Oleh: lutfifauzan | November 5, 2009

PERANAN PERSEPSI DALAM KOMINIKASI

PERANAN PERSEPSI DALAM KOMINIKASI

MAKALAH

Untuk memenuhi tugas
Mata Kuliah Bimbingan dan Konseling Pribadi-Sosial
Yang dibina oleh Drs. Lutfi Fauzan, M. Pd

Oleh:
1. Ahmad Faisal A. J / 208111415664
2. Dhebrina S / 208111411591
3. Friska Agustin / 208111411603
4. Meita Silvia / 208111415665

UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
PROGAM STUDI BIMBINGAN & KONSELING
OKTOBER 2009

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar belakang
Komunikasi merupakan bagian dari kehidupan manusia yang tidak dapat dipisahkan dengan aktifitas yang mewarnai kehidupan itu sendiri. Proses komunikasi sendiri tak lepas dari adanya persepsi yang dibentuk oleh pikiran kita yang ditangkap oleh alat indera dan terproses dengan kolaborasi ingatan.
Komunikasi yang kurang diimbangi dengan adanya persepsi yang tepat dapat menyebabkan kesalahan dalam menyampaikan informasi. Banyak terjadi kesalahpahaman sebagai akibat dari persepsi yang salah pada satu pihak yang melakukan komunikasi. Akibatnya ialah bermacam-macam seperti pertikaian, konflik hingga permusuhan. Namun persepsi sendiri juga tidak sedikit memiliki peran yang mampu menguatkan informasi itu sendiri. Oleh karena itu penulis mengambil judul PERAN PERSEPSI DALAM KOMUNIKASI.

I.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis memberikan rumusan sebagai berikut:
1. Apakah pengertian dari persepsi?
2. Bagaimana proses terbentuknya persepsi?
3. Apakah peranan persepsi dalam komunikasi?
4. Apakah dampak perbedaan persepsi?
5. Bagaimana upaya menyelaraskan persepsi?
I.3 Tujuan
Sedangkan tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk
1. Mengetahui pengertian dari persepsi?
2. Mengetahui proses terbentuknya persepsi?
3. Mengetahui peranan persepsi dalam komunikasi?
4. Mengetahui dampak perbedaan persepsi?
5. Mengetahui upaya menyelaraskan persepsi?
BAB II
PEMBAHASAN
II.1 Pengertian Persepsi
Dilihat dari berbagai sumber, persepsi diartikan sebagai proses dengan mana kita menjadi sadar akan banyaknya stimulus yang mempengaruhi indra kita. Persepsi adalah proses mental yang terjadi pada diri manusia yang akan menunjukkan bagaimana kita mendengar, melihat, merasakan, dan meraba disekitar kita dengan indera.
Menurut William James, persepsi adalah pengalaman yang terbentuk berupa data-data yang di dapat melalui indera, dan merupakan hasil pengolahan otak dan ingatan. Sedangkan menurut penulis, persepsi adalah sebuah proses berpikir yang ditangkap oleh alat indera yang berasal dari lingkungan sebagai wujud hasil pengolahan otak dengan ingatan.

II.2 Proses Terbentuknya Persepsi
Disini penulis akan membahas berbagai hal yang sangat erat kaitannya dengan bagimana persepsi itu terjadi, proses yang mempengaruhi persepsi dan atribusi (attribution).
1. Proses persepsi
Proses terjadi karena adanya stimulus yang merangsang untuk ditangkap oleh panca indra, merangsang dalam arti menarik, kemudian stimulus yang berupa objek tersebut dibawa ke otak dan terjadi adanya kesan atau jawaban (respon) sebagai hasil kerja indra berupa persepsi.
Proses persepsi ini memerlukan perhatian, yakni konsep yang diberikan pada proses yang menseleksi input-input tertentu untuk diikut sertakan dalam suatu pengalaman yang kita sadari dalam waktu tertentu.
Penulis dapat mengilustrasikan bagaiman persepsi bekerja dengan menjelaskan berbagai langkah yang terlibat dalam proses ini. Tahap-tahap ini tidaklah saling terpisah benar namun dalam kenyataan ketiganya bersifat kontinyu, bercampur baur dan bertumpah tindih satu dengan yang lain.

Tahap tersebut ialah:
a. Terjadinya Stimulasi Alat Indra (Sensory Stimulation)
Pada tahap pertama alat-alat indra distimulasi (dirangsang), misalnya mendengar suara musik, meskipun kita memiliki kemampuan pengindraan untuk merasakan stimulus, kita tidak selalu menggunakannya. Sebagai contoh, bila anda melamun di kelas, anda tidak mendengar apa yang dikatakan guru sampai dia memanggil nama anda, barulah anda sadar. Ini merupakan contoh yang jelas bahwa kita akan menangkap apa yang bermakna bagi kita dan tidak menangkap apa yang kelihatannya tidak bermakna bagi kita.
b. Stimulasi Terhadap Alat Indra Diatur.
Pada tahap kedua, rangsangan terhadap alat indra diatur menurut berbagai prinsip. Salah satunya adalah prinsip proksimitas (proximity), atau kemiripan yaitu orang atau pesan yang secara fisik mirip satu sama lain dipersepsikan bersama-sama, atau sebagai satu kesatuan (unit). Contohnya kita mempersepsikan orang yang sering kita lihat bersama-sama sebagai satu unit (sebagai satu pasangan).
Prinsip yang lain yaitu kelengkapan (closure), kita memandang atau mempersepsikan suatu gambar atau pesan yang dalam kenyataannya tidak lengkap sebagai gambar atau pesan yang lengkap. Contohnya, kita mempersepsikan potongan lingkaran sebagai lingkaran penuh meskipun sebagian dari gambar itu tidak ada. Kita akan melengkapi pesan yang kita dengar dengan bagian-bagian yang tampaknya logis untuk melengkap pesan itu. Kemiripan dan kelengkapan hanyalah dua diantara banyak prinsip pengaturan yang akan kita singgung.
c. Stimulasi Alat Indra Ditafsirkan-Dievaluasi.
Langkah ketiga dalam perceptual adalah penafsiran-evaluasi. Langkah ketiga ini merupakan proses subyektif yang melibatkan evaluasi di pihak penerima. Penafsiran-evaluasi kita tidak semata-mata didasarkan pada rangsangan luar, melainkan juga sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, kebutuhan, keinginan, sistem nilai, keyakinan tentang seharusnya, keadaan fisik dan emosi pada saat itu, dan sebagainya yang ada pada kita.
Banyak peluang bagi penafsiran mendapatkan pengaruh yang beragam. Walaupun kita semua menerima sebuah pesan, cara orang-orang menafsirkan dan mengevaluasinya tidaklah sama. Penafsiran-evaluasi ini juga akan berbeda dari satu orang yang sama dari waktu ke waktu. Suara musik pop-rock bagi seseorang mungkin terdengar hingar bingar namun bagi sebagian orang itu mungkin terdengar sebagai musik yang indah.
Perbedaan individu ini janganlah sampai membutakan kita akan validitas beberapa generalisasi tentang persepsi. Meskipun generalisasi ini belum tentu berlaku untuk seseorang tertentu, tampaknya ia berlaku untuk sebagian cukup besar orang.

2. Proses yang mempengaruhi persepsi
Kita akan mempelajari 6 proses utama yang mempengaruhi persepsi. (Cook, 1971; Rubin,1973; Rubin dan McNeil, 1985) Teori kepribadian implisit (implicit personality theory), ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya (self-fulfilling prophecy), aksentuasi perseptual (perceptual accentuation), primasi resensi (primacy-recency), konseisten (consistency), dan setereotiping (stereotyping).
a. Teori kepribadian implicit.
Ketika kita membaca pernyataan-pernyataan singkat berikut ini. Karakteristik dalam tanda kurung yang kelihatannya paling cocok untuk melengkapi kalimat tersebut akan muncul dengan sendirinya dari persepsi kita:
John bergirah, memiliki rasa ingin tahu yang besar, dan (cerdas, kurang cerdas)
Joe periang, lincah, dan (langsing, gemuk)
Jane menarik, cerdas, dan (disukai, dibenci)
Kata tertentu tampaknya benar dan lainnya kelihatannya salah. Yang membuatnya kelihatan benar adalah teori kepribadian implisit, sistem aturan yang mengatakan bahwa seseorang yang bergairah mempunyai rasa ingin tahu yang besar pasti juga cerdas. Tentu saja, tidak ada alasan logis untuk mengatakan bahwa orang yang tidak cerdas tidak dapat bergairah dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar.
“Efek halo” yang banyak dikenal merupakan fungsi dari teori kepribadian imlpisit kita. Jika kita percaya bahwa seseorang mempunyai sejumlah kualitas positif, kita menyimpulkan bahwa ia juga mempunyai kualitas positif yang lain. “Efek halo terbalik” juga ada. Jika kita tahu bahwa seseorang memiliki kualitas negative, kita cenderung menyimpulkan bahwa orang itu memiliki kualitas negative yang lain.
Hambatan potensial, dua hambatan serius terhadap persepsi yang akurat seringkali timbul bila seseorang menerapkan teori kepribadian implicit:
• Mempersepikan kualitas-kualitas dalam diri seseorang menurut “teori” seharusnya dimilikinya, padahal kenyataannya tidak demikian.
• Mengabaikan karakteristik atau kualitas yang tidak sesuai dengan teori ini.

b. Proses ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya
Ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya terjadi bila kita membuat perkiraan atau merumuskan keyakinan yang menjadi kenyataan karena kita meramalkannya dan bertindak seakan-akan itu benar. Ada empat langkah dasar dalm proses ini:
1. Kita membuat prediksi atau membuat keyakinan tentang seseorang atau situasi. Misalnya kita meramalkan bahwa si A adalah orang yang cangggung dalam hubungan antar pribadi.
2. Kita bersikap kepada orang atau situasi tersebut seakan-akan ramalan atau keyakinan kita benar. Misalnya, di depan si A kita bersikap seakan-akan dia memang orang yang canggung.
3. Karena kita bersikap demikian (seakan-akan keyakian kita benar), ia menjadi kenyataan. Misalnya, karena cara kita bersikap di depan si A, maka dia menjadi tegang dan “salah-tingkah” dan menunjukkan kecanggungan.
4. Kita mengamati efek kita terhadap seseorang atau akibat terhadap situasi, dan apa yang kita saksikan memperkuat keyakinan kita. Misanya, kita menyaksikan kecanggungan si A, dan ini memperkuat keyakinan kita bahwa ia merupakan orang yang canggung.
Efek Pigmalion (Pygmalion Effect). Merupakan contoh yang termasyhur tentang ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya (Rosenthal & Jacobson, 1968; Jamieson, Lydon, Stewart, & Zanna, 1978). Dalam sebuah penelitian tentang efek ini, guru-guru diberitahukan bahwa beberapa murid tertentu diperkirakan berprestasi luar biasa—bahwa mereka hanya terlambat muncul. Para peneliti sebenarnya memilih nama-nama murid ini secara acak saja. Murid-murid yang namanya terpilih ternyata memang berpretasi lebih baik dari pada murid yang lainnya. Harapan dari pra guru ungkin membangkitkan perhatian ekstra pada murid-murid ini, dan karenanya secara positif mempengaruhi kinerja mereka.
Hambatan potensial, ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya dapt menimbulkan sua hambatan. Kecenderungan kita untuk memenuhi sendiri ramalan kita dabat meyebabkan kita:
• Mempengaruhi perilaku orang lain sehingga sesuai dengan ramalan kita.
• Melihat apa yang diramalkan ketimbang apa yang sebenarnya.

c. Aksentuasi Perseptual
“Tiada rotan akar pun jadi” adalah pepatah yang banyak kita jumpai dalam komunikasi. Untuk menjadi calon actor, peran sekecil apapun dan seperti apapun dalam sebuah film lebih baik dari pada tidak sama sekali. Proses ini yang dinamai aksentuasi perceptual, membuat kita melihat apa yang kita harapkan dan kita inginkan.
Dalam penelitian yang dilaporkan oleh Zick Rubbin (1973), mahasiswa-mahasiswa ria ikut serta dalam penelitian yang mereka angggap sebagai dua penelitian yang terpisah dan tidak berkaitan satu sama lain. Padahal sebenarnya keduanya adalah dua bagian dari eksperimen tunggal. Pada bagian pertama, masing-masing responden membaca sebuah bacaan. Setengah responden membaca bacaan yang merangsang. Setengahnya lagi membaca kisah tentang burung-burung camar di lautan. Pada bagian kedua dari eksperimen ini, responden diminta untuk menilai mahasiswi berdasarkan foto dan deskripsi diri mahasiswi ini. Seperti diduga, kelompok yang membaca bacaan yang merangsang menilai mahasiswi itu sebagai lebih menarik ketimbang kelompok yang lain. Selanjutnya responen yang mengharapkan berkencan dengan mahasiswi menilainya sebagai lebih reseptif seksual dari pada responden yang di beri tahu bahwa mereka akan diminta untuk berkencan dengan mahasiswi yang lain. Walaupun eksperimen itu secara dramatis mendemonstrasikan aksentuasi perceptual, proses umum yang sama terjadi setiap hari, yaitu orang yang haus melihat bayangan air (fatamorgana).
Hambatan potensial
• Mendistorsikan persepsi kita mengenai realitas, membuat kita melihat apa yang yang kita butuhkan atau inginkan dari pada pada kenyataan yang ada, dan tidak melihat apa yang tidak ingin kita lihat.
• Menyaring atau mendistorsi informasi yang mungkin merusak atau mengancam citra diri kita dan dengan demikian sangat mempersulit upaya peningkatan diri.
• Memandang orang lain memiliki karakteristik atau kualitas negatif yang sebenarnya ada pada diri kita—psikoanalisis mekanisme defenif (defense mechanism) menamai ini proyeksi.
• Melihat dan mengingat kualitas atau karakteristik positif lebih dari pada yang negatif (dinamai efek poliana), dan dengan demikian mendistorsi persepsi kita tentang orang lain.
• Merasakan perilaku tertentu dari orang lain sebagai menunjukkan bahwa ia ingin menyukai kita hanya karena sebenarnya kita ingin disukai.
d. Primasi-Resensi
Dalam penelitian awal tentang efek primasi-resensi pada presepsi antar pribadi, Solomon Asch (1946) membacakan daftar ajektif (kata sifat) yang menguraikan seseorang di depan sekelompok responden dan menjumpai bahwa pengaruh urutan sangat penting. Orang yang dilukiskan sebagai “cerdas, tekun, implusif, kritis, keras kepala, dan dengki’ dinilai lebih positif dibandingkan dengan orang yang dilukiskan sebagai “dengki, keras kepala, kritis, implusif, tekun, dan cerdas”.
Implikasi disini adalah bahwa kita menggunakan informasi yang datang lebih dulu untuk mendapatkan gambaran umum seperti apa gambaran itu. Kemudian kita menggunakan informasi yang datang belakangan untuk membuat gambaran umum ini lebih spesifik.
Implikasi praktis dari efek primasi-resensi ini adalah bahwa kesan pertama yang tercipta tampaknya paling penting. Melalui kesan pertama ini, orang lain akan menyaring tambahan informasi untuk merumuskan gambaran tentang seseorang yang mereka persepsikan.
Hambatan potensial.
• merumuskan gambaran “menyeluruh” tentang seseorang berdasarkan kesan awal yang belum tenu akurat.
• Mendistorsi persepsi yang akan datang kemudian untuk merusak kesan pertama kita. Sebagi contoh, anda mungkin tidak memperhatikan tanda-tanda kecurangan yang telah memberikan kesan pertama yang baik.

e. Konsistensi
Seseorang menpunyai kecenderungan yang kuat untuk menjaga konsistensi atau keseimbangan diantara persepsi-persepsinya. Konsisten menggambarkan kebutuhan untuk melihat keseimbangan di antara sikap-sikap yang dimiliki. Kita akan memperkirakan bahwa hal-hal tertentu selalu muncul bersama-sama dan hal-hal lain tidak akan muncul bersama-sama.

Menurut kebanyakan teori konsistensi, harapan kita akan muncul bersama-sama sebagai berikut :
1. Kita berharap seseorang kita sukai menyukai
2. Dan orang yang tidak kita sukai untuk tidak menyukai kita
3. Kita berharap seorang teman akan menyukai teman kita yang lain
4. Dan tidak menyukai musuh kita
5. Kita berharap musuh kita tidak menyukai teman kita
6. Dan menyukai musuh kita yang lain
Konsistensi dapat menimbulkan hambatan utama :
• Mengabaikan atau mendistorsi persepsi tentang perilaku yang tidak konsestensi dengan gambaran kita mengenai seseorang secara utuh.
• Mempersepsikan perilaku spesifik sebagai terpancar dari kualitas positif orang yang kita sukai dan dari kualitas orang yang tidak kita sukai. Oleh karenanya kita tidak mampu melihat perilaku positif maupun negative.
• Melihat perilaku tertentu sebagai positif jika perilaku yang lain ditafsirkan sebagi positif (efek halo) atau sebagai negative jika perilaku yang lain diafsirkan secara negatif (efek halo terbalik).

f. Stereotiping
Jalan pintas yang sering digunakan dalam persepsi adalah stereotyping. Awal mulanya stereotype adalah istilah dalam bidang percakapan yang mengacu pada suatu pelat yang mencetak citra (gambar atau tulisan) yang sama berulang-ulang.
Misal : jika kita berjumpa dengan seorang tuna susila, kita akan menganggap bahwa semua ciri yang dimilki kelompok tuna susila dimiliki pula oleh orang lain. Lebih rumit lagi kita mungkin melihat dalam perilaku orang ini manifestasi dari berbagai karakteristik yang tidak akan kita lihat kalau saja kita tidak tahu bahwa orang ini adalah tuna susila. Stereotype mendistorsi kemampuan kita untuk mempersepsikan orang lain secara akurat. Stereotipe menghalangi kita untuk melihat seseorang sebagai seseorang dan bukan sekedar sebagai anggota suatu kelompok.
Stereotype dapat menimbulkan hambatan utama kecenderungan kita untuk mengelompokkan orang ke dalam kelas-kelas dan bereaksi terhadap seseorang terutama sebagai anggota kelas-kelas ini dapat membuat kita :
• Mempersepsikan seseorang seakan-akan memiliki kualitas-kualitas tertentu (biasanya negative yang kita yakini merupakan cirri kelompok di mana ia menjadi anggotanya (misalnya, semua orang di bawah nauangan bintang Venus bersifat malas) dan karenanya tidak mampu mengenali sifat multiaspek dari semua orang dan semua kelompok.
• Mengabaikan ciri khas yang dimilki seseorang dan karenanya tidak mampu menarik manfaat dari kontribusi khusus yang dapat diberikan setiap pihak dalam suatu perjumpaaan.

3. Membuat Persepsi Lebih Akurat
Efektivitas komunikasi dan hubungan bergantung sebagian besar pada keakuratan kita dalam persepsi antarpribadi. Kita dapat meningkatkan akurasi kita dengan :
1. Startegi untuk mengurangi ketidakpastian
Asumsi umum yang digunakan di sini ialah bahwa komunikasi merupakan proses bertahap gradual di mana orang saling mengurangi ketidakpastian tentang yang lain. Dengan tiap-tiap interaksi anda semakin mengenal pihak lain dan secara beranggsur-angsur mulai mengenal orang itu pada tingkat yang lebih bermakna. Charles Berger dan James Bradac (1982) mengidentifikasi 3 strategi utama untuk mengurangi ketidakpastian : strategi pasif, aktif dan interaktif.
 Strategi pasif
Strategi mengamati orang lain tanpa orang itu sadar bahwa dia sedang kita amati dan kita menerapkan strategi pasif.
 Strategi aktif
Strategi yang aktif mencari informasi tentang seseorang dengan cara apa pun selain berinteraksi dengan orang itu, kita menerapkan strategi aktif. Kita memanipulasi lingkungan dengan cara tertentu sehingga kita dapat mengamati seseorang secara lebih spesifik dan jelas. Wawancara lamaran pekerjaan, menonton teater, atau mengajar mahasiswa merupakan contoh-contoh cara di mana orang memanipulasi situasi untuk melihat bagaimana seseorang mungkin beraksi dan bereaksi, dengan demikian mengurangi ketidakpastian tentang orang itu.
 Strategi interaktif
Strategi dengan berinteraksi dengan seseorang, kita menerapkan strategi interaktif.

II.3 Peran Persepsi
Persepsi memiliki beberapa peran diantaranya
1. Menilai suatu keadaan dan mengenali apa yang tengah kita amati
2. Bertindak sesuai dengan rangsangan yang tertangkap oleh indra

II.4 Dampak Perbedaan Persepsi
Persepsi yang merupakan bentuk hasil berpikir bisa saja berbeda antara orang satu dengan yang lainnya. Perbedaan ini biasanya disebabkan oleh perbedaan pengalaman yang pernah dirasakan setiap orang. Misalnya saja bagi si A ketika melihat temannya tertunduk sambil memegang kepala sudah menunjukkan bahwa teman tersebut pusing. Tapi berbeda dengan si B yang memendang bahwa teman tersebut sedang berpikir keras.
Perbedaan persepsi ini akan berdampak pada perbedaan perlakuan yang akan kita tunjukkan atau respon kita. Selain hal ini dampak lain misalnya timbulnya konflik karena perbedaan respon.

II.5 Upaya menyelaraskan Persepsi
Di samping menghindari hambatan-hambatan potensial dalam berbagai proses persepsi yang di kemukakan sebelumnya dan menerapkan ketiga strategi untuk mengurangi ketidakpastian serta menyelaraskan persepsi. Beberapa saran yang akan membantu :
1. Sebaiknya kita mencarilah berbagi petunjuk yang menunjuk kearah yang sama. Makin banyak petunjuk perceptual yang menuju ke arah yang sama, makin besar kemungkinan kesimpulan kita benar
2. Berdasarkan pengamatan kita atas perilaku, maka dapat kita rumuskan hipotesis
3. memperhatikan petunjuk-petunjuk yang kontradiktif, petunjuk yang akan menolak hipotesis awal
4. Jangan menarik kesimpulan sampai kita memiliki kesempatan untuk memproses beragam petunjuk
5. Ingat bahwa betapa pun banyaknya perilaku yang kita amati dan betapa pun cermatnya kita meneliti perilaku ini, kita hanya dapat menduga apa yang ada dalam benak orang lain
6. Jangan menganggap orang lain seperti kita, berpikir seperti cara kita berpikir atau bertindak seperti yang kita lakukan, menyadari keragaman manusia
7. Waspada terhadap bias kita sendiri sebagai contoh hanya menerima hal-hal positif pada diri orang yang anda sukai dan hanya menerima hal-hal yang negative pada diri orang yang tidak kita sukai.

BAB III
PENUTUP

III. 1 Kesimpulan
Persepsi adalah pengalaman yang terbentuk berupa data-data yang di dapat melalui indera, dan merupakan hasil pengolahan otak dan ingatan
Proses Terbentuknya Persepsi
– Proses persepsi
– Proses yang mempengaruhi persepsi
– Membuat Persepsi Lebih Akurat

Peran Persepsi
1. Menilai suatu keadaan dan mengenali apa yag tengah kita amati
2. Bertindak sesuai dengan rangsangan yang tertangkap oleh indra

Dampak Perbedaan Persepsi
Perbedaan persepsi akan berdampak pada perbedaan perlakuan yang akan kita tunjukkan atau respon kita. Selain hal ini dampak lain misalnya timbulnya konflik karena perbedaan respon.
III. 2 Saran
Makalah ini kuranglah dari sempurna, jadi kami mohon saran dan kritiknya demi kesempurnaan makalah ini. Terima kasih.

Daftar Pustaka
DeVito,J.A.1997.Komunikasi Antar Manusia,Kuliah Dasar.Alih bahasa oleh Agus Maulana. Jakarta: Profesional Books
Lutfi Fauzan, dkk.2008. Teknik-Teknik Komunikasi Untuk Konselor. Universitas Negeri Malang


Responses

  1. maksiiii..)

    blog ini sgt brmnfaat dlm tgs saia….


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: