Oleh: lutfifauzan | Desember 23, 2009

TEKNIK MODELING

TEKNIK MODELING DALAM KONSELING
(MAKALAH KONSEPTUAL DAN APLIKATIF)

MAWAR WILANTI (107 111 405 133)
LAILY FITRI ARDIANA (107 111 409 595)
ERWAN BUDI ASTOPO (107 111 406 845)

A. Konsep
Perry dan Furukawa (dalam Abimanyu dan Manrihu 1996) mendefinisikan modeling sebagai proses belajar melalui observasi dimana tingkah laku dari seorang individu atau kelompok, sebagai model, berperan sebagai rangsangan bagi pikiran-pikiran, sikap-sikap, atau tingkah laku sebagai bagian dari individu yang lain yang mengobservasi model yang ditampilkan. Teknik modeling ini adalah suatu komponen dari suatu strategi dimana konselor menyediakan demonstrasi tentang tingkah laku yang menjadi tujuan. Model dapat berupa model sesungguhnya (langsung) dan dapat pula simbolis. Model sesungguhnya adalah orang, yaitu konselor, guru, atau teman sebaya. Di sini konselor bisa menjadi model langsung dengan mendemonstrasikan tingkah laku yang dikehendaki dan mengatur kondisi optimal bagi konseli untuk menirunya. Model simbolis dapat disediakan melalui material tertulis seperti: film, rekaman audio dan video, rekaman slide, atau foto. Teknik modeling ini juga bisa dilakukan dengan meminta konseli mengimajinasikan seseorang melakukan tingkah laku yang menjadi target seperti yang dilakukan dalam ‘modeling terselubung’.
Suatu cara penting wahana individu belajar merespon pada situasi adalah dengan mengamati orang-orang lain. Tingkah laku motor komplek, pola verbal rumit, dan ketrampilan sosial yang halus, juga berbagai reaksi emosional, terhadap stimuli sosial lainnya, dapat dipelajari melalui pengamatan(observasi) (Bandura, 1969, Bourdon, 1970). Sebagian belajar ini bersifat sengaja, tapi umumnya berlangsung insidentil, tak sengaja.
Sehingga, kecakapan-kecakapan sosial tertentu bisa diperoleh dengan mengamati dan mencontoh tingkah laku model-model yang ada. Juga reaksi-reaksi emosional yang terganggu yang dimiliki seseorang bisa dihapus dengan cara orang itu mengamati orang lain yang mendekati obyek-obyek atau situasi-situasi yang ditakuti tanpa mengalami akibat-akibat yang menakutkan dengan tindakan yang dilakukannya. Pengendalian diri juga bisa dipelajari melalui pengamatan atas model yang dikenai hukuman. Status dan kehormatan model amat berarti dan orang-orang pada umumnya dipengaruhi oleh tingkah laku model-model yang menempati status tinggi dan terhormat di mata mereka sebagai pengamat.

B. Karakteristik
1. Menggunakan model, baik model langsung maupun simbolis.
2. Konseli belajar melalui observasi.
3. Menghapus hasil belajar yang maladaptif dengan belajar tingkah laku yang lebih adaptif.
4. Konselor memberikan balikan segera dalam bentuk komentar atau saran.

C. Tujuan
1. Untuk perolehan tingkah laku sosial yang lebih adaptif.
2. Agar konseli bisa belajar sendiri menunjukkan perbuatan yang dikehendaki tanpa harus belajar lewat trial and error.
3. Membantu konseli untuk merespon hal- hal yang baru
4. Melaksanakan tekun respon- respon yang semula terhambat/ terhalang
5. Mengurangi respon- respon yang tidak layak

D. Asumsi Dasar
1. Belajar bisa diperoleh melalui pengalaman langsung bisa juga diperoleh secara tidak langsung dnegan mengamati tingkah laku orang lain berikut konsekuensi-konsekuensinya.
2. Bahwa segenap tingkah laku adalah dipelajari (learned), termasuk tingkah laku yang maladaptif. Jika tingkah laku neurotik learned, maka bisa unlearned (dihapus dari ingatan) dan tingkah laku yang lebih efektif bisa diperoleh.

E. Relevansi
Teknik modeling ini relevan untuk diterapkan pada konseli yang mengalami gangguan-gangguan reaksi emosional atau pengendalian diri, kekurangterampilan kecakapan-kecakapan sosial, keterampilan wawancara pekerjaan, ketegasan, dan juga mengatasi berbagai kecemasan dan rasa takut seperti phobia, kecemasan dengan serangan-serangan panik, dan obsesif kompulsif.
Teknik ini sesuai diterapkan pada konseli yang mempunyai kesulitan untuk belajar tanpa contoh, sehingga dia memerlukan contoh/ model perilaku secara konkret untuk dilihat/ diamati sebagai pembelajaran pembentukan tingkah laku konseli. Jadi, konseli bisa belajar sendiri menunjukkan perilaku yang dikehendaki tanpa harus mengalaminya langsung (trial and error).

F. Prinsip
1. Pemberian pengalaman-pengalaman belajar sebagai proses penghapusan hasil belajar yang maladaptif.
2. Model sebagai stimulus terjadinya pikiran, sikap, dan perilaku bagi pengamat (konseli).
3. Individu (konseli) mengamati model (tingakh laku yang nampak dan spesifik) kemudian diperkuat untuk mencontohnya.
4. Status dan kehormatan model amat berarti, karena keberhasilan teknik ini tergantung pada persepsi konseli terhadap model yang diamati.
5. Adegan yang lebih dari satu dapat menggambarkan situasi-situasi yang berbeda dimana tingkah laku ketegasan biasanya diperlukan (cocok).

G. Manfaat
1. Memberikan pengalaman belajar yang bisa dicontoh oleh konseli.
2. Menghapus hasil belajar yang tidak adaptif.
3. Memperoleh tingkah laku yang lebih efektif.
4. Mengatasi gangguan-gangguan keterampilan sosial, gangguan reaksi emosional dan pengendalian diri.

H. Kendala
1. Keberhasilan teknik modeling tergantung persepsi konseli terhadap model. Jika konseli tidak menaruh kepercayaan pada model, maka konseli akan kurang mencontoh tingkah laku model tersebut.
2. Jika model kurang bisa memerankan tingkah laku yang diharapkan, maka tujuan tingkah laku yang didapat konseli bisa jadi kurang tepat.
3. Bisa jadi konseli menganggap modeling ini sebagai keputusan tingkah laku yang harus ia lakukan, sehingga konseli akhirnya kurang begitu bisa mengadaptasi model tersebut sesuai dengan gayanya sendiri.

I. Prosedur Aplikasi
Jika konselor hendak melaksanakan konseling dengan teknik modeling langsung, maka langkah-langkah yang hendaknya diambil antara lain:
1. Meminta konseli untuk memperhatikan apa yang harus ia pelajari sebelum model didemonstrasikan.
2. Memilih model yang serupa dengan konseli dan memilih siapa yang bisa mendemonstrasikan tingkah laku yang menjadi tujuan dalam bentuk tiruan.
3. Menyajikan demonstrasi model tersebut dalam urutan skenario yang memperkecil stress bagi konseli. Konseli bisa terlibat dalam demonstrasi perilaku ini.
4. Meminta konseli menyimpulkan apa yang ia lihat setelah demonstrasi tersebut.
5. Adegan yang dilakukan bisa jadi lebih dari satu. Sesudah model ditampilkan, konseli dapat diminta untuk meniru memperagakan tingkah laku model itu.
Dalam teknik modeling ini, yang paling baik adalah konselor dapat menekankan bagian-bagian mana dari perbuatan tersebut yang penting, dan kemudian mengulang tingkah laku yang diharapkan untuk dilakukan selanjutnya. Konseli didorong untuk melakukan kembali tingkah laku tersebut. Dalam hal ini konselor memberikan balikan dengan segera dalam bentuk komentar atau saran.

MAKALAH APLIKATIF
SKENARIO MODELING

Tahap 1
Konseli : “Assalammualaikum” (sambil mengetuk pintu ruangan BK)
Konselor : “Waalaikumsalam” (diucapkan setelah membuka pintu ruangan BK)
Konseli : “Selamat pagi, Bu!” (sambil tersenyum)
Konselor : “Selamat pagi Dinda, ayo silahkan masuk (dengan menjabat tangan Dinda). Silahkan duduk Dinda! Pilih kursi yang kamu rasa nyaman untuk duduk disini.”
Konseli : “Terima kasih Bu, saya duduk disini saya.”
Konselor : “Apakah kamu sudah merasa nyaman duduk disitu?”
Konseli : “Iya Bu, saya nyaman duduk disini.”
Konselor : “Bagaimana kabarmu hari ini?” (Topik netral)
Konseli : “Alhamdulillah kabar saya hari ini baik- baik saja Bu!”
Konselor : “Kemarin kan sekolah kita ini mengadakan berbagai lomba dalam rangka memeriahkan Diesnatalis SMAN 1 Malang yang ke-45. Nah kelasmu ikut lomba apa saja?”
Konseli : “Kemarin kelas saya mengikuti lomba menghias tumpeng dan juga lomba parade band, Bu.”
Konselor : “Wah, pasti seru sekali ya? Dinda jadi pegang apa? Atau jangan- jangn sebagai penyanyinya?”
Konseli : “Saya tidak pegang apa-apa Bu, saya hanya sebagai penyemangat di bawah panggung.”
Konselor : “Kenapa? Apakah kamu tidak suka dengan musik?”
Konseli : “Itu dia Bu masalahnya, saya kurang PD jika harus tampil di depan umum apalagi dalam acara yang besar seperti itu. Untuk itu juga kenapa saya datang ke ruang BK ini, karena ada yang ingin saya ceritakan pada Ibu mungkin Ibu bisa membantu apa yang sedang saya alami ini.”
Konselor : “Kamu ingin bercerita apa kepada Ibu? Lanjutkan. Ibu selalu siap mendengarkan ceritamu.”
Konseli : “Sebetulnya saya sendiri juga bingung bu dengan apa yang saya alami. Saya merasa diri saya sangat malu dengan teman-teman saya jika saya disuruh berbicara, rasanya canggung sekali. Apakah ini karena saya belum bisa beradaptasi dengan lingkungan sekolah saya ini? Saya merasa diri saya hanya sendirian.”
Konselor : “ehmm, lalu?”
Konseli : “Saya merasa tidak memiliki teman yang sangat akrab sekali dengan saya. Yang bisa saya ajak untuk cerita, curhat, bercanda, dll.”
Konselor : “Apakah yang kamu rasakan dan membuat kamu berfikir seperti itu?”
Konseli : “Saya merasa tidak PD untuk bergaul dengan teman-teman. Jadi saya merasa takut untuk bergaul apalagi ngobrol maupun bercanda bersama dengan teman-teman baru. Saya takut mereka menolak saya. Dulu saya pernah punya pengalaman tidak menyenangkan waktu saya masih SMP. Saat saya berusaha berteman dengan seseorang, dia malah menolak dan mengacuhkan saya, saya kecewa sekali Bu saat itu, Sejak kejadian itu saya jadi merasa minder dan tidak PD saat harus memulai hubungan denga orang lain atau lingkungan baru”
Konselor : “Ibu mengerti apa yang kamu rasakan (Acceptance). Yang kamu butuhkan dan inginkan adalah ingin merasa nyaman dan PD dalam bergaul bersama teman- teman?”
Konseli : “Iya, Bu. Saya sedih sendirian terus menerus, tetapi ketika saya ingin memulai berkomunikasi dan bercanda dengan mereka saya merasa sangat canggung sekali Bu.”
Konselor : “Iya, Ibu mengerti perasaanmu. Kamu tahu? Sebelum kamu mencoba, kamu tidak akan tahu bagaimana hasilnya. Coba kalau kamu berani untuk memulai menyapa atau memulai pembicaraan dengan mereka, tentunya nanti mereka akan merespon denga baik. Dan mungkin sebenarnya mereka ingin sekali berteman akab dengan kamu. Masalahnya perasaan trauma karena ditolak oleh temanmu itu adalah masa lalu, siapa tahu peristiwa yang kamu hadapi tidak sama seperti perisitiwa yang kamu alami dulu. Sehingga perasaan takut dan kecewa itu tidak perlu kamu rasakan sampai sekarang, jadi kamu bisa lebih percaya diri dan tidak takut lagi berteman dengan orang-orang yang baru”
Konseli : “Iya Bu, Saya mengerti apa yang Ibu maksudkan. Tapi saya masih sangat sulit mengubah perasaan saya. Saya sulit memulai pembicaraan dengan teman atau merespon ajakan mereka, saya bingung harus memulai dengan sikap bagaimana, dimulai darimana, dan dengan perkataan seperti apa”

Konselor : “Baiklah, karena kamu merasa kesulitan dengan hanya memikirkan atau membayangkan solusi permasalahanmu, kita akan memainkan permaianan peran. Teknik ini dapat membantu kamu untuk memahami dengan lebih mudah bagaimana untuk dapat bertingkah laku dengan tepat dalam bergaul denga teman-temanmu. Pemeranan tingkah laku ini dapat diperankan oleh saya sendiri, atau kamu ingin salah seorang temanmu dikelas untuk bermain peran bersama kita”
Konseli : “Baik Bu, tapi saya nervous…”
Konselor : “Baiklah, kalau kamu ingin bantuan seorang teman untuk bermain peran bersama kita tidak apa-apa. Saya tekankan disini adalah bagaimana kamu dapat memahami dan mengambil pelajaran untuk mencontoh setiap perilaku positif yang akan ditunjukkan oleh model kita nanti”
Konseli : “Iya Bu, saya rasa saya sudah tahu siapa yang bisa membantu saya, Meta saja Bu, dia anaknya pendiam juga jarang berbaur dengan teman-teman seperti saya. Dengan saya pun juga tidak terlalu dekat. Baiklah Bu, saya mohon pamit dulu, besok saya akan menemui Ibu bersama dengan Meta. Terima kasih ya Bu”
Konselor : “Sama-sama, Ibu menunggu kedatanganmu bersama Meta,”
Konseli : “Iya Bu. Baiklah Bu saya pamit dahulu, Assalamualaikum”
Konselor : “Walaikumsalam”

Tahap 2
Konseli : “Assallamualaikum”(datang bersama Meta ke ruangan BK, mengetuk pintu dan juga memberikan salam )
Konselor : “Waalaikumsalam, mari silahkan masuk”(sambil menjabat tangan mereka dengan bergantian sambil mempersilahkan duduk) silahkan pilih tempat duduk ditempat yang kalian suka dan kalian rasa nyaman”
Konseli : “Iya Bu, saya duduk di sini saja Bu.”(Meta mengikuti Dinda dibelakangnya)
Konselor : “Hallo Meta bagaimana kabarmu hari ini?”(Topik Netral)
Konseli : “Alhamdullillah kabar saya hari ini baik- baik saja, Bu.”
Konselor : “Apakah kamu sudah diberi tahu kenapa kamu diajak kesini oleh Dinda?”
Konseli : “Sudah Bu, Dinda sudah memberitahukan saya kok. Saya ikhlas untuk membantunya berubah ke arah yang lebih baik lagi.”
Konseli : “Terima kasih ya Meta.”
Konselor : “Alhamdulillah, sesama teman harus saling membantu dan memudahkan ya?! Dengan kedatangan Meta ini, selanjutnya kita akan memerankan skenario ini. Dinda membutuhkan contoh dari Meta untuk memerankan peran Dinda dulu. Saya akan menjadi temanmu yang mencoba ingin berteman dan bergaul denganmu, dan silahkan Meta merespon saya nantinya ya?!”

(menyalurkan demonstrasi model tersebut dalam urutan skenario)
Konselor (sebagai teman) : “Selamat pagi Din, kenapa kamu sendirian kelas? Kenapa
tidak bergabung dengan teman-teman di kantin?”
Meta (sebagai konseli) : “Aku…Aku tidak. Tidak ada apa-apa kok,”(Meta tetap duduk)
Konselor (sebagai teman) : “Hei, pasti menyenangkan bergabung dengan teman-teman di kantin. Kita bisa saling bercerita, tertawa, akan semakin mengenal dan menyayangi. Ayo, kutemani kamu kesana,” (konselor menggandengar Meta)
Meta (sebagai konseli) : “Mmm…Baiklah aku ikut denganmu. Tapi nanti temani aku ya? Aku belum begitu dekat dengan teman-teman,”
Konselor (sebagai teman) : “O, dengan senang hati Dinda,” (tersenyum)

(meminta konseli untuk menyimpulkan apa yang ia lihat setelah demonstrasi tersebut)
Konselor : “Nah Dinda, apa yang bisa kamu amati, pahami, dan simpulkan dari contoh adegan tadi?”
Konseli : “Ternyata sebenarnya tidak begitu menakutkan untuk memulai bergaul dengan mereka, Bu. Mungkin sebenarnya mereka juga mengharapkan saya untuk bersama mereka seperti tadi. Berarti…tidak semua orang menunjukkan respon yang sama seperti pengalaman yang saya alami dahulu yang tidak mengenakkan?”
Konselor : “Iya, kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi kalau kita tidak mencobanya terlebih dahulu. Banyak orang-orang baik, hal-hal positif dan menyenangkan yang bisa kamu dapatkan bersama teman-temanmu yang baru.”
Konseli : “Ehmm…”(mengangguk-ngangguk)
Konselor : “OK. Setelah kamu mengamati Meta memainkan peranmu tadi, sekarang kamu berani kan untuk memainkan peranmu sendiri? Menunujukkan sikap-sikap dan tingkah laku yang lebih positif, seperti Meta tadi,”
Konseli : “Iya Bu, InsyaAllah saya bisa.”
Konselor : “Ya sudah, ayo kita ulangi peranan itu tadi. Kamu perankan sebagi dirimu sendiri. Jika ditengah adegan ini kamu merasakan perasaan cemas atau lagi dan kesulitan merespon, maka kamu boleh diam dulu, jangan mengucapkan apa-apa untuk menetralisir perasaan itu, ok?”
Konseli : “Baik Bu,”

(adegan diulangi dengan konseli memainkan peran dirinya sendiri)
Konselor (sebagai teman) : “Selamat pagi Dinda, kenapa kamu sendirian disini? Kenapa tidak bergabung dengan teman-teman di kantin?”
Konseli (sebagai diri sendiri) : (Terdiam sejenak, lalu berkata)”Aku…Aku tidak ingin,” (Meta tetap duduk)
Konselor (sebagai teman) : “Hei, pasti menyenangkan bergabung dengan teman-teman. Kita bisa saling bercerita, tertawa, kita akan semaikn mengenal dan menyayangi. Ayo, kutemani kamu kesana,” (konselor menggandeng Meta)
Konseli (sebagai diri sendiri) : “Ehmm…Baiklah aku ikut dengan mu. Tapi nanti temani aku ya? Aku belum begitu dekat dengan teman-teman.”
Konselor (sebagai teman) : “O, dengan senang hati Dinda,”(tersenyum)

(Refleksi) konselor memberikan evaluasi apa yang telah dilakukan oleh meta.
Konselo : ”Nah itu kamu bisa melakukannya, bagaimana perasaanmu saat kita bermain tadi?”
Konseli : “Saya agak takut memulainya Bu, tapi setelah saya coba, tidak seburuk yang saya bayangkan”
Konselor : “Berarti perasaan takutmu untuk memulai hubungan dengan orang lain sudah agak menurun?”
Konseli : “Setelah menemukan hal yang positif, perasaan takut saya jadi berkurang,”
Konselor : “Ya, sekarang yang perlu kamu lakukan coba kamu terapkan tingkah laku tadi dengan teman-temanmu nantui dikelas,”
Konseli : “Iya Bu, saya akan berusaha untuk mencobanya Bu”
Konselor : “Baiklah, Ibu rasa cukup untuk pertemuan hari ini, kalian bisa kembali ke kelas, Ibu tunggu perkembangannya dari kamu Din, Untuk Meta, terima kasih sudah membantu”
Meta : “Iya Bu, sama-sama,”
Konseli : “Terima kasih Bu atas bantuannya, saya akan segera memberi kabar pada Ibu, terima kasih Bu,”
Konselor : “Sama-sama. Jika kalian ada yang ingin dibicarakan atau mungkin sekedar curhat, kalian bisa menemui Ibu.”
Konseli : ”Terima kasih Bu, kami mohon diri.
Assalamulaikum…” (sambil berdiri, berjabat tangan lalu berjalan menuju pintu keluar ruangan BK)
Konselor : “Iya, sama-sama, Wa’alaikumsalam” (sambil berjalan menyongsong mereka keluar dari ruang BK)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: