Oleh: lutfifauzan | Mei 23, 2009

Asertif

MENGEMBANGKAN SIKAP ASERTIF DALAM TRANSAKSI SOSIAL
Lutfi Fauzan

Dalam suatu konseling, seorang mahasiswi mengeluh tentang perbuatan teman satu kamar di tempat pemondokannya. Ia satu angkatan tetapi berbeda jurusan. Dalam pandangannya, temannya itu sungguh keterlaluan dan tak tahu diri. Ia berbuat seenaknya, tidak mau berbagi menggunakan meja belajar yang hanya satu dan tidak seberapa besar yang ada di kamar mereka. Ia juga jarang mau merapikan tempat tidur, sering meninggalkan piring atau gelas kotor di kamar — ini bukan bermaksud menyindir Anda yang juga seperti itu…
Itu sih belum seberapa, ada yang lebih menyakitkan. Suatu hari ia membeli sepatu baru (hebaatt…). Begitu teman sekamarnya mengetahui ia membawa bungkusan, dimintanya bungkusan itu untuk dilihat. Setelah mengetahui bahwa isi bungkusan itu sepatu, dengan mata berbinar temannya tersebut berkata, “Alangkah bagusnya sepatu ini! Coba sih … O, ternyata cukup dengan kakiku, dan rupanya aku pantas juga memakai sepatu ini”. Keesokan harinya, ketika mau berangkat kuliah, temannya tersebut sudah mendahului memakai sepatu yang baru ia beli semalam. “Saya pakai nggak apa-apa kan?” katanya, dan langsung ngeloyor pergi. Ala maak…. Celakanya kejadian itu berulang terus, setiap hari temannya mendahului memakai sepatu dia, bahkan tanpa meminta izin ataupun berkata apa-apa lagi. Namun apa mau dikata, ia tidak suka perbuatan temannya tetapi ia tidak mampu menegur dan mengekspresikan ketidaksukaanya itu, kecuali hanya diam dan memendam rasa jengkel di dadanya.
Peristiwa lain yang sering terjadi bukan sebatas dialami mahasiswa, melainkan pada ibu-ibu bahkan bapak-bapak iialah ketika datang ke rumah mereka seorang salesman atau salesgirl menawarkan setengah mendesak-desak agar tuan rumah bersedia membeli apa yang mereka jajakan. Dengan setengah terpaksa tuan rumah membeli barang yang ditawarkan sekalipun ia tidak membutuhkan. Dibelinya barang itu, dan setelah itu ia menyesali perbuatannya. Tetapi bagaimana lagi, ia merasa tidak enak kalau tidak membeli barang yang telah ditawarkan tadi.
Penggalan-penggalan ilustrasi di atas mencerminkan betapa sebagaian orang tidak memiliki sikap asertif dalam transaksi sosial. Keasertifan atau kelugasan merupakan kemampuan untuk menyadari keinginan dan perasaan diri dan untuk mempertahankan hak-hak diri tanpa perlu melanggar hak orang lain dalam memenuhi kebutuhannya. Kemampuan untuk bersikap asertif (lugas) adalah bagian penting dalam membuat batasan tentang diri sendiri dalam suatu hubungan atau transaksi sosial. Dalam hal ini dapat dibuat perbedaaan yang jelas antara keseganan, kepatuhan, agresi, dan asertif.
Keseganan berkaitan dengan tertahannya pikiran dan perasaan, sementara kepatuhan memerlukan persetujuan pada sikap-sikap yang anda tidak setuju. Agresi menyatakan permusuhan dan tanpa mempedulikan pelanggaran hak dan kebutuhan orang lain. Agresi dan keseganan berakar dari perasaan terancam dan ketidakberda-yaan, dan agresi sering terdiri atas pencurahan perasaan perasaan yang terpendam, keasertifan yang tertahan, atau perasaan yang sebelumnya tidak tercurahkan. Keasertifan diri menyatakan pernyataan akan kebutuhan, perasaan, dan hak hak anda yang sesuai dengan yang anda inginkan.

Faktor ketidakasertifan
Kita mampu bersikap asertif atau tidak, hal itu banyak dipengaruhi oleh bagaimana kita mempersepsi atau berfikir tetang sesuatu. Pikiran yang tidak realistik dapat memberikan hambatan pada keasertifan. Dengan perkataan lain keasertifan sangat bergantung pada struktur kognitif seseorang, ada yang menunjang dan ada yang menghambat. “Sungkanisme”, takut kalau-kalau nanti menyakiti dia, ada perasa-an berdosa setiap kali tidak meng-YA-kan orang lain, merasa tidak terpuji ketika mengatakan TIDAK kepada orang lain, dan sejumlah perasaan yang tidak enak lain-nya merupakan kerangka kognisi yang dapat menghambat seseorang bersikap asertif.
Sebagian orang mengatakan asertif hanya cocok untuk dunia barat, tidak sesuai dengan budaya ketimuran yang mengutamakan tenggang rasa, tepo seliro dsb. Hal itu tidak seluruhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Disiplin dengan sikap asertif, konsisten pada hampir setiap situasi mungkin menimbulkan ketidaksukaan orang sekitar karena akan tampak kita tidak memiliki tepo seliro sama sekali. Namun dalam kasus orang yang selalu diperdaya orang lain seperti kasus yang dikemukakan di bagian awal tulisan ini apakah keasertifan tidak perlu dikembangkan? Dalam budaya kita agaknya kita perlu mengembangkan sikap dan keterampilan asertif untuk diterapkan secara selektif.

Upaya asertif
Beberapa hal yang dapat diupayakan untuk tampil asertif: (1) Mengetahui pikiran dan perasaan diri sendiri, apa keinginan sejati Anda. (2) Berfikirlah secara realistik, uji kembali berbagai jargon dan mitos yang selama ini Anda terima tanpa kritik. (3) Berkomunikasilah dengan apa yang anda inginkan, jangan dustai diri Anda. (4) Bersikap positif terhadap orang lain. (5) Bebas bela diri, mau mengakui kesalahan dan menghindari sikap menyalahkan orang lain karena masalah Anda. (6) Mampu berdikari, mampu tidak berkata “ya” bila anda bermaksud mengatakan “tidak”. (7) Menggunakan jumlah kekuatan yang tepat dalam bersikap asertif, jangan kebablasan lah. (8) Mengetahui batasan diri sendiri dan orang lain untuk menentukan apakah Anda perlu asertif atau tidak sesuai dengan situasinya. Nah.

Telah dimuat pada Majalah Kampus UM, KOMUNIKASI Nomor 249 2007


Responses

  1. assalamu alaikum, pak.. adakah penjelasan yg lebih sederhana utk pernyataan pada format tes asertif??
    krn pernyataan2 nya agak sulit dimengerti..
    apalagi jika diberikan utk siswa SMA/SMK..
    terima kasih

    • waalaikum salam wr wb, syukron komennya, untuk siswa SMA ke bawah bahasa dapat disederhanakan, akan saya coba. TQ

  2. Assalamu alaikum pak… emm tulisannya bgus bgT pak… bkin saya tersentuh,,, itu juga yang sering saya alami pak… saya sulit sekali bilang gak ato nolak permintaan teman,,padahal dalam hati pengennya bilang gak… slain itu, saya lihat banyak anak Skolah spt SMP n SMA yg mengalami hal itu, mereka gk bs nolak permintaan teman sehingga terjerumus pada pergaulan bebas..nah..dri fenomena itu pak, saya ingin sekali membuat media layanan k’ing ato pembelajaran ato sejenisnya pak,,& pgn saya jadikan skripsi tapi saya masih bingung pak… Bapk bisa kasik saya saran mengenai hal ini,,, tolong pak… saya harap bapak bisa membantu.. saya tunggu balasannya… terima kasih..

    • waalaikum salam, bagus niatan Sdr. Sdr bisa menelusuri penelitian/skripsi tentang asertifitas sebelumnya, juga literatur terkait, ada pula sejumlah bahan dari saya yang bisa Sdr copy jika diperlukan. TQ

  3. AssaLamualaikum. Makasih pak atas sarannya.Ya kalo ada waktu saya temui bapak di UPT BK. em… tapi saya masih bingung mau seperti apa… slama ini kan yg ada di skripsi mengenai pengembangan paket pelatihan asertif untuk para konselor,,nah saya pengennya bikin pengembangan berbasis multimedia/komputer, kira2 bisa gak ya pelatihan asertif berbasis seperti itu??


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: