Oleh: lutfifauzan | November 25, 2009

Khutbah Idul Adha 1430H di Lapangan SMA 9 Malang

KHUTBAH IDUL ADHA 1430 H
KETIKA IDUL QURBAN MENYERULANGKAH MENGGAPAI KEMULYAAN BERPANGKAL PADA KEPEDULIAN DAN KESUNGGUHAN

Lutfi Fauzan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ اَنْزَلَ الْعِيْدَ مِنْ اَكْبَرِ شَعَآ ئِرِ الاِسْلاَمِ
اَشْهَدُ اَنْ لآ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَه لاَ شَرِيْكَ لَه اِلهٌ اِبْتَلىاِبْرَا هِيْمَ خَلِيْلَه
وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُه وَرَسُوْلُه لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ
اَللّهُمَّ صَلّ وَسَلّمْ وَبَا رِكْ عَلى مُحَمَّدٍ وَعَلى الِه وَصَحْبِه
كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ عَلى اِبْرَا هِيْمَ وَعَلى الِ اِبْرَا هِيْمَ وَسَلّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اَمَّا بَعْدُ
فَيَآ اَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ وَالْمُسْلِمَاتُ رَحِمَكُمُ اللهُ اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِىْ
بِتَقْوَى اللهَ وَكُوْ نُوْا مَعَ الصَّادِقِيْنَ
اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَا تِه وَلاَ تَمُوْ تُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
اَللهُ اَكْبرَُ اَللهُ اَكْبرَُ لآ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَاَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبرَُ وَللهِ الْحَمْدُ
اَللهُ اَكْبرَُ كَبِيْرًا وَّالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَّسُبْحنَ اللهِ بُكْرَةً وَّاَصِيْلاً
لآ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَاَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبرَُ وَللهِ الْحَمْدُ
قَالَ اللهُ تَعَالى فِىْ كِتَابِهِ الْعَزِيْزُ :
اِنَّآ اَعْطَيْنكَ الْكَوْثَرَط فَصَلّ لِرَبّكَ وَانْحَرْط اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الاَ بْتَرُ

اَللهُ اَكْبَرُ x3 وَللهِ الْحَمْدُ
Idul Adha bertandang untuk ke sekian kalinya kepada umat manusia, khususnya yang beriman, bawakan pelajaran bermakna penuh mutiara hikmah di antara syiar-syiar agama yang paling mulya.
Idul Adha bawakan suasana hari-hari Allah, menyajikan pengertian, manusia hanyalah makhluq lemah yang kelak akan dihimpunkan di hadapan Kemahabesaran dan Kemahakuasaan ALLAH.
Idul Adha bersambutkan kalimat utama, berupa talbiyah, takbir, tahlil dan tahmid yang terbit dari hati, tersuarakan pada lisan mukmin sejati diikuti tasbih makhluq semesta yang tunduk kepada-Nya.

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبرَُ لآ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَاَللهُ اَكْبرَُ اَللهُ اَكْبرَُ وَللهِ الْحَمْد
Jamaah Shalat Id rahimakumullah,
Dalam beberapa hari terbilang, dari para hamba yang ikhlas memenuhi panggilan Rabb mereka , bergemuruh tiada terputus bacaan talbiyah yang membahana mengatasi garangnya padang-padang gersang negeri Hijaz. Dalam waktu bersamaan, di seantero jagad raya berkumandang takbir, tahlil dan tahmid bergaung mengangkasa, sahut menyahut, dan akan berlanjut sampai sempurnanya hari tasrik.

Setiap bacaan yang dipilih oleh Allah bagi hamba-Nya manakala diucapkan dengan sepenuh jiwa diikuti penghayatan akan maknanya pastilah menggetarkan kulit dan jiwa sekaligus melahirkan kedamaian dan ketentraman disebabkan besarnya magnet Ilahiyah yang dipancarkan oleh Allah lewat kalimat-kalimat yang agung nan suci itu. Gema bacaan yang telah menyentuh setiap dinding dan sudut-sudut semesta, dan menembus hati orang-orang yang beriman menambahkan kesadaran:

Allah Maha Besar di atas segala pembesar-penyandang gelar yang pernah ada di muka bumi ini
Allah Maha Kuasa di atas segala penguasa yang pernah angkuh bertahta di muka bumi ini
Allah Maha Adil di atas segala pengadilan yang pernah ditegakkan di muka bumi ini
Allah Maha Kasih di atas segala pengasih yang pernah hadir di muka bumi ini
Allah Maha Berkehendak mengatasi kehendak siapapun di muka bumi ini
Dan hanyalah pada yang MAHA ESA DAN PERKASA, Allahu Jallaa Jalaalah
Diri lemah bergantung dalam ketundukan, pasrah bersandar pada kebaikan-Nya
Harapkan bimbingan dan pertolongan-Nya di setiap i’tikad, langkah dan tindak perbuatan
Hanya panggilan-Nya yang diutamakan daripada panggilan siapapun yang ada di jagad raya ini.

اَللهُ اَكْبرَُ وَللهِ الْحَمْد
Hamba-hamba Allah kekasih Allah yang berbahagia,
Sejarah kemanusiaan telah mencatat dengan tinta emas, Bapak Tauhid yang mendapat gelar Khalilullah, Nabi Ibrahim as beserta keluarganya yang menjadi teladan manusia sepanjang masa. Sebagaimana Allah tegaskan di dalam Al-Quran:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي اِبْرَاهِيمَ
Sungguh di dalam diri pribadi Ibrahim itu terdapat teladan yang baik untukmu (QS.60:4)
Menilik pribadi Nabi Ibrahim as dan keluarganya yang dengan ikhlas dan tanpa ragu telah rela membunuh akunya sendiri, mencampakkan segala kepentingan dan egoisme pribadi, menunjukkan tekad membaca, kesediaan bekerja keras penuh kesungguhan, guna menegakkan perintah Allah yang berdampak pada kemakmuran hunian hidup, sungguh merupakan teladan yang terbaik bagi hamba beriman. Bagaimana seorang Ibrahim as mampu menekan rasa sayang, rasa memiliki, rasa iba, dan mengabaikan berbagai perasaan manusiawi lainnya sehingga dengan kemantapan hati dan tiada ragu hendak mengorbankan putra tunggalnya kala itu demi terjunjung tinggi wahyu Ilahi. Bagi Nabi Ibrahim as, tidaklah terlalu berat beban yang ditanggung apabila ia diperintahkan untuk membunuh dirinya sendiri. Tetapi perintah yang sampai kepadanya adalah mengorbankan putra tunggal yang disayanginya, yang baru beberapa saat bertemu kembali setelah ditinggal selama bertahun-tahun semenjak masa bayinya dalam perantauan dakwah. Putra yang dibesarkan dengan ketangguhan dan perjuangan keras seorang Ibu teladan, Siti Hajar yang berjiwa besar dan penuh ketabahan, rela menapaki derita demi kemenangan dan kebahagiaan nanti. Lebih-lebih sang putra itu senantiasa dia mohonkan dalam doa-doanya agar dihadirkan sebagai generasi penerus perjuangannya. Hanyalah iman dan taqwa, yang membuatnya mampu tetap tegar dalam menjalankan tugas yang sangat berat bagi seorang ayah: menyembelih putra kandung dengan tangannya sendiri.

Akan halnya Nabi Ismail as, bagaimana ia bisa begitu pasrah, di kala usianya masih belia, bersedia mengorbankan diri, menyerahkan batang lehernya untuk digorok oleh ayahandanya sendiri dengan penuh kesabaran dan tawakkal. Apa yang ada dalam pikiran dan hati anak yang beranjak remaja tersebut ketika diberitahu bahwa ia akan dikorbankan untuk menjunjung tinggi perintah Allah? Rupanya sikap dan nilai-nilai aqidah yang dimiliki ayahnya berkembang pula pada diri pemuda ini. Dia adalah pemuda yang berprinsip: hidup dalam pijakan, tatapan, dan langkah pasti; bukan sebagai pemuda yang tidak berpendirian, tidak tahu jalan hidup, yang terombang-ambing oleh setiap gejolak yang berkembang.

اَللهُ اَكْبرَُ وَللهِ الْحَمْد
Jamaah Shalat Id rahimakumullah,
Pemuda berpendirian adalah pemuda harapan, karena kemenangan di masa mendatang hanyalah dapat diraih apabila dirintis sejak masih muda. Kita pun bisa menelusuri sepak terjang N.Ibrahim as sejak masih muda. Al-Quran pun banyak membeberkan kiprah kaum muda yang menjadi monumen sejarah gemilang di sepanjang zaman. Lihatlah bagaimana Al-Quran mengisahkan:
قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ اِبْرَاهِيمُ
Mereka berkata: “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim”. (QS. 21:60)
Berapa usia seorang pemuda (fata)? Paling tidak usianya pada saat itu 16 tahun. Ibrahim di usia muda telah menunjukkan keberaniaan dan kegigihannya untuk mengubah lingkungan yang penuh dengan kesyirikan dan kemaksiyatan. Perhatikan pula para pemuda Kahfi yang menghadapi berbagai permasalahan di tengah-tengah lingkungan yang rusak. mereka telah beriman kepada Allah padahal usia mereka di bawah 20 tahun.
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَاَهُمْ بِالْحَقّ اِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى
Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk; (QS. 18:13)
Yaitu, pemuda yang berusia antara 16 hingga 17 tahun. Mereka adalah pemuda yang berpendirian kokoh, bertekad baja dan memiliki kesungguhan dalam berbuat. Perhatikan baik-baik, wahai para pemuda! Nabi Yahya as masih kecil telah bersungguh-sungguh:
يَايَحْيَى خُذْ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا
Hai Yahya, ambillah Al-Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak. (QS. 19:12)

Hidup taat, tekun beribadah, gigih berdakwah bukanlah perintah yang dikhususkan kepada orang dewasa dan orang tua. Justru vitalitas dakwah dan pergerakan banyak bertumpu pada kaum muda. Tengoklah sejarah bangsa kita sendiri. Siapa yang berikrar setia dalam sumpah pemuda, siapa yang mendorong dan mempersiapkan kemerdekaan negeri, siapa yang lebih banyak gugur sebagai pahlawan kusuma bangsa dalam memperjuangkan dan mempertahankan negeri ini. Jawabnya: para pemuda yang semenjak dini telah menanamkan tekad untuk berbakti diikuti kesungguhan dalam mewujudkan cita.

Dalam Al-Qur’an, terdapat banyak ayat yang menyeru kita berbuat dengan sungguh-sungguh, menjauhkan diri dari bermain-main, karena kemenangan hanya milik orang yang memiliki kesungguhan. Perhatikanlah Bani Israil yang tidak berbuat dengan kesungguhan ketika Nabi Musa as menyeru kepada mereka, “Masuklah ke tanah suci!” Jawaban mereka terdapat di dalam ayat:
قَالُوا يَامُوسَى اِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا اَبَدًا مَا دَامُوا فِيهَا فَاذْهَبْ اَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلاَ اِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ

Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Rabbmu, dan ber-peranglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja”. (QS. 5:24)
Perhatikan ketidaksungguhan Bani Israil dan apa akibatnya, sebagaimana yang terdapat di dalam ayat:
قَالَ فَاِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ اَرْبَعِينَ سَنَةً يَتِيهُونَ فِي اْلاَرْضِ فَلاَ تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ
Allah berfirman: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu”. (QS. 5:26)
Mereka tidak akan dapat masuk ke Palestina, Al-Quds, selama 40 tahun. Mengapa? Karena 40 tahun merupakan waktu yang cukup untuk mengubah sebuah generasi, karena generasi pada saat itu tidak mempunyai kesungguhan. Mereka tidak mempunyai kesung-guhan terhadap diri sendiri dan terhadap Allah swt.

اَللهُ اَكْبَرُ x3 وَللهِ الْحَمْدُ
Wahai para pemuda! Mungkin, kalian bertanya, “Mengapa himbauan selalu diarahkan kepada para pemuda?” Karena kalian mewakili 70% penduduk masyarakat kawasan Timur. Sedangkan para pemuda di kawasan Barat hanya mewakili 30% penduduknya, apakah kalian memahami arti ungkapan ini? Di abad mendatang, vitalitas, energi dan kekuatan berada di tangan umat Islam, ketika kita memiliki banyak para pemuda yang penuh vitalitas.

Namun apa yang menjadi kekhawatiran? Angka 30% di Barat lebih banyak pengaruhnya apabila dibandingkan dengan 70% yang terdapat di dalam diri umat Islam. Angka 70% di dalam diri umat Islam tidak ada apa-apanya di hadapan 30% Barat. Lantas apa solusinya? Padahal kita akan membangun umat.
Kalian mungkin bertanya, “Mengapa harus para pemuda?” Renungkanlah! Anak-anak kecil yang sehat, belum dapat berpikir. Sedangkan orang tua yang bijaksana, secara fisik sudah tidak kuat lagi. Jika demikian siapa lagi yang dapat diharapkan? Tentunya yang sehat dan bijaksana. Siapa lagi kalau bukan para pemuda. Harta yang paling berharga yang dimiliki suatu umat adalah para pemudanya.

اَللهُ اَكْبرَُ وَللهِ الْحَمْد
Jamaah Shalat Id rahimakumullah,
Nasib Bangsa Terletak di Tangan Pemuda. Standar sebuah bangsa atau umat dapat dilihat dari para pemudanya. Para ilmuwan sosial dapat berhitung apakah suatu negara dapat tetap eksis dan hingga kapan atau kapan sebuah negara akan runtuh, dapat dilihat dari perubahan dan bagaimana gaya hidup pemudanya.
اِنَّ اللهَ لاَ يُغَيّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيّرُوا مَا بِاَنفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS.13:11)
Apakah kalian percaya bahwa yang dikerjakan para ilmuwan sosial sekarang, membuat rekayasa penghancuran, telah dilakukan 1400 tahun yang lalu? Kalian mungkin akan bertanya, “Bagaimana bisa?”
Belajarlah dari sejarah, bagaimana Andalusia runtuh setelah berjaya selama 800 tahun. Orang-orang Portugal ingin mengusir kaum Muslimin dari sana. Apa yang mereka lakukan? Sebelumnya, orang-orang Portugal tidak dapat mengirimkan pasukannya sebelum mereka yakin kekuatan kaum Muslimin telah melemah. Mereka mengadakan studi banding tentang perhatian para pemuda. Mereka terus berusaha mengotori pemahaman para pemuda. Selagi dilihat para pemuda lebih banyak berlomba dalam bidang ilmu dan olah kepandaian, para mata-mata menyarankan tidak melakukan penyerangan. Namun ketika mereka mendapati banyak pemuda sedang berlomba dalam bidang sastra dan banyak terbuai oleh roman picisan, sampai pada suatu saat, mata-mata itu melihat bahwa perhatian para pemuda amatlah buruk dan kepeduliaan sosialnya rendah, sehingga didapatilah seorang pemuda sedang menangis. Mereka bertanya, “Mengapa engkau menangis?” Pemuda itu menjawab, “Teman wanitaku telah meninggalkanku.” Mendengar jawaban pemuda tersebut, mata-mata itu bergegas kembali menemui orang-orang Portugal dan berkata, “Sekarang kalian dapat menye-rangnya.” Begitulah yang terjadi, setelah menetap selama 800 tahun, mereka dapat mengusir kaum muslim hanya dalam waktu tiga bulan. Dengan apa? Dengan memperhatikan dan merusak gaya hidup para pemuda. Nyatalah kebenaran Firman Allah: “Sesungguhnya Allah tidak me-ngubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah kea¬daan yang ada pada diri mere¬ka sendiri.” (QS. 13:11)

اَللهُ اَكْبرَُ وَللهِ الْحَمْد
Jamaah Shalat Id rahimakumullah,
Memang tidaklah semata-mata hancur dan dan bangkitnya suata ummat bertumpu pada pemuda. Secara prinsip, menyangkut mentalitas. Kemulyaan dan kehormatan akan hilang apabila nilai kesungguhan telah tercerabut dari akar kehidupan umat. Dan, kita pun sudah tidak lagi bersungguh-sungguh dalam banyak hal, padahal tidak mungkin ada perubahan tanpa adanya kesungguhan.

Pemuda yang sepanjang hidupnya hanya bermain, semalaman nge-game online maka ketika saat ujian tiba, dia akan berlaku curang. Ini menunjukkan ketidaksungguhan pemuda tersebut. Dia sangat ceroboh dan tidak peduli. Berapa banyak lulusan perguruan tinggi yang hanya menjadi pengangguran. Bagaimana umat ini akan menang jika para pemuda turut serta dalam keruntuhan umat? Bahkan para guru di berbagai jenjang pendidikan turut membantu kecurangan para murid. Jika Anda bertindak seperti guru tersebut, berarti Anda telah mencetak sebuah generasi yang sembrono, suka mengikuti hawa nafsu dan nekad, sebuah generasi yang tidak mempunyai kesungguhan. Para orang tua murid pun membantu anak-anaknya dalam pelajaran yang menipu tersebut dengan mengambil alih tugas anak karena dikuasai berhala nilai dan pujian prestasi. Kemudian anak-anak tersebut menghadapi ujian dengan bekal pelajaran itu. Apakah umat yang demikian akan dapat menang? Apakah kita akan memulai kehidupan dengan penipuan!?

Ini satu contoh. Mari kita ambil contoh yang lain tentang tidak adanya kesungguhan. Para pemudi saat ini amat gemar mengenakan pakaian yang ketat, demi menarik perhatian para pemuda. Mereka mengenakan make up dan merapikan rambutnya. Sedangkan para pemuda pergi ke hiburan malam dengan penampilan yang sempurna. Mereka pergi bukan untuk berperang bersama umat Islam, namun untuk menarik perhatian para pemudi. Seorang penyanyi melantunkan lagu di suatu pesta. Para gadis berdansa, bahkan terkadang mereka berjilbab. Sementara itu, para pemudanya berlenggak-lenggok. Tayangan parabola yang menampilkan drama percintaan. “Saya mencintaimu.” Pernyataan si gadis langsung dijawab, “Saya juga mencintaimu.” Lama kelamaan tampak pemandangan yang tidak masuk akal! Pada kasus lain, seorang gadis tidak berani berkata kepada sahabatnya bahwa dia sedang membantu ibunya di rumah. Kapankah kesungguhannya akan dapat muncul? Mengenakan celana mewah apapun merknya tidak akan dapat membangkitkan umat ini, selama sikap gadis tersebut seperti itu.

Contoh lain dari tidak adanya kesungguhan adalah ketika para pemuda melakukan chatting, membunuh waktu dengan facebook untuk berkenalan dengan lawan jenisnya. Sekali lagi, umat ini telah tidak bernyawa lagi, menjadi hina. Mana kesungguhan para pemuda? Kita tidak berbicara masalah halal dan haram. Saat ini kita berbicara tentang sesuatu yang lebih penting, tentang umat Islam yang telah kehilangan nyawanya , Islam yang telah lenyap, kecuali hanya kerangkanya, hanya seonggok debu tanpa api di dalamnya.

Wahai para pemuda, apakah masuk akal, apabila kita mengimpor hal-hal yang buruk dari Barat, kemudian meninggalkan hal-hal yang baik?
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا اِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. (QS. 35:10)
Di dalam suatu riwayat Umar ibn Khaththab sedang berjalan di sebuah jalan. Dia melihat seorang pemuda berjalan seenaknya (bhs.Jawa: kledrang-kledreng). Umar bertanya, “Apakah engkau sakit?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, ya Amirul Mukminin.” Kemudian Umar memberinya peringatan dan berkata kepadanya, “Kami tidak menyukai dan tidak meridhai umat Muhammad saw berjalan seperti ini.”

Jamaah rka., contoh-contoh di atas merupakan contoh yang amat menyedihkan. Keadaan ini banyak terjadi di dalam diri umat ini. Namun ini tidak merupakan realita keseluruhan para pemuda. Sekali lagi, tidak. Masih ada para pemuda yang bangkit. Akan tetapi sebagian pemuda masih membutuhkan orang yang dapat menyelamatkan mereka dan mau mengatakan, “Janganlah kalian melakukan hal ini!” Itulah para orang tua yang bijaksana, yang masih memiliki hati untuk mau peduli dan kerja keras membimbing generasi menuju kejayaan dan kemulyaan sehingga terwujudlah kemakmuran negeri.

Ambillah pelajaran dari Rasulullah saw dalam berdakwah. Jawaban yang terlontar ketika didesak untuk menghentikan, dirayu melalui paman tercinta, adalah:
“Demi Allah!, wahai pamanku, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan agama ini, maka aku tidak akan meninggalkannya, hingga Allah memenangkan agama ini atau aku hancur di dalam dakwah.” (HR. Ath-Thabrani: 1/45)
Di waktu perang Uhud, Rasulullah saw bertanya, “Siapa yang akan mengor¬bankan dirinya untuk kami?” Lima orang Anshar berdiri, mereka adalah para pemuda. Mereka ber-kata, “Kami, wahai Rasulullah!” Mereka berperang tanpa didampingi Rasulullah. Seorang demi seorang, mereka dibunuh, hingga yang terakhir bernama Yazid bin Sakan. Dia berdiri membela Rasulullah saw, berperang hingga terluka. Kemudian sekelompok kaum Muslimin datang, mengusir kaum Musyrikin agar menjauh dari Yazid. Yazid jatuh tersungkur dalam posisi wajah mencium tanah. Rasulullah saw berlutut mengangkat wajah Yazid dari tanah. Beliau membersihkan tanah dari wajah Yazid dan meletakkan di pangkuannya. Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya dan berkata,
“Ya Allah, aku bersaksi kepada-Mu bahwa Yazid As-Sakan adalah orang yang telah memenuhi janjinya. Ya Allah, aku bersaksi kepada-Mu bahwa aku ridha terhadap Yazid ibn Sakan.” (HR. Al-Baihaqi).

Perhatikan orang-orang yang bersama Rasulullah saw, sekelompok pemuda Mukmin yang berpegang teguh pada kebenaran. Apakah Anda telah menyaksikan keberanian yang terdapat di dalam diri Yazid?
Baginya, Allah di atas segalanya. Disadarinya, bahwa manusia berjalan hanya pada satu tujuan pasti yakni: menuju Ridha Allah, yang dalam perjalanan itu wajar diperlukan perjuangan dan pengorbanan yang tak tanggung-tanggung. Ia yakin bahwa semua itu merupakan bagian dari ujian Allah untuk menguji kadar keimanan dan ketaqwaan hamba-hamba-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran:
اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُتْرَكُوا اَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُونَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS. 29:2)
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. 29:3)

اَللهُ اَكْبرَُ وَللهِ الْحَمْد
Al-Quran menyajikan pengajaran, bagaimana nabi Ibrahim as memberikan teladan kehidupan keluarga muslim yang dibangun atas landasan tauhid murni yang berbuahkan akhlaqul karimah, hasilkan keluarga bahagia, dalam keindahan suasana, terpadu dalam tujuan mulia. Kasih sayang dan penghargaan orang tua terhadap putra; sebaliknya rasa hormat, takzim, dan santun dari anak terhadap orang tua; seiring dan sejalannya langkah suami-istri; kesemuanya itu telah menumbuhkan pola hubungan dan komunikasi yang sehat dan bijak dalam satu keluarga; keterbukaan dan ketulusan men-jalankan peran sosial serta menyelesaikan persoalan dengan jalan musyawarah telah ditunjukkan oleh keluarga nabi Ibrahim as.

Bapak, selaku pembimbing, guru bagi anak-anak, sifatnya tidak semena-mena, tidak serba memaksakan kehendaknya; tak hendak mengandalkan kekuasaan dan otoritasnya semata, tetapi lebih pada pemberian kesempatan, penghargaan, dan merangsang anak untuk berfikir. Lalu bagaimanakah sikap sang anak? Sifat santun, dan hormat, serta kepatuhan penuh dari sang anak selama ia diajak dalam kebenaranlah yang telah ditunjukkan nabi Ismail as, ia telah menjadi cendera mata hati (qurrata a’yun). Dan dalam hal ini, kaum Ibulah yang diharapkan banyak mengambil peran, karena setiap Ibu telah diberi dasar-dasar kelembutan, kasih sayang, dan percikan sifat kependidikan dari Allah untuk diterapkan dalam pengasuhan putra dan putrinya.

Tiada terlarang Ibu mengambil peran di luar rumah sepanjang tidak melanggar ketentuan syariah. Tetapi satu hal yang tak boleh dilupakan: Didik putra dan putrimu! Kenalkan mereka terhadap Rabbnya, bimbing mereka untuk beribadah, ajari mereka kasih sayang dan sopan santun, latih dengan kerja keras dan kedisiplinan, tanamkan semangat menolong dan berkorban serta senangkan mereka dalam keterpujian akhlaq. Jangan kiranya Ibu mengisi hari-harinya hanya dengan membuang dan membunuh waktu, seharian lebih banyak berdiam di depan TV atau pun bergaya sok sibuk sebagai Menteri Muda Urusan Ngrumpi. Sedangkan ayah tetap menjadi penangung jawab pendidikan seluruh anggota keluarganya. Baik buruknya keluarga cermin baik buruknya pemimpin keluarga.

Dan sebagai pesan akhir dari khutbah ini, khususnya untukmu wahai para pemuda! Menjadi pemuda dalam corak bagaimanakah yang menjadi pilihanmu? Pemuda macam apa yang hendak kau jadikan teladan dan idolamu? Ketahuilah apa yang Anda biasakan pada waktu muda akan menentukan mutu kepribadian di masa mendatang. Karena itu, bercerminlah pada pemuda Ismail jika engkau menginginkan kemuliaan hidup. Lihatlah sekelilingmu, dalam keadaan bagaimanakah engkau hidup di tengah-tengah masyarakatmu saat ini. Pandai-pandailah memilah dan memilih teman berfikir dan bergaul. Beranilah untuk tampil beda ketika lingkunganmu tidak sejalan dengan ketentuan Ilahi Rabbi. Tumbuhkan benih kesungguhan dalam berbuat membangun ummat menegakkan kebenaran dan hindari kemalasan serta kemanjaan. Al-Mutanabbi berpesan dalam salah satu syairnya:

“Biarkanlah aku menggapai-gapai suatu ketinggian
Yang tak akan mudah aku mencapainya
Ketinggian itu memang sulit bagi yang merasa sulit
Namun mudah bagi yang mudah
Anda ingin mencapai suatu kemuliaan dengan harga murah?
Padahal sebelum Anda meraih madunya
Harus merasakan sakitnya sengatan lebah.”

Jika komitmenmu pada kebenaran, sekali melangkah pastikan untuk berlanjut pada jalan perjuangan, jangan mudah menyerah pada keadaan dan pantang mundurlah atas segala rintangan yang menghadang. Yakinlah pertolongan Allah pasti diulurkan.
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَاِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang berjihad, berjuang semata-mata mengharapkan keridhaan Kami Allah, sungguh akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan Kami Allah. Sesung-guhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat kebajikan (QS.29:69)

Akhirnya, harapan hamba-Mu di tempat ini dan di tempat lainnya Ya Allah:

اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ
اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنينَ وَالْمُؤْ مِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالاَمْوَاتِ

Ya Allah ya Rabb kami, bila tidak karena bodohnya kami, tentulah kami tidak mengeluh atas segala kehinaan kami. Bila tidak karena dosa-dosa kami, tentulah tidak kami tumpahkan air mata kami. Bila Engkau tidak merahmati kecuali yang sungguh-sungguh ta’at kepada-Mu, maka kami adalah orang yang bersalah yang bersandar kepada-Mu. Bila Engkau tidak memuliakan kecuali yang berbuat baik, maka kami telah berbuat banyak kesalahan. Apa yang kami bisa kecuali memohon ampun kepada-Mu. Rabb bila Engkau berkenan mengampuni kami, itu adalah hak dan kuasa-Mu yang Mahaterpuji, tetapi Ya Allah, bagaimana jika Engkau berpaling dari kami, tak mau lagi mendengar kami, dan tidak mengampuni kami, lalu pada siapa kami kami harus memohon ampun. Sedangkan pemilik ampunan dan rahmat hanyalah Engkau. Jika Engkau berpaling dari kami, lalu pada bumi mana kami akan berpijak, pada langit mana kami akan bernaung, sedangkan semesta adalah milik-Mu, Dan kami tidak lain hanyalah makhluk ciptaan dan hamba-Mu.

Rabb, bila Engkau tidak menunjukkan Kebenaran Kalam-Mu, tak mungkin kami sampai padanya. Bila Engkau tidak melepaskan lidah kami dan Kau buka hati kami buat berdo’a, tak mungkin kami bisa berdo’a. Jiwa kami telah Engkau muliakan dengan iman, bagaimana akan Engkau hinakan di tumpukan bara api-Mu. Engkau telah menunjukkan untuk memohon syurga sebelum kami mengenalnya. Lalu, bagaimanakah bila Engkau menolak setelah kami memohonnya? Bukankah Engkau Maha Terpuji atas segala apa yang Engkau perbuat.
Rabb, jika kami tidak pantas untuk mendapatkan rahmat yang selalu kami mohon, maka sesungguhnya Engkaulah Dzat yang Maha pantas melimpahkan rahmat-Mu kepada kaum yang berdosa berkat kemahaluasan rahmat-Mu. Ketenangan kami takkan terwujud melain¬kan dengan pemberian-Mu; cita-cita kami takkan terpenuhi melainkan dengan karuniaMu. Kumohon petunjuk yang selalu mendekatkan kami kepada-Mu.

Ya Allah Ya Ilahi
Pandanglah kami dengan pandangan kasihMu
Karena dengan pandangan itu
Kami yang berlumuran dosa akan mendapat pengampunan-Mu
lewat kasih saying-Mu.
Jauhkanlah azab kesengsaraan dalam hidup kami
Kalaulah itu tetap harus berlaku dengan lantaran taqdir-Mu,
jadikanlah kami manusia-manusia yang sabar menghadapinya hingga
bertemu dengan-Mu.
Jadikanlah keluarga dan keturunan kami
Keluarga dan keturunan yang selalu beribadah dan mengabdi kepada-Mu
Jauhkanlah kami dari perbudakan di antara keluarga kami
Manakala kami seorang ayah,
jadikanlah ayah yang sanggup menjadi imam diantara orang-orang taqwa
di keluarga kami.
Manakala kami seorang Ibu,
jadikanlah ibu di antara anak-anak kami sebagai tempat tumpuan
belai kasih sayang keluarga kami.
Manakala kami sebagai anak, jadikanlah kami anak yang berbakti pada orangtua kami.

رَبَّنَا اتِنَا فِى الدّنْيَا حَسَنَةً وَّفِىالاخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبّكَ رَبّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلمٌ عَلى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Naskah banyak dipetik dari:Amru Khalid (2008). Quantum Change. Semarang: Pustaka Nuun


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: