Oleh: lutfifauzan | November 21, 2009

KOMUNIKASI YANG POSITIF

KOMUNIKASI YANG POSITIF
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah “ Keterampilan Dasar Komunikasi”
Yang dibimbig oleh Bpk. Drs. Lutfi Fauzan M.Pd

Oleh: kelompok 7
BK Off A 2008
Diah Megawati 108111409894
Faidatur Robiah 108111415066
Ria Handayani 108111415089
Shofiyatul Fikriyah 108111415083
Vidyanto Zubriant 108111415084

UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN BIMBINGAN KONSELING DAN PSIKOLOGI
PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING
Oktober 2009

KATA PENGANTAR

Mengapa kita berkomunikasi? Apakah fungsi komunikasi bagi manusia? Pertanyaan ini begitu luas, bisa dilihat dari berbagai sudut pandang, sehingga mudah kita jawab. Para pakar selama ini lebih fasih membahas “ bagaimana berkomunikasi” daripada “ mengapa kita berkomunikasi”. Dari perspektif agama, secara gampang kita bisa menjawab bahwa Tuhan-lah yang mengajari kita berkomunikasi, dengan menggunakan akal dan kemampuan berbahasa yang dianugerakan-Nya kepada kita.
Al-Qur’an mengatakan, “ Tuhan yang Maha Pemurah, yang telah mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia, yang mengajarinya pandai berbicara “ ( Ar-Rahman: 1-4 ). Dan juga dalam surah Al-Baqoroh ayat 31-33, yang berbunyi :
“ Dan Dia mengajarkan kepada Adan nama-nama benda seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat, lalu Allah berfirman , “ Sebutlah kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu orang-orang yang benar!”. Mereka menjawab; “ Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang Engkau ajarkan kepada kami, seseungguhnya hanya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. Allah berfirman, “ Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama benda-benda ini “!. Maka stelah diberitahukannya kepada mereka nama benda-benda itu. Allah berfirman, “ Bukanlah sudah kukatakan kepadamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan “.

Malang,27 Oktober 2009 M.

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dunia komunikasi sebagai proses berhubungan antar individu atau antar kelompok yang tak lepas dari komponen komunikator. Sebuah komunikasi bisa diisi oleh orang-orang yang berkualitas dalam mengungkapkan pesan. Komunikator yang berkualitas tersebut tidak akan dikuasai jika tidak memenuhi kriteria seorang komunikator.
Komunikasi sebagai proses individu/seseorang (komunikator) yang mengirimkan stimulus (biasanya dalam bentuk verbal/ kata kata) untuk memberikan pengaruh atau memodifikasi tingkah laku orang lain (komunikan) [Sosiolog Hovland, Janis dan Kelley, dan Ruben]. Oleh karena itu penulis akan membahasnya dalam makalah yang berjudul Komunikator dalam Proses Komunikasi.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengertian komunikasi iut?
2. Bgaimana komunikasi itu disebut positif?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengertian komunikasi.
2. Mengetahui komunikasi positif.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar
1. Komunikasi
1). Pengertian Komunikasi
Mendefinisikan komunikasi merupakan hal yang menantang. Katerine Miller (2005) manggaris bawahi hal ini dengan menyatakan bahwa “ terdapat benyak konseptualisasi mengenai komunikasi, dan konseptualisasi ini telah mengalami benyak perubahan dalam tahun-tahun terakhir ini “ (hal. 3). Sarah Trehnholm (1991) menyatakan bahwa walaupun studi mengenai komunikasi telah ada selama berabad-abad, tidak berarti bahwa komunikasi telah dipahami dengan baik. Bahkan, Trenholm dengan provokatif memberikan ilustrasi tentang dilema yang dihadapi dalam usaha mendefinisikan istilah tersebut. Ia menyatakan bahwa “ Komunikasi telah menjadi semacam istilah ‘ portmanteau’ (istilah yang terbentuk dari gabungan dua kata, misalna brunch, yang merupakan gabungan dari kata breakfast dan lunch).
Keunikan memegang peranan penting dalam mendefinisikan komunikasi. Para ahli cendering melihat fenomena manusia melalui sudut pandang mereka sendiri. Bahkan, terkadang mereka menciptakan batasan-batasan ketika berusaha menjelaskan suatu fenomena kepada orang lain. Ahli dalam bidang komunikasi akan melakukan pendekatan yang berbeda dalam menginterprestasikan komunikasi karena nilai-nilai yang mereka miliki juga berbeda. Maka ada satu definisi mengenai komunikasi agar kita memiliki pandangan yang sama; Komunikasi (communication) adalah proses social dimana individu-individu menggunakan symbol-simbol untuk menciptakan dan menginterpretasikan makna dalam lingkungan mereka.
Ketika menginterpretasikan komunikasi secara social, maksud yang disampaikan adalah komunikasi selalu melibatkan manusia serta interaksi. Artinya, komunikasi selalu melibatkan dua orang, pengirim dan penerima. Keduanya memainkan peranan yang penting dalam proses komunikasi. Ketika komunikasi dipandang secara social, komunikasi selalu melibatkan dua orang yang berinteraksi dengan berbagai niat, motivasi, dan kemampuan. Kemudian, ketika membicarakan komunikasi sebagai proses, hal ini berarti komunikasi bersifat berkesinambungan dan tidak memiliki akhir. Komunikasi juga dinamis, kompleks, dan senantiasa berubah.

2). Komunikasi sebagai Aksi, Interaksi, dan Transaksi
 Komunikasi sebagai aksi: Model linear
Pada tahun 1949, Claude Shannon, seorang ilmuan Bell Laboratories dan seorang professor di Massachusett Institute of Technology, dan Warren Weaver, seorang konsultan pada sebuah proyek do Sloan Foundation, mendeskripsikan komunikasi sebagai proses yang linear. Mereka tertarik pada teknologi radio dan telepon dan ingin mengembangkan suatu model yang dapat menjelaskan bagaimana informasi melewati berbagai saluran (channel). Hasilnya adalah konseptualisasi dari model komunikasi linear (linear communication model).
Pendekatan pada komunikasi manusia ini terdiri atas eberapa elemen kunci. Sebuah sumber (source), atau pengirim pesan, mengirimkan pesan (message) pada penerima (receiver) yang akan menerima pesan tersebut. Si penerima adalah orang yang akan mengartikan pesan tersebut. Semua dari komunikasi ini terjadi dalam sebuah saluran (channel), yang merupakan jalan untuk berkomunikasi. Saluran biasanya berhubungan langsung dengan indera penglihatan, perasa, penciuman, dan pendengaran.
 Komunikasi sebagai interaksi: Model interaksi
Model linear berasumsi bahwa seseorang hanyalah pengirim atau penerima. Tentu saja hal ini merupakan pandangan yang sangat sempit tehadap partisipan-partisipan dalam proses komunikasi. Oleh karenya, Wilbur Schramm (1954) mengemukakan bahwa kita juga harus mengamati hubungan antara seorang pengirim dan penerima. Ia mengonseptualisasikan model komunikasi interaksional ( interactional model of communication), yang menekankan proses komunikasi dua arah diantara para komunikator. Dengan kata lain komunikasi berlangsung dua arah: dari pengirim kepada penerima dan dari penerima kepada pengirim. Proses melingkar ini menunjukkan bahwa komunikasi selalu berlangsung. Pandangan interaksional megilustrasikan bahwa seseorang dapat menjadi baik pengirim maupun penerima dalam sebuah interaksi, tetapi tidak dapat menjadi keduanya sekaligus.
 Komunikasi sebagai transaksi: Model transaksional
Model komunikasi transaksional (Barnlund, 1970) menggaris bawahi pengiriman dan penerimaan pesan yang berlangsung secara terus-menerus dalam sebuah episode komunikasi. Mengatakan bahwa komunikasi bersifat transaksional berarti mengatakan bahwa proses tersebut kooperatif; pengirim dan penerima sama-sama bertanggung jawab terhadap dampak dan efektifitas komunikasi yang terjadi. Dalam komunikasi yang linear, makna dikirim dari satu orang ke orang lainnya. Dalam model interaksional, makna dicapai melalui umpan balik dari pengirim dan penerima. Dalam model transaksional, orang membangun kesamaan makna. Apa yang dikatakan orang dalam sebuah transaksi sangat dipengaruhi oleh pengalamannya di masa lalu.

2. Komunikasi yang positif
1) Pengertian komunikasi positif
Komunikasi positif dapat dikatakan secara mudah, sebenarnya yaitu, dimana terjadi suatu komukasi dengan intensi adanya pencapaian pengertian yang sama antara kedua belah pihak terhadap peasan yang disampaikan dengan tetap melakukan respectk dalam prosesnya kalau tidak ada kompenan dari yang diatas maka larinya komunikasi tersebut adalah negative, artinya tidak ada komunikasi dan perolehan yang ditimbulkannya berdampak pada kebosanan, adanya asumsi image yang kurang baik mungkin perpecahan, kalau ada komunikasi positif semuanya dapat dilakukan malah berbuah sinergi.
Memang ada yang berperan sebagai Devil Advokat dalam suatu komunikasi sebuah kelompok. Tetapi itu biasanya dilakukan dalam suatu tim dan bermaksud mengarahkan kelompok tersebut agar melakukan sesuatunya lebih baik lagi atau dengan kata lain yang melakukan devil advokat harus berintensi untuk memajukan kelompoknya. Tapi kalau intensinya untuk menunjukkan kesalahan orang lain dan menonjolkan diri, disini komunikasi akan berlari ke arah negatif alias tak akan ada achievement yang akan dihasilkan kelompok tersebut.
2) Empatik
Komunikasi yang empatik sebenarnya bukan mengandung bahwa semua harus seragam, tetapi komunikasi ini dilakukan karena komponen sender dan receiver pernah memiliki kesamaan experience (Frame of Reference) atau setidaknya similar terhadap pesan yang disampaikan sehingga antara kedua komponen tersebut akan lebih saling menghargai satu sama lain. Kalau sudah terjadi menghargai satu sama lain, jarng terjadi intense yang berlawanan. Maka Komunikasi yang empatik biasanya akan mengarah kepada komunikasi yang positif.
Sekarang mengenai soal appearance atau the way someone behave his/ herselves tentu akan mempengaruhi dalam komunikasi face to face non verbal komunikasi sangat berperan sekali terhadap hasil komuniksi tersebut. Non verbal komunikasi inilah yang biasanya akan lebih mendominasi apakah ada intensi yang akan menciptakan saling pengertian mengenai pesan atau tidak.
Mengenai Norma dan kepentingan, hal ini harus kita lihat dengan konteks yang terjadi dan dimana kita berada dalam konteks tersebut jangan berfikir menang kalah, karena itu bukan zamaqnnya lagi, tetapi berikan everybody is a winner (win-win situation) karena achievement yang dihasilkan akan jauh lebih besar. Maksudnya kepentingan kita akan memberikan dampak yang lebih besar lagi dengan menggunakanwin-win situation ini. Apabila terjadi konflik, hal itu sangat wajar, namun harus bisa kita kelola dengan sebaik-baiknya.
3) Komunikasi efektif
Menurut Effendi, komunikasi yang positiF adalah komunIkasi yang menimbulkan efek tertentu sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Beberapa efek komunikasi adalah sebagai berikut:
a. Efek kognitif, yaitu efek yang berkaitan dengan pikiran, nalar, atau rasio. Misalnya, komunikasi menyebabkan orang yang semula tidak tahu menjadi tahu, yang semula tidak mengerti menjadi mengerti, atau yang semula belum sadar menjadi sadar.
b. Efek afektif, yaitu efek yang berhubungan dengan perasaan. Misalnya, komunikasi menyebabkan orang yang semula merasa tidak senang menjadi senang atau yang semula merasa takut atau malu menjadi berani.
c. Efek konatif, yaitu efek yang menimbulkan iktikad untuk berperilaku tertentu dalam arti melakukan suatu tindakan atau kegiatan yang bersifat fisik atau jasmaniah. Misalnya, komunikasi menyebabkan siswa yang semula malas belajar menjadi rajin.
Ketiga efek diatas saling berhubungan satu sama lain. Efek konatif tercapai jika efek kognitif dan afektif sudah tercapai. Komunikasi akan berhasil secara efektif apabila komunikator menggunakan bahasa yang dapat dipercaya, pesan yang disampaikan adalah sesuatu yang berguna, pesan disampaikan secara jelas, marik, dan objektif, menggunakan media, ekspresi tubuh yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi, ada keserasian antara pemberi dan penerima pesan, dan ada lingkungan atau suasana yang cukup mendukung.

B. Menciptakan Komunikasi yang positif
1. Menjadi komunikator yang positif
Komunikasi yang positif dapat diartikan sebagai proses tersampaikannya tujuan, pesan, gagasan serta perasaan dengan cara yang baik dalam kontak sosial yang baik pula. Kemampuan berkomunikasi dan mempengaruhi orang lain sangat penting. Tidak hanya dalam acara formal saja tetapi juga di dalam kehidupan sehari-hari. Ada beberapa cara agar komunikator dapat menyampaikan message dengan baik, yaitu:
a. Mempersiapkan dan Mengenali Medan
Langkah pertama adalah pengenalan dan persiapan. Sebelum berkomunikasi sebaiknya kita harus tahu tentang tujuannya kita melakukan komunikasi. Mengapa harus berkomunikasi? Tujuannya apa? Selanjutnya adalah mengenali jenis komunikasi yang akan dilakukan. Apakah itu public speaking, negosiasi, laporan, atau justru komunikasi tulisan.
Dan yang terpenting adalah pengenalan situasi dan kondisi. Komunikasi ini dalam rangka apa? Di mana tempatnya? Kondisinya bagaimana? Waktunya kapan? dengan mempersiapkan dan mengenali terlebih dahulu medannya, kita bisa menyusun strategi yang tepat. Jadi, bagaimana cara kita menyampaikannya (how). Cara pendekatannya seperti apa? Tentu saja strategi pendekatan ini akan berbeda-beda sesuai dengan kondisi medan serta tujuan dari komunikasi itu sendiri.
b. Memiliki Sikap Positif
Setelah persiapannya matang, kita perlu bersikap positif di dalam berkomunikasi. Memiliki sikap rendah hati, hormat, menghargai, perhatian, dan empati. Miliki sikap percaya diri. Menempatkan lawan bicara dalam posisi yang tepat dan adil. Tidak meninggikan, tidak pula merendahkan.
Salah satu sikap positif yang sangat penting adalah menjadi pendengar/penyimak yang baik. Apalagi jika kita berkomunikasi dialogis. Apa yang dikatakan seseorang mempunyai maksud. Maka tangkaplah maksud itu. Lalu tanggapi. Jangan ragu untuk memuji jika lawan memang baik. Berikan feedback yang positif dengan tulus apa adanya. Jujurlah dan bersikplah positif di setiap komunikasi.
c. Memperhatikan Perilaku Eksternal
Ada tujuh macam perilaku eksternal yang perlu kita perhatikan. Terutama jika kita sedang melakukan public speaking atau presentasi. Perilaku eksternal tersebut adalah: suara, mata, wajah, gerak isyarat, postur, penampilan serta gerakan.
Penampilan yang baik akan membuat kita lebih yakin dan percaya diri. Penampilan bisa memberikan kita kekuatan. Banyak orang mempersepsikan siapa kita dari pakaian kita. Penampilan luar membentuk persepsi.
d. Memanfaatkan Kepribadian dan Alat Bantu.
Ada kepribadian tertentu yang menarik sebagai pembicara. Hal itu adalah aset bagus yang perlu dikembangkan. jadilah diri sendiri. Apapun kepribadian kamu. Miliki gaya sendiri. Dengan membangun kreatifitas dan energi. Jaga stamina dengan makanan yang bergizi, istirahat yang cukup serta olah raga. sehingga mempunyai cukup energi untuk menyalakan antusiasme dan menggiring orang kepada motivasi. Mengarahkan pembicaraan kepada aksi.

2. Cara mendengar dalam berkomunikasi
“… Begitu anda menonton film nanti, perhatikan cara para bintang film berbicara kepada actor lainnya. Untuk menjadi seorang actor yang besar. Seorang harus mampu, baik menjadi seorang pendengar yang ulung maupun pembicara yang efektif. Kata-kata pembicara tercermin dalam wajah pendengarnya bahaikan suatu cermin. Ia dapat mengambil suatu adegan dari pembicara kepasihannya dalam mendengarkan. Seorang sutradara film terkenal pernah mengatakan bahwa banyak actor gagal menjadi bintang film karena mereka tidak pernah mempelajari seni mendengarkan secara kreatif”.
(Betgerr, 1995:88).
Berbicara sebagai keterampilan dasar manusia dalam berkomunikasi sering kita bahas, namun sangat sedikit yang mengulas bagaimana cara mendengar yang baik. Sedangkan mendengar hampir sulit bisa dilakukan oleh kebanyakan orang, padahal dengan mendengarlah ilmu bisa diserap, sebuah masalah bisa dipecahkan dan sebuah gagasan bisa diwujudkan. Oleh karena manusia diciptakan Tuhan dengan satu mulut dan dua pendengaran yang seharusnya proporsi mendengar harus lebih banyak daripada berbicara. Rata-rata para pemimpin dunia memiliki kemampuan mendengar yang baik, selain kemampuan berbicara.
Sebagaimana diungkapkan oleh Benjamin Franklin mengungkapkan :
“Mengingat bahwa dalam pembicaraan pengetahuan lebih banyak diperileh melalui telinga daripada melalui mulut. Saya memberikan tempat kedua kepada sikap diamdiantara keutamaan yang hendak saya kembangkan”.(Betgerr, 1995:92)
Sedangkan Frank Betgerr (1996) mengungkapkan bahwa :
“dalam pembicaraan, pengetahuan lebih banyak diperoleh melalui telinga daripada melalui mulut, saya memberikan tempat kedua kepada sikap diam diatara keutamaan yang hendak saya kembangkan”.
Hasil penelitian Rankin (1929) dan Bierker (1980) menunjukan bahwa mendengar merupakan sarana komunikasi yang paling banyak digunakan, dapat lihat table dibawah ini :
Perbandingan skill communication :
No Skill comunication 1929 1980
1. Mendengar 45% 53%
2. Berbicara 30% 16%
3. Membaca 16% 17%
4. Menulis 9% 14%
Sumber : B.S.Wibowo,etal, TRUSTCO, 2002 :191.
1) Seni mendengarkan
Ketika berbicara, biasanya kita mendengarkan dalam salah satu dari lima tingkat :
a. Kita mungkin mengabaikan orang itu dan benar-benar tidak mendengarkannya.
b. Mungkin berpura-pura tidak mendengarkannya
c. Mendengarkan tapi lebih selektif pada bagian-bagian tertentu dari pembicaraan.
d. Mendengarkan secara atentif dan menaruh perhatian dan memfokuskan enegi pada kata-kata yang diucapkannya.
e. Mendengarkan secara empatik, mendengarkan untuk mengerti tapi untuk menjawab persoalan yang ada. Dalam arti mendengar bukan hanya dengan telinga saja tetapi dengan mata dan hati.
Dengan melihat tingkatan mendengar diatas maka mendengarkan membutuhkan keterampilan khusus, sebagaimana berbicara. Karena mendengarkan adalah cerminan pribadi seseorang,
sebagaimana diungkapkan oleh David J. Schwartz (1996:154) mengungkapkan bahwa :
“… semakin besar orang yang bersangkutan, semakin cenderung ia mendorong anda untuk berbicara, semakin kecil orang yang bersangkutan semakin cenderung ia mengkhotbahi anda”.
Kebanyakan pemimpin yang baik didalam semua bidang kehidupan menghabiskan jauh lebih banyak waktu meminta nasehat dan meminta pendapat bawahannya daripada banyak berbicara.
Diantara keterampilan mendengar diungkapkan BS.Wibowo,dkk (2002:92) dari kupasan Geoff Nightingale dalam Synergenic antara lain :
 Dengarkan gagasannya bukan fakta dan tanyalah diri sendiri apa yang pembicara maksudkan.
 Nilailah isinya, bukan cara penyampaiannya.
 Dengarkan dengan penuh harapam, jangan langsung kehilangan minat
 Jangan cepat menarik kesimpulan
 Sesuaikan pencatatan anda dengan pembicaraan
 Pusatkan perhatian, jangan mulai bermimpi dan jagalah mata anda agar tetap tertuju pada pembicaraan.
 Jangan mendahului pikiran pembicara, anda akan kehilangan jejak.
 Dengarlah dengan sungguh-sungguh waspada dan bergairah.
 Kendalikan emosi waktu mendengar
 Bacalah fikiran anda, berlatihlah untuk menerima informasi baru.
 Bernafaslah perlahan dan dalam-dalam
 Jangan tegang santai sajalah.
Sedangkan menurut James K. Van Fleet (1996:179) dalam bukunya : “Key to Success with people” mengungkapkan seni mendengar yang efektif sebagai berikut :
 Berikan sepenuh hati pada orang lain
 Mendengarkan dengan serius
 Tunjukan minat pada perkataan orang
 Usahakan bebas gangguan
 Tunjukan kesabaran
 Bukalah pikiran anda
 Dengarkan setiap gagasan
 Hargai isinya, bukan cara penyampaiannya.
 Turunkan senapan anda
 Belajarlah mendengarkan apa yang tersirat.
Sedangkan David J Swartz dalam bukunya “The Magic of Thinking Big” (1996: 154) mengungkapkan seni mendengar kedalam tiga tahapan dan untuk menguatkannya dengan cara bertanya dan mendengarkan :
 Dorong orang lain berbicara
 Uji pandangan anda dalam bentuk pertanyaan
 Berkonsentrasilah pada apa yang dikatakan orang lain.
Demikianlah beberapa teknik dalam mendengar yang dalam praktiknya membutuhkan adanya jiwa besar. Mendengar dan bertanya bukan menunjukan kebodohan seseorang tetapi menunjukan kualitas hidupnya, apalagi bagi seorang pemimpin.
3. Adab / Etika dalam komunikasi
Etika berasal dari bahasa yunani yaitu ethos yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat kebiasaan di mana etika berhubungan erat dengan konsep individu atau kelompok sebagai alat penilai kebenaran atau evaluasi terhadap sesuatu yang telah dilakukan.
Berikut di bawah ini adalah beberapa etika dan etiket dalam berkomunikasi antar manusia dalam kehidupan sehari-hari :
1. Jujur tidak berbohong
2. Bersikap Dewasa tidak kekanak-kanakan
3. Lapang dada dalam berkomunikasi
4. Menggunakan panggilan / sebutan orang yang baik
5. Menggunakan pesan bahasa yang efektif dan efisien
6. Tidak mudah emosi / emosional
7. Berinisiatif sebagai pembuka dialog
8. Berbahasa yang baik, ramah dan sopan
9. Menggunakan pakaian yang pantas sesuai keadaan
10. Bertingkahlaku yang baik

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Komunikasi positif dapat dikatakan secara mudah sebenarnya, yaitu dimana terjadi suatu komunikasi dengan intensi adanya pencapaian pengertian yang sama antara kedua belah pihak terhadap pesan yang disampaikan dengan tetap melakukan respect dalam prosesnya. Kalau tidak ada komponen dari yang di atas, maka larinya komunikasi tersebut adalah negatif, artinya, tidak ada komunikasi dan perolehan yang ditimbulkannya berdampak pada kebosanan, adanya asumsi/ image yang kurang baik, dan mungkin perpecahan.
B. Saran
Komunikasi positif sangat diperlukan dalam kehidupan sosial. Disamping komunikator dapat menyampaikan pesan yang kemudikan ditangkap oleh komunikan secara terbuka dan baik. Dan seni komunikasi ini dibutuhkan agar tidak sampai terjadi suatu permasalahan yang berkelanjutan yang nantinya akan mengancam kehidupan bermasyarakat dan kestabilitasan Negara.

DAFTAR RUJUKAN
Elqorni, A.2007. Seni Mendengar yang Efektif. http://elqorni.wordpress.com.
Fauzan, L., Hidayah, N., & Ramli, M. 2008. Teknik- Teknik Komunikasi Untuk Konselor. Malang: UPTBK UM.
Godam64. 2008. Etika dalam Berkomunikasi. http://organisasi.org.
Mulyana, D. 2005. Ilmu Komunikasi; Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
http://www.google.komunikasi empati message Fwd. komunikasi positif and ….( diunduh pada hari Rabu, 21 Oktober 2009 M.).
West, R & Turner, L.H. 2008. Pengantar Teori Komunikasi; Analysis dan Aplikasi terjemahan dari Introducing Communication Theory: Analysis and Application. Jakarta; Salemba Humanika.

LAPORAN HASIL DISKUSI KELOMPOK 7
Moderator : Vidyanto zubriant (108111415084)
Bag
Pertanyaan :
1. Tolong jelaskan maksud kalimat ” dengarkan gagasannya bukan fakta dan tanyailah diri sendiriapa yang pembicara maksudkan ” pada al. 9 tentang seni mendengarkan! (sdr. Indra)
2. Mengapa efek konatif dalam berkomunikasi dapat tercapai jikalau efek kognitif & afektif telah tercapai? tolong jelaskan!. (sdri. puji Wahyuni)
3. Apakah kondisi seseorang itu berpengaruh terhadap tercapainya komunikasi yang positif? (sdri. Deni)
Jawaban atau pendapat tim penyaji
1. Yang dimaksudkan ialah alahkah baiknya kita mendengarkan, tanpa mengungkit-ungkit tentang kebenaran apa yang dia katakan, untuk menjaga komunikasi dan menghindarkan dari konflik-konflik komunikasi dan tentu saja untuk menjaga perasaannya, karena itulah, disebut dengan seni mendengarkan. (sdri. Shofiatul Fikriyah)
2. Karena efek kognitif & afektif merupakan serangkaian sistem untuk menuju efek konatif. (sdri. Mega & Faidatur Rohmah)
3. Tentunya sangat berpengaruh sekali. Dikarenakan tingkat kestabilan emosi seseorang sangat penting dan berpengaruh dalam pembentukan komunikasi yang positif. (sdri. Ria handayani)
Pendapatat Audensi
1. Pertanyaan no.1
- Yang penting didengarkan dulu, masalah pembicaraan tersebut merupakan fakta atau bukan itu belakangan, karena untuk menjaga perasaan orang yang berbicara pada kita (komunikan). (sdr. Andrian & Briant)
- Jangan hanya terlalu asik mendengarkan, tetapi juga harus juga disertai dengan respon. 9sdri. Memey)
- Responlah dengan bahasa verbal (sdri. Dwi karinda)
- Kalau ingin merespon dengan bahasa verbal sebaiknya lihat karakteristik orangnya dulu. (sdri. Shofiatul F)
- Berikan respom secukupnya baik dengan bahasa verbal maupun non verbal tanpa mengurangi tujuan komunikasi yang positif. (sdr. briant)
2. Pertanyaan no. 3
- Ketenangan emosi diri sangat penting untuk membentuk komunikasi positif (sdri. Shofiatul F)
- Ada baiknya kalau kita ingin bertanya atau berpendapa, dicatat dulu konsep yang akan ditanyakan. ditulis atau dihafalkan dengan baik. (sdri. memey)
- Tips : Pandanglah lawan bicara kita satu jengkal diatasnya untuk mengurangi grogi saat berkomunikasi. (sdr. Indra)
- Jangan memandang lawan bicara itu sejengkal diatas kita, tetapi harus menghormati dia dengan sewajarnya dan bentuklah sikap positif. (sdr. Hamim sbgai bentuk sanggahan)
Bag. II
Pertanyaan
1. Jika kita menjadi pendengar yang seperti dijelaskan oleh tim penyaji, respon apa yang sebaiknya kita berikan? (sdri. Thersia mbau)
2. Dalam Bab II tentang pengertian komunikasi, terdapat kalimatyang menyatakan ” adanya asumsi image yang kurang baik “, tolong jelaskan! (sdri. memey)
Jawaban atau pendapat penyaji
1. Selain mendengarkan, tentunya juga harus memberikan respon. baik itu dengan verbal maupun nonverbal. Intinya harus ada timbal balik. (sdri. Shofiatul F)
2. Itu adalah penyebab komunikasi yang berjalan negatif, karena adanya asumsi image yang kurang baik (su’udzon, steorotip) akan mengakibatkan komunikasi yang dihasilkan berbalik menjasi komunikasi yang negatif. ( sdr. Briant)
Pendapat Audensi
1. Pertanyaan no. 1
Idem dengan pendapat tim penyaji. (sdri.Memey, Dwi Karinda & Shofia Sukma)


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: