Oleh: lutfifauzan | Agustus 9, 2009

Kontrak Perilaku

Memberdayakan Behavior Contracts untuk Melesatkan Perkembangan Pribadi

Lutfi Fauzan

Bertanyalah kepada setiap pelajar-mahasiswa mengenai nilai belajar tertib dan disiplin, jawabannya sama “itu penting dan bagus”, tetapi apakah mereka telah mewujudkan kebiasaan belajar tertib dan disiplin? Bertanyalah kepada setiap perokok berkenaan dengan pengaruhnya terhadap kesehatan, jawabannya hampir seragam “itu buruk bagi kesehatan”, tetapi apakah mereka dengan mudah bisa meninggalkan kebiasaan merokoknya. Berkali-kali mencoba, namun selalu gagal maning, gagal maning. Seorang mahasiswa juga merasa hampir kehilangan kepercayaan terhadap dirinya karena dia merasa punya keinginan mengubah diri, lebih tertib kuliah (pada saat konsultasi sudah semester 12) tetapi selalu berhenti di tengah jalan. Pada awal semester dapat tertib mengikuti kuliah, namun mulai masuk pertengahan, caapek deech…, selalu tergoda dengan kegiatan-kegiatan lain dan pada akhirnya tidak masuk kuliah sama sekali. Demikian berulang selama beberapa semester. Mahasiswa tersebut mengalami masalah disiplin diri (self-discipline). Kemauannya untuk mendisiplinkan diri rendah, dan ini dapat dibantu dengan kontrak perilaku.

Kontrak perilaku (behavior contracts) adalah perjanjian dua orang ataupun lebih untuk berperilaku dengan cara tertentu dan untuk menerima hadiah bagi perilaku itu. Kontrak ini menegaskan harapan dan tanggung jawab yang harus dipenuhi dan konsekuensinya. Kontrak dapat menjadi alat pengatur pertukaran reinforcement positif antarindividu yang terlibat. Strukturnya merinci siapa yang harus melakukan, apa yang dilakukan, kepada siapa dan dalam kondisi bagaimana hal itu dilakukan, serta dalam kondisi bagaimana dibatalkan.

Asumsi dasar pada kontrak perilaku:
Ada empat asumsi dasar bagi pemberdayaan kontrak untuk pengembangan pribadi: (1) Menerima reinforcement adalah hal istimewa dalam bubungan interpersonal, dalam arti, seseorang mendapat kenikmatan atas persetujuan orang lain. (2) Perjanjian bubungan interpersonal yang efektif diatur oleh norma saling membalas. Ini berarti setiap orang mempunyai hak dan kewajiban untuk membalas hadiah. (3) Nilai pertukaran interpersonal merupakan fungsi langsung dari kecepatan, rentangan, dan besaran reinforcement positif yang diperantarai oleh pertukaran itu. Memaksimalkan pemberian reinforcement positif memungkinkan untuk memperoleh reinforcement yang lebih besar. (4) Aturan-aturan tetap memberikan kebebasan dalam pertukaran interpersonal. Meskipun aturan (dalam kontrak) membatasi perilaku, tetapi tetap memberikan kebebasan pada individu untuk mengambil keuntungan.

Pada aplikasinya dalam dunia helping syarat-syarat dalam memantapkan kontrak perilaku adalah: adanya batasan yang cermat mengenai masalah klien, situasi dimana masalah itu muncul, dan kesediaan klien untuk mencoba suatu prosedur. Selain itu tugas yang harus mereka lakukan perlu dirinci, dank kriteria sukses disebutkan serta reinforcement-nya ditentukan. Kalau semua itu ada, kontrak akan dapat dimantapkan melalui reinforcement yang cukup dekat dengan tugas dan kriterium yang diharapkan.

Self-contract
Apakah kontrak perilaku hanya dapat dimanfaatkan dalam hubungan helping yang melibatkan interaksi helper dan helpee, konselor-konseli, psikolog-konsulti, psikiater-pasien? Tidak! Kontrak perilaku dapat diberdayakan secara mandiri, yang ini disebut sebagai self-contract (swakontrak). Ketika Anda merasakan adanya penurunan motivasi belajar atau kerja, kerancuan orientasi, kekacauan fokus, ketidakjelasan minat, dan berbagai kegamangan sikap, akan bermanfaat kalau Anda mencoba untuk membuat kontrak pribadi, kontrak perilaku yang dikelola sendiri (swakontrak). Anda juga dapat memutuskan untuk membuat kontrak pribadi guna menghilangkan kebiasaan yang tidak dikehendaki, seperti: kecanduan rokok, bahkan narkoba (tapi yang disebut terakhir ini janganlah menimpa Anda), kebiasaan bangun dan masuk kuliah terlambat, menunda-nunda penyelesaian tugas, malas mandi dan lain-lain.

Saran-saran yang perlu diperhatikan untuk merumuskan swakontrak bagi pengembangan perilaku diri adalah:
nyatakan kontrak dalam kalimat positif,
atur tugas dan kriteria yang mungkin dicapai (achievable);
berikan reinforcement secepat mungkin;
dan gunakan serial kontrak.

Untuk meningkatkan kesenangan dalam pengaturan reinforcement dapat melalui penyiapan dan pemberian tanda atau poin setiap perilaku yang dikehendaki muncul dan perilaku yang tidak dikehendaki ditinggalkan, misalnya: sebentuk simbol-simbol tertentu atau sejenis pernik-pernik yang Anda sukai untuk dikumpulkan. Jika tanda (token) atau poin telah terkumpul dalam jumlah yang Anda tentukan, Anda dapat menukarnya dengan reinforcement yang Anda pilih sebagai sesuatu yang berharga yang telah ditentukan sebelumnya.

Unsur-unsur kontingensi kontrak
Adapun unsur-unsur kontingensi kontrak perilaku bagi diri yang baik adalah: 1) Kontrak harus merinci hak istimewa (privileges) yang dapat diharapkan untuk diperoleh diri guna memenuhi tanggung jawabnya. 2) Tanggungjawab yang dirinci dalam bentuk kontrak mungkin masih memerlukan pemantauan oarang yang Anda percaya, misalnya: teman, orang yang Anda hormati ataupun orang yang Anda percaya mau peduli bagi kemaslahatan Anda. Tujuannya sebagai penimbang untuk menentukan kapan tanggungjawab itu Anda dipenuhi dan apakah hadiah dapat diberikan. 3) Sistem sanksi bila gagal memenuhi tanggung jawab. Ini merupakan unsur kontrak untuk memperkuat komitmen Anda dalam memenuhi kontrak. 4) Kontrak memberikan ketentuan bonus yang menjamin reinforcement positif. Untuk mengimbangi ketentuan sanksi, misalnya bonus memperoleh hak istimewa yang luar biasa dijadikan kontingensi untuk mau menerima tanggung jawab yang lebih lama periodenya. 5) Ada kesempatan untuk menanggapi kekurangan kontrak ataupun membatalkan kontrak.

Kontrak dipandang selesai kalau pemenuhan tanggung jawab dan penerimaan reinforcement dapat berlangsung terus menerus. Apabila dilaksanakan dalam konteks kelompok, misalnya diantara beberapa teman akrab ukurannya apabila saling menerima dan memberikan reinforcement berlangsung lancar melalui sistem balikan yang disepakati. Ini memungkinkan ketika setiap individu telah sepakat bagaimana memberi tanda merespon agar dapat bonus, dan memberi tanda bila me-reinforce yang lain. Anda mau mencoba? Sapa takut!

Naskah ini telah diterbitkan oleh Majalah Kampus UM ‘KOMUNIKASI’ edisi 254/2008


Responses

  1. kamsahamnida,,,,,,,,,

  2. Thanks for a marvelous posting! I truly enjoyed reading it,
    you may be a great author. I will always bookmark your blog and will come
    back down the road. I want to encourage you to definitely continue
    your great job, have a nice morning!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: