Oleh: lutfifauzan | November 12, 2009

MAKALAH

TATA KRAMA DALAM BERKOMUNIKASI
Makalah ini dibuat utuk memenihi tugas Mata Kuliah Dasar-dasar Komunikasi
yang dibimbing oleh Bapak Lutfi Fauzan

Oleh :
1. Agus Jufriansyah (208111415666)
2. Anita Rahmawati (208111415659)
3. Linda Pratiwi ( )
3. Narita Kurniawati (208111415651)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
PRODI S1 BIMBINGAN DAN KONSELING
November 2009
Kata Pengantar

Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa Karena berkat rahmat, hidayah, dan karunia-Nya, akhirnya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Tata Krama dalam Berkomunikasi” guna sebagai penuntun mahasiswa yang ingin menambah pengetahuan dan wawasan tentang mata kuliah Pendidikan Pancasila.
Selain itu, dalam penyusunan makalah ini ada beberapa pihak yang membantu baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Lutfi Fauzan selaku dosen mata kuliah Dasar-dasar Komunikasi yang telah memberi bimbingan dalam pembuatan makalah ini,
2. Teman-teman yang telah membantu proses pembuatan makalah ini,
3. Dan seluruh pihak yang ikut membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Penulis telah berusaha agar pembuatan makalah ini dapat terselesaikan dengan baik sehingga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Penulis juga menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan. Untuk itiu kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini sangat penulis perlukan.

Penulis berharap makalah ini bermanfaat bagi perkembangan ilmu pendidikan khususnya mata kuliah DASAR-DASAR KOMUNIKASI.

Malang, November 2009

Penyusun

Daftar Isi

Kata Pengantar ………………………………………………………………… i
Daftar Isi ………………………………………………………………………. ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ………………………………………………………… 1
1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………… 1
1.3 Tujuan ……….…………………………………………………………. 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Tata Krama Komunikasi …………………………………… 3
2.2 Unsur Tata Krama dalam Komunikasi ………………………………… 4
2.3 Tata Krama dalam Komunikasi ………………………………………… 4
2.4 Contoh Teknik Komunikasi yang Baik ………………………………… 6
2.5 Tata Krama dalam Gender ……………………………………………… 7
2.6 Pemikiran-pemikiran mengenai Gender ………………………………… 7
2.7 Tata Krama Antara Anak dengan Orang Tua …………………………… 9
2.8 Tips Berkomunikasi dengan Anak ……………………………………… 10
2.9 Tata Krama Atasan dengan Bawahan …………………………………… 10
BAB III PENUTUP
3.1 Saran ……………………………………………………………………. 13
3.2 Kesimpulan ……………………………………………………………… 13
Daftar Pustaka …………………………………………………………………… 15

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Komunikasi yang baik tidak sekedar cukup mengandalkan tata bahasa dengan kata-kata terbaiknya, tetapi perlu emosi positif, ekspresi positif dan persepsi positif, agar pesan yang ingin akan disampaikan dapat diterima. Setiap orang selalu ingin mendengar kata dan kalimat yang menyejukkan perasaan. Oleh sebab itu, bahasa yang santun dalam tata krama berbicara positif menjadi modal awal terpenting dalam sebuah dialog. Dengan tata krama, komunikasi akan menjadi lebih efektif karena seseorang akan merasa dihargai.
Sebuah kata bisa berbeda maknanya jika diucapkan dalam emosi, persepsi, dan ekspresi yang berbeda. Untuk itu harus cerdas membungkus kata-kata dengan emosi, persepsi, dan ekspresi, yang kaya dengan semangat, motivasi dan niat baik, agar pendengar senang dan mengerti maksud pembicaraan. Selain itu bahasa yang baik akan menambah kenyamanan dalam berkomunikasi. Bahasa yang baik adalah cahaya yang mampu menerangkan jiwa pendengar. Melalui kata demi kata yang dibangun dalam semangat kebaikan pasti akan menjadi inspirasi buat kehidupan banyak orang. Oleh sebab itu, sebuah pembicaraan yang baik tidaklah sekedar mengeluarkan kata dan kalimat, tapi harus menjadi cahaya penerang batin dan pikiran pendengar. Setiap orang selalu ingin mendengar kata dan kalimat yang menyejukkan perasaan mereka. Oleh sebab itu, bahasa yang santun dalam tata krama berbicara positif menjadi modal awal terpenting dalam sebuah dialog.

1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian tata karma?
2. Apa saja unsur tata karma dalam berkomunikasi?
3. Bagaimana tata krama dalam berkomunikasi?
4. Bagaimana contoh teknik komunikasi yang baik?
5. Bagaimana tata krama dalam komunikasi antar gender?
6. Bagaimana tata krama antara anak dengan orang tua?
7. Bagaimana komunikasi antara atasan dengan bawahan? Sebaliknya?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengertian komunikasi.
2. Mengetahui unsure tata karma dalam berkomunikasi.
3. Mengetahui tata karma dalam berkomunikasi.
4. Mengetahui teknik komunikasi yang baik.
5. Mengetahui cara yang benar dalam berkomuniksi antara perempuan dan laki-laki tanpa menyangkut privasi perempuan yang dapat menyinggung perasaannya.
6. Mengajarkan sopan santun pada anak dalam berkomunikasi dengan orang tua(orang tua dan orang yang lebih tua.
7. Mengajarkan etika-etika dalam berkomunikasi antara atasan dengan bawahan, sebaliknya.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Tata Krama
Tata krama adalah kebiasaan sopan santun yang disepakati dalam lingkungan pergaulan antar manusia setempat. Maka tata krama telah menjadi bagian dalam hidup kita dan merupakan persyaratan dalam kehidupan sehari-hari. Mempelajari tatakrama itu sangat penting untuk kehidupan sehari-hari di masyarakat dalam berkomunikasi dengan sesamanya. Tata krama dilatih dan dibiasakan dalam berbagai kesempatan, misalnya cara berbicara, cara makan, cara minum, cara menyapa, cara bertamu, dan sebagainya. Karena dengan latihan akan terbentuk menjadi kebiasaan, tanpa memikirkan harus berperilaku demikian.
Tata krama akan berperan dan menuntun manusia dalam bertingkah laku, sehingga menciptakan situasi pergaulan yang harmonis. Agar terjadi keserasian dalam pergaulan, maka perlu :
1. Perlakukanlah orang lain sebagaimana Anda memperlakukan diri sendiri.
2. Hargailah setiap orang menurut jati diri masing-masing.
3. Anda perlu membuka diri agar dikenal. Hal ini akan membantu cara orang lain
bersikap terhadap diri Anda.
4. Percaya kepada orang lain, cinta dan sedia berkurban.
Dipandang dari tingkah laku, maka tatakrama terdiri : tatakrama berbicara, tatakrama pergaulan, tatakrama penampilan.
Tata Krama Komunikasi Tata krama terdiri atas kata: tata yang berarti adat, norma, atau aturan. Sedangkan karma berarti santun sopan atau tindakan. Jadi tata krama adalah norma kebiasaan yang mengatur sopan santun, dan disepakati oleh lingkungan. Pengertian Tata Krama dalam kehidupan :
1. Tahu situasi dan kondisi serta bertanggung jawab
2. Aksi dari reaksi manusia dalam suatu lingkungan
a. Komunikasi: alat hubung seseorang yang paling penting
b. Perhatian diperlukan dalam komunikasi
c. Sopan santun dalam bicara
2.10 Unsur Tata Krama dalam Komunikasi

Tata Krama dalam komunikasi meliputi 5 unsur, yaitu:
1. Komunikator (siapa yang mengataka?)
2. Pesan (mengatakan apa?)
3. Media (melalui saluran/channel/media apa?)
4. Komunikan (kepada siapa?)
5. Efek (dengan dampak/efek apa?)
2.11 Tata Krama dalam Komunikasi

Larson (Northern Illinois University ) dari hasil penelitiannya menyimpulkan criteria tata krama komunikasi :
• Jangan mengemukakan dan menggunakan bukti palsu
• Jangan jangan menggunakan penjelasan yang terlalu umum
• Jangan mengaku pakar dalam suatu bidang padahal tidak.
• Jangan berdalih yang tidak relevan demi perhatian orang, seperti: membutuk-burukkan pribadi lain, membangkitkan rasa marah dan kebencian, menggunakan istilah-istilah yang sensitive, menggunakan kiasan dan sindiran.
• Jangan mendustai dengan sembunyikan niat sebenarnya,
• Jangan berikan pendapat yang kita sendiri tidak yakin.
• Jangan berlagak kita yakin sesuatu itu tepat padahal tidak
• Jangan mengatakan yang komplek itu mudah
• Jangan memelintir informasi
• Jangan giring orang kaitkan idea kita ke yang tidak relevan
• Jangan menggunakan rayuan-rayuan emosi

Tata Krama Komunikasi Interpersonal yang dipandang Universal
• Jujur
• Tidak Menuduh
• Nilai Bersama
• Memberi Gambaran Tepat
• Berkata Benar
• Mematuhi Etika
• Selaras
• Tidak Mengganggu
• Bersikap Positif
Tata Krama dalam Ragam Tepat Komunikasi
Ragam Komunikasi:
LAYYIN (Halus, Samar), pola bicara diplomatis, maksud pesan secara tersirat. Misalnya ketika menolak pinangan seseorang, komunikator mengatakan saat ini saya belum siap untuk itu, tetapi kalau memeng jodoh tentu tidak akan lari kemana.
BALIGH (Lugas), pesan tersampaikan secara jelas dan tegas, tidak samar ataupun multiinterpretatif. Contoh: Janganlah kamu melanggar peraturan lalu lintas! Antara pesan ucapan “Saya Mencintai Kamu” tentu lebih tegas daripada “Kucinta Kamu”, sebab yang disebut terakhir ini bisa sulit dibedakan dengan “Kucingta Kamu” yang biasa dilakukan seseorang untuk menggoda ataupun mengolok-olok.
SADID (Tadas, Argumentatif), pesan yang terpilih atas rangkaian kata yang tidak terbantahkan sehingga membuat lawan terdiam seribu bahasa. Umpama: ketika Ibrahim AS berbicara di hadapan seorang saja, “Tuhanku adalah yang menghidupkan dan mematikan”, sang raja mengatakan “Aku juga bisa menghidupkan dan mematikan”. Ucapannya diikuti tindakan memanggil 2 orang narapidana, yang satu dipancung sedang yang satu lagi dibebaskan. Jawaban sadid dari Ibrahim AS adalah, “tuhanku menerbitkan matahari dari timur dan menenggelamkannya di barat, maka terbitkanlah ia dari barat dan tenggelamkan di timur”.
TSABIT (Berbekas), pesan yang sifatnya, isinya dan cara penyampaiannya menimbulkan dorongan kuat untuk berbuat. Contoh: seorang motivator mengatakan dengan kata-kata mantap yang menggetarkan hati kepada seseorang pecandu, “keinginan-keinginan yang muncul pada pikiranmu itu adalah syetan, maka ceraikan syetan yang ada pada dirimu itu. Lakukan itu sekarang, jangan ditunda sampai besok”. Ternyata betul, si penerima pesan langsung mengubah perilaku mulai saat itu juga. Ketika seseorang dating kepada Nabi SAW meminta nasihat mengenai apa yang terbaik ia lakukan untuk kesempurnaan agamanya, dijawab “Jangan marah” dan membuat orang itu belajar mengendalikan diri adalah contoh nyata kata-kata yang berbekas.
2.12 Contoh Teknik Komunikasi yang Baik
Contoh Teknik Komunikasi yang Baik
 Menggunakan kata dan kalimat yang baik menyesuaikan dengan lingkungan
 Gunakan bahawa yang mudah dimengerti oleh lawan bicara
 Menatap mata lawan bicara dengan lembut
 Memberikan ekspresi wajah yang ramah dan murah senyum
 Gunakan gerakan tubuh / gesture yang sopan dan wajar
 Bertingkah laku yang baik dan ramah terhadap lawan bicara
 Memakai pakaian yang rapi, menutup aurat dan sesuai sikon
 Tidak mudah terpancing emosi lawan bicara
 Menerima segala perbedaan pendapat atau perselisihan yang terjadi
 Mampu menempatkan diri dan menyesuaikan gaya komunikasi sesuai dengan karakteristik lawan bicara.
 Menggunakan volume, nada, intonasi suara serta kecepatan bicara yang baik.
 Menggunakan komunikasi non verbal yang baik sesuai budaya yang berlaku seperti berjabat tangan, merunduk, hormat, ces, cipika cipiki (cium pipi kanan – cium pipi kiri).
2.13 Tata krama antar gender
Gender adalah Gender adalah sistem makna, sudut pandang melalui posisi dimana kebanyakan laki-laki dan perempuan dipisahkan secara lingkungan, material, simbolis.
Menurut Griffin ada 3 perbedaan antara perempuan dan laki-laki:
a) ada lebih banyak persamaan antara laki-laki dan perempuan dari pada perbedaannya.
b) ada variabilitas yang besar berkenaan gaya komunikasi antara laki dan perempuan. Feminis vs maskulinitas.
c) sex adalah fakta, gender sebagai gagasan.
2.6 Pemikiran-pemikiran mengenai gender
1. Genderlect Styles (dari Deborah Tannen), membicarakan mengenai gaya bercakap-cakap, bukan kata-kata yamg dikeluarkan tetapi bagaimna cara mneyatakannya. Perbedaannya:
• Komunitas feminis – untuk membangun relationship; menunjukkan responsif. Komunitas maskulin – menyelesaikan tugas; menyatakan diri; mendapatkan kekuasaan.
• Perempuan berhasrat pada koneksi versus laki-laki berhasrat untuk status. Koneksi berhubungan erat dengan kedekatan, status berhubungan erat dengan kekuasaan (power).
• Obrolan perempuan yang cenderung terkesan simpatik, sedangkan obrolan laki-laki yang cenderung apa adanya, pokoknya sampai.
2. Standpoint Theory (dari Sandra Harding dan Julia Wood). Sandra harding dan Julia Wood sepakat bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai perspektif terpisah, dan mereka tidak memandangnya sebagai sesuatu yang setara. Standpoint merupakan tempat dari mana melihat pemandangan dunia, apapun sudut pandangnya.
3. Muted Group Theory (dari Cheris Kramarae). Berdasarkan analisis feminis, Cheris Kramarae memandang pembicaraan laki-laki dan perempuan sebagai pertukaran yang tidak setara antara mereka yang mempunyai kekuasaan di masyarakat dan yang tidak.
Cheris Kramarae (dalam Sendjaja:1994) mengemukakan asumsi-asumsi dasar dari teori ini sebagai berikut:
• Perempuan menanggapi dunia secara berbeda dari laki-laki karena pengalaman dan aktivitasnya berbeda yang berakar pada pembagian kerja.
• Karena dominasi politiknya, sistem persepsi laki-laki menjadi lebih dominan, menghambat ekspresi bebas bagi pemikiran alternatif perempuan.
• Untuk dapat berpartisipasi dalam masyarakat, perempuan harus mengubah perspektif mereka ke dalam sistem ekspresi yang dapat diterima laki-laki.
Kramarae mengemukakan sejumlah hipotesis mengenai komunikasi perempuan berdasarkan beberapa temuan penelitian.
a) Perempuan lebih banyak mengalami kesulitan dalam mengekspresikan diri dibanding laki-laki.
b) Perempuan lebih mudah memahami makna laki-laki daripada laki-laki memahami makna perempuan.
c) Perempuan telah menciptakan cara-cara ekspresinya sendiri di luar sistem laki-laki yang dominan.
d) Perempuan cenderung untuk mengekspresikan lebih banyak ketidakpuasan tentang komunikasi dibanding laki-laki.
e) Perempuan seringkali berusaha untuk mengubah aturan-aturan komunikasi yang dominan dalam rangka menghindari atau menentang aturan-aturan konvensional.
f) Secara tradisional perempuan kurang menghasilkan kata-kata baru yang populer dalam masyarakat luas; konsekuensinya, mereka merasa tidak dianggap memiliki kontribusi terhadap bahasa.
g) Perempuan memiliki konsepsi humoris yang berbeda dari pada laki-laki.
2.7 Tata Krama Orang Tua dengan Anak
Keluarga-keluarga sekarang ini terlihat lebih menerapkan suasana yang terbuka, bicara terbuka antara seluruh anggota keluarga. Sedikit berbeda dengan era yang lalu, saat orang tua dan anak terkadang punya hambatan untuk berkomunikasi dengan lancar dan terbuka. Mungkin tidak semua keluarga begitu, tapi sepertinya sebagian besar keluarga menerapkan pola yang kurang lebih demikian. Tidak semua hal dapat dibicarakan dengan orang tua. Anak perlu memilah-milah dulu, apa saja yang bisa disampaikan atau ditanyakan kepada orang tua. Ada kalanya orang tua terlihat agak ‘kesal’ karena tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan anaknya. Orang tua sebagai tokoh otoritas dalam keluarga seringkali menempatkan diri sebagai tokoh panutan yang selalu tahu dan tidak terbantahkan.
Perkembangan jaman yang pesat sekarang ini turut memberi andil pula dalam kehidupan keluarga. Keluarga-keluarga lebih demokratis, komunikasi antara ayah-ibu dan anak lebih terbuka. Tapi, dari beberapa diskusi dengan keluarga-keluarga muda, ternyata tidak semua hal dapat mereka bicarakan dengan anggota keluarga yang lain. Seorang ayah / suami kadang tidak dapat bercerita terbuka pada sang ibu / istrinya, atau sebaliknya. Kadang mereka pun tidak dapat berbicara terbuka dengan anak-anaknya.
Point pentingnya adalah, membiasakan diri untuk berbicara terbuka, bicara apa adanya dengan anggota keluarga (khususnya dengan anak) akan membawa pada hubungan orang tua-anak yang harmonis. Hal ini tentunya tidak hanya terbatas pada topik-topik seksualitas saja, namun kalau topik sensitif dapat didiskusikan secara terbuka, maka bukan hal yang sulit untuk membicarakan hal-hal umum lainnya. Kepercayaan anak pada orang tua semakin kuat, dan orang tua juga akan semakin yakin saat melepas anak-anaknya hidup bersosialisasi di lingkungan modern sekarang ini.

2.8 Tips Berkomunikasi dengan Anak
Komunikasi yang efektif antara orang tua dengan anak tidak selalu mudah berlangsung. Anak-anak dan orang dewasa masing-masing memiliki gaya dan cara yang berbeda dalam menanggapi pembicaraan. Di samping itu, timing dan suasana, juga mempengaruhi suksesnya komunikasi yang akan dilangsungkan. Para orangtua diharapkan secara khusus menyediakan
Mendengarkan dan didengarkan, adalah kunci hubungan orangtua-anak yang sangat bermanfaat, baik untuk pengembangkan kematangan emosional, kepandaian intelektual, kemampuan membina kehidupan sosial yang baik serta penanaman nilai prinsip moral yang baik pada anak. Dengan mendengar dan didengar, jalur komunikasi dua arah terbuka lebar antara orangtua dan anak, memungkinkan keduanya saling mengerti dan membuat orangtua dapat memberikan dukungan yang diperlukan oleh anak. Namun sebaliknya, jika kata-kata yang diucapkan anak hanya sekedar ‘terdengar’ di telinga kita, akan hilang begitu saja terbawa angin dan tidak memberikan makna serta kontribusi apapun dalam proses pertumbuhan anak. Nah, apakah kita sebagai orangtua, tega mengorbankan kualitas perkembangan dan tingkat kematangan emosional, intelektual, moral dan kemampuan sosial anak kita demi kesenangan sesaat (film yang menarik, obrolan gossip yang asik, berita yang sedang dibaca, dan lain sebagainya). Inilah saatnya kita sebagai orangtua merefleksikan dalam kehidupan sehari-hari, apakah kita sudah lebih sering mendengarkan anak.
2.9 Tatakrama Antara atasan dan Bawahan
Tata krama antara atasan dengan bawahan atau bawahan dengan atasan sangat berpengaruh terhadap kinerja masing-masing, sekaligus mekanisme kerja dalam kantor/perusahaan tersebut.
Berikut ini Tips bijak menghadapi kemarahan Bos:
1. Take It Easy.
Saat Bos mulai mencecar Anda dengan kemarahannya sebisa mungkin tutup mulut Anda rapat-rapt. Bila ia menyerang Anda, tidak perlu langsung berusaha membela diri. Beri kesempatan pada bos untuk mengemukakan perasaannya. Tahan emosi. Ingat, secara struktur ia berada di atas Anda dan kemarahan atasan pada bawahan, dalam porsi tertentu dipandang wajar. Selama Anda diam dan mendengarkan, komunikasikan perhatian Anda dengan bahasa tubuh. Sampaikan bahwa Anda memang benar-benanr memperhatikan. Berikan tatapan mata yang tenang dan sikap tubuh yang terbuka.
2. Cooling Down.
Daripada ikut-ikutan emosi, lebih baik menenangkan diri. Ingat bahwa masalah selalu ada di dunia kerja. Dimarahi bos, salah satunya. Untuk meredam emosi, cobalah bersikat tenang, tarik nafas dalam-dalam dan embuskan perlahan. Tak perlu bersikap demonstratif seperti menunjukan kesedihan atau penyesalan yang berlebihan. Hal ini akan membuat Anda terlihat ‘aneh’. Biasa-biasa saja.
3. Pahami Masalah.
Anda boleh saja sakit hati dan kesal karena dimarahi bos. Namun coba pahami penyebab kemarahannya. Tentu bos punya alasan cukup kuat mengapa ia marah. Bahkan bisa ia tidak punya alasan kuat pun, ia punya ‘privilege’ untuk itu. Jika memang Anda melakukan kesalahan, berbesar hatilah menghadapi kemarahannya. Segera perbaiki kesalahan tersebut dan jangan bersikap antipati pada bos. Jangan bebani pikiran bahwa bos sentimen, prasangka ini akan membuat Anda semakin terpuruk dan membenci bos.
4. Berbicaralah Dengan Tenang.
Bila saatnya tiba, berbicaralah dengan tenang, jelas dan tegas. Ketenangan Anda akan menurunkan emosi bos. Ambilah masa jeda di antara kata-kata Anda untuk menenangkan bos. Tunjukkan empati Anda tanpa harus membenarkan diri.
5. Jangan ‘Ember’.
Wajar jika Anda ingin berbagi keluh kesah dengan rekan setelah dimarahi bos. Namun, hati-hati jangan sembarangan mengadu sana-sini. Pilihlah teman yang tepat untuk mencurahkan perasaan Anda. Jangan terlalu mendramatisir masalah. Ingat biasanya bos punya mata dan terlinga cukup banyak yang dapat menyerap informasi apapun dari anak buahnya.
6. Menebus ‘Dosa’.
Jangan lupa, bos memiliki catatan buruk tentang anak buahnya masing-masing, sekali Anda salah di matanya, catatan itu tersimpan ‘rapi’ dalam memorinya. Jika Anda tidak segera mengambil tindakan perbaikan, alamt buruk bagi karir Anda. Maka jangan tunda-tunda melakukan perbaikan. Misalnyalebih disiplin, menepati deadline, dan meningkatkan kualitas kerja Anda. Cara-cara ini dapat mengurangi bobot kesalahan yang terlanjur Anda lakukan.
7. Jaga Komunikasi.
Mogok bicara setelah dimarahi adalah sikap yang sangat kekanak-kanakan. Namun, berkomunikasi secara berlebihan juga mengesankan Anda ‘caper’ alias cari perhatian, atau salah tingkah. Ambilah langkah menjaga komunikasi yang efektif. Buat laporan kecil sehubungan dengan pekerjaan atau perbaikan pekerjaan yang tengah Anda lakukan. Biarkan bos mengikuti sikap progresif Anda untuk menebus kesalahan. Jangan sungkan meminta saran dan masukan, agar perbaikan kerja Anda membuatnay puas.
8. Tetap Senyum.
Jangan pasang tampang ‘jutek’ di kantor, meski Anda tengah dirundung masalah. Tunukan raut cerah dan senyum Anda. Karena senyum diyakin dapat melunturkan rasa kesal dan marah. Senyum juga menunjukan kelapangan dan kebesaran hati Anda.
9. Jaga Sikap.
Di lingkungan kerja mana pun, selalu ada birokrasi yang mengatur kepantasan atau kelayakan karyawannya dan berprilaku, termasuk menghadapi bos yang marah kepada Anda. Jadi jangan lupa menjaga sikap dan prilaku Anda.

BAB III
PENUTUP

3.1 Saran
Komunikasi yang baik tidak sekedar cukup mengandalkan tata bahasa dengan kata-kata terbaiknya tetapi perlu emosi positif, ekspresi positif dan persepsi positif, Agar pesan yang ingin Anda sampaikan dapat oleh pendengar Anda. Selain itu kspresikan bahasa komunikasi Anda dalam gaya Anda sendiri, dan jadilah diri sendiri yang mampu menyampaikan pesan dengan jelas, sederhana, serta mudah untuk dimengerti oleh lawan bicara Anda. Jadikan gaya bicara Anda sebagai seni yang memberikan inspirasi buat para pendengar.
Miliki persepsi positif terhadap semua hal disekitar Anda, agar Anda bisa bersikap baik kepada siapa pun jangan lupa untuk selalu mengandalkan emosi positif dalam setiap dialog. Sebab, emosi positif merupakan bahasa jiwa yang paling ampuh untuk menyejukkan perasaan lawan bicara, walaupun mungkin Anda tidak mengerti bahasa yang sedang diucapkan lawan bicara Anda.
Pastikan kata-kata Anda mampu mengekspresikan pesan yang ingin Anda sampaikan. Pastikan juga pesan-pesan itu diterima secara cerdas dalam logika berpikir yang sehat, pastikan ekspresi Anda tidak menciptakan keraguan di hati dan pikiran pendengar Anda dan pastikan Anda tahu bahwa berbicara itu berarti komunikasi dua arah, yaitu dari satu jiwa ke jiwa yang lain tanpa ada yang mendominasi.
3.2 Kesimpulan
Tata krama dalam komunikasi sangat penting karena akan membangun komunikasi yang seimbang serta akan mudah di terima pendengar. Oleh karena itu tata krama dalam komunikasi perlu dijaga agar terjadi komunikasi yang positif serta seimbang seperti apa yang diharapkan. Selein itu kecerdasan dalam komunikasi juga penting. Cerdas berkomunikasi berarti harus mampu berkomunikasi dengan siapa pun dan di mana pun bersama kekuatan emosi baik, persepsi positif, dan kekuatan ekspresi dalam balutan sikap baik. Seorang komunikator yang cerdas mampu berkomunikasi dengan siapa pun, dengan apa pun, dimana pun, tanpa terpengaruh oleh perbedaan yang ada. Jadi dapat disimpulkan bahwa tata krama dan sopan santun berbicara positif menjadi modal awal terpenting dalam sebuah dialog.

Daftar Pustaka

 Fauzan Lutfi, dkk. 2008. Teknik-teknik Dasar Komunikasi. Malang:
http://www.ninecorporatetrainer.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: