Oleh: lutfifauzan | Januari 12, 2010

MAKALAH KONSEPTUAL ASSERTIVE TRAINING

ASSERTIVE TRAINING

(PELATIHAN KETEGASAN)

OLEH

Sri Wahyuningsih, Novarina Dwi Candrasari, Inggit Kartika Wulandari

KONSEP

Asertivitas merupakan suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan dan dipikirkan pada orang lain namun tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan orang lain. Tujuan dari sikap asertif adalah untuk menyenangkan orang lain dan menghindari konflik dengan segala akibatnya.

Ada empat kategori yang dikelompokkan dalam perilaku asertif (Walker,1996):

  1. Kemampuan untuk berinisiasi dengan memulai percakapan, menyambung dan menghentikan percakapan
  2. Berani berkata “tidak”
  3. Mengajukan suatu pertanyaan dan keinginan
  4. Mengekspresikan perasaan suka dan tidak suka

Latihan asertif merupakan latihan keterampilan-sosial yang diberikan pada individu yang diganggu kecemasan, tidak mampu mempertahankan hak-haknya, terlalu lemah, membiarkan orang lain merongrong dirinya, tidak mampu mengekspresikan amarahnya dengan benar dan cepat tersinggung.

Prosedur dasar dalam asertive training :

  1. Mengajarkan perbedaan antara asertif, agresif, non agresif dan sopan.
  2. Membantu individu mengidentifikasi dan menerima hak-hak pribadi dirinya dan orang lain.
  3. Mengurangi hambatan kognitif dan afektif yang menghambat aktualisasi sikap asertif.
  4. Mengembangkan ketrampilan perilaku asertif secara langsung melalui praktek-praktek di dalam pelatihan.

KARAKTERISTIK

  1. Cocok untuk individu yang memiliki kebiasaan respon – cemas (anxiety-response) dalam hubungan interpersonal, yang tidak adaptif, sehingga menghambat untuk mengekspresikan perasaan dan tindakan yang tegas dan tepat.

  2. Latihan asertif terdiri dari 3 komponen, yaitu : Role Playing, Modeling, Social Reward & Coaching
  3. Dalam situasi social dan interpersonal, muncul kecemasan dalam diri individu, seperti:
    - Merasa tidak pantas dalam pergaulan social

    - Takut untuk ditinggalkan

– Kesulitan mengekspresikan perasaan cinta dan afeksinya terhadap orang-orang disekitarnya.

TUJUAN

  1. Mengajarkan individu untuk menyatakan diri mereka dalam suatu cara sehingga memantulkan kepekaan kepada perasaan dan hak-hak orang lain.
  2. Meningkatkan keterampilan behavioralnya sehingga mereka bisa menentukan pilihan apakah pada situasi tertentu perlu berperilaku seperti apa yang diinginkan atau tidak
  3. Mengajarkan pada individu untuk mengungkapkan diri dengan cara sedemikian rupa sehingga terefleksi kepekaanya terhadap perasaan dan hak orang lain
  4. Meningkatkan kemampuan individu untuk menyatakan dan mengekspresikan dirinya dengan enak dalm berbagai situasi sosial
  5. Menghindari kesalahpahaman dari pihak lawan komunikasi

ASUMSI

  1. Kecemasan akan menghambat individu untuk mengekspresikan perasaan dan tindakan yang tegas dan tepat dalam menjalin suatu hubungan social.
  2. Tiap individu memiliki hak (tetapi bukan kewajiban) untuk menyatakan perasaan, fikiran, kepercayaan, dan sikap sesuai keinginannya.

RELEVANSI

Teknik ini sangat relevan digunakan pada permasalahan yang menyangkut hubungan social. Misalnya dalam lingkup sekolah, organisasi, dan sebagainya. Dimana seringkali terjadi kebingungan pandangan mengenai asertif, agresi, dan sopan.

PRINSIP

  1. Peran konselor adalah sebagai fasilitator yang bertugas merangsang dan mendorong siswa bersikap lugas atas pikiran dan perasaannya, dengan tetap memperhatikan perasaan orang lain.

MANFAAT

  1. Melatih individu yang tidak dapat menyatakan kemarahan dan kejengkelan
  2. Melatih individu yang mempunyai kesulitan untuk berkata tidak dan yang membiarkan orang lain memanfaatkannya
  3. Melatih individu yang merasa bahwa dirinya tidak memiliki hak untuk menyatakan pikiran, kepercayaan, dan perasaan-perasaannya
  4. Melatih individu yang sulit mengungkapkan rasa kasih dan respon-repon positif yang lain

HAMBATAN

Hambatan Mental Individu

  • Perasaan segan konseli
  • Perasaan takut menyakiti
  • Perasaan berdosa setiap kali tidak meng-YA-kan orang lain
  • Merasa tidak terpuji ketika mengatakan TIDAK kepada orang lain
  • Takut jika akhirnya dirinya tidak lagi disukai atau diterima

Hambatan Budaya

  • Budaya timur yang menganut nilai tenggang rasa dan “tepo seliro”

PROSEDUR APLIKASI

  1. Menentukan serangkaian situasi apa saja yang menimbulkan perasaan atau pikiran sulit bersikap asertif
  2. Konselor dan konseli memerankan peran dalam role playing
  3. Konseli mencoba mempraktekkan keterampilan yang sudah dilatih, pada situasi sebenarnya.
  4. Mendiskusikan kembali hasil penerapan keterampilan pada pertemuan selanjutnya.

FAKTOR KEASERTIFAN INDIVIDU

  1. Mengetahui pikiran dan perasaan diri sendiri.
  2. Berfikir secara realistik.
  3. Berbicara tentang diri sendiri.
  4. Berkomunikasi dengan apa yang anda inginkan.
  5. Bersikap positif terhadap orang lain.
  6. Bebas bela diri.
  7. Mampu berdikari.
  8. Menggunakan jumlah kekuatan yang tepat.
  9. Mengetahui batasan diri sendiri dan orang lain.

INDIKATOR KEASERTIFAN

PESAN-PESAN TUBUH INDIKATOR
Kontak Mata Melihat orang lain langsung di matanya, ataupun cukup melihat di antara dua matanya, sedikit di atasnya, sedikit di bawahnya, dan tetap melakukan kontak mata pada saat menyatakan diri
Ekspresi Wajah Menyatakan emosi positif dan negative anda dengan tepat, tetap dalam keasliannya, seperti tidak tersenyum sewaktu marah
Postur Tubuh Tidak membungkuk
Gerak-Gerik

Menggunakan gerakan tangan dan lengan untuk membantu menyatakan diri anda dalam cara yang konstruktif

Jarak

Tidak menghindari orang, tidak “tabrak-lari”

Bebas Komunikasi Tubuh Yang Negatif Seperti: kepala mengeleng-geleng, membanting pintu, mengepalkan tangan sebagai pertanda geram, telunjuk menuding-nuding muka seseorang
Bebas Komunikasi Tubuh Yang Membingungkan

Menarik-narik rambut, mempermainkan jari-jari, mengeser-geserkan telapak kaki ke lantai

PESAN-PESAN SUARA INDIKATOR
Volume Keras tetapi layak
Nada Lugas, tidak mengambil suara “anak kecil”
Kecepatan Tidak terlalu cepat
Perubahan Nada Penghadiran perubahan suara yang menekankan pernyataan, tiadanya perubahan nada yang memberi indikasi menyerang ataupun merendahkan

DAFTAR RUJUKAN

Buku Ajar Modifikasi Perilaku. 2009

Corey, Gerald. IKIP Semarang Press

Fauzan, Lutfi. 1991/1992. Modul Ancangan Konseling Kelompok Behavioral. Malang: Depdikbud IKIP Malang.

Fauzan, Lutfi. 2007. Assertive Training: Pengembangan Probadi Asertif dan Transaksi Sosial. Depdiknas: UPT BK UM

Lutfifauzan.wordpress.com

Riannyarahayu.wordpress.com

Rosjidan. 1988. Pengantar Teori-Teori Konseling. Depdikbud Dirjen Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan

About these ads

Responses

  1. Assalamu’alaikum.. pak saya dulu mahasiswa bapak. alhamdulillah sya menemukan blog yang berisi pelatihan assertive, terima kasih pak

  2. pinjem bukunya dong

  3. […] http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/196002011987031SUNARDI/karya_tls-materi_ajar_pdf/LATIHAN_ASERTIF.pdf  http://lutfifauzan.wordpress.com/2010/01/12/makalah-konseptual-assertive-training/  […]


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: