Oleh: lutfifauzan | Agustus 9, 2009

Thought Stopping

MENGENDALIKAN PIKIRAN NEGATIF DENGAN THOUGHT STOPPING

Lutfi Fauzan

Seorang mahasiswi didera kecemasan kronis karena sudah tiga semester mengerjakan skripsi namun belum tampak harapan terang untuk segera selesai. Pinginnya sih segera selesai, menikmati senangnya diwisuda dengan diantar keluarga, foto bersama keluarga dan calon pendamping, bekerja dan menikah. Orang tua sering menanyakan, “Kapan kamu selesai nak? Bapakmu sudah pensiun, kita semakin berat menyediakan biaya…” Apa daya kemajuan ke arah penyelesaian tugas akhir kuliah tersebut masih tersendat-sendat. Kesulitan yang ia alami bukan sekedar segi akademik melainkan problem emosional. Ia mendapat pembimbing skripsi yang cara berbicara dan raut wajahnya sepintas seperti ayahnya. Hal ini mengingatkannya pada masa kecil dalam pengasuhan orang tua. Bapaknya memiliki gaya otoriter, apa yang dikatakan tidak boleh dibantah atau ia akan mendapat bentakan yang lebih keras dan pukulan fisik.

Ada pengalaman yang sangat membekas, ketika adiknya melakukan kesalahan ternyata ia yang disalahkan. Ia ingin memberikan penjelasan tetapi tidak diberi kesempatan. ”Saya dijadikan tertuduh, sakit rasa hati saya. Semasa kecil Saya sering berharap seandainya ayah mati atau tidak pernah ada”. Ketika Saya respon, ”Kalau ayah nggak pernah ada, kan kamu nggak akan ada juga…” ia tertawa menyadari kekonyolannya. Dengan latar belakang pengalaman masa kecil seperti itu, sekarang setiap berhadapan dengan pembimbing skripsi ia merasakan seperti berhadapan dengan ayahnya. Takut untuk membantah (benar-benar tidak ada khazanah respon, SAPA TAKUT?!). Setiap mau berbicara untuk memperoleh penjelasan lebih gamblang tentang maksud pak pembimbing rasanya mulut terkatup dengan kuat, kecuali mengatakan ”Ya Pak” dan ”Ya Pak”, termasuk ketika pak pembimbing berbicara hal-hal filosofis yang ia tidak nyambung sama sekali, cilakak lah. Pandangan yang belum teruji, seperti: ”orang ini seperti ayah saya”, ”saya tidak boleh membantahnya”, ”dia tidak mungkin mengerti saya” diikuti cemas dan anggapan dalam pola ”jangan-jangan ….” membuat dia tidak bisa mengembangkan komunikasi yang berimbang dan sehat. Oleh karena yang dikatakan pembimbing sering merupakan hal-hal yang baru, maka ia merasakan tuntutannya selalu berkembang. Ia sudah melacak ke internet, mencari bahan pustaka ke beberapa perpustakaan PT di Surabaya (daerah asalnya) dan UGM Yogyakarta sampai harus menginap di kota tersebut (untung diantar ayahnya), namun belum terpenuhi. Dengan berderai air mata ia tumpahkan keluhan dan segala perasaan yang mendera. Saya pun memberi kesempatan kepadanya untuk menangis. Lupa membawa sapu tangan, Saya berikan tissue yang senantiasa tersedia di ruang konseling — di ruang konseling tidak dilarang menangis, dan tidak perlu malu, bahkan konselor menganjurkan untuk menangis jika ingin menangis agar terjadi proses pelegaan.

Tangisan bisa melegakan namun belum menyelesaikan semua persoalan, sebab belum menukik pada pengelolaan sumber masalah. Dengan tangisan sebagian beban emosional berkurang tetapi problem emosional akan kembali muncul dan mengganggu sebelum diselesaikan. Pada kasus di atas problem emosional bersumber pada adanya pikiran yang negatif: bayang-bayang sikap dan perlakuan ayah di masa lalu. Setiap kali menemui pembimbing, yang muncul adalah bayangan perlakuan ayah semasa kecil dan respon yang dikhawatirkan akan ia terima. Bayangan dan kekhawatiran ini merupakan pikiran negatif yang menghambat pertumbuhan pribadi pada umumnya. Masalah ini dapat diatasi dengan teknik thought stopping, dan biasanya diikuti dengan cognitive restructuring (Insya Allah dibahas pada terbitan berikutnya).

Mengaplikasikan Thought Stopping pada Diri
Thought stopping merupakan keterampilan memberikan instruksi kepada diri sendiri (swaperintah) untuk menghentikan alur pikiran negatif melalui penghadiran rangsangan atau stimulus yang mengagetkan. Mengapa diperlukan stimulus yang mengagetkan, didasarkan pada pandangan bahwa pikiran itu ketika beroperasi akan berjalan seperti aliran sungai. Aliran pikiran ini dapat dibuyarkan atau dihambat jalannya sehingga terputus melalui cara pemblokiran. Secara sederhana dapat diberikan contoh yang biasa terjadi pada orang yang sedang melamun. Ketika melamun, kita terbawa oleh aliran angan-angan. Begitu ada yang mengagetkan, misalnya: ada yang menegur, ”Heh ngelamun aja!” atau ada yang mendorong punggung kita dengan mengatakan, ”Harri giinih ngelamunria” maka kita kembali pada kesadaran, melamun tidak berlanjut. Begitu kan menurut pengalaman Anda? Demikian halnya dengan pikiran negatif yang mengganggu seseorang. Pemunculannya dapat diblokir atau dikacaukan alirannya dengan instruksi ”TIDAK” atau ”STOP”. Maksudnya setiap muncul pikiran negatif yang mengganggu yang menimbulkan masalah emosional dan perilaku dapat kita hentikan dengan menyengaja menghentikan dengan mengatakan tidak atau stop pada diri kita sendiri. Jika hal itu dilatihkan dan dilakukan berulang-ulang, maka akan terbentuk semacam mekanisme kendali pada diri kita setiap kali muncul pikiran negatif. Pikiran negatif itu dengan serta merta berhenti dan tidak mengganggu emosi dan kewajaran perilaku kita lagi.

Model Penghentian
Ada dua macam cara menghentikan pikiran negatif: overt dan covert. Cara yang pertama menghentikannya dengan mengucapkan (bersuara) kata-kata ”STOP” atau ”TIDAK”, sedangkan yang ke dua dengan isyarat atau niatan batin saja. Melalui isyarat, misalnya dengan menepuk atau mencubit anggota tubuh tertentu. Keduanya juga dapat diterapkan secara bersama, kata-kata dan isyarat.
Untuk sampai pada tinagkat terampil dan efektif penggunaannya kita bisa melatihnya. Langkahnya mulailah dengan menciptakan keadaan rileks. Bila kondisi rileks tercapai mulailah munculkan pikiran negatif yang selama ini sering muncul dan mengganggu Anda. Biarkan beberapa saat pikiran itu menari-nari di panggung pikiran Anda. Kemudian ucapkanlah kata ”STOP” diikuti isyarat ke tubuh dengan niat menghentikan pikiran itu. Lakukan hal ini berulang-ulang sehingga menjadi siap pada saat diperlukan. Selamat mencoba.

Telah dimuat pada Majalah Kampus UM, KOMUNIKASI Nomor 250 Juni-Juli 2007

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: