Oleh: lutfifauzan | November 25, 2009

tugas konflik komunikasi BK A’08

KONFLIK DALAM KOMUNIKASI
 
Disusun untuk memenuhi matakuliah Ketrampilan Dasar Komunikasi
yang dibimbing oleh Bpk. Lutfi Fauzan
 
 
 
Oleh Kelompok  9  :
 
      Anggun Dian F.                      (108111415092)
      Indah Setyarini                       (108111409896)
      Rachel Perisade P.     (108111415096)
      Tri Cahyono                           (108111415077)
      Zulfiyaturrizqiyah        (108111415081)
 
 
 

 
BAB I
PENDAHULUAN
 
 
A.       Latar Belakang
Konflik seringkali dipahami dengan sangat sederhana. Banyak orang memahami konflik semata-mata dalam kaitannya dengan pertengkaran atau peperangan saja. Padahal, konflik memiliki makna yang lebih kompleks. Banyak konflik-konflik yang bersifat laten (tersembunyi) dan tidak melibatkan pertengkaran atau perang terbuka. Sebaliknya ada pertempuran terbuka yang sebenarnya tidak bisa dimaknai sebagai konflik, seperti misalnya pertandingan gulat atau tinju.(1)
Namun bila dikaitkan dengan suatu konflik komunikasi, makna dari konflik sendiri akan lebih mengkerucut. Tidak lagi berbicara mengenai pandangan umum melainkan sudah berbicara dalam bidang komunikasi. Artinya kita tidak akan lagi berbicara mengenai konflik sosiologis, psikologis, politik, dan yang lainnya.
Arti komunikasi sendiri menurut Lasswell adalah proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan melalui media tertentu untuk menghasilkan efek, dengan mengharapkan umpan balik. Begitupun dengan konflik komunikasi secara garis besar dapat disimpulkan yaitu ketidaksinambungan antara komunikator dengan komunikan baik dari segi bahasa maupun maknanya.
 
 
B.       Rumusan Masalah
1.    Apa yang dimaksud dengan konflik komunikasi?
2.    Apa yang menyebabkan terjadinya konflik komunikasi?
3.    Apa saja hambatan dalam proses komunikasi?
4.    Apa yang dimaksud dengan perencanaan komunikasi?
5.    Apakah yang dimaksud dengan kualitas komunikator yang efektif?
6.    Bagaimana mengatasi konflik komunikasi?
 
 
 
 
C.       Tujuan
1.    Mengetahui definisi dari konflik komunikasi
2.    Mengetahui penyebab dari konflik komunikasi
3.    Mengetahui hambatan-hambatan dalam komunikasi
4.    Mendeskripsikan tentang perencanaan komunikasi
5.    Mendeskripsikan kualitas komunikator yang efektif
6.    Mengetahui bagaimana mengatasi konflik komunikasi
 
 

 
 
 
BAB II
PEMBAHASAN
 
A.                 PENGERTIAN KONFLIK KOMUNIKASI
 
Konflik berasal dari kata kerja Latin yaitu configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Sedangkan pengertian dari komunikasi sendiri dilihat dari para ahli komunikasi ialah :
a. Everet M. Rogers:
”Proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada suatu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku”
b. Josep A. Devito
“Suatu pengiriman pesan dari seseorang kepada orang lain atau sekelompok kecil orang dengan beberapa efek dan umpan balik langsung.”
c. Bernard dan Gery
”Transmisi, gagasan. Emosi, keterampilan, dsb, dengan menggunakan simbol-simbol, kata-kata, gambar, figur, dsb. Tindakan atau proses transmisi itulah yang biasa disebut komunikasi.”
Sehingga dapat ditarik kepada sebuah kesimpulan mengenai pengertian konflik komunikasi itu sendiri. Konflik komunikasi ialah suatu perbedaan bahasa atau makna yang terjadi antara komunikator dengan komunikan dalam menyampaikan sebuah message (pesan). Karena suatu komunikasi akan berjalan efektif (tidak akan melahirkan sebuah konflik) bila terdapat suatu kesamaan makna dan bahasa. Bila demikian dapat kita artikan bahwa konflik komunikasi itu sama dengan hambatan komunikasi. Karena sama-sama diawali oleh ketidaksamaan akan suatu bahasa dan makna.
 
 
 
 
 
 
B.                 FAKTOR PENYEBAB KONFLIK KOMUNIKASI
Dalam berkomunikasi biasanya seseorang akan menemui berbagai macam hambatan yang jika tidak dapat ditanggapi dan disikapi secara tepat akan membuat proses komunikasi yang terjadi menjadi sia-sia karena pesan tidak tersampaikan atau yang sering terjadi adalah terjadinya penyimpangan. Adapun hal-hal yang sering terjadi adalah karena ketidakmampuan seorang penyampai pesan dalam:
      Berkomunikasi sesuai tingkatan bahasa para pendengarnya.
Seorang pedagang makanan yang hanya lulusan SMP tentunya akan kesulitan mengerti pembicaraan seorang sarjana teknik yang berbicara menggunakan istilah-istilah tekniknya.
      Mengerti keinginan arah pembicaraan dari para pendengarnya,
Sekelompok remaja SMA tentunya wajar jika tidak tertarik pada pembicaraan mengenai permasalahan bagaimana merawat dan mendidik balita yang disampaikan seorang ibu rumah tangga.
      Mengerti kelas sosial para pendengarnya.
Sekelompok petani didesa tentunya tidak mengerti dan tidak tertarik pada pembicaraan seorang pialang mengenai perdagangan saham.
      Memahami latar belakang serta nilai-nilai yang dipegang teguh para pendengarnya.
Seorang ahli presentasipun akan sangat kesulitan menembus dan merubah kekeras-kepalaan pendapat seorang individu apalagi kelompok masyarakat yang mengkonsumsi makanan pokok nasi menjadi gandum, kentang atau lainnya walaupun didukung “bukti-bukti dan alasan yang kuat dan benar”
      Memahami Adat Kebiasaan Atau Kultural
Setiap kultur mempunyai aturan komunikasi sendiri-sendiri. Aturan ini menetapkan mana yang patut dan mana yang tidak patut. Pada beberapa kultur, orang menunjukkan rasa hormat dengan menghindari kontak mata dengan lawan bicaranya. Dalam kultur lain, penghindaran kontak mata seperti ini dianggap mengisyaratkan ketiadaan minat
“Adalah pendengar yang menentukan bagaimana sebaiknya sebuah pesan dimengerti”. Bagaimana dan seperti apa sudut maupun cara pandang seseorang terhadap apa yang didengar, dilihat atau dimengerti sangatlah di bentuk oleh latar belakang dan pengalaman pribadi perorangan.
 
C.                 HAMBATAN PROSES KOMUNIKASI
Tentu tidaklah mudah untuk membuat sebuah komunikasi berjalan dengan menghasilkan kesepakatan secara utuh sesuai tujuannya. Karena, salah satu prinsip dalam berkomunikasi, yakni terdapatnya kesulitan-kesulitan pokok dalam mencapai tujuan. Kesulitan-kesulitan internal ini merupakan hal yang biasa dialami dialami oleh penyampai ide maupun penerimanya.
 
Matrik tujuan dan kesulitan dalam proses komunikasi.
No
Tujuan
Kesulitan
1
Mendengar
        Penerima pesan sulit memusatkan perhatian baik pada kata yang tertulis maupun terucap untuk waktu yang lama
        Penerima pesan  kurang memiliki perhatian pada apa yang bagi mereka tampak kurang penting
2
Memahami
        Penerima pesan memiliki asumsi berdasarkan pengalaman masa lalunya
        Penerima pesan sering tidak memahami jenis bahasa yang dipakai pembicara
        Penerima pesan lebih mudah salah mengerti saat mereka mendengar tanpa melihat
        Penerima pesan sering sudah menarik kesimpulan padahal kita belum selesai bicara.
3
Menyetujui
        Penerima pesan sering merasa curiga terhadap orang lain yang sedang sedang membujuk mereka
        Penerima pesan tidak suka jika dibuktikan bersalah
 
 
 
 
4
Bertindak
        Tidak mudah bagi banyak orang untuk mengubah kebiasaan mereka
        Penerima pesan merasa takut akan akibat dari pengambilan tindakan yang keliru
        Banyak orang tidak suka mengambil keputusan
5
Umpan balik
        Beberapa orang sering dengan sengaja menyembunyikan reaksi dan apa yang sesungguhnya mereka pikirkan
        Penampilan dapat bersifat memperdaya –anggukan kepala, mungkin tidak selalu tanda setuju dan mengerti, karena bisa digunakan untuk menutupi ketidak tahuan atau keragu-raguan.
 
 
D.                PERENCANAAN KOMUNIKASI
Pada proses perencanaan tersebut, dampak ataupun akibat yang dihasilkan sangat bergantung pada ke-empat elemen perencanaan. Dalam proses perencanaan tersebut, peran komunikasi merupakan ketrampilan penting yang harus dimiliki oleh para manager. Karenanya dapat dikatakan pula bahwa perencanaan komunikasi meliputi fungsi-fungsi manajemen , yaitu :
1.      Merencanakan (Planning).
2.      Mengadakan (Organizing).
3.      Mengutamakan (Leading).
4.      Mengawasi (Controlling).
Dipahami ada 4 (empat) elemen utama Perencanaan, yaitu :
1.      Tujuan (Objective).
Kondisi masa depan yang akan dicapai.
2.      Aksi (Action)..
Serangkaian kegiatan yang yang dilakukan untuk mencapai tujuan.
3.      Sumber Daya (Resouces)
Hal-hal yang dibutuhkan dalam melaksakan aksi.
4.      Pelaksanaan (Implementation).
Tata cara dan arah pelaksanaan kegiatan.
Elemen-elemen yang terdapat dalam komunikasi adalah:
      Komunikator    : orang yang menyampaikan pesan
      Pesan                           : ide atau informasi yang disampaikan
      Media                          : sarana komunikasi
      Komunikan                   : audience, pihak yang menerima pesan
      Umpan Balik                : respon dari komunikan terhadap pesan yang diterimanya
 
Dalam kehidupan nyata mungkin ada yang menyampaikan pesan/ide (encoding) yang merupakan hasil pengolahan ide (stimulus) berdasarkan kesan (perception) dan penerjemahan (interpretation) si penyampai, ada yang menerima atau mendengarkan pesan; ada pesan itu sendiri; ada media (transmission through a channel) dan tentu ada respon berupa tanggapan terhadap pesan (feedback). 
Untuk menunjang keberhasilan perencanaan komunikasi dapat dilihat Kesan (Perception) sebagai inti komunikasi. Kesan adalah nuansa rasa manusia kepada obyek tertentu. Kita terkesan, karena ada sesuatu yang menarik dari obyek tersebut. Obyek tersebut bisa berupa barang atau orang. Kita bisa terkesan kepada orang karena bermacam-macam; bisa karena wajah cantiknya, tampan, berkumis; bisa karena kata-katanya, karena janjinya, dan sebagainya. Membuat kesan yang baik, berarti kita harus berbuat dan bersikap tertentu yang membuat agar orang lain tertarik. Dapat dikatakan bahwa kesan/persepsi merupakan inti komunikasi.
Menurut Rudolp F..Verdeberdalam buku, Communicate, 1978, kesan atau persepsi dapat didefinikan sebagai interpretasi bermakna atas sensasi sebagai representatif obyek eksternal. Proses menafsirkan informasi Indrawi. Jika persepsi kita tidak akurat kita tidak munglkin bisa berkomunikasi secara efektif.
Proses mencapai kesepakatan (Sharing of meaning), lazimnya berlangsung secara bertahap. Karena itu, lebih awal kita perlu memperhatikan 5 (lima) sasaran pokok dalam proses komunikasi, yaitu:
1.      Membuat pendengar mendengarkan apa yang kita katakan (atau melihat apa yang kita tunjukkan kepada mereka)
2.      Membuat pendengar memahami apa yang mereka dengar atau lihat
3.      Membuat pendengar menyetujui apa yang telah mereka dengar (atau tidak menyetujui apa yang kita katakan, tetapi dengan pemahaman yang benar)
4.      Membuat pendengar mengambil tindakan yang sesuai dengan maksud kita dan maksud kita bisa mereka terima
5.      Memperoleh umpan balik dari pendengar
Di samping itu, masih ada faktor lain yang juga penting dalam proses komunikasi, yakni: Gangguan (noise) yakni faktor-faktor eksternal (media/saluran komunikasi) maupun internal (psikologis) yang dapat mengganggu atau menghambat kelancaran proses komunikasi.
Dari beberapa hal diatas, ternyata berkomunikasi ataupun mengkomunikasikan sesuatu tidaklah mudah, beberapa hal yang harus dikaji seksama dalam perencanaan komunikasi :
1.      Analisa khalayak, merupakan tahap awal yang sangat menentukan arah dan tujuan perencanaan. Tahap ini menganalisi segmen masyarakat sasaran yang kita hadapi dari segi sosiodemografis (pendidikan, usia, jenis kelamin, etnis, kepercayaan, bahasa, pekerjaan) dan juga dari segi psikografis (aspirasi, kesenangan, dan kebiasaan-kebiasaan). Pemahaman komprehensif mengenai tatanan masyarakat ini diperlukan untuk menentukan khalayak sasaran dan format kegiatan yang sesuai dengan keinginan komunikator dan kebutuhan khalayak sasaran
2.      Perumusan tujuan. Tahap ini untuk menentukan apa yang ingin dicapai dengan program-program yang dilakukan.
3.      Pemilihan Media. Langkah pemilihan media sebagai saluran pesan memerlukan kecermatan, dengan mempertimbangkan kelemahan dan keunggulan sifat masing-masing media. Setidaknya diperlukan media yang dapat di akses oleh masyarakat sasaran.
4.      Rancangan Pesan. Diperlukan upaya terus-menerus dalam meningkatkan ketrampilan komunikator agar senantiasa mengetahui perkembangan dan wacana masyarakat. Selain bobot materi yang harus diperhatikan, juga kesesuaian pola pikir masyarakat sasaran yang dihadapi, termasuk kesesuaian media yang digunakan. Peran kreatifitas komunikator menjadi hal utama.
5.      Produksi dan distribusi media. Produksi media berkaitan dengan kemasan pesan. Karena itu unsur estetika sangat berperan untuk menarik perhatian masyarakat. Demikian juga dengan distribusi pesan, dimana pemilihan waktu yang tepat menjadi kunci keberhasilan distribusi.
6.      Evaluasi. Tahap ini melihat bagaimana program berjalan sesuai dengan tujuan, sejauh mana program yang dirancang telah tercapai, faktor-faktor pendukung dan penghambat selama program berjalan.
 
 
 
E.                 KUALITAS KOMUNIKATOR EFEKTIF
Yang paling mendasar dalam sebuah kegiatan komunikasi adalah adanya rasa saling percaya. Kalau sudah percaya, biasanya apapun yang dikatakan pastilah diterima. Satu hal lagi yang berpengaruh yatu efisiensi. Komunikasi yang efisien adalah komunikasi yang tidak membutuhkan upaya besar agar mencapai tujuannya.. Partisipasi merupakan modal dasar untuk menyelenggarakan komunikasi yang efektif. Karenanya dibutuhkan kemampuan komunikasi efektif. Kemampuan ini meliputi kemampuan untuk berbagi ide, mengkritik dari semua aspek, mendorong dan merangsang imajinasi, menolak buah pikiran yang kurang tepat, dan mengenal sejak dini solusi yang mungkin bisa diambil. Hal diatas merupakan Kualitas komunikator yang efektif.
 
Berikut merupakan kriteria komunikator yang efektif:
1.    Menilai Orang
Tahu mana yang penting dan menghargai kontribusi orang lain
2.    Mendengarkan secara Aktif
Berusaha keras memahami keinginan dan masalah orang lain
3.    Bijaksana
Memberikan kritik secara halus. konstruktif dan hormat
4.    Memberikan pujian
Menghargai orang lain dan kontribusi mereka di depan umum
5.    Konsisten
Mengendalikan suasan riang; memperlakukan sama bagi semuanya: tidak favorit
6.    Mengakui kesalahan
Kemauan untuk mengakui kesalahan
7.    Memiliki rasa humor
Mempertahankan posisi yang menyenangkan dan pendekatan yang enak
8.    Memberi contoh yang baik
Melakukan apa yang diharapkan orang lain
9.    Menggunakan bahasa Jelas, Lugas, dan Tepat
Kata-kata yang lazim, konkret, pemberian petunjuk, yang menyentuh perasaan penyimak. Hindari kata-kata bercita rasa buruk, kata-kata langsung
 
 
Satu hal lagi yang harus diketahui ketika berkomunikasi, kita pasti memiliki persepsi tertentu pada pendengar begitu pula sebaliknya. Persepsi merupakan suatu proses bagaimana seseorang menyeleksi, mengatur dan menginterpretasikan masukan-masukan informasi dan pengalaman-pengalaman yang ada dan kemudian menafsirkannya untuk menciptakan keseluruhan gambaran yang. Kekeliruan yang sering terjadi dalam berkomunikasi adalah ketika seseorang menyampaikan informasi dengan ukurannya sendiri. Ini harus dihindarkan karena komunikasi senantiasa melibatkan orang lain. Ahli komunikasi berpesan jika akan berhasil, maka rumusan kunci yang harus dipegang  adalah “Know your audience!”
 
 
F.                  SOLUSI MENGATASI KONFLIK KOMUNIKASI
Konflik komunikasi akan timbul bila tidak adanya kesamaan makna dan bahasa. Perbedaan itu secara tidak langsung akan mengakibatkan miss communication yaitu kesalahan dalam mengkomunikasikan. Atau lebih parahnya akan mengakibatkan kesalahan dalam menginterpretasi (miss interpretation). Hambatan utama dalam komunikasi antar manusia adalah kecenderungan dasar untuk menilai, untuk menyetujui atau menolak, pernyataan orang lain atau kelompok. (Carl Rogers, 1961)
Mengatasi hambatan komunikasi berarti memperbaiki proses komunikasi baik yang ditimbulkan oleh komunikator, komunikan maupun diluar dari keduanya tersebut. Mengatasi hal ini komunikator harus memahami dan mengenal karakteristik komunikannya sebelum melancarkan komunikasi. Dengan memahami dan mengenal komunikannya maka akan mengenal pada kebudayaannya, gaya hidup, dan norma kehidupannya, kebiasaan dan bahasanya.
Demikian juga komunikan harus menghilangkan prasangka pada komunikator. Sebab apabila prasangka komunikan yang biasanya bersifat buruk itu tetap melekat pada diri komunikan, sebaik apapun isi pesan disampaikan komunikator tidak ada artinya bagi komunikan.
Menurut Dr. Robby I. Chandra dalam bukunya yang berjudul “Konflik dalam Hidup Sehari-hari”, langkah pertama di dalam pelaksanaan penanganan konflik ialah penyelenggaraan dan pengendalian cara berkomunikasi. Yang sepatutnya dituju dan dihasilkan oleh kedua pihak yang berkonflik adalah menggunakan ‘descriptive speech’, atau penggunaan cara komunikasi yang lebih menggambarkan kenyataan daripada yang memberikan penilaian. Salah satu sifat ‘descriptive speech’ ialah cenderung memperkecil ketidakpastian. Berikut ini adalah penjelasan lebih lanjut:
Carl Rogers berpendapat bahwa tiap orang cenderung untuk menghakimi dan menilai orang lain. Karena itu setiap orang mudah membangun rintangan terhadap komunikasi yang efektif. Dengan demikian kita perlu menyadari bahwa bila kita bermaksud menangani konflik dengan baik, kita harus memilih kata-kata dan susunan kalimat secara terencana.
Strategi untuk menjalankan hal tersebut bertumpu pada faktor-faktor di bawah ini:
1.      Mengakui pendapat dan perspektif diri sendiri
2.      Menyampaikan topik masalah dengan jelas dan rinci
3.      Memperhatikan dan mengendalikan semantik
4.      Memperhatikan rintangan semantik
5.      Memperhatikan pemilihan sintaks
 
1. Mengakui pendapat dan perspektif diri sendiri
Seringkali di dalam proses konflik, salah satu pihak berbicara dan menyampaikan pendapat seakan-akan mewakili orang lain. Misalnya: “Maaf ya, Pak. Seluruh karyawan di pabrik ini tidak bisa menerima cara wakil Bapak memimpin kami.” Pernyataan serupa itu atau suatu pernyataan yang disampaikan dengan cara serupa itu akan segera memancing sikap bertahan dari lawan bicaranya. Orang akan segera merasa diserang oleh banyak orang, karenanya ia harus mempertahankan diri. Cara yang lebih baik adalah, “Maaf Pak, bila Bapak tidak berkeberatan saya ingin menyampaikan bahwa pada hemat saya kepemimpinan wakil Bapak tidak bisa diterima oleh rekan-rekan saya dan saya sendiri.” Tentunya, respons dari pihak lain tetap dapat merupakan suatu respons yang bersifat negatif. Namun sekurang- kurangnya suatu ketidakpastian telah dikurangi dengan pernyataan yang jujur dan terbuka seperti itu.
 
2. Menyampaikan topik masalah dengan jelas dan rinci
Di dalam membicarakan suatu masalah atau topik seringkali orang- orang, khususnya di Asia , terjebak ke dalam generalisasi- generalisasi. Mereka sudah memahami apa yang mereka maksudkan, namun lalai menyadari bahwa orang lain mungkin hanya memahami sebagian kecil dari pemaparan mereka karena generalisasi tersebut. Contohnya: Seorang bos bertanya, “Apakah masalah yang pelik tersebut dapat ditangani dengan baik?” Yang tidak jelas dari pertanyaan tersebut ialah pengertian ‘ditangani dengan baik’ yang digunakan oleh seorang bos.
Walaupun budaya atau situasi politik Indonesia di masa lalu seakan- akan menuntut orang untuk berbicara sesamar mungkin, namun dari sudut penyelesaian konflik, pernyataan atau situasi yang dapat ditafsirkan ke segala arah akan memperbesar kemungkinan timbulnya masalah-masalah lain. Hal ini disebabkan karena kecenderungan manusia untuk menafsirkan hal-hal yang tidak diketahui secara negatif. Dengan demikian sebaiknya kalimat “Masalah yang pelik tersebut ….” direvisi menjadi “Apakah masalah yang pelik tersebut dapat ditangani dengan cepat sebelum akhir bulan?” atau “Apakah masalah yang pelik tersebut dapat ditangani dengan memberhentikan kasir itu?” Revisi serupa itu menolong untuk membuat komunikasi si bos dipahami dengan rinci sehingga tercegah kesalah-pahaman.
 

3. Memperhatikan dan mengendalikan semantik
Masalah pemilihan kata di dalam suatu komunikasi akan menentukan suatu penyelesaian konflik. Seperti telah dijelaskan di dalam pembukaan tentang metafor, pemilihan kata pada dasarnya mengungkapkan pikiran kita, bahkan cara kita memahami dunia. Suatu contoh dari pengungkapan itu nyata ketika di dalam suatu penanganan konflik dipergunakan kalimat-kalimat di bawah ini:
        Anda mencoba men-torpedo program kami.
        Anda membabat habis anggaran yang kami usulkan.
        Saya ingin memusnahkan cara pikir seperti itu.
Dengan mudah kita tangkap bahwa orang yang menggunakan kalimat- kalimat tersebut memiliki pola pikir yang berorientasi pada “persaingan”, “kekerasan”, dan “penghancuran”. Ia memandang konflik atau kritik sebagai suatu “perang”, sehingga memperlakukannya sedemikian rupa dengan kata-kata dan sikapnya. Tentu saja, penanganan konflik yang efektif akan sulit dilaksanakan bila pemilihan kata yang terjadi seperti itu.
 
4. Memperhatikan rintangan semantik
Selain pemilihan kata, di dalam komunikasi untuk penanganan konflik, perlu juga disadari bahaya penggunaan bahasa pasar/slang/prokem, stereotype dan ungkapan-ungkapan otomatis. Ketika hal itu mempertajam pembedaan antara seorang dengan orang lain secara negatif.
Slang atau bahasa pasar adalah penggunaan istilah-istilah atau cara berbahasa yang digunakan hanya oleh kalangan tertentu. Misalnya: nyokap (ibu), bokap (bapak), mejeng (berdiri menunggu), ngeceng, cabut (pergi). Penggunaan kata serupa itu di dalam suatu komunikasi dapat ditafsirkan bahwa si pembicara memandang rendah lawan bicaranya. Mengapa? Sebab tata krama dan sopan santun seakan-akan ditiadakan dengan sengaja. Hal itu lebih terasa bila dilakukan di dalam lingkungan yang resmi.
Stereotype adalah menyampaikan hal-hal yang diasumsikan sebagai hal yang diterima atau dianut bersama. Stereotype dapat berwujud sebagai stereotype tentang jenis kelamin, ras, agama, atau kelompok tertentu. Misalnya di tengah hangatnya suatu perdebatan mendadak timbul ungkapan, “Saya kira kita tidak ingin mengambil cara berbisnis seperti yang dilakukan oleh Cina.” Ungkapan ini didasarkan oleh suatu asumsi bahwa semua orang mengenal apa itu bisnis gaya Cina. Selanjutnya diasumsikan pula bahwa semua yang hadir memandang gaya tersebut secara negatif. Dengan mudah kita lihat bahwa suatu bahasa yang penuh dengan stereotype tidak akan pernah memberikan deskripsi yang efektif, namun memberikan penilaian. Bahaya penggunaan stereotype terletak pada hal-hal berikut:
1.Asumsi bahwa semua orang sepaham.
2.Asumsi tersebut tidak lagi diuji benar atau salahnya.
Di samping slang dan stereotype, penggunaan ungkapan otomatis juga sangat menghambat komunikasi di dalam penanganan suatu konflik karena slang tersebut dapat ditafsirkan sebagai adanya kecurigaan atau keraguan. Mehrabian mendapatkan tiga jenis ungkapan otomatis tersebut, yaitu:
1.Pengisi
2.Ekor tanya
3.Istirahat
Pengisi adalah kata-kata yang secara linguistik tidak memiliki suatu penggunaan di dalam isi berita. Contohnya:
        Saya kira, mmm, hal itu harus mm …
        Kita harus belajar untuk, Anda tentu paham, survive.
        Bagaimana juga, gimana ya, kita harus mencapai, gimana ya, sasaran pekerjaan itu.
Kata-kata ini memperkecil keeratan hubungan antara si pembicara dengan berita yang disampaikan sehingga efektivitas dari berita itu berkurang. Ekor tanya ialah kata-kata yang diletakkan di akhir kalimat sebagai usaha untuk menularkan pendapat mereka. Hal ini cenderung mengakibatkan persetujuan atau bantahan dari lawan bicara. Walaupun hal ini dapat berguna di dalam suatu komunikasi, dapat juga terjadi bahwa orang yang dipaksa untuk memberi respons merasa terganggu dengan usaha tersebut. Hal yang terakhir adalah istirahat. Penggunaan saat hening sebagai istirahat dapat mengganggu karena membuat lawan bicara mendapat kesan bahwa ada topik yang tidak ingin dibicarakan, bahkan disembunyikan, atau ada ketidakpastian yang besar. Contoh: “Saya kira … baik juga untuk … kita ….”
Secara umum ketiga hal tersebut membuat munculnya ketidakpastian dan menghasilkan kesan bahwa pada komunikasi tersebut terdapat ketidakjujuran atau hal-hal yang disembunyikan.
 
5. Memperhatikan pemilihan sintaks
Pemilihan sintaks perlu diperhatikan terutama penggunaan ancaman, humor yang berisi ejekan, atau pertanyaan yang sarkastis.
Ancaman
Berbagai pernyataan dalam kalimat memperlihatkan aliran gagasan di antara orang. Salah satu di antaranya ialah penggunaan ancaman. Ancaman tersebut mungkin dilontarkan dalam pernyataan yang jelas dan terbuka, misalnya “Bila Anda tidak memindahkan mobil itu, saya akan membakarnya.” Kerapkali ancaman juga disampaikan secara terselubung. “Perusahaan kami tidak terlalu senang terhadap karyawan-karyawan yang segan melakukan tugas lembur.” Peneliti seperti Gibb atau Hocker dan Wilnet mengamati bahwa suatu ancaman menghasilkan sasaran yang positif. Sebabnya cukup nyata, yaitu bahwa ancaman membuat orang mendukung sikap bertahan.
Humor yang berisi ejekan dan sarkasme
Walaupun ancaman menceritakan perasaan tak enak, namun sekurang- kurangnya tujuannya jelas. Sebaliknya bila disampaikan humor yang berisi ejekan dan permusuhan, suasana yang dihasilkan lebih sulit diramalkan. Salah satu pihak harus menduga-duga kedalaman unsur negatif di dalam apa yang ia dengar. Namun hasilnya cukup dapat diramalkan, yaitu adanya sesuatu yang segera lenyap di dalam komunikasi, yaitu kejujuran.
Pertanyaan yang sarkatis
Bila seseorang mengucapkan pertanyaan yang merupakan dakwaan, atau usaha mencari kesalahan secara negatif, akibat yang ditimbulkan ialah sikap defensif. Contohnya, “Apakah Anda tidak mau memikirkan orang lain dan sering bertindak semau diri sendiri?” Pertanyaan serupa ini dengan mudah memancing jawab yang sejenis, “Cuma orang tolol yang bertindak semau saya. Atau mungkin pertanyaan itu sendiri adalah pertanyaan yang tolol!” Pertanyaan yang berisi penilaian negatif dan sarkastis sering merupakan alat tercepat yang mengobarkan konflik lebih luas.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
BAB III
PENUTUP
 
KESIMPULAN
Konflik komunikasi ialah suatu perbedaan bahasa atau makna yang terjadi antara komunikator dengan komunikan dalam menyampaikan sebuah message (pesan). Karena suatu komunikasi akan berjalan efektif (tidak akan melahirkan sebuah konflik) bila terdapat suatu kesamaan makna dan bahasa. Bila demikian dapat kita artikan bahwa konflik komunikasi itu sama dengan hambatan komunikasi. Karena sama-sama diawali oleh ketidaksamaan akan suatu bahasa dan makna.
Karena setiap konflik atau permasalahan pasti memiliki solusinya. Begitu pun dengan konflik secara umum. Solusi yang paling baik adalah dengan cara yang bersifat demokratis (musyawarah, dimana suatu konflik diselesaikan dengan cara damai atau kekeluargaan) agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diharapkan
Bila demikian solusi konflik komunikasi dilihat dari aspek komunikatornya. Komunikator harus memahami dan mengenal karakteristik komunikannya sebelum melancarkan komunikasi. Begitupun dengan komunikan, komunikan harus menghilangkan prasangka buruk pada komunikator. Sebab apabila prasangka komunikan yang biasanya bersifat buruk itu tetap melekat pada diri komunikan.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
DAFTAR PUSTAKA
 
http://www.sabda.org/c3i/artikel/isi/?id=140&mulai=0
http:izlend.wordpress.com/2009/03/26/konflik-komunikasi-dan-solusinya/
http://srimasithah.blogspot.com/2008/05/hambatan-komunikasi.html
http://www.colorado.edu/conflict/peace/treatment/commimp.htm
 

LAPORAN DISKUSI
KONFLIK DALAM KOMUNIKASI
Disusun untuk memenuhi Mata Kuliah Ketrampilan Dasar Komunikasi yang dibimbing oleh Bpk. Lutfi Fauzan

Oleh Kelompok 9 :
Anggun Dian Fitriyah (108111415092)
Indah Setyarini (108111409896)
Rachel Perisade Pombu (108111415096)
Tri Cahyono (108111415077)
Zulfiyatulrrizqiyah (108111415081)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
BIMBINGAN KONSELING DAN PSIKOLOGI
November 2009
Pertanyaan dalam diskusi kelompok:
1.Yunita Setyaningrum (Kelompok 8)
Kesan merupakan inti dalam melakukan sebuah komunikasi. Mengapa hal itu dianggap penting? Padahal dalam yang paling penting dalam komunikasi adalah adanya komunikan dan komunikator?

2.Kartika Nur Viana (Kelompok 4)
Hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan komunikasi adalah produksi dan distribusi media. Jelaskan seberapa besar peran hal tersebut dalam meminimalisasikan konflik dalam komunikasi!

Jawaban dalam diskusi kelompok:
1.Syarat mutlak dalam melakukan sebuah komunikasi adalah adanya komunikan dan komunikator, sehingga jika kedua hal tersebut tidak terpenuhi maka tidak akan dapat dilangsungkan proses komunikasi. Namun hal lain yang perlu diperhatikan dalam melakukan komunikasi adalah adanya kesan. Kesan yaitu nuansa rasa manusia kepada obyek tertentu. Hal ini dianggap penting sebab kesan akan menentukan berlangsungnya proses komunikasi. Misalnya dalam melakukan komunikasi kita harus bersikap sopan dalam menyampaikan pesan sehingga komunikan akan tertarik untuk melanjutkan proses komunikasi. Dengan adanya kesan, maka jalannya komunikasi dapat ditentukan baik-buruknya. (Indah Setyarini, Tri Cahyono, Rachel Perisade Pombu)

2.Produksi media berkaitan dengan kemasan pesan. Karena itu unsur estetika sangat berperan untuk menarik perhatian masyarakat. Contohnya dalam melakukan kegiatan promosi, produk-produk tertentu menggunakan spanduk yang dirancang dengan warna dan kata-kata menarik sehingga konsumen tertarik untuk membeli barangnya. Sedangkan distribusi pesan adalah berkaitan dengan pemilihan waktu yang tepat yang nantinya akan menjadi kunci keberhasilan distribusi. Misalnya penayangan film kartun anak-anak yang bersifat mendidik pada waktu suasana liburan akan lebih efektif dan efisien daripada penayangan pada saat waktu sekolah belum libur. (Zulfiyaturrizqiyah, Rachel Perisade Pombu)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: