iya Bu.

44.

konselor

Baiklah Sita, apabila masalah kecemasan yang kamu alami muncul kembali Sita bisa membayangkan situasi yang menyenangkan untuk menghilangkan rasa kecemasan tersebut. Namun, jangan lupa untuk melakukan latihan relaksasi otot terlebih dahulu.

aproval

45.

konseli

Ya Bu, terimakasih. tetapi saya harus kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.

46.

konselor

Ibu rasa konseling pada pertemuan kali ini bisa diakhiri tetapi Sita perlu hadir kembali untuk proses konseling selanjutnya pada hari Kamis waktu istirahat pertama. Namun sebelum Sita keluar dari ruangan ini, kita perlu menyusun jenjang kecemasan yang Sita alami dan menuliskannya pada selembar kertas.

Tahap penyusunan tingkatan kecemasan

(tertulis)

47.

konseli

Ya Bu.

(konseli bersama konselor menulis jenjang kecemasan di selembar kertas yang diberikan konselor)

48.

konselor

Kertas ini akan Ibu simpan agar memudahkan proses konseling selanjutnya.

49.

konseli

Kalau begitu saya permisi sekarang Bu.

50.

konselor

Ya, silahkan Sita. Jangan lupa kita bertemu lagi hari Kamis pada waktu istirahat. (mengantar Sita ke pintu)

Termination

Pada praktiknya, dapat juga dilakukan aplikasi mengenai teknik desensitisasi sistematis secara klasikal. Petunjuknya adalah sebagai berikut:

  1. Analisis Perilaku yang menimbulkan masalah (kecemasan/ketakutan)

Dilakukan dengan meminta peserta untuk mengisi tabel survey ketakutan berikut :

Tabel Survey Ketakutan

Pilihan dalam daftar ini berhubungan dengan hal-hal dan pengalaman yang mingkin menyebabkan ketakutan atau perasaan tidak menyenangkan lainnya. Tulislah angka untuk tiap pilihan didalam kolom yang menggambarkan seberapa banyak kamu terganggu oleh pilihan tersebut sekarang ini.

Situasi-situasi khusus

Tidak terganggu sama sekali

Sedikit terganggu

Agak sedikit terganggu

Terganggu

Sangat terganggu

  1. Luka terbuka

  2. Kencan

  3. Sendirian

  4. Di tempat yang aneh

  5. Suara keras

  6. Orang meninggal

  7. Berbicara di tempat umum

  8. Menyeberang jalan

  9. Orang yang nampak tak berdosa

  10. Jatuh

  11. Mobil

  12. Diganggu

  13. Dokter Gigi

  14. Petir

  15. Sirine

  16. Kegagalan

  17. Memasuki ruangan dimana semua

orang telah duduk

  1. Tempat-tempat tinggi

  2. Melihat kebawah dari gedung tinggi

  3. Cacing

  4. Mahluk-mahluk imajinasi

  5. Orang asing

  6. Disuntik

  7. Kelelawar

  8. Bepergian dengan kereta

  9. Bepergian dengan bis

  10. Bepergian dengan mobil

  11. Rasa marah

  12. Orang berkuasa

  13. Lalat

  14. Melihat orang disuntik

  15. Keributan mendadak

  16. Kecoak

  17. Keramaian

  18. Tempat terbuka

  19. Kucing

  20. seseorang menggertak yang lain

  21. Orang yang nampak kuat

  22. Burung

  23. Pemandangan air dalam

  24. Dilihat saat kerja

  25. Binatang mati

  26. Senjata

  27. Melihat kotoran

  28. Binatang melata

  29. Melihat oarng berkelahi

  30. Orang buruk

  31. Api

  32. Orang sakit

  33. Anjing

  34. Dikritik

  35. Berjalan di jalan gelap sendirian

  36. Di lift

  37. Menyaksikan operasi pembedahan

  38. Orang marah

  39. Tikus

  40. Darah:

    1. Manusia

    2. Hewan

  41. Berpisah dari teman

  42. Tempat tertutup

  43. Prospek operasi pembedahan
  44. Ditolak pacarku

  45. Pesawat

  46. Bau obat

  47. Merasa tidak setuju

  48. Ular jinak

  49. Kuburan

  50. Tidak diperhatikan

  51. Tempat gelap

  52. Detak jantung yang prematur

(terlambat satu denyut)

  1. (a) Pria telanjang

(b) Wanita telanjang

  1. Kilat

  2. Dokter

  3. Orang cacat

  4. Berbuat salah

  5. Terlohat tolol

  6. Lepas kendali

  7. Pucat

  8. Memuakkan

  9. Laba-laba

  10. Bertanggungjawab untuk membuat keputusan

  11. Melihat pisau atau benda-benda tajam

  12. Sakit jiwa

  13. Bergaul dengan lawan jenis

  14. Mengerjakan tes tertulis

  15. Disentuh oleh orang lain

  16. Merasa berbeda dari orang lain

  17. Pembicaraan yang menyejukkan

  18. Tikus percobaan

  19. Mengerjakan bermacam tes

  20. Berbicara di tempat umum (didepan grup)

  21. Melihat ke bawah dari tempat tinggi

Setelah mengisi tabel survey ketakutan dilanjutkan dengan mengisi daftar pertanyaan berikut :

Daftar Pertanyaan Yang Direvisi Oleh Willoughby Untuk Administrasi Diri

Perintah!

Pertanyaan-pertanyaan dalam tabel ini dtujukan untuk mengindikasikan beberapa ciri-ciri emosi pribadi. Ini bukan merupakan tes karena tidak ada jawaban benar dan salah untuk semua pertanyaan tersebut. Setelah tiap-tiap pertanyaan tersebut kamu akan mendapati angka-angka yang arti dari angka tersebut diberikan dibawah ini. Yang harus kamu lakukan adalah melingkari tiap-tiap nomor tersebut yang menurutmu adalah jawaban yang paling bagus.

0 Berarti “Tidak”, “Tidak pernah”, “Tidak sama sekali”.

1 Berarti “Agak”, “Kadang-kadang”, “Sedikit”.

2 Berarti “Sering”, Dalam Jumlah Rata-rata”.

3 Berarti “Biasanya” , “Agak sering”

4 Berarti “Selalu”, “Seluruhnya”

  1. Apakah kamu khawatir jika kamu berbicara didepan umum? – 0 1 2 3 4

  2. Apakah kamu takut jika kamu berbuat tolol bagi dirimu sendiri, atau merasa kelihatan tolol? – 0 1 2 3 4

  3. Apakah kamu takut jatuh ketika kamu ada di tempat tinggi dimana tidak ada bahaya untuk jatuh- sebagai contoh malihat kebawah dari sebuah balkon di lantai 10? – 0 1 2 3 4

  4. Apakah kamu mudah tersinggung dengan perkataan orang lain? – 0 1 2 3 4

  5. Apakah kamu dibelakang saja di saat acara-acar sosial? – 0 1 2 3 4

  6. Apakah kamu mempunyai perubahan suasana hati yang tidak dapat kamu jelaskan? – 0 1 2 3 4

  7. Apakah kamu merasa tidak nyaman ketika kamu bertemu orang baru? – 0 1 2 3 4

  8. Apakah kamu sering melamun, contohnya sering mengkhayal yang tidak nyata hasilnya? – 0 1 2 3 4

  9. Apakah kamu mudah putus asa, contohnya karena kegagalan atau kritik? – 0 1 2 3 4

  10. Apakah kamu sering ragu mengucapkan sesuatu kemudian menyesalinya? – 0 1 2 3 4

  11. Pernahkah kamu terganggu oleh kedatangan orang lain? – 0 1 2 3 4

  12. Apakah kamu mudah menangis ? – 0 1 2 3 4

  13. Apakah hal ini mengganggumu jika seseorang mengawasimu saat bekerja walaupun kamu sudah bekerja dengan baik? – 0 1 2 3 4

  14. Apakah suatu kritik sangat menyinggungmu? – 0 1 2 3 4

  15. Apakah kamu menyeberang jalan untuk menghindari bertemu seseorang? – 0 1 2 3 4

  16. Pada jamuan makan atau minum apakah kamu pergi menghidar agar tidak bertemu dengan orang penting? – 0 1 2 3 4

  17. Apakah kamu sering merasa sedih? – 0 1 2 3 4

  18. Apakah kamu ragu untuk membantu dalam diskusi atau debat dengan suatu kelompok dimana kamu sedikit kenal anggota kelompokmu? – 0 1 2 3 4

  19. Apakah kamu mempunyai perasaan kesepian baik ketika sendirian atau bersama-sama? – 0 1 2 3 4

  20. apakah kamu menyadari dirimu sebelum orang-orang yang berkedudukan lebih tinggi dari kamu (Guru, pengusaha, Penguasa)? – 0 1 2 3 4

  21. Apakah kamu kurang percaya diri dengan kemampuanmu untuk melakukan sesuatu? – 0 1 2 3 4

  22. Apakah kamu menyadari penampilanmu ketika kamu berpakaian rapi? – 0 1 2 3 4

  23. Apakah kamu takut melihat darah, luka meskipun itu tidak berbahaya bagimu? – 0 1 2 3 4

  24. Apakah kamu merasa orang lain lebih baik darimu? – 0 1 2 3 4

  25. Apakah sulit merubah pendapatmu? – 0 1 2 3 4

Kemudian dilanjutkan lagi dengan mengisi inventarisasi kecukupan diri bernreuter

INVENTARISASI KECUKUPAN DIRI BERNREUTER

  1. Ya Tdk ? Apakah kamu memilih bekerja untuk dirimu sendiri daripada melaksanakan program untuk orang yang lebih berkuasa dan kamu hormati?

  2. Ya Tdk ? Apakah kamu menikmati menghabiskan waktu soremu sendirian?

  3. Ya Tdk ? Apakah buku-buku lebih menyenangkan daripada teman-temanmu?

  4. Ya Tdk ? Apakah kamu merasa perlu berhubungan sosial lebih luas dari yang kamu punya sekarang?

  5. Ya Tdk ? Apakah kamu mudah putus asa ketika opini atau pendapat orang lain berbeda denganmu?

  6. Ya Tdk ? Apakah pujian memuaskanmu lebih dari prestasi yang kamu dapat?

  7. Ya Tdk ? Apakah kamu suka mempertahankan opini untuk dirimu sendiri?

  8. Ya Tdk ? Apakah kamu tidak suka nonton film sendirian?

  9. Ya Tdk ? Apakah kamu suka memiliki teaman yang cocok, dimana kamu dapat merencanakan kegiatan sehari-hari?

  10. Ya Tdk ? Dapatkah kamu menenangkan ketakutanmu sendiri?

  11. Ya Tdk ? Apakah ejekan menyinggungmu walaupun kamu tahu bahwa kamu benar?

  12. Ya Tdk ? Apakah kamu kira kamu bisa menikmati pekerjaan kreatifmu sedangkan kamu sedikit mempunyai teman sedikit?

  13. Ya Tdk ? Apakah kamu sanggup mengambil resiko dalam situasi yang tidak menentu?

  14. Ya Tdk ? Apakah kamu menemukan percakapan yang lebih membantu mengembangkan ide-idemu daripada membaca?

  15. Ya Tdk ? Apakah kamu suka berbelanja sendiri?

  16. Ya Tdk ? Apakah ambisimu perlu rangsangan tambahan melalui hubungan dengan orang-orang sukses?

  17. Ya Tdk ? Apakah kamu mengalami kesulitan merubah pendapatmu sendiri?

  18. Ya Tdk ? Apakah kamu lebih suka mengatur perjalananmu sendiri ke luar negeri daripada melakukan perjalanan yang sudah diatur sebelumnya?.

  19. Ya Tdk ? Apakah kamu banyak terpengaruh oleh pujian, atau kritikan dari orang lain?,

  20. Ya Tdk ? Apakah kamu biasa menghindari memberi nasehat?

  21. Ya Tdk ? Apakah kamu memikirkan adat istiadat yang ada dalam kehidupan masyarakat?

  22. Ya Tdk ? Apakah kamu ingin seseorang menemanimu saat mendapat berita buruk?

  23. Ya Tdk ? Apakah hal itu membuatmu tidak nyaman untuk “berbeda dari orang lain” atau menjadi modern?

  24. Ya Tdk ? Apakah kamu lebih suka membuat keputusan terburu-buru?

  25. Ya Tdk ? Jika kamu mengadakan penelitian, kamu memilih bekerja menjadi asisten di beberapa penelitian atau meneliti untuk dirmu sendiri?

  26. Ya Tdk ? Disaat kamu sedih apakah kamu berusah mencari seseorang untuk menghiburmu?

  27. Ya Tdk ? Apakah kamu lebih suka menyendiri disetiap saat?

  28. Ya Tdk ? Apakah kamu lebih suka berpergian bersama seseorang yang telah mengatur semua perjalanan tersebut daripada berpergian sendiri?

  29. Ya Tdk ? Apakah kamu biasa meyusun sesuatu daripada orang lain yang mempertunjukkannnya?

  30. Ya Tdk ? Apakah kamu suka diperhatikan oleh tema-temanmu disaat kamu sakit?

  31. Ya Tdk ? Apakah kamu lebih suka menghadapi situsasi berbahaya sendirian?

  32. Ya Tdk ? Dapatkah kamu mengetahui kesalahanmu tanpa ditunjukkan padamu?

  33. Ya Tdk ? Apakah kamu suka menjalin persahabatan ketika kamu pergi ke tempat baru?

  34. Ya Tdk ? Dapatkah kamu bertahan pada tugas yang membosankan tanpa bantuan seseorang?

  35. Ya Tdk ? Apakah kamu pernah mengalami kesepian ?

  36. Ya Tdk ? Apakah kamu suka mendapat berbagai pendapat dari orang lain sebelum membuat keputusan penting?

  37. Ya Tdk ? Apakah kamu tidak suka pada pekerjaaan yang mungkin membuatmu terisolasi unuk beberapa tahun, seperti bekerja di hutan belantara?

  38. Ya Tdk ? Apakah kamu lebih suka bermain daripada menari?

  39. Ya Tdk ? Apakah kamu biasa mencoba untuk bertanggungjawab pada dirimu sendiri?

  40. Ya Tdk ? Apakah kamu mudah berteman?

  41. Ya Tdk ? Dapatkah kamu optimis saat orang lain menekanmu?

  42. Ya Tdk ? Apakah kamu mencoba mendapatkan sesuatu walaupun kamu harus berjuang untuk mendapatkannya?

  43. Ya Tdk ? Apakah kamu lebih suka sama orang lain dalam segala hal?

  44. Ya Tdk ? Apakah kamu mendapat berbagai ide waktu membaca buku seperti saat kamu berdiskusi?

  45. Ya Tdk ? Dalam olah raga, apakah kamu lebih suka ikut prtandingan secara individu atau secara tim?

  46. Ya Tdk ? Apakah kamu biasa menghadapi masalah tanpa mencari bantuan?

  47. Ya Tdk ? Apakah kamu lebih senang atau gembira saat kamu berada dikelompok lebih suka daripada saat kamu sendirian?

  48. Ya Tdk ? Apakah kamu tidak suka menemukan jalanmu sendiri ke tempat-tempat aneh?

  49. Ya Tdk ? Dapatkah kamu bahagia bekerja tanpa dipuji atau dikenali?

  50. Ya Tdk ? Apakah kamu merasa pernikahan itu adalah hal yang penting untuk kebahagianmu?

  51. Ya Tdk ? Beberapa temanmu mengancam untuk memutuskan persahabatan karena tingkah lakumu yang mereka kira tidak cocok dimana menurutmu itu tidak menyakitkan, Apakah kamu akan berhenti bertingkah laku seperti itu untuk mempertahankan persahabatanmu?

  52. Ya Tdk ? Apakah kamu suka saran yang diberikan kepadamu saat kamu mengisi teka teki?

  53. Ya Tdk ? Apakah kamu lebih suak mengerjakan rencanamu sendirian daripada dengan orang lain?

  54. Ya Tdk ? Apakah kamu biasa menemui bahwa seseorang lebih memotivasimu daripada hal yang lain?

  55. Ya Tdk ? Apakah kamu lebih suka sendirian waktu stress?

  56. Ya Tdk ? Apakah kamu lebih suak memikul tanggungjawabmu sendirian?

  57. Ya Tdk ? Dapatkah kamu memahami suatu masalah lebih baik dengan mempelajarinya sendirian daripada mendiskusikan dengan orang lain?

  58. Ya Tdk ? Apakah kamu kira bercerita pada orang lain tentang kepribadianmu adalah hal yang paling menyanangkan?

  59. Ya Tdk ? Apakah kamu biasanya mengandalkan pada penilaianmu?

  60. Ya Tdk ? Apakah kamu lebih suka bermain permainan diaman tidak ada yang menonton?

  1. Menyusun Hierarkhi atau jenjang-jenjang situasi yang menimbulkan masalah (ketakutan/kecemasan) dari yang kurang hingga yang paling mencemaskan klien.

Setelah mengisi tabel survei ketakutan hingga inventarisasi kecukupan diri benrreuter, selanjutnya meminta konseli untuk mengklasifikasikan masalah-masalahnya, lalu diminta untuk mengambil satu masalah yang diprioritaskan untuk disusun dalam hierarki atau jenjang-jenjang situasi yang menimbulkan masalah (ketakutan/kecemasan) . setelah ditemukan satu masalah utama kemudian dijabarkan ke dalam situasi dari yang kurang hingga yang paling mencemaskan dengan memberi skor antara 10-100.

sebagai contoh menyusun hierarki yang menimbulkan masalah yaitu :

Takut Sendiri

10. Sendiri dengan sekelompok orang di laboratorium pada malam hari atau selama seharian.

20. Sendiri dalam kamar dengan seorang wanita.

30. Berpikir tentang kemungkinan sendirian di rumah seharian.

40. Berjalan didalam kelas pada pagi hari saat hanya sedikit orang berada di luar.

50. Benar-benar sendirian di kamar tidur pada siang hari.

60. Mengendarai mobil di kota pada malam hari dengan pacarmu.

70. Berjalan sendirian di kota pada malam hari dengan pacarmu.

80. Sendirian di rumah dengan seorang anak kecil dimana saya sebagai babysitter.

90. Berpikir kalau saya sendirian beberapa jam sebelum saya benar-benar sendirian.

100. duduk sendirian di ruang tamu pada malam hari dengan pintu tertutup.

Takut Melakukan Penerbangan.

10. Melihat film tentang sebuah pesawat yang naik, turun dan berbelok.

20. Duduk di pesawat pribadi, baling-baling mulai bergerak.

30. Duduk di pesawat pribadi, pilot mulai menghidupkan mesin.

40. Duduk di pesawat pribadi, pilot mulai menjalankan pesawat.

50. Merencanakan perjalanan dengan seorang teman di dengan jet komersial 3 bulan sebelum perjalanan.

60. 1 bulan sebelum perjalan dengan jet.

70. 3 minggu sebelum perjalanan dengan jet.

80. 3 hari sebelum perjalanan dengan jet.

90. Dalam sebuah pesawat pribadi saat lepas landas.

100. Dalam sebuah pesawat komersial saat landing.

Takut berkendara di tempat-tempat tinggi.

10. Memasuki jalan yang landai pada gigi rendah.

20. Naik ke garasi sampai tingkat ketiga dari tingkat kedua.

30. Mengendarai mobil dengan seorang teman menuju jembatan yang melintang pada Sungai Brantas di jalan Kertosono.

40. mengendarai mobil dengan seorang teman dan mulai mendekati jembatan yang melintang pada sungai Brantas

50. Mengendarai mobil saya sendirian melewati jembatan Sungai Brantas.

60. Mengendarai mobil dengan seorang teman dan melewati jembatan yang melintang di sungai Bengawan Solo dekat Bajanegara

70. Mengendarai mobil sendirian melewati jembatan yang melintang pada Sungai Bengawan Solo dekat Bajanegara

80. Mengendarai mobil dengan seorang teman di jalan berbukit di Tretes

90. Mengendarai mobil dengan seorang teman di jalan berbukit di Tretes lalu naik agak keatas jalan yang sedikit curam.

100. Mengendarai mobil dengan seorang teman sampai ke puncak bukit ymh agak sedikit curam kemudian kelau dari mobil dan melihat kebawah lembah, lalu pergi ke restoran terdekat dan turun.

Takut Meninggalkan Rumah

10. Keluar rumah melalui pintu depan menuju mobil saya untuk pergi ke toko

20. Masuk ke mobil dan mulai menghidupkan mesin

30. Kemudian mulai menjalankannya

40. Meninggalkan rumah

50. Dua blok dari rumah menuju ke toko

60. Tiba di toko dan taman

70. Memasuki toko

80. Berbelanja menggunakan kereta barang dan mulai melihat-lihat barang belanjaan sesuai daftar

90. Pergi ke kasir

100. Menunggu antrian panjang di kasir

  1. Memberi latihan-latihan relaksasi otot-otot yang dimulai dari lengan hingga otot kaki. Kaki klien diletakkan di atas bantal atau kain wool. Secara terinci relaksasi otot dimulai dari lengan, kepala, kemudian leher dan bahu, bagian belakang, perut dan dada, dan kemudian anggota bagian bawah.

Adapun latihan rileksasi yang dilatihkan adalah sebagai berikut:

Langkah-langkah Rileksasi

  1. Tarik nafas dalam-dalam dan tahan selama 10 detik kemudian lepaskan. Biarkan lengan Anda dalam posisi di atas paha atas lepas begitu saja.

  2. Angkat tangan Anda kira-kira separuh sofa (atau pada sandaran kursi) kemudian bernafaslah secara normal. Letakkan tangan Anda di atas sofa (kursi).

  3. Sekarang pegang lengan Anda lalu kepalkan dengan kuat. Rasakan ketegangannya dalam hitungan sampai tiga dan pada hitungan yang ketiga letakkan tangan Anda. Satu…Dua…Tiga. Angkat tangan Anda, kembali

  4. Angkat tangan Anda kembli, tekuk jemari Anda ke belakang ke arah lain ( ke arah tubuh Anda ). Sekarang letakkan tangan Anda dan tenanglah.

  5. Angkat tangan Anda sekarang, letakkan kemudian rileks.

  6. Angkat tangan Anda sekali lagi, tapi saat ini tepukkan tangan Anda dan rileks.

  7. Angkat tangan Anda. Rileks !

  8. Naikan tangan Anda di atas sofa dan tegangkan otot bisep anda sampai bergetar. Bernafaslah normal, lepaskan tangan anda dan rileks ( perhatikan perasaan tenang dan rileks yang Anda rasakan ).

  9. Sekarang rentangkan lengan anda dan tegangkan otot bisep anda. Yakinlah bahwa Anda bernafas normal setelah itu rileks.

  10. Lengkungkan pundak anda ke belakang, tahan dan yakinkan lengan anda rileks.

  11. Bungkukkan pundak anda ke depan, tahan dan yakinkan lengan anda rileks.

  12. putar kepala Anda ke kanan, tegangkan leher anda lalu rileks dan kembali ke posisi pertama.

  13. putar kepala Anda ke kiri, tegangkan leher anda lalu rileks dan kembali ke posisi pertama.

  14. Bengkokkan kepala sedikit ke belakang, tahan lalu kebali ke posisi semula.*

  15. Tunduk kepala ke bawah sampai hampir menyentuh dagu menyentuh dada, tahan kemudian rileks dan kembali ke posisi semula.*

  16. Buka mulut anda lebar-lebar kemudian rileks.

  17. Tegangkan bibirmu dengan cara menutup mulut anda kemudian rileks

  18. Letakkan lidah anda pada langit-langit mulut, tekan dengan keras biarkan lidah anda kembali ke posisi semula dan rasakan perasaan tenang.

  19. Letakan lidah anda di bagian dasar mulut, tekan ke bawah biarkan lidah anda kembali ke posisi semula dan rasakan perasaan tenang.
  20. Duduklah di sebelah sana kemudian rileks dan jangan memikirkan apapun.

  21. Untuk mengontrol luapan emosi, Anda dapat bernyayi dengan nada tinggi, tidak terlalu keras! baiklah sekarang mulai bernyayi, tahan pada nada tinggi tersebut kemudian rilek.

  22. Menyanyilah dengan nada sedang dan buatlah pita suara anda tegang kembali lulu biarkan rileks.

  23. Menyanyilah dengan nada rendah dan buatlah pita suara anda tegang kembali kemudian rileks.

  24. Sekarang pejamkan mata anda erat-erat lalu bernafaslah normal kemudian rileks. (perhatikan bagaimana perasaan sakit anda hilang ketika Anda rileks).

  25. Biarkan mata anda rileks dan biarkan mulut anda sedikit terbuka.

  26. Buka mata anda lebar-lebar, tahan kemudian rilleks.

  27. Kerutkan dahi anda sebisa mungkin, tahan kemudian rileks.

  28. Tarik nafas dalam-dalam, tahan, hembuskan keluar kemudian rileks (perhatikan perasaan lapang saat kamu menghembuskan nafasmu).
  29. Bayangkan bahwa ada sebuah beban berat menarik seluruh otot anda sehingga membuatnya lembek setelah itu rileks.

  30. Tarik otot-otot perut bersamaan lalu rileks.

  31. Tegangkan otot-otot anda seolah-olah Anda pegulat profesional. Buatlah otot perut anda mengeras kemudian rileks.

  32. Keraskan otot pantat anda, tahan kemudian rileks.

  33. Sekarang kita beralih ke bagian atas dari tubuh anda yang tegang kemudian rileks. Pertama otot-otot muka ( Jeda…3-5 detik ). Otot-otot tenggorokan. ( Jeda …. 3-5 detik) daerah leher. (Jeda ….3-5 detik) bagian pundak. (Jeda..) Lengan dan jari.

  34. Pertahankan keadaan rileks ini, angkat kedua kaki anda (kira-kira membentuk sudut 45) kemudian rileks.

  35. Tekuk kaki bagian belakang sehingga ujung jari kaki mengarah ke muka anda. Rileks

  36. Tekuk kaki anda ke arah lain dari tubuh anda tidak terlalu jauh rasakan ketegangannya, kemudian rileks.

  37. Rileks! (Jeda). Sekarang lengkungkan jari kakimu bersamaan sekuat mungkin, kemudian rileks. (Tenanglah sekitar30 detik).

  38. Prosedur relaksasi formal ini telah lengkap. Sekarang perhatikan tubuh anda dari ujung kaki sampai kepala bahwa setiap otot dalam keadaan rileks. (Sebutlah satu persatu!). Pertama jari-jari kaki,… kaki,… Pantat,…. Perut,… Pundak,… Leher,… Mata,… dan terakhir dahi. Semua harus dalam kadaan rileks. (tenang selama 10 detik). Berbaringlah di tempat lain dan rasakan perasaan tenang, perhatikan kehangatan dari relaksasi tersebut. Pertahankan keadaan tersebut satu menit lagi, kemudian hitung sampai lima. Ketika sampai lima, bukalah mata dan rasakaan perasaan segar dan tenang. (tenang sekitar satu menit). Ulangi prosedur ini beberapa kali sampai akhirnya Anda benar-benar merasakan perasaan yang sangat tenang.

  1. Klien diminta membayangkan situasi yang menyenangkannya seperti di pantai, di tengah taman yang hijau dan lain-lain.

Setelah latihan rileksasi, pemateri kemudian memberikan intruksi kepada peserta untuk membayangkan situasi yang menyenangkan seperti pantai, di taman, ataupun tempat atau situasi yang bisa menyenangkanbagi konseli.

  1. Klien disuruh memejamkan mata, kemudian disuruh membayangkan situasi yang kurang mencemaskan. Bila klien sanggup tanpa cemas atau gelisah, berarti situasi tersebut dapat diatasi klien. Demikian seterusnya hingga ke situasi yang paling mencemaskan.

Setelah peserta membayangkan situasi yang menyenangkan, kemudian meminta konseli untuk mebayangkan situasi yang kurang menyenangkan sebagaimana hierarki kecemasan yang telah disusunya di awal tadi. Jika dalam situasi yang kurang mencemaskan konseli sudah menunjukkan tanda-tanda eksprese cemas (raut muka berubah, warna raut muka menjadi meah-padam, dst), maka konseli diminta untuk membayangkan situasi yang menyenangkan lagi. Tetapi bagi yang bisa bertahan maka diminta untuk melanjutkan membayangkan situasi kecemasan berikutnya. Berarti peserta sudah bisa menghadapi kecemasan tingakt rendah.

  1. Bila pada suatu situasi klien merasa cemas/gelisah, konselor memerintahkan klien agar membayangkan situasi yang menyenangkan tadi untuk menghilangkan rasa kecemasan/ketakutan yang baru saja terjadi

Pada tahap ini, pemateri melakukan instruksi seperti di atas. Jika pada situasi membayangkan kecemasan tingkat tertentu, kemudian peserta menunjukkan ekspresi takut atau cemas, maka konseli diminta untuk membayangkan situasi yang menyenangkan. Latihan ini dilanjutkan samapai tahap kecemasan paling tinggi, bagi peserta yang mampu. Jika peserta tidak mampu segera dihentikan, dan diulang kembali dari awal.

  1. Menyusun Hierarki atau jenjang kecemasan harus bersama klien, dan konselor menuliskannya pada selembar kertas.

Setelah latihan selesai, jika pada proses konseling sesungguhnya, hendaknya konselor dan konseli juga menyusun dan menuliskan hierarki kecemasan tadi pada selembar kertas. Dengan tujuan proses konseling akan berlanjut pada pertemuan yang akan datang dengan inti dan pokok permasalahan yang sama. Sebab teknik desensitisasi sistematis tidak bisa dilakukan hanya satu kali proses konseling selesai.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: