Oleh: lutfifauzan | Januari 1, 2010

VALUE CLARIFICATION

Anindya Bestari/ 107111406840

Linda Maulidiyah/ 107111406840

Dita Yohanika Putri/ 107111409860

BK Off A

VALUE CLARIFICATION

A. Konsep

Pendekatan klarifikasi nilai (value clarification approach) memberi penekanan pada usaha membantu siswa dalam mengkaji perasaan dan perbuatannya sendiri, untuk meningkatkan kesadaran mereka tentang nilai-nilai mereka sendiri. (Teuku Ramli)

Peterson dalam “Counseling and Values” membuat perbandingan untuk mengetahui sesuatu merupakan nilai atau bukan, adalah sebagai berikut:

1. Nilai tidak sama dengan kebutuhan

Peterson mengutip pernyataan dari Kluckhohn dan Perterson, sebagai berikut:

“Nilai merupakan suatu pemahaman kompleks yang melibatkan pengamatan, persetujuan, pilihan dan pengaruh, kemudian dihubungkan antara satu sistem nilai dan suatu sistem kebutuhan atau tujuan yang kompleks. Keduanya perlu dijadikan pertimbangan untuk pemenuhan kebutuhan. Satu nilai melayani beberapa kebutuhan secara parsial atau resistensi terhadap yang lain”.

Dengan demikian nilai tidak diperoleh dari kebutuhan, nilai merupakan kebijakan yang menjadi patokan, dimana seseorang harus membuat pilihan dalam berperilaku.

2. Nilai tidak sama dengan tujuan

Nilai berisi kriteria untuk memenuhi tujuan yang akan dicapai, implikasi nilai disesuaikan dengan keadaan konseli.

3. Nilai tidak sama dengan keyakinan

Nilai melibatkan kepercayaan mengenai sesuatu yang dianutu individu dan lingkungan dimana individu tersebut tinggal. Dalam hal ini nilai yang dianut individu termasuk di dalamnya adalah nilai masyarakat yang diadaptasi dengan nilai yang ada pada individu.

4. Nilai tidak sama dengan sikap

Sikap adalah satu pengaruh pengorganisasian dan penunjukan pada saat perilaku, tapi hargai lebih dari sikap semata-mata, untuk kekurangan sikap terutama semata tuduhan dari diinginkan dan adalah khususnya yang dapat dijadikan acuan ke perorangan.

5. Nilai tidak sama dengan sekedar pilihan (Gibson, 182: 1981).

Suatu nilai merupakan pilihan yang dipertimbangkan secara moral dengan penalaran atau pertimbangan estetika. Nilai tidak diperoleh secara sera merta namun melalui proses pengalaman, peristiwa, dan pertimbangan internal individu.

Setiap orang memiliki sejumlah nilai, baik yang jelas atau terselubung, disadari atau tidak. Klarifikasi nilai (value clarification) merupakan pendekatan mengajar dengan menggunakan pertanyaan atau proses menilai (valuing process) dan membantu siswa menguasai keterampilan menilai dalam bidang kehidupan yang kaya nilai. Penggunaan model ini bertujuan, agar para siswa menyadari nilai-nilai yang mereka miliki, memunculkan dan merefleksikannya, sehingga para siswa memiliki keterampilan proses menilai (Amalia, 2008).

B. Karakteristik

1. Siswa atau konseli terlibat secara aktif dalam mengembangkan pemahaman dan pengenalannya terhadap nilai-nilai pribadi, mengambil keputusan dan bertindak sesuai dengan keputusan yang diambil.

2. Mendorong siswa dengan pertanyaan-pertanyaan yang relevan untuk mengembangkan keterampilan siswa dalam melakukan proses menilai.

3. Menggali dan mempertegas nilai-nilai yang dimiliki oleh konseli.

C. Tujuan

1. Membantu siswa untuk menyadari dan mengidentifikasi nilai-nilai mereka sendiri serta nilai-nilai orang lain.

2. Membantu siswa agar mereka mampu berkomunikasi secara terbuka dan jujur terhadap orang lain, berhubungan dengan nilai-nilainya sendiri.

3. Membantu siswa agar mereka mampu menggunakan secara bersama-sama kemampuan berpikir rasional dan kesadaran emosional, untuk memahami perasaan, nilai-nilai, dan pola tingkah laku mereka sendiri (Superka, et. al. 1976).

D. Asumsi Dasar

1. Masalah individu disebabkan oleh pikiran yang irasional terhadap nilai-nilai pribadinya.

2. Nilai bersifat subjektif, ditentukan oleh seseorang berdasarkan kepada berbagai latar belakang pengalamannya sendiri.

E. Relevansi

Klarifikasi nilai dalam proses konseling digunakan untuk memperoleh informasi tentang nilai yang dianut oleh siswa, sehingga konselor tahu apa yang menjadi dasar dari perilakunya dan bagaimana konselor memposisikan diri serta pemecahan yang sesuai dengan nilai yang dianut konseli.

F. Prinsip

1. Peran konselor adalah sebagai fasilitator yang bertugas merangsang dan pendorong (motivator) bagi siswa.

2. Tumpuan perhatian diberikan pada kehidupan. Yang dimaksudkan adalah berusaha untuk mengarahkan tumpuan perhatian orang pada berbagai aspek kehidupan mereka sendiri, supaya mereka dapat mengidentifikasi hal-hal yang mereka nilai.

3. Penerimaan sesuai dengan apa adanya. Yang dimaksudkan, ketika kita memberi perhatian pada klarifikasi nilai, kita perlu menerima posisi orang lain tanpa pertimbangan, sesuai dengan apa adanya.

4. Lebih banyak merefleksi nilai daripada sekedar menerima.

5. Konseli dituntut untuk berpikir dan berbuat lebih lanjut.

G. Manfaat

Manfaat dari teknik klarifikasi nilai antara lain :

1. Melatih konseli menggali dan menemukan nilai-nilai pribadinya.

2. Melatih konseli untuk terbebas dari pikiran yang irasional.

3. Melatih konseli membuat keputusan sendiri.

4. Melatih konseli untuk menentukan baik buruk suatu hal bagi dirinya.

H. Kendala

Kendala dari teknik klarifikasi nilai antara lain :

1. Kriteria benar salah sangat relatif, karena sangat mementingkan nilai perseorangan.

2. Lebih memperhatikan proses penilaian daripada nilai-nilai.

3. Tidak membedakan secara tegas antara tindakan yang bernilai dan tindakan yang tidak bernilai.

4. Lebih banyak berbicara tentang pribadi dan kurang begitu banyak berbicara tentang masalah moralitas dan pendidikan.

I. Prosedur Aplikasi

Hal yang sangat diutamakan dalam teknik ini adalah mengembangkan keterampilan konseli dalam melakukan proses menilai. Tahapan-tahapannya dalah sebagai berikut :

1. Pengenalan dan pemahaman

Melakukan eksplorasi terhadap nilai-nilai yang dimiliki oleh konseli. Dapat dilakukan dengan cara membuat daftar (list) nilai apa saja yang dianutnya. Kemudian konselor menanyakan sejauh mana nilai-nilai itu mempengaruhi tingkah laku konseli.

2. Memilih (choosing) :

a. Dengan bebas

Konseli mengeksplorasi keluasan sistem nilai yang dimilikinya, menilik diri dalam menentukan mana sistem nilai keyakinannya yang menguntungkan dan mana yang merugikan dirinya baik secara pribadi, sosial, maupun religius.

b. Dari berbagai alternatif

Konseli mencari dan menemukan sumber-sumber informasi nilai yang umum diyakini orang, khususnya orang-orang berarti, dan mendiskusikannya bersama konselor.

c. Setelah mengadakan pertimbangan tentang berbagai akibatnya, konseli berupaya mendiskusikannya secara internal (membatin), melakukan pertimbangan nilai, bahkan perdebatan internal (disputing) mengenai keuntungan dan kelemahan sistem nilai tertentu.

3. Menghargai (prizing) :

a. Merasa bahagia atau gembira dengan pilihannya.

b. Mau mengakui pilihannya itu di depan umum

4. Bertindak (acting) :

a. Berbuat sesuatu dengan pilihannya,

Klien membuat keyakinan nilai tegas dan mencoba berbuat serta berinteraksi menurut sistem nilai pilihannya.

b. Diulang-ulang sebagai suatu pola tingkah laku dalam hidup (Raths, et. al., 1978).

5. Refleksi dan evaluasi

a. Membuat refleksi diri terhadap pilihan nilainya, pengalaman yang dirasakan, apakah ia merasa nyaman dengan pilihan nilainya.

b. Melaksanakan evaluasi apakah ia sudah merasa puas dengan pilihannya, hal-hal apa yang dirasa belum pas, apakah diperlukan revisi terhadap pilihan nilainya. Untuk melakukan evaluasi dapat menggunakan pertanyaan 5W+1H.

Makalah Aplikatif

MAKALAH APLIKATIF

TEKNIK KLARIFIKASI NILAI

1. Identitas Layanan

a. Jenis : Konseling Individu

b. Fungsi : Kuratif dan developmental

c. Masalah : Bingung menentukan nilai pribadinya

d. Sumber Media : – Konselor sebagai motivator

- Ruang konseling

e. Waktu : 2 x 45 menit

f. Pelaku : – Konselor

- Konseli

2. Identitas konseli

Nama : Arumi

Kelas : XI Bahasa

Status di keluarga : Anak tunggal

Agama : Islam

3. Gambaran Kasus

Arumi berasal dari keluarga yang harmonis. Kedua orang tuanya adalah sama-sama menjadi guru di sebuah sekolah negeri di dekat tempat tinggalnya.

Saat ini Arumi mempunyai pacar yang bernama Andre. Mereka sudah 2 tahun berpacaran. Pada awalnya gaya berpacaran mereka tergolong sehat. Namun setelah memasuki tahun ke-2 Andre mulai menunjukkan sikap agresifnya. Andre seringkali memeluk, mencium, dan pada suatu hari ia pernah meminta kepada Arumi untuk melakukan hubungan seks. Arumi seringkali menolak semua yang diminta Andre karena dia merasa belum sepantasnya melakukan hal-hal yang demikian. Karena Arumi sudah tidak tahan dengan sikap Andre, ia memutuskan hubungan dengan Andre. Namun sebenarnya Arumi masih sangat menyayangi Andre. Akhirnya Arumi bercerita kepada Arini, sahabatnya. Akan tetapi Arini malah menganggap sikap Andre adalah suatu hal yang wajar dan keputusan Arumi untuk mengakhiri huBungannya dengan Andre adalah keputusan yang salah. Sehingga terkadang Arumi merasa menyesal atas keputusan yang diambilnya itu. Arumi merasa bingung dengan keadaannya dan dia memutuskan untuk menceritakan hal ini kepada konselor.

4. Kompetensi

Konseli dapat menemukan dan menyadari nilainya sendiri.

5. Tujuan

a. Tujuan Umum

Konseli dapat menentukan nilai pribadinya sesuai dengan prosedur konseling.

b. Tujuan Khusus

Konseli dapat menerapkan nilai pribadinya tersebut dalam setiap pengambilan keputusan.

6. Indikator Kecapaian

a. Konseli bersedia menyadari bahwa nilai-nilai yang dianutnya sudah benar.

b. Konseli tidak mudah terpengaruh dengan nilai-nilai orang lain.

c. Konseli bersedia bertindak sesuai dengan nilai-nilai yang dianutnya.

7. Orientasi Teknik

Rasional :

Arumi mengalami masalah yang disebabkan oleh sikap Andre dan pendapat Arini dengan nilai yang dianutnya.

Konsep teknik klarifikasi nilai ialah suatu teknik untuk mendorong Arumi dalam menghubungkan pikiran dan perasaan Arumi sehingga meningkatkan kesadaran tentang nilai-nilai pribadinya. Sehingga teknik ini sesuai untuk membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh Arumi.

8. Proses Penerapan

1. Pemahaman dan pengenalan

Arumi mengeksplorasi nilai-nilai yang dimilikinya dengan membuat daftar (list) nilai-nilai yang dinutnya.

2. Memilih (choosing)

a. Dengan bebas

Konseli mengungkapkan keluasan sistem nilai yang dimilikinya. Dia mengungkapkan keuntungan dan kerugian sistem nilai yang dimilikinya.

b. Dengan berbagai alternatif

Konseli mencari dan menemukan sistem nilai yang sama bagi orang lain, khususnya orang terdekatnya dan mendiskusikannya dengan konselor.

c. Setelah mengadakan pertimbangan tentang berbagai akibatnya,

konseli berupaya mendiskusikannya secara internal (membatin), melakukan pertimbangan nilai, bahkan perdebatan internal (disputing) mengenai keuntungan dan kelemahan dari sistem nilai tertentu.

3. Menghargai (prizing) :

a. Konseli merasa bahagia atau gembira dengan pilihannya.

b. Konseli mau mengakui pilihannya itu di depan konselor.

4. Bertindak (acting) :

a. BerBuat sesuatu sesuai dengan pilihannya.

b. Diulang-ulang sebagai suatu pola tingkah laku dalam hidup.

5. Refleksi dan evaluasi :

Konselor mengarahkan konseli untuk membuat refleksi diri terhadap pilihannya dan melakukan evaluasi terhadap pilihan nilainya.

9. Sampel skrip

Skenario I

Konseli : (mengetuk pintu dan mengucap salam)

Tok…tok…tok… Assalamu’alaikum…

Konselor : (membuka pintu dan menjabat tangan konseli)

Wa’alaikum salam…. Eh, Arumi…. Silahkan masuk…

(menutup pintu)

Silahkan duduk di kursi yang menurut kamu nyaman..

Konseli : Terima kasih, Bu… Saya duduk di sini saja.

Konselor : Bagaimana kabar kamu hari ini, Arumi?

Konseli : Baik, Bu….(menunduk)

Konselor : Oh ya, Ibu dengar kamu dicalonkan sebagai gitapati marcing band sekolah kita ya?

Konseli : Benar, Bu… Tapi saya juga belum yakin terpilih karena saingannya juga berat (tersenyum)

Konselor : Tapi kamu harus tetap optimis, Arum… Lagipula Ibu lihat kamu juga sangat berbakat di bidang itu.

Konseli : Terima kasih, Bu…

Konselor : (tersenyum) Baiklah, Arumi. Sehubungan dengan kedatangan kamu ke ruangan Ibu ini, mungkin ada sesuatu yang ingin Arumi bicarakan dengan Ibu?

Konseli : (tertunduk sambil meremas-remas tangannya)

Konselor : (menyentuh tangan konseli) Kamu tidak perlu khawatir atau pun takut Arumi…Bicaralah… Ibu akan sangat senang kalau kamu mau berbagi dengan Ibu.

Konseli : Begini, Bu… Saya sedang ada masalah…(tertunduk lagi)

Konselor : Iya, Arumi sedang ada masalah. Kalau boleh Ibu tahu masalahnya apa?

Konseli : Begini, Bu, saya habis putus sama Andre Bu….

Konselor : Arumi putus dengan Andre….

Konseli : Iya, Bu… Soalnya saya sudah tidak tahan dengan sikapnya yang terlalu agresif.

Konselor : Arumi tidak tahan dengan sikap Andre yang terlalu agresif… Bisakah Arumi ceritakan lebih jelas bagaimana sikap agresif Andre itu?

Konseli : Iya, Bu… Saya juga tidak tahu kenapa tapi setelah lama kami pacaran, dia sangat agresif. Dia beraninya mencium dan melakukan lebih lebih dari itu, contohnya suatu ketika dia minta saya untuk mau melakukan hubungan seks dengan dia, Bu…. (menunduk lagi)

Konselor : Andre bersikap seperti itu pada kamu…. Lalu apa yang Arumi lakukan?

Konseli : Pada awalnya saya tidak keberatan kalu dia mencium saya tapi setelah dia minta saya melakukan hubungan yang lebih ya saya tolak Bu, tapi sering Andre masih minta hal itu, makanya saya memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini karena apa yang dilakukan dia itu sebenarnya berseberangan dengan prinsip saya dan saya juga tidak pernah diajari oleh orang tua untuk melakukan hubungan itu sebelum menikah.

Konselor : Ibu bisa memahami apa yang kamu rasakan Arumi. Apakah ada orang lain yang tahu tentang hal ini selain Ibu?

Konseli : Ada, Bu…Arini, sahabat saya. Tapi sewaktu saya menceritakan hal tersebut, eh malah dia menganggap kalau sikap Andre itu wajar dan keputusan saya untuk memutuskan Andre itu salah. Makanya saya bingung, Bu…. Di sisi lain saya juga masih sayang sama Andre kan sudah 2 tahun lebih kami bersama.

Konselor : Wajar jika kamu masih sayang dengan Andre karena sudah lama bersama. Lalu apakah menurut kamu pendapat Arini itu benar?

Konseli : Ya salah, Bu… Karena kami belum menikah jadi belum sepatutnya dan sepantasnya kami melakukan hal tersebut.

Konselor : Jadi menurut Arumi pendapat itu salah… Sekarang apa yang kamu rasakan setelah berpisah dengan Andre dan berbeda pendapat dengan Arini?

Konseli : Saya bingung, Bu.. Dan saya ragu apakah keputusan saya benar atau salah… Kadang saya masih merasa menyesal dengan keputusan saya..

Konselor : Hm… Ibu bisa memahami perasaan Arumi saat ini.

Konseli : Sekarang saya sudah tidak pernah menghubungi Andre lagi, Bu. Begitu juga dengan Andre. Sedangkan Arini, ia seolah selalu menghindar ketika berpapasan atau bertemu saya. Nampaknya ia benar-benar tidak sependapat dengan keputusan saya…

Konselor : Baiklah, Arumi. Jadi bisa disimpulkan bahwa kamu sedang mengalami kebingungan dengan nilai-nilai pribadi kamu. Kalau begitu Ibu akan mencoba membantu menyelesaikan masalah kamu. Arumi, Ibu ingin kamu membuat daftar nilai yang Arumi miliki. Silahkan ditulis pada lembar ini.

Konseli : Iya, Bu…. (menulis)

Sudah selesai, Bu…

Konselor : Baiklah, sekarang menurut Arumi, hubungan seks sebelum menikah itu nilai yang bagaimana?

Konseli : Ya tidak baik, Bu, malahan itu merupakan hal yang dilarang agama dan tidak dibenarkan juga oleh masyarakat kita.

Konselor : Kalau begitu apakah hal itu bertentangan dengan nilai yang Arumi miliki?

Konseli : Tentu saja, Bu. Hal itu bertentangan dengan nilai agama saya.

Konselor : Berarti Arumi telah mampu mencari dan menentukan nilai kamu sendiri. Arumi berpendapat bahwa hubungan seks sebelum nikah adalah hal yang dilarang oleh agama dan bertentangan dengan nilai agama. Benar begitu?

Konseli : Benar, Bu..

Konselor : Karena Arumi telah menemukan nilai Arumi sendiri, maukah Arumi menunjukkan nilai yang kamu pilih sendiri kepada orang- orang sekitar terutama pada Arini?

Konseli : Bersedia, Bu.

Konselor : Baiklah Arumi, sekarang Ibu memberi tugas pada kamu untuk mempraktikkan apa yang telah Ibu ajarkan. Kita akan bertemu beberapa hari lagi untuk melakukan evaluasi terhadap kamu. Arumi bersedia?

Konseli : Iya, Bu. Saya bersedia.

Konselor : Baiklah karena waktu berakhir maka pertemuan ini kita akhiri sampai disini.

Konseli : Baik, Bu. Kalau begitu saya mohon pamit. Terima kasih Bu. Assalamu’alaikum..

Konselor : Wa’alaikum salam…

(mengantarkan sampai pintu)

Skenario II

Konseli : (mengetuk pintu dan mengucap salam)

Tok…tok…tok… Assalamu’alaikum…

Konselor : (membuka pintu dan menjabat tangan konseli)

Wa’alaikum salam…. Silahkan masuk, Arumi…

(menutup pintu)

Silahkan duduk di kursi yang menurut kamu nyaman..

Konseli : Terima kasih, Bu… Saya duduk di sini saja.

Konselor : Bagaimana kabar kamu hari ini, Arumi?

Konseli : Baik sekali Bu..

Konselor : Oh ya.. Ibu dengar Arumi terpilih menjadi gitapati marcing band.. Selamat ya, Arumi… (sambil tersenyum dan menepuk pundak Arumi)

Konseli : Terima kasih, Bu… Saya tidak menyangka bisa menjadi gitapati terpilih. Ibu telah memberikan semangat kepada saya sehingga saya terpilih menjadi gitapati marcing band. Semoga saya bisa melaksanakan tugas ini dengan baik.

Konselor : (menganggukkan kepala sambil tersenyum)

O ya.. Bagaimana dengan tugas yang Ibu berikan? Apakah ada kesulitan?

Konseli : Tidak ada, Bu. Saya sudah berbicara pada Arini tentang nilai-nilai yang saya miliki. Pada awalnya Arini secara mentah menolak apa yang saya ungkapkan. Dia tidak setuju dengan keputusan saya. saya pun merasa khawatir dia tidak mau lagi menganggap saya sebagai sahabatnya. Namun ternyata pada akhirnya ia mau menerima keputusan saya, Bu. Bahkan ia dengan lapang dada mendukung apa yang saya pilih ini. Saya merasa lega sekali.

Konselor : Baiklah, sekarang kita lakukan evaluasi terhadap nilai yang Arumi pilih. Apakah Arumi sudah puas dengan nilai yang Arumi pilih? Atau mungkin Arumi ingin merevisi nilai pilihanmu itu?

Konseli : Saya sudah puas dengan nilai yang saya pilih itu, Bu, dan saya merasa itu sudah cocok dengan apa yang saya inginkan. Saya tidak ingin merevisi karena saya merasa sudah menemukan nilai yang tepat untuk diri saya.

Konselor : Hm… Bagus, Arumi. Pertahankan nilai yang telah kamu anggap cocok itu. Jadikanlah nilai-nilai itu sebagai tolok ukur dan dasar dari semua perilku dan keputusan yang akan kamu ambil.

Konseli : Ya, Bu. Saya mengerti…

Konselor : Baiklah Arumi, adakah hal lain yang ingin Arumi bicarakan dengan Ibu?

Konseli : Tidak ada, Bu. Terima kasih telah banyak membantu saya menyelesaikan masalah ini. Saya mohon pamit.

Konselor : Ya, Arumi. Jika kamu merasa ada yang ingin kamu bicarakan dengan Ibu, datanglah lagi kemari, tidak perlu sungkan.

Konseli : Baik, Bu. Terima kasih. Assalamu’alaikum…

Konselor : Wa’alaikum salam…

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: