Oleh: lutfifauzan | September 19, 2009

Khutbah Idul Fithri 1430 di Halaman SMA 9 Malang

Khutbah Idul Fithri 1430

MENDEKATKAN TALI HUBUNG KEPADA ALLAH DAN SESAMA:
DARI TITISAN CINTANYA TILASKAN KASIH SAYANG KEPADA SESAMA

Yasa BDY

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

إِنَّ اْلحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شرَيِكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً
أَلاَ وَإِنَّ أَصْدَقَ اْلكَلاَمِ كَلاَمُ اللهِ تَعَالىَ وَخَيْرَ اْلهُدَي هُدَي مُحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فيِ النَارِ
اَللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ
dst …. اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا

Ma’asyiral Muslimin-muslimat rha,
Senja Satu syawal hadir beranjangsana, hadir iring-gantikan kepergian Ramadhan yang agung nan mulya – kala sang surya kembali ke peraduannya, Syahdu-pilu berbaur haru suasana hantarkan kepergian Ramadhan sambut membahana alunan merdu gema takbir, tahlil dan tahmid di sudut-sudut ruas semesta, membawa berita gembira merentang-tabur bulir-bulir harapan mulya akan kemenangan kaum beriman menempuh pendakian thariqah ilahiyah dengan berpuasa sebulan penuh untuk pantas mendapatkan hadiyah agung berupa kembalinya fithrah mahkota kehidupan insani.
Fajar menyingsing segarkan suasana, bahagianya makhluq semesta, dalam kepatuhan bersahaja menyaksikan kaum beriman bertandang kepada Rabbnya dengan penuh haru dan tawadhu siap menunaikan shalat Id di tanah-tanah lapang dan masjid-masjid yang dimulyakan. Bibir mereka bergetar-basah karena ucapan takbir, hati bersinar karena celupan Asma Indah-Nya, jiwa dan raganya bergetar, benihkan kesadaran terang betapa Maha Agungnya Allah Penguasa jagad raya, betapa luas dan dalam kasih sayang-Nya di hamparan permadani kehidupan insan; hamba-hamba berdosa diampuni-Nya dengan sentuhan-sentuhan lembut menggugah kesadaran hati, hamba-hamba yang ikhlas didekatkan dalam dekapan hangat dibuai lena dengan kasih-Sayang-Nya.
فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى
Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya. (Q.S. 79:40-41)

اَللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Pada tempat yang berbeda di sudut kehidupan, mereka yang tidak pernah mau bangkit dari kesadaran akan dirinya, tiada hirau terhadap perintah-panggilan Rabbnya, mabuk berbangga ria dengan kemegahan dosa-dosanya, tertipu oleh pemanis buatan dari lezatnya pesona dunia, terlena-buai dalam lembah kemaksyiatan, adzab yang besar sambut gembira menanti keha-dirannya. Malang nian manusia yang selalu dialpakan dan dilengah-lalaikan terhadap penyucian dirinya, sehingga ia tidak sadar, api Neraka yang berkobar menyala-nyala, siap menyantapnya, dengan keganasan akan melalap habis tubuh yang tak berdaya bagaikan batang-batang kering lenyap seketika, sehingga keluarlah rintihan tajam memilukan, Yaa laitanii kuntum turaaba, (Duhai Tuhanku, alangkah baiknya kalau dulu aku sebagai seonggok tanah saja), sebuah ungkapan penyesalan yang tidak berarti-guna di kenistaan siksa api neraka yang laa yamuutu wa laa yahya, tiadalah ia dapat dikatakan mati tidak juga dikatakan hidup.

اَللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Jamaah Shalat Id yang berbahagia
Makna apa yang telah dapat kita tangkap di balik perintah berpuasa ketika Dia menegaskan dalam firman-Nya pada satu Hadits Qudsi:

“Setiap amalan bani Adam adalah baginya kecuali shiam, shiam itu adalah untuk-Ku, dan biarlah hanya Aku yang membalasnya”
Tiadakah tertangkap di jantung hati kita suatu isyarat nyata bahwa Dia mengasihi hambanya lebih dari siapapun yang dapat menunjukkan kasihnya tanpa pamrih, dan betapa agung kehendak-Nya agar sang hamba senantiasa dekat-berakrab dengan-Nya menjadi keluarga-Nya (Ahlullah). Nyata terasa bahwa Dia tak menghendaki ada lagi penyekat di antara hamba dan Pencipta, karena dekatnya Dia memang lebih dekat dari urat leher kita. Dia yang dekat itu di setiap keadaan bahkan di setiap desah nafas kehidupan selalu menun-jukkan tanda-tanda kebesaran kasih sayang-Nya kepada hamba melalui pemberian-pemberian indah di kesempatan berahasia suasana, melalui puasa yang merupakan ibadah bersifat rahasia, diikuti dengan shalat malamnya di keheningan sunyi berbisik lirih suara hati mendayu-rayu, berharap cemas agar dapat beradu mesra memadu rindu antara hamba dengan Pencipta.
…  
…dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.

Adanya pernyataan dan pembuktian uluran kasih sayang niscaya meng-hembuskan rasa ketenangan dan melahirkan cinta kasih ke dalam jiwa. Dampaknya jiwa yang merdeka berhias indah dengan cinta kepada-Nya
…      
Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.

Dari dua keadaan yang harmoni itu, tak pelak berlangsunglah suasana cinta berbalas cinta antara hamba dan Pencipta, benang-benang rindu di kelembutan hati merekat-erat dalam sentuhan cinta kasih-Nya. Suasana mahligai indah yang menjadi dambaan setiap hamba perindu akan hidup bermandikan percikan-percikan kilau cahaya indah dalam rengkuhan kasih sayang-Nya.

اَللهُ اَكْبَرُ x3 وَللهِ الْحَمْدُ
Dalam salah satu hadits shahih disebutkan bahwa seorang ibu kehilangan bayinya. Dia mencari-carinya, lalu menemukannya dalam kondisi memilukan. Dia segera mengambil, mendekap, lalu menyusuinya. Melihat hal itu, Rasulullah saw bertanya kepada para sahabat, “Menurut kalian, apakah ibu itu mau melemparkan anaknya ke dalam api? Mampukah dia melakukan itu?” Para sahabat menjawab, “Tidak, wahai Rasulullah.” Rasulullah saw bersabda, “Demi Allah, kasih sayang Allah kepada hamba-Nya melebihi kasih sayang ibu itu kepada anaknya.”

Jamaah Shalat Id rha,
Rahmat Allah swt yang tiada batas adalah dasar penama¬an rahim, tempat janin bersemayam di perut ibu. Di tempat itu, janin memperoleh rezeki, tumbuh dan berkembang tanpa harus merasakan kesusahan atau kesulitan. Sang janin tumbuh dalam ketaatpatuhan sunnatullah tak hendak membantah dalam keadaan apapun, tak hendak memilih di rahim mana ia akan diletakkan. Kepasrahan total menghadirkan iba-kasih dari Sang Kuasa Pencipta dirinya, terpenuhilah segala kebutuhan tanpa harus berupaya. Setiap kali kita merenungi sosok ibu yang welas asih, lembut, memberi apa saja kepada anak-anaknya tanpa mengharapkan balas jasa, dan selalu menerima anaknya yang kembali bagaimanapun keadaannya, kita pun teringat Allah swt. Allah-lah Dzat Yang Maha Pengasih, Maha Lembut, Maha Pemberi tanpa batas tanpa harapan balas jasa, dan Dia Maha Penerima Tobat yang selalu membuka pintu pengampunan kepada hamba-hamba-Nya yang hendak kembali kepada-Nya, betapapun besar dan banyak kesalahan yang telah mereka lakukan. Allah tak hendak membiarkan hamba-Nya hina-sengsara dalam jeratan dosa, tegur-sapa dengan berbagai wujud peringatan senantiasa diberikan-Nya agar tergugahlah kesadaran yang sedang terbenam dalam lumpur dosa; itu bukanlah pertanda mutlak murka, di situlah tersimpan rahasia kasih-Nya, hingga diharapkan sang hamba saat kembali menghadap-Nya sebagaimana mula dicipta hanya bersandangkan fithrah.

Sebesar keinginan Allah swt untuk menyifati diri-Nya sebagai Sang Peng-asih, sebesar itu pula keinginan-Nya untuk melihat tilas-tilas kasih sayang-Nya pada diri hamba-hamba¬Nya. Renungilah kisah Adam as yang melanggar aturan Allah sehingga Allah berfirman kepadanya, “Keluarlah kalian dari surga.” Sebuah hadits Qudsi menerangkan bahwa Allah langsung memanggil Adam as, dan berfirman, “Wahai Adam, janganlah engkau bersedih hati atas kalam-Ku itu. Sebab, Aku menciptakan surga ini hanya untukmu. Namun begitu, sekarang, turunlah engkau ke bumi dan rendahkanlah dirimu kepada-Ku. Tenangkan dirimu dalam cinta kepada-Ku. Nanti, pada saat kerinduanmu kepada diri-Ku dan kepada surga semakin dalam, datanglah kembali. Aku akan memasukkanmu ke dalamnya sekali lagi.”
Kemudian, Allah swt bertanya kepada Adam, “Wahai Adam, apakah engkau berharap Aku membuatmu takkan melakukan kesalahan lagi?” Adam menjawab, “Ya, wahai Rabb.” Rabb berfirman, “Wahai Adam, jika Aku membuatmu dan anak cucumu tidak melakukan kesalahan, lalu kepada siapa Aku mencurahkan kasih sayang, kemurahan, kelembutan, dan pengampunan-Ku?”

Inilah maksud Allah, jika Dia mencurahkan rahmat, kasih sayang, kepemurahan, kelembutan, dan pengampunan kepada hamba-Nya yang melakukan kesalahan, apatah lagi kepada hamba-Nya yang berusaha tidak bermaksiat kepada-Nya dan selalu taat kepadanya. Ya, kesalahan yang menuntunkan kesa-daran bersalah merupakan pancingan turunnya belas kasih sayang Allah kepada seorang hamba. Sedangkan bagi hamba yang berjaga diri dari kesalahan dan maksyiat kepada-Nya, kehati-hatiannya itu menjadi wujud keterlenaan sang hamba dalam buaian kasih-sayang-Nya.

اَللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Saya yakin, kita sedang dilimpahi perasaan yang indah saat kita terdorong untuk berlindung kepada Allah swt, meminta ridha-Nya, dan mencintai-Nya dengan melakukan pelbagai amalan yang membuktikan kepatuhan kita kepada-Nya sekuat tenaga kita, khususnya selama bulan Ramadhan dengan berbagai rangkaian amal ibadah di dalamnya. Namun, saya yakin, jauh lebih indah, lebih agung, dan lebih luhur perasaan yang membaluri kita tatkala kita mengetahui, bahkan meyakini, bahwa Allah swt, Dzat Yang Maha Tinggi dan Maha Kuasa itu, sejatinya menjanjikan kasih sayang kepada hamba-Nya yang patuh maupun yang ingkar.

Sejenak marilah kita menyimak Atsar berikut ini supaya kita mengetahui betapa besarnya kasih sayang Allah:
“Aku-Allah, manusia dan jin terlibat dalam satu kisah yang mencengangkan. Aku yang menciptakan, namun bukan Aku yang disembah. Aku yang memberi rezeki, namun bukan Aku yang disyukuri. Aku terus menurunkan kebaikan, namun mereka terus meningkatkan kedurhakaan. Aku terus mencurahkan kasih sayang dan tidak mengharapkan balasan, namun mereka terus menantang dengan berbagai kemaksiatan, padahal mereka sangat membutuhkan-Ku. Wahai orang-orang yang mengingat-Ku dan senantiasa beribadah kepada-Ku, barangsiapa ingin duduk bersama-Ku, maka ingatlah kepada-Ku wahai orang-orang yang taat kepada-Ku dan mencintai-Ku.
Wahai orang¬orang yang melanggar perintah-Ku, sungguh, Aku takkan membuatmu putus asa atas kasih sayang-Ku. Jika mereka bertobat kepada-Ku, maka Aku akan menjadi kekasih mereka. Namun jika mereka enggan, maka Aku akan menjadi dokter mereka. Aku menguji mereka dengan musibah untuk menyucikan mereka dari cela dan aib. Satu kebaikan kubalas dengan sepuluh kebaikan, atau Aku akan menambahnya. Sedangkan satu kejelekan kubalas tetap sebagai satu kejelekan, atau Aku akan memaafkannya. Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, seandainya mereka me¬minta ampunan kepada-Ku atas segala dosa, maka Aku akan mengampuninya. Barangsiapa mendatangi-Ku dengan bertobat maka Aku sudah bergegas untuk menyambutnya dari jauh. Barangsiapa berpaling dari-Ku, maka Aku akan memanggil-Nya dari dekat – Aku akan berkata kepadanya: Hendak ke mana engkau pergi? Apakah engkau mempunyai Tuhan selain Aku?”

اَللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Jamaah Shalat Id rha,
Sadarkah kita, Allah swt yang Maha Suci, Maha Agung, dan Maha Mulia akan menjawab dan menyambut seruan hamba yang memanggil-Nya, meskipun dia pelaku maksiat, pendosa, baru kembali dari kesalahan, dan mengetuk pintu rumah-Nya dengan cara yang salah?!
Salah seorang Tabiin mengisahkan ada seorang musyrik biasa memuja patungnya dengan berkata, “Tuan … Tuan.” Pada suatu hari dia melakukan kesalahan dengan berkata, “Tuhan … Tuhan.” Mendengar ucapannya, Allah swt yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dengan segala kemuliaan-Nya menjawab, “Ada apa hamba-Ku … ada apa hamba-Ku.”
Jika Allah swt mencurahkan perasaan rindu dan cinta yang sangat men-dalam kepada hamba, padahal Dia adalah Pencipta yang tidak membutuhkan siapapun namun dibutuhkan oleh siapapun, maka sudah seharusnya sang hamba, makhluq yang sangat membutuhkan Allah, selalu mencurahkan dan mengem-bangkan kerinduannya kepada Rabbnya.

Perlu kita sadari bila Rabb Maha Pencipta sedang menjatuhkan cinta-Nya pada hamba yang dikasihi-Nya maka dengan tersenyum la Allah akan berikan bala-coba kepada sang hamba. Tanpa disadari bala-coba mulai dirasa mendera jiwa, merintihlah jiwa di kedalaman hati himbau-mengharap me-manggil Nama-Nya, disinilah awal terjadinya keterikatan dan keterpikatan hati sang hamba pada kebaikan kasih sayang Allah. Jangan kiranya bala-coba dari-Nya dijadikan hujjah untuk lari dari-Nya dan berprasangka buruk kepada-Nya justru sebaliknya akan menggugah diri semakin dekat dengan-Nya. Sekalipun bala-coba itu acap kali menggoncangkan hati dalam waktu lama sehingga dirasa hampir-hampir kesabaran hilang darinya, namun ketahuilah dan yakinilah di balik semua bala-coba tersimpan indah butiran rahmat bagaikan rangkaian mutiara yang siap dikalungkan di leher yang terkasih. Diriwayatkan: Allah telah menurunkan wahyu kepada salah seorang Nabi, Aku telah menurunkan bala (ujian) kepada seorang hamba maka ia berdoa dan tetap Aku tunda permintaannya, akhirnya ia mengeluh maka Aku berkata kepadanya: “Hai hamba-Ku bagaimana Aku akan melepaskan darimu rahmat sedangkan dalam bala-coba itu mengandung rahmat-Ku. Ya bala-coba merupakan sutera pembungkus indahnya rahmat. Ingatlah apa yang diperbuat Allah kepada Ibunda Musa as, ketika diilhamkan untuk membuang fithrah jabang bayi ketengah sungai
                 
Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang beriman (yaqin kepada janji Allah) (QS.28:10)
Bukankah berbukti nyata jalan yang sekilas mencemaskan itu adalah jalan penyelematan dan rahmat kasih sayang yang tiada terhingga.
                
                
Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya (QS.28:13)

Dari pelajaran tertuang, maka tanamkanlah keyaqinan bahwa Allah tak hendak memutus rahmat kasih sayang bagi hamba yang menginginkan-Nya. Dengan kucuran rahmat itu kiranya berbias pada merebaknya kasih sayang kepada sesama. Allah telah berbuat baik kepada kita, diharapkan hamba meniru berbuat baik pula kepada sesama.
…             •    
… dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS.28:77)
Jangan pandang betapa kecil kebaikan itu dan tak diketahui pasti hasilnya. Rasulullah saw pernah bersabda: “Selamatkanlah dirimu dari api neraka meskipun dengan sebiji kurma”. Pada sabdanya yang lain: “Kalaupun kamu menyaksikan hari kiamat telah tiba, sedangkan di tanganmu masih tergenggam sebatang tangkai pohon dan kamu masih sempat menancapkannya ke bumi maka tanamlah ia, karena ia menjadi amal bagimu” (Al-Hadits).

Dan untuk mengakhiri khutbah, marilah kita hadapkan wajah, tundukkan hati dan mengemis menadahkan tangan bermunajad ke haribaan-Nya:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْراَهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ وَبَارِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعلَىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْد ٌمَجِيْدٌ
اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنينَ وَالْمُؤْ مِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالاَمْوَاتِ ِانَّكَ سمِيْعٌ قَرِيْبٌ
مجُيْبُ الدَّعَوَاتِ يَا قَا ضِىَ الحْاَجَاتِ وَيَا كَافيَ الْمُهِمَّاتِ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Ya Allah ya Rabb kami, bila tidak karena apa yang tidak kami ketahui tentang urusan kami, tentulah kami tidak mengeluh atas segala kehinaan kami.
Bila tidak karena dosa-dosa kami,
tentulah tidak kami tumpahkan segala air mata kami.
Ya Allah ya Rabb kami, dosa-dosa kami telah memenuhi sempadan-sempadan langit
dan memberatkan bumi.
Betapa banyak rahmat karunia dan kesempatan yang telah Kau curahkan kepada kami, hanya kami sajalah yang senantiasa lengah dan tak pandai bersyukur.
Tiada bisa lagi kami beralasan,
sebab, telah putus segala jalan untuk beralasan.
Kami akui segala dosa kami, ampunilah dosa-dosa kami yang banyak itu,
dengan amalan-amalan kebajikan kami yang sedikit.
Rabb, bila amat kecil ta’at kami,
maka pengharapan kami atas rahmatMu amatlah besar.
Bagaimana kami bisa kembali dengan rasa kecewa tidak mendapatkan anugerah-Mu sedangkan kami masih berharap atas kemurahan-Mu.
Rabb, bila dosa-dosa kami mengecilkan harapan atas kemurahan-Mu,
besarnya keyakinan kami terhadap kemurah¬an-Mu lah yang membesarkan hati kami. Kami masih berbaik sangka dan penuh harap atas kemurahan-Mu.
Kami bukanlah mereka yang berputus asa untuk mendapatkan rahmat-Mu. Karena itu, janganlah Engkau kecewa¬kan kami.
Ilahi
Kami adalah manusia yang sangat membutuhkan akan kasih sayang-Mu
Jadikanlah kami manusia yang selalu ingat akan hal itu, dan menjadi aqidah bagi kami,
Sehingga disaat apapun kami selalu mengingat-Mu, memanjatkan do’a pada-Mu, dan bersikap ta’at menuju-Mu.
Ilahi
Pandanglah kami
Dengan pandangan kasih-Mu
Karena dengan pandangan itu
Kami yang berlumuran dosa akan mendapat pengampunan-Mu lewat kasih sayang.
Jauhkanlah azab kesengsaraan dalam hidup kami
Kalaulah itu tetap harus berlaku dengan lantaran takdirMu, jadikanlah kami manusia-manusia yang sabar menghadapinya hingga bertemu denganMu.
Ilahi
Jadikanlah keluarga dan keturunan kami
Keluarga dan keturunan yang selalu beribadah dan mengabdi kepadaMu
Jauhkanlah kami dari perbudakan diantara keluarga kami
Manakala kami seorang ayah, jadikanlah ayah yang sanggup menjadi imam diantara orang-orang taqwa di keluarga kami.
Manakala kami seorang Ibu, jadikanlah ibu diantara anak-anak kami sebagai tempat tumpuan belai kasih sayang keluarga kami.
Manakala kami sebagai anak, jadikanlah kami anak yang berbakti pada orangtua kami.

اَلَّلهُمَّ أَعِنَّا عَلىَ ذِكْرِكَ وَ شُكْرِكَ وَ حُسْنِ عِبَادَتِكَ
اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَ قِيَامَنَا وَ قِرَاءَتَنَا وَ زَكَاتَنَا وَ عِبَادَتَنَا كُلَّهاَ . اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ يَا كَرِيْمُ
وَ تُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ.
رَبَّنَا آتِنَا فيِ الدُنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قَنَا عَذاَبَ النَارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ اْلعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَاْلحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ .

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Catatan: Mohon maaf kutipan ayatnya tidak bisa tampil karena tersimpan dalam file gambar, sedangkan saya belum terampil bagaimana cara menyisipkannya. Harap pengguna yang budiman berkenan menyempurnakannya sendiri. Demikian halnya untuk merapikan tampilan tulisanannya. (LF)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: