Oleh: lutfifauzan | November 15, 2010

Khutbah Idul Adha 1431 H di Halaman Sukun Pondok Indah Malang

Khutbah Idul Adha

DENGAN NILAI TAUHID SATUKAN KERAGAMAN ANAK BANGSA

DALAM BINGKAI BERKAH-RAHMAT DAN AMPUNAN ALLAH

Lutfi Fauzan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ اَنْزَلَ الْعِيْدَ مِنْ اَكْبَرِ شَعَآ ئِرِ الاِسْلاَمِ

اَشْهَدُ اَنْ لآ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَه لاَ شَرِيْكَ لَه اِلهٌ اِبْتَلىاِبْرَا هِيْمَ خَلِيْلَه

وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُه وَرَسُوْلُه لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ

اَللّهُمَّ صَلّ وَسَلّمْ وَبَا رِكْ عَلى مُحَمَّدٍ وَعَلى الِهوَصَحْبِه

كَمَا صَلَّيْتَ  وَسَلَّمْتَ عَلى اِبْرَا هِيْمَ وَعَلى الِ اِبْرَا هِيْمَ وَسَلّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا   اَمَّا بَعْدُ

فَيَآ اَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ وَالْمُسْلِمَاتُ رَحِمَكُمُ اللهُ اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِىْ

بِتَقْوَى اللهَ وَكُوْ نُوْا مَعَ الصَّادِقِيْنَ

اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَا تِه وَلاَ تَمُوْ تُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

اَللهُ اَكْبرَُ اَللهُ اَكْبرَُ لآ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَاَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبرَُ وَللهِ الْحَمْدُ

اَللهُ اَكْبرَُ كَبِيْرًا وَّالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَّسُبْحنَ اللهِ بُكْرَةً وَّاَصِيْلاً

لآ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَاَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبرَُ وَللهِ الْحَمْدُ

قَالَ اللهُ تَعَالى فِىْ كِتَابِهِ الْعَزِيْزُ :

اِنَّآ اَعْطَيْنكَ الْكَوْثَرَط فَصَلّ لِرَبّكَ وَانْحَرْط اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الاَ بْتَرُ

اَللهُ اَكْبَرُ  وَللهِ الْحَمْد x3

Kala fajar di ufuk timur datang beranjangsana di kehidupan buta terbuai-lena

Diiringi syahdu-merdunya alunan-lantunan gema takbir, tahlil dan tahmid sujud memuja

Getar-bergerak secercah cahaya menyingkap-sibak lapis-tirai kegelapan hidup olah reka-dusta

Senyum manyapa ramah tebar pesona menggugah kehidupan di sudut-ruas nadi semesta

Terjaga kehidupan kabar- berita gembira isyaratkan hamparan bulir-bulir tunas harapan mulya

Kebangkitan hidup adalah nyata dari setiap hadirnya sang surya pancarkan sinar-cahaya

Tunas muda kehidupan bangkit bersatu membuka kelopak kehidupan di bawah tuntunan cahaya

Bergerak berjenjang naik cahaya fajar hamparkan kehidupan terang-terbuka

Tak ada konspirasi tertutup mendulang korupsi untuk keuntungan pribadi menimbun harta

Berlomba jiwa semesta bangkit membangun-rentang buah hidup berdaya-guna bagi sesama

Kicau burung bernyanyi, indah bunga merekah cuatkan keindahan hidup tertata-bina

Hanya jiwa manusia terperanjat dalam kedunguan olah-perbuatan hadirkan musibah bencana

Tak sadar diri hidup terperangkap dalam perbuatan olah-reka menipu daya demi nafsu angkara

Bagaikan intan-mutiara jatuh di lumpur nista, demikian nafsu memperdaya dalam kancah dosa

Terperosok hidup  dalam lubang kesulitan, bencana-berantai tak sadar ulah laku dosa bersama

Terlena diri dalam masa yang panjang hanya membuahkan kerusakan hidup bagi semesta

Terbelenggu dalam selimut kebodohan, bagaikan kerbau dalam kendali pengkafiran jiwa

Jauh dari kebenaran, gadaikan kehidupan syurgawi jadikan Yahudi penata arah hidup bangsa

Musibah-bencana berantai mendera jiwa-kehidupan bangsa hingga porak-poranda

Terselubung  isyarat peringatan satukan tekad bersama dalam wadah Pancasila sila pertama

Agungkan Kuasa Ilaahi surut dari kesombongan sujudkan diri ampunan rintih-harap dipinta

Jalan menuai berkah-rahmat gelaran hidup makmur-bersahaja bebas hidup dari duka-bencana

Demikian cahaya fajar dipagi hari himbau-berkata dengan isyarat arti dan makna

Setetes embun di pagi hari dalam persembunyian berikan seulas kesan hati di hari Idul Adha

Fajar menyingsing hantarkan cahaya-lentera bagaikan rentangan benang-benang putih terajud-tata di kaki langit, singkirkan gelap-membuta hidup meraba bertanda-tanya olah-reka mendulang serakah tuntutan nafsu angkara. Membahana alunan-syahdu gema takbir, tahlil dan tahmid damaikan suasana, bangkitkan gairah jiwa bahagia makhluk semesta total-pasrah dalam kepatuhan bersahaja mendengar langkah-langkah kaki insani berjiwa iman-tauhid berkunjung-datang di keharibaan Robbnya. Malu diri tundukkan kepala siap menunaikan sholat Id di tanah-tanah lapang dan masjid-masjid. Basah bibir bergetar desakan kuat desah nafas-hati lontarkan kata beruntai ucapan takbir tahlil, dan tahmid ungkapan puja dan puji dari kejujuran hati terbuka. Jiwa yang hangat dalam dekapan KasihNya, dicelupi asma keindahan-Nya, tumbuhkan benih kesadaran hantarkan kata: Ilaahi Maha Agungnya Engkau, pintu kasih Mu lebar-terbuka tiada berbatas-hingga menanti jiwa sadar meraih ampunan, modal membangun kehidupan pribadi dan bangsa yang syurgawi “aman, makmur-bersahaja dalam bingkai rahmat-ampunan bertabur berkah”. Tertangkap-lah isyarat lembut pengkhabaran-berita dari pancaran cahaya fajar, seakan nyiur melambai himbaukan kehidupan bersemesta bangkit-bersatu dalam genggaman Ke-EsaanNya mengusir kegelapan yang telah merentang panjang membelunggu kehidupan dalam jurang bencana-kehancuran. Laksana seorang yang tersentak dari lamunan panjang, demikian cahaya fajar dalam belaian kelembutannya dan sapaan merdu lantunan alunan takbir, tahlil dan tahmid berkumandang menggugah kesadaran jiwa insan agar kembali pada ketauhidan-beriman.

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبرَُ لآ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَاَللهُ اَكْبرَُ اَللهُ اَكْبرَُ وَللهِ الْحَمْد

Jamaah Shalat Id rahimakumullah,

Marilah di suasana Idul Adha, dalam kita mengagungkan Asma-Nya di tengah-tengah suasana duka karena negeri didera aneka bencana, kita jadikan momen untuk mempertajam pemahaman bahwa apa yang dihadirkan Allah secara perlambang ataupun nyata merupakan pelajaran bermakna dan tiada yang sia-sia.

اِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَاخْتِلاَفِ الليْلِ وَالنَّهَارِ لاَيَاتٍ ِلاُولِي اْلاَلْبَابِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (QS. 3:190)

Sebagai makhluq yang dicipta dalam kesempurnaan dan dimulyakan di atas semua makhluq, buah renungan apa yang  kita peroleh dari musibah-berantai yang tak kunjung-henti. Padahal amtsal memberikan lampu isyarat, di setiap kehancuran ada nilai-nilai kebangkitan dan perubahan terhadap suatu keadaan. Karena sesungguhnya di balik kemurkaan Allah masih tersembunyi kasih sayang-Nya yang tidak menghendaki manusia lebih jauh tenggelam dalam kebinasaan. Belumkah juga terketuk hati-nurani kita menyaksikan puing-puing kehancuran tak kunjung reda melanda-timpa negeri-bangsa ini. Masihkah semuanya yang terjadi tetap dinilai-pandang sebagai kewajaran perilaku alam, sebagaimana sering dijelaskan oleh mereka yang mengaku ahli di bidangnya —- gempa terjadi karena pergeseran lempengan bumi, banjir karena curah hujan yang tinggi lebih dari biasanya, gunung meletus karena aktivitas magma dsb.— Pernyataan-pernyataan yang hanya membuat hati semakin jauh dan melupakan faktor keberadaan Allah selaku pengatur tunggal gerak-perjalanan kehidupan semesta. Apa yang menghalangi mereka untuk lebih jauh merenung-fikir, mengapa lempengan bumi itu bergeser, apa tujuannya, dan siapa yang menggerakkannya. Mengapa hujan yang fitrahnya sebagai rahmat untuk menyegarkan kehidupan justru berbalik menjadi bencana yang memilukan. Mereka yang mengaku ahli itu tak ubahnya sebagaimana kaum kafir ketika berkata:

وَقَالُوا مَا هِيَ اِلاَّ حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا اِلاَّ الدَّهْرُ

Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, — semuanya wajar sebagai perilaku alam — (QS. 45:24

اَللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

Jamaah Shalat Id rahimakumullah,

Sebelum manusia dihadirkan di muka bumi, kehidupan alam telah terben-tang dengan kesempurnaan keindahan dan kandungan potensi, sebagai salah satu sarana kelangsungan hidup manusia. Laksana bayi yang hendak dilahir-kan, segala sesuatunya telah ditata-persiapkan dengan sempurna oleh orang tuanya. Allah pun bertanya kepada manusia

فَبِاَيّ آلاَءِ رَبّكُمَا تُكَذّبَانِ

Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan (QS. 55)

Bukankah kenikmatan nyata, sekaligus bukti cinta-kasih dan sayang  Allah pada manusia, alam terbentang dengan segala keindahan-potensi siap dikelola jauh sebelum berfungsinya aqal manusia. Allah tidak menghendaki manusia hidup dalam lilitan kesulitan, tetapi kemudahan dalam kesetimbangan.

Salah satu nilai kesempurnaan Mahacipta-karya Ilahi yang tidak tertan-dingkan adalah kesetimbangan di setiap unsur ciptaan. Dia Allah pun dengan kemuliaan asmaNYA seakan menghimpun mengajak-himbau kepada manusia agar tergugah kesadaran melalui Kalam-Nya:

مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَانِ مِنْ تَفَاوُتٍ فَارْجِعْ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ

… Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang (QS. 67:3)

 

اَللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

Himbauan tersebut seakan hamparan jembatan emas, sarana berlangsung-hubung dialog membangun kesadaran memberikan sentuhan rasa kedekatan antara Allah selaku Dzat Pencipta dan manusia selaku yang dicipta, bagaikan ikatan bathin orang tua dengan anaknya yang tak dapat dipisahkan. Demikian Allah merangkul-kasih, mendekap-cinta mengikat manusia melalui karya-cipta alam semesta, menjelma-perkenalkan asma diri-NYA bertujuan membangun hubungan kedekat-akraban pada manusia. Sebab bagaimanapun, manusia tidak akan mampu lepas menjauhkan dirinya dari Allah yang begitu dekat bahkan lebih dekat dari urat lehernya. Kemana manusia hendak lari menjauhkan dirinya dari Allah, kecuali hanya berputar-lingkar dalam bentangan alam ciptaan Allah jua. Lemah dengan serba keterbatasannya mengkodratkan manusia agar dekat pada Allah sebagai jaminan keselamatan hidup bagi manusia itu sendiri sekaligus berdampak positif pada kehidupan alam. Siratan makna hadits yang menghimbau umat manusia agar setiap berbuat didahului  “Bismillahhirrahmanirrahim” memberi pemahaman bahwa di segala keadaan  manusia selalu bersama Allah, dan senantiasa memasangkan sifat pemurah dan kasih sayang pada setiap tindakan di tengah-tengah lingkungannya. Bila tidak demikian, porak-porandalah tatanan kehidupan yang telah ada, yang lemah menjadi objek penindasan yang kuat; sedangkan dari antara yang kuat bersaing untuk saling menjatuhkan, menang dengan kepongahan di atas penderitaan yang lain. Begitulah sunnatullahnya, manusia tanpa kendali diri dengan ikatan tali Allah yang bersifat rahman-rahim pasti berdampak pada kehancuran hasil cipta-karya-Nya. Dengan azas “kesetimbangan” pada setiap ciptaan tidak ada unsur yang dirugikan keberadaan dan tumbuh-kembangnya.

Bagi manusia, berbuat dan berkarya merupakan bagian dari fithrah kehidupannya, meski demikian kodrat manusia serba dalam keterbatasan. Masing-masing hidup tumbuh-berkembang dalam gerak edar yang telah ditentukan, semestinya tanpa sikut-sikutan, kecuali saling menopang saling melengkapi saling dan memberi. Nilai-nilai sifat Ar-Rahman mengandung pemahaman: “memberi sebelum diminta tanpa mengharap imbal-balas”  mewarnai proses kelangsungan hidup alam dan unsur-unsurnya. Terajut-himpunlah kehidupan alam ini dengan kelembutan satu rajutan getaran ketenagaan. Bagaikan rajutan benang rumah laba-laba demikian lembut-halusnya rajutan pengikat namun kokoh dalam satu kekuatan Kuasa Ilaahi. Tersirat makna memberi ungkapan pengertian: “kelembutan-kehalusan” tali pengikat dalam satu-kesatuan kokoh-sempurnanya rentangan kehidupan.

اَللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

Dari kelembut-halusan rajutan ketenagaan yang mempersatukan masing-masing unsur alam dengan manusia melahirkan persahabatan di tengah-tengah peradaban kehidupan. PERSAHABATAN sepenggal kata yang apabila direalisasikan dalam kehidupan dapat menghantarkan kehidupan ini di peraduan damai. Bagaikan pelukan kekasih yang memberikan sentuhan rasa perlindungan, ketenangan, kesejahteraan, kehangatan dan semangat memba-ngun kehidupan. Bukan persahabatan jika ada pihak yang ditekan-rugikan kehidupannya demi diperolehnya kepentingan dan keuntungan pribadi lain. Kenyataan inilah yang selama ini berlangsung pada pola kehidupan sebagian besar manusia terhadap alam. Nilai kesejatian  PERSAHABATAN sangat ditentukan sikap “menjaga-hormati hak hidup makhluk lain” atau teposliro, sekaligus sikap inilah sebagai penentu kelangsungan arti suatu persahabatan. Diakui ataupun tidak yang terjadi memaksa-tekan terhadap kehidupan alam agar memberikan hasil melimpah dalam waktu singkat terus dilangsung-upayakan melalui media keilmuan agar memperoleh legalitas aktivitas terhormat. Padahal sesungguhnya tidak lebih bagaikan penyamun merampok hasil di bawah ancaman-tekanan kekerasan nafsu serakah. Persahabatankah namanya kenyataan demikian terjadi?!

Sesaat manusia boleh berbangga dengan ilmunya berhasil menekan-paksa kehidupan alam untuk memberikan nilai tambah dalam waktu singkat. Tapi pernahkah manusia mengira bahwa alam adalah bagian makhluq hidup bernyawa memiliki hak mempertahankan kelangsungan hidupnya. Sikap mempertahankan hak hidup dapat saja pada waktu dan saat tak terduga  sang alam tiba-tiba meluapkan kemarahan berupa badai-bencana memporak-porandakan kehidupan manusia yang sedang terlena dalam buaian kegelapan.

Kenyataan saat ini alam hadir dengan memberikan rasa tidak nyaman bahkan menakutkan, semua itu bukan dari kesalahan alam, sekiranya saja manusia mau sadar diri; kesombongan, keangkuhan manusia itu sendiri penyebab hadirnya alam dalam bentuk yang mencemas-takutkan. Haqeqat alam dengan keindahan dan potensi tak pernah berhenti menebar pesona nilai persahabatan kepada manusia. Kondisi demikian tetap akan berlangsung dan berkesinambungan bahkan dapat menghantarkan kehidupan suatu negeri menjadi negeri yang aman-tentram damai-bersahaja dan makmur-sentosa manakala sistem kesetimbangan pada Maha cipta-karya Ilaahi tetap terjaga melalui media ketaat-patuhan masing-masing unsur kehidupan pada Ilaahi.

اَللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

Demikian pula dalam kehidupan masyarakat manusia kapan berlangsung penekanan terhadap pihak atau kelompok lain cepat atau lambat pasti muncul reaksi pemberontakan. Kita bukanlah masyarakat yang terlalu bodoh untuk dibutakan dari kenyataan persahabatan yang berlangsung antar bangsa.  Kenyataan terjadi “Persahabatan” tidak lebih dari bersifat simbolis semata, sanjungan dan keramahan pimpinan negara-negara pendominasi dunia  hanya sebatas retorika dan omong kosong, tidak lebih sebagai langkah-upaya melegalitaskan kegiatan mengeruk kepentingan-keuntungan ambisi pribadi suatu bangsa. Negeri dengan potensi kekayaan alam melimpah, jadi incaran jajahan penekanan bangsa yang miskin dengan potensi alamnya tetapi mereka merasa menjadi bangsa nomor satu di dunia dan berupaya keras memagang kendali kebijakan bangsa lain. Bukan rahasia mereka adalah kaum Zionis yang berada dalam selimut-payung negara-negara barat dan super power, Berabad-abad berlangsung sudah negeri dan bangsa kita yang kaya akan kandungan potensi alam jadi incaran pertama untuk dikeruk habis semua potensi demi kepentingan-keuntungan mereka. Dalam tatapan keserakahan ambisi kaum Zionis, anak negeri bangsa ini ibarat ikan teri dipermukaan laut yang selalu dipasangkan jala-perangkap untuk dinina-bobokan dengan nilai-nilai kemudahan dan kemegahan berteknologi.  Kita dibawa jauh menuju mimpi-mimpi indah kenikmatan dunia maya, tanpa kita sadari pembodohan habis-habisan dan penggeseran nilai aqidah tauhid mereka lancarkan dalam berbagai siasat tersembunyi. Saat anak negeri mabuk terlena dengan kenikmatan dunia maya, satu persatu potensi kekayaan negeri ini dipindah-alihkan. Secara politis dan sosiologis kita diacak-acak dengan upaya yang memicu perpecahan, agar demikian itu lebih memudahkan jalan bagi mereka merampok-alih hasil kekayaan alam negeri ini, tetapi anak negeri ini tetap terlena dan tidak sadar dari upaya picik pihak luar membuat perpecahan.

Jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah,

N.Ibrahim as adalah teladan  orang beriman yang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap negeri di mana ia tinggal, baik terhadap penghuninya maupun alam lingkungannya. Sebagaimana tertera dalam Al-Quran:

وَاِذْ قَالَ اِبْرَاهِيمُ رَبّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ اَهْلَهُ مِنْ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَاُمَتّعُهُ قَلِيلاً ثُمَّ اَضْطَرُّهُ اِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdo’a: “Ya Rabb-ku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”. (QS. 2:126)

Adapun yang mula-mula dijadikan perhatian dalam membangun hunian dan lingkungan hidup adalah menanamkan aqidah tauhid yang murni kepada penduduknya. Demikian itu karena manusia tanpa kendali diri ikatan tali Allah pasti hanya menimbulkan kerusakan. Kedamaian tidak akan berlangsung pada kehidupan berkesemestaan, manakala manusia  sebagai poros harmonisasi tidak bisa menjalin keharmonisan baik terhadap dirisendiri maupun di luar diri. Goncang tidaknya kehidupan bersemesta sangat ditentukan oleh tatanan kehidupan manusia. Keimanan dan kekeluargaan-persaudaraan dalam kesatuan pandangan mengesakan Allah lah yang dapat mempertemukan keberagaman dalam keharmonian. Orang kafir pun mendapatkan percikan nikmat dari adanya orang yang beriman. Hadits yang menyatakan “selama masih ada orang beriman di muka bumi kiamat belum akan terjadi” mengisyaratkan orang berimanlah selaku penentu keselamatan hidup bersemesta. Namun ironisnya mereka ini sering difitnah dan dimusuhi. Syariat Idul Adha dengan rangkaian ibadah di dalamnya dilatarbelakangi oleh aktualisasi jiwa tauhid keluarga Ibrahim as. Pengabdian dan pengorbanan yang berbalas dengan kebaikan yang dapat dinikmati oleh generasi demi generasi. Tidak cukupkah jaminan Allah:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنْ السَّمَاءِ وَاْلاَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَاَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. 7:96)

Sebaliknya bila penduduk suatu negeri ingkar dan durhaka terhadap Rabbnya maka dipastikan pula bencana demi bencana akan silih berganti melanda, baik itu dalam bentuk bencana politik, bencana sosial, bencana ekonomi, bencana alam dan berbagai jenis bencana yang lain yang dapat meluluh lantakkan suatu negeri. Sebagaimana difirmankan:

وَاِنْ مِنْ قَرْيَةٍ اِلاَّ نَحْنُ مُهْلِكُوهَا قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ اَوْ مُعَذّبُوهَا عَذَابًا شَدِيدًا كَانَ ذَلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا

Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh). (QS. 17:58)

Dan pada ayat yang lain Allah menegaskan:

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَاَهْلُهَا مُصْلِحُونَ

Dan Rabbmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. 11:117)

Demikian itu karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri (QS. 8:53)

Dalam riwayat Ahmad dan Ibnu Majah dikatakan betapa Rasullullah saw sangat mengkhawatirkan bila umatnya dilanda lima perkara: (1) jika perbuatan mesum dalam suatu kaum sudah dilakukan dengan terang-terangan maka akan timbul wabah dan penyakit yang belum pernah menimpa orang-orang terdahulu. (2) jika suatu kaum menolak mengeluarkan zakat maka Allah akan mencegah turunnya hujan. Kalau bukan karena kebutuhan binatang ternak tentu hujan tidak akan diturunkan sama sekali. (3) jika suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan maka Allah akan menimpakan paceklik beberapa waktu, kesulitan pangan dan kezhaliman penguasa. (4) jika penguasa-penguasa mereka melaksanakan hukum yang bukan dari Allah maka Allah akan menguasakan musuh-musuh mereka untuk memerintah dan merampas harta kekayaan mereka. (5) jika mereka menyia-nyiakan Kitabullah dan Sunnah Nabi maka Allah akan menjadikan permusuhan di antara mereka.

Manakah yang belum dilanggar oleh penduduk negeri ini dari kelima perkara itu? Lalu mengapa pula mereka masih merasa aman dari ancaman azab Allah, lebih suka menghibur diri dengan menganggap ini sebagai ujian bagi orang yang beriman untuk ditingkatkan derajatnya. Sudah sekian lama negeri ini dirundung bencana namun tidak-ada tanda-tanda bertambahnya kemulyaan dan wibawa, justru semakin lemah dan terhina. Lalu kapan kita mau berkaca diri, bersimpuh di hadapan Ilahi, mengakui dosa-dosa diri, bertaubat dan berbenah memperbaiki diri dalam melaksanakan tugas kekhalifahan memakmurkan bumi.

Semoga Allah berkenan membukakan hati dan memampukan kita untuk menangkap cahaya kebenaran untuk membangun kembali puing-puing keimanan yang telah tercabik-cabik oleh pandangan angkara sehingga memecah belah kita dalam firkah-firkah yang lemah menuju pada kesatuan pandangan dan kekuatan ketauhidan sehingga terbinalah negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Akhirnya, harapan hamba-Mu di tempat ini dan di tempat lainnya Ya Allah:

اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنينَ وَالْمُؤْ مِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالاَمْوَاتِ

Ya Allah ya Rabb kami, bila tidak karena bodohnya kami, tentulah kami tidak mengeluh atas segala kehinaan kami. Bila tidak karena dosa-dosa kami, tentulah tidak kami tumpahkan air mata kami. Bila Engkau tidak merahmati kecuali yang sungguh-­sungguh ta’at kepada-Mu, maka kami adalah orang yang bersalah yang bersandar kepada-Mu. Bila Engkau tidak memulia­kan kecuali yang berbuat baik, maka kami telah berbuat banyak kesalahan. Apa yang kami bisa kecuali memohon ampun kepada-Mu. Rabb bila Engkau berkenan mengampuni kami, itu adalah hak dan kuasa-Mu yang Mahaterpuji, tetapi Ya Allah, bagaimana jika Engkau berpaling dari kami, tak mau lagi mendengar kami, dan tidak mengampuni kami, lalu pada siapa kami kami harus memohon ampun. Sedangkan pemilik ampunan dan rahmat hanyalah Engkau. Jika Engkau berpaling dari kami, lalu pada bumi mana kami akan berpijak, pada langit mana kami akan bernaung, sedangkan semesta adalah milik-Mu, Dan kami tidak lain hanyalah makhluk ciptaan dan hamba-Mu.

Rabb, bila Engkau tidak menunjukkan Kebenaran Kalam-Mu, tak mungkin kami sampai padanya. Bila Engkau tidak melepaskan lidah kami dan Kau buka hati kami buat berdo’a, tak mungkin kami bisa berdo’a. Jiwa kami telah Engkau muliakan dengan iman, bagaimana akan Engkau hinakan di tumpukan bara api-Mu. Engkau telah menunjukkan untuk memohon syurga sebelum kami me­ngenalnya. Lalu, bagaimanakah bila Engkau menolak setelah kami me­mohonnya? Bukankah Engkau Maha Terpuji atas segala apa yang Engkau perbuat.

Rabb, jika kami tidak pantas untuk mendapatkan rahmat yang selalu  kami mohon, maka sesungguhnya Engkaulah Dzat yang Maha pan­tas melimpahkan rahmat-Mu kepada kaum yang berdosa berkat kemahaluasan rahmat-Mu. Ketenangan kami takkan terwujud melain­kan dengan pemberian-Mu; cita-cita kami takkan terpenuhi melainkan dengan karuniaMu. Kumohon petunjuk yang selalu mendekat­kan kami kepada-Mu.

رَبَّنَا اتِنَا فِى الدّنْيَا حَسَنَةً وَّفِىالاخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبّكَ رَبّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلمٌ عَلى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: