Oleh: lutfifauzan | Desember 13, 2013

Tugas Projek

Tugas Projek Kuliah Konseling Kelompok

Kerjakanlah tugas berikut ini:

1.Susunlah Rancangan Pelaksanaan Pelayanan Konseling Kelompok

•Tentukanlah satu masalah pokok yang sedang Anda alami saat ini.
•Pergunakanlah masalah itu sebagai topik konseling kelompok.
•Susunlah rancangan pelaksanaan konseling kelompok sejak dari tahap prakelompok sampai dengan pascakelompok dalam sejumlah sesi pertemuan untuk sejumlah anggota kelompok.
•Pada tahap working langkah-langkahnya disesuaikan dengan model yang Anda pilih.
•Rancangan pelaksanaan konseling dituangkan dalam format RPLBK yang pada setiap momen tahapan dan langkah dibuatkan sampel verbatimnya.

1.Berikanlah penjelasan mengenai rancangan konseling kelompok yang telah Anda buat berkenaan dengan alasan memilih model, prinsip-prinsip konseling yang dijadikan acuan, dan gaya kepemimpinan konselor dalam mengelola proses dan menerapkan teknik konseling kelompok.

Selamat bekerja.

Hasil dikirim via surel lutfialfauzan@gmail.com (ditempatkan sebagai lampiran) pada 19 Des 2013 antara pukul 06.00 s.d. 18.00, dengan nama file KK.nama awal Anda.NIM 3 angka terakhir

Oleh: lutfifauzan | September 6, 2013

monitoring konseling permulaan

FORMAT PENGAMATAN KONSELING PERMULAAN

Konselor yang diamati: ……………………………..

ASPEK KINERJA KOMENTAR

PRAKONSELING
•Kesiapan konselor
o fisik,
o psikis
•Pengaturan setting
o tata ruang,
o tempat duduk
•Penyiapan instrumen
o alat rekam audio,
o alat tulis,
o instrumen data,
o bibliokonseling
o data awal konseli

INISIASI (Pembinaan hubungan)
•Penyambutan konseli
o salam,
o sebut nama,
o senyum,
o jabat tangan,
o mempersilakan masuk ruang,
o mempersilakan duduk,
o menutup pintu,
o menempatkan diri pada posisi menerima
•Penciptaan hubungan baik
o menanyakan khabar,
o mengganjar kehadiran,
o topik netral,
o fokus perhatian

TRANSISI
•Strukturing
o pertimbangan waktu,
o ajakan kerjasama,
o harapan keberhasilan,
o jaminan kerahasiaan dan batasan lain yang diperlukan,
berpindah ke inti

Oleh: lutfifauzan | Januari 3, 2013

Tauhid Pengikat Perbedaan

Indahnya Perbedaan dalam Ikatan Rajutan Tauhid
Lahirkan Pelangi Peradaban Hidup Kokoh Sejahtera nan Jaya

Lutfi Fauzan

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.Qs.8:46

Perbedaan merupakan bagian dari anugerah Allah, karena perbedaan bukan berarti pertentangan melainkan pasangan dan kelengkapan. Dalam pengertian ini, keberadaan perbedaan semestinya tidak melahirkan perselisihan yang berlanjut pada perpecahan yang menghacurkan nilai kehidupan berperadaban, tetapi sebagai benang emas perajut-ikat permadani kehidupan berperadaban mulia kokoh sejahtera nan jaya. Semesta pun sebagai karya-cipta Allah direntang dalam pusparagam pesona perbedaan. Dengan perbedaan itulah terbentang hunian kehidupan berkesemestaan yang indah nan kokoh. Satu sama lain saling menunjang, saling memperkuat dan saling memberikan buah manfaat bagi kelangsungan kehidupan.

Untuk sampai pada kondisi perbedaan bukan pertentangan melainkan pasangan dan kelengkapan, kesadaran nurani hati manusia perlu ditumbuhkan sampai pada tingkat menerima bahwa pusparagam perbedaan merupakan suatu hidangan indah dan agung yang dikaruniakan Allah untuk dinikmati dan disyukuri keberadaannya. Selain itu diperlukan sikap memelihara diri agar tidak secara berlebih-lebihan menjadikan perbedaan sebagai jurang pemisah dan benih perselisihan satu sama lain dari antara unsur-unsur kehidupan. Sikap dasar semacam itu terkandung pada nilai firman Allah:

وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ جَنَّاتٍ مَعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. QS.6:141

Kemahabesaran dan Kemahaluasan Allah dengan segala Keterpujian-Nya terentang-bentang pada ragam perbedaan karya-cipta-Nya. Demikianlah ketetapan Allah atas alam semesta ini, ada ragam warna, ragam rasa, ragam bentuk dan berbagai ragam perbedaan lainnya. Kesemuanya bersifat saling mengisi dan melengkapi dalam satu sistem kesetimbangan, bukan saling memusuhi dan menghancurkan. Adapun manusia selaku khalifah, pengemban amanah kehidupan di muka bumi ini diperintahkan agar merenungkan setiap ciptaan Allah yang beragam itu.

Sesaat dengan hati yang santun dan takjub pada Kekuasaan Allah, kita renungkan bagaimana keindahannya, dari perbedaan penciptaan melahirkan nilai potensi Keindahan dan Kekuatan. Tidak perlu jauh-jauh, untuk mengambil hujjah atas nilai keindahan perbedaan itu. Kita dapat melihat pada diri kita sendiri, karena Allah juga berfirman: “dan di dalam dirimu sendiri tidakkah kamu renung-fikirkan?”. Salah satu contoh yang mudah dapat kita amati adalah barisan gigi dengan bentuk dan ukuran berbeda yang menjadikannya tampak indah dan kokoh. Setiap gigi berolah fungsi tersendiri. Seandainya gigi dicipta dalam bentuk dan ukuran yang sama pasti tidak akan bisa berfungsi indah dan kokoh. Jari-jemari kita pun ada yang kecil dan besar, tinggi dan pendek, kesemuanya dalam bentuk dan fungsi yang berbeda. Ketika disatukan masing-masing potensi dan fungsi jemari itu, jadilah ia satu kekuatan kepalan (dapat berfungsi optimal sebagai peninju, pemegang dan pengendali) dan menjadi-kannya satu keindahan tersendiri dalam setiap aktivitas. Dari setiap unsur jasadiyah di dalam diri manusia memberikan nilai kontribusi produktif luar biasa dari adanya perbedaan itu.

Demikian pula dengan unsur energitis yang mencakup ketenagaan ruh, rasa, hati, aqal dan nafsu, masing-masing berbeda dalam tumbuh kembang dan fungsinya. Keberadaan, tumbuh kembang dan fungsi unsur energitis atau ruhaniah itu memerlukan ketepatan tempat dan keseiringsejalanan serta hidup saling melengkapi, terbebas dari perampasan hak hidup dan penindasan. Keadaan itu dapat terjadi hanya ketika setiap unsur senantiasa tetap terikat setia pada satu komando tunggal, Pengatur gerak, yakni Allah swt. Manakala masing-masing perbedaan baik unsur jasadiyah maunpun unsur energitis dalam diri manusia berada dan berjalan seiring-sejalan pada poros satu garis komando ketauhidan dan ketaatan pada Allah, terlahirlah manusia sebagai insan kamil pemakmur bumi dan pengokoh tiang kehidupan semesta, karena hal hidup setiap unsur semesta terjaga.

Kehidupan bersemesta terjaga kelestarian kehidupannya hanyalah jika dipersatukan dengan ketauhidan kepada Allah. Artinya semua makhluq tunduk-patuh pada ketentuan sunnatullah dalam satu garis komando Peng-Esaan Allah. Apa jadinya jika masing-masing unsur kehidupan berjalan mengikuti kehendak dan kepentingan pribadi, dipastikan kehidupan semesta hancur-luluh porak-poranda.

Begitu pula kita selaku ummat Islam yang berada dalam satu ikatan perjanjian Peng-Esaan Allah dalam satu payung Qur’an dan sunnah, semestinya menjadikan perbedaan di antara sesama lebur-bersama di telaga ketauhidan. Perbedaan bukan untuk menjadikan kita ummat yang terpecah-pecah dalam kelompok dan golongan sehingga menjadikan kita ummat yang lemah dan menjadi bahan cemoohan bagi yang lain. Sebagaimana Allah mengingatkan kita di dalam firman-Nya:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.Qs.3:1103

Tidak ada perpecahan yang ditimbulkan dari perbedaan faham atau pandangan yang tidak membawa petaka kehancuran dalam kehidupan ummat, tetapi mengapa ummat Islam tidak bisa mengambil pelajaran dari sejarah dan pengalaman yang terjadi? Apa penyebabnya?
Ummat Islam sebenarnya memiliki salah satu pakaian indah dari akhlaq mulia yaitu “pakaian malu”, saat ini pakaian malu hampir terlepas dari tubuh ummat Islam, akibatnya ummat Islam menjadi ummat yang selalu ditelanjangi dan dijadikan tontonan dan cemoohan pada segala jenis bentuk budaya ikut-ikutan dan saling menghancurkan. Inilah dampak jika antarsesama saudara seiman saling menjatuhkan melalui perbedaan faham. Satu hal yang kurang disadari ummat Islam dalam beragama cenderung mengutamakan fanatisme golongan, bukannya fanatisme ketauhidan kepada Allah. Inilah penyebab timbulnya perpecahan yang disulut oleh api perbedaan. Padahal jika masing-masing pribadi ummat Islam lebur-bersatu dalam ketauhidan iman hanya pada Allah dengan menumbuh-kembangkan potensi yang berbeda akan terlahir kehidupan ummat yang kokoh; ibarat bangunan, setiap unsurnya berbeda namun semua berada pada tempatnya, saling terikat dan saling memperkuat.

Perbedaan pun menjadi fithrah bagi makluq ciptaan, sekaligus memberikan bukti nyata bagi manusia akan kemutlaqan Ke-Esaan dan Kekuasaan Allah pada ciptaan-NYA. Allah yang telah menciptakan manusia dan segala sesuatu berada dalam keadaan yang berbeda bentuk-rupa dan potensi masing-masing, Allah pula yang memberikan jalan penyatuan melalui ketaatan-kepatuhan beribadah secara tauhid sebagai satu sunnatullahnya. Pedoman dan contoh lengkap diberikan yakni Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Jika masing-masing perbedaan tunduk pada ketauhidan dan ketaatan atas kandungan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, maka semua perbedaan lebur dalam satu rajutan jala-ikat benang emas yang melahirkan ragam potensi untuk kemakmuran bumi.

Kedudukan manusia sebagai khalifah dalam tugas-fungsi selaku pemakmur bumi, dengan tujuan pokok penciptaannya untuk beribadah hanya kepada Allah memberi pesan tegas tidak ada ikatan, pandangan atau ideologi manapun dari sesuatu melainkan hanya Allah yang Esa. Pertanyaan pokok, belumkah timbul kerinduan di hati ummat Islam untuk menyatukan pusparagam perbedaan sebagai jalan kebangkitan kejayaan ummat Islam dan sekaligus menjadi ummat penentu keadaan bukan sebagaimana saat ini menjadi ummat yang serba diarah-tentukan oleh pola-pandangan kehidupan Yahudi.

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلا الَّذِينَ أُوتُوهُ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ فَهَدَى اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.

Dari Firman Allah tersebut dapatlah kita mengambil satu petunjuk kebenar-an untuk bahwa timbulnya perselisihan yang memecah-belah ummat yang disalahsikapkan dari perbedaaan disebabkan kedengkian di antara ummat itu sendiri. Api kedengkianlah yang telah menyulut kehancuran perpecahan di tubuh ummat Islam. Sedangkan Allah hanya berkehendak untuk memberi petunjuk kepada orang-orang yang selalu istiqomah di jalan yang lurus.

Dalam konteks tugas memakmurkan bumi dan cinta tanah air, umat Islam juga tidak boleh melupakan makna perbedaan sebagai kekuatan dan keindahan. Negeri kita ini pun dianugrahi Allah dengan pusparagam dan pesona perbedaan sebagai pilar-pilar untuk menjadikan negara yang kokoh-berdaulat. Karsa itu perlu dipelopori umat Islam agar setiap anak bangsa menjunjung tinggi semboyan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda namun tetap dalam satu ikatan kesatuan bangsa Indonesia dengan berpedoman setia pada nilai-nilai Pancasila yang pada dasarnya bersumber dari nilai-nilai Ilahiah. Jika hal itu tidak dilakukan yang akan terjadi adalah kekacauan dan kehancuran, karena di sisi lain perbedaan itu bisa menjadi titik rawan bagi timbulnya perpecahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ketika tolok-ukur pandangan anak bangsa bergeser pada kepentingan pribadi, kelompok atau golongan, yang berarti lepas dari kepeloporan umat Islam untuk menjunjung tinggi nilai luhur Pancasila untuk kemajuan bersama, maka ambruknya negara tak terhindarkan. Lalu?

Oleh: lutfifauzan | Januari 3, 2013

khutbah nikah

MEMBANGUN CINTA KASIH DAN MERAJUT KEBERBEDAAN DUA INSAN DALAM SULAMAN HARMONI KELUARGA ISLAMI
Lutfi Fauzan

اَلْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ اَشْهَدُ اَنْ لاَالهَ اِلاَّ اللهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَرْسَلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ
اَللّهُمَّ صَلّ وَسَلّمْ وَبَا رِكْ عَلى مُحَمَّدٍ وَعَلى الِه وَاَصْحَابِه
يَااَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَااَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَاْلاَرْحَامَ اِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَااَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعْ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Pernikahan, secara syar’i adalah ibadah; dan secara ma’nawi merupakan penya-tuan dua potensi fitrah yang berbeda. Secara pribadi di antara kedua mempelai adalah berbeda, jenis kelamin berbeda. latar belakang kehidupan keluarga ber-beda, perilaku budaya pun berbeda. Namun seperti dikatakan: “Kapal berlabuh lemparkan sauh; para penumpang turun ke darat; dua keluarga tadinya jauh; dengan pernikahan menjadi dekat.” Begitulah, karena keberbedaan yang ada hendak diikat dan dihimpun dalam kebersamaan melalui ikatan ijab-qabul per-nikahan di atas landasan dinul Islam dalam rangka penyempurnaan penghamba-an kepada Allah yang telah menanamkan benih cinta dan kasih kayang dalam setiap diri insan.

Betapa luar biasa aqad nikah ini, sekalipun dengan ucapan yang seder-hana, telah memenuhi sebagai pembeda apakah hubungan sepasang kekasih di antara dua insan itu bernilai haram ataukah halal, bernilai maksiyat ataukah ibadat, sekaligus sebagai penentu bagi dibukanya pintu laknat ataukah rahmat. Keagungan ijab qabul dalam nikah tercermin pada firman Allah:

وَاَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا

“…. Dan mereka (isteri-isteri) telah mengambil dari kalian penjanjian yang teguh.” (QS. 4: 21)

Pernikahan adalah sebuah perjanjian agung nan teguh (mitsaqan gha-lizha). Allah menggunakan kalimah mitsaqan ghalizha hanya tiga kali dalam Al-Quran: yang pertama ketika mengambil sumpah dengan para Nabi yang termasuk dalam ulul azmi; yang ke dua ketika mengikat sumpah dengan kalang-an Bani Israil; dan ke tiga ketika menetapkan kedudukan tali ikatan aqad nikah. Mengingat agungnya tali ikatan ini, maka ketika ia telah terbuhul, tekadkanlah dalam hati berdua, untuk menjaga amanah ini sejak dari awal hingga akhir hayat nanti. Dengan menempatkan niat dan tekad itu, semoga kiranya Allah swt selalu berkenan hadir dalam kehidupan kalian berdua, baik di kala suka maupun duka. Ingatlah, para Nabi yang yang memelihara mitsaqan ghalizha hidup dalam lingkup rahmat Allah, sedangkan Bani Israil yang mencederai mitsaqan ghalizha tercampak pada lautan laknat sepanjang masa. Oleh karena itu, diletak-kan di atas pundak setiap mempelai yang menyandang mahkota mitsaqan gha-lizha, hendak dibawa kemana bahtera rumah tangganya, menuju pantai-taman rahmat ataukah pulau laknat? Ingatlah, bahwa fitnah terbesar di akhir zaman yang akan melanda umat ini adalah fitnah lembaga keluarga. Ingat pula, wasiat utama Nabi saw terhadap ummatnya, di samping untuk senantiasa berpegang teguh kepada Al-Quran dan sunnah, memelihara dan menyempurnakan shalat, beliau juga mewanti-wantikan pesan terkait urusan rumah tangga. Di dalam haji wada, di antara khutbahnya, beliau menyatakan:

Wahai manusia, takutlah kepada Allah dalam urusan wanita, Sesungguhnya kamu telah mengambil mereka sebagai isteri dengan amanat Allah. Dia halalkan kehormatan mereka dengan kalimat-Nya. Sesungguhnya kamu mempunyai hak atas isterimu, dan isterimu pun berhak atas kamu. (HR. Muslim dan Turmudzi).

Oleh karena itu, sebagai nasihat untuk Ananda berdua: Nonkha Ayu Monica binti Edi Margono dan Chusnul Andi Utama bin Lili Saptori yang dengan izin Allah hendak melangsung-kan pernikahan pada hari ini, Jumat, 14 Shafar 1434 bertepatan dengan 28 Des 2012 hendaknya kalian sadari, Agama Islam mengatur tanggung jawab dan pe-ran dari pasangan suami-isteri secara seimbang dalam kehidupan berkeluarga. Sempurnakan dan tunaikanlah hal tersebut dalam perjalanan kalian membangun rumah tangga. Semoga dengan begitu kalian akan dirahmati dan diberkahi oleh Allah swt.

Nikah dibentuk oleh 3 huruf dasar, yaitu nun, kaf , dan hak. Huruf pertamanya adalah nun yang mengisyaratkan adanya kata niyatun yaitu niat atau motif dasar. Niat pokok dalam nikah hendaknya untuk beribadah, menyempur-nakan separuh kewajiban beragama sebagai aktualisasi iman kepada Allah. “Gegarane wong akrami, dudu bondo dudu rupa amung ati pawitane.” Itulah landasan nikah, bukan wajah ataupun harta, melainkan niat tulus hati untuk nga-bekti, mengabdi pada Ilahi Rabbi. Huruf ke dua adalah kaaf yang mengandung isyarat adanya kata karamah yang berarti kemuliaan, maka nikah hendaknya di-bangun dengan nilai-nilai kemuliaan di antara ke dua belah pihak. Huruf ketiga adalah hak yang mengandung isyarat adanya kata hubbun, yang berarti cinta kasih yang di dalamnya mengandung pesan agar suami isteri menumbuhkan dan merawat cinta kasih dalam membangun mahligai rumah tangga bahagia.

Adapun tanggung jawab sebagai kepala keluarga berada di pundak suami dengan tanggung jawab terbesar dan terberat menjaga agar bangunan keluarga tetap kokoh di atas landasan iman dan taqwa; dan ibarat bahtera, hendaknya keluarga berlayar dengan visi abadi: kebahagiaan dunia akhirat dan terhindar dari siksa neraka dalam keadaan ridha dan diridhai.

Ingatlah selalu bahwa salah satu fungsi pasangan suami isteri itu menurut Al-Qur’an (2:187) adalah seperti pakaian:

هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ

…. mereka adalah pakaian bagimu dan kamupun pakaian bagi mereka….

Fungsi pakaian selain untuk keindahan adalah juga untuk menutupi aurat, maka suami istri harus saling menutupi kelemahan pasangannya. Sikap itu dipastikan ada apabila keduanya bersandangkan sebaik-baik pakaian yaitu taqwa. Seandainya kalian melihat kelemahan pada pasangan kalian maka berdoalah agar di balik kelemahan itu terdapat kebaikan yang tidak terkira. Ingatlah firman Allah swt (Q.S.4:19):

فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka maka bersabarlah, karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu hal saja, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”.

Orang Sunda mengatakan: “ninyuh ubar ku cipati, diwadahan piring gelas. Anu sabar eta pasti, ku Allah dipikawelas.” Mengapa perlu bersabar, karena boleh jadi Allah meletakkan keindahan di dalam kelemahan pasangan kita. Ada kisah tentang seorang suami yang tidurnya mengorok dengan suara keras, dan sering kentut dengan suara keras pula di saat tidur sehingga kadang-kadang mengagetkan dirinya sendiri. Ketika ia sakit keras justru dua hal itulah yang membahagiakan sang isteri, karena ke dua hal itu menjada pertanda bahwa suaminya masih diberi hidup.

Selanjutnya, dalam pergaulan sehari-hari hendaknya lebih mengutamakan untuk suka memberikan hak pasangan daripada menuntut hak diri dari pasang-an. Kalau hal itu dijalankan oleh keduanya, dengan sendirinya hak kedua belah pihak tertunaikan dengan penuh keadilan dan keindahan.

Keterbukaan yang berhiaskan kejujuran, saling mengisi kekurangan, tidak mempertajam dan mempertentangkan perbedaan, saling menutup kelemahan, menyemangati pemacuan potensi positif, saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran, dan berbagi pemahaman hendaknya menghiasi kebersamaan kehi-dupan kalian. Pengalaman menunjukkan betapa terbatasnya kemampuan manu-sia yang terkadang hanya untuk memahami bahasa pasangannya saja sulit untuk mencapai tingkat ketepatan, karena masing-masing suami-istri berjalan dengan alat setirannya masing-masing. Suami berjalan memahami istri dengan alat aqalnya, sedangkan istri berjalan memahami suami dengan alat rasanya. Bentur-an pun akan terjadi antara aqal dan rasa manakala masing-masing berjalan da-lam kuasa nafsu, maka luka-luka ringan dan berat pun akan terjadi pada masing-masing pihak. Tanda-tanda nafsu telah menjajah aqal dan rasa ialah masing-masing pasangan suka saling menyalahkan dan saling merasa dirinyalah yang paling benar sehingga berupaya kokoh mempertahankan kebenaran pendapat dirinya.
Sebenarnya benturan antara aqal dan rasa tidak perlu terjadi, karena fithrah keberadaan aqal dan rasa telah Allah ciptakan bukan untuk dijadikan sarana saling menindas yang menimbulkan luka di hati dan goresan lara di jiwa, melainkan perbedaan pada kekuatan aqal suami dan kekuatan rasa istri perlu dipersatupadukan dalam kebersamaan dan saling menutupi kekurangan untuk melahirkan nilai kesempurnaan hidup bangunan berumah tangga dalam balutan indah sakinah, mawadah warahmah.

Semangat itu tergambar dalam untaian kata: “Talam tertindih dengan badik, alam tertulang dengan apik, buah sage direntak mati. Dalam sirih kami nan secarik, dalam pinang kami nan seracik, dalam niat dan kehendak hati.”

Melalui potensi aqal, sang suami memberikan nilai sentuhan cinta kepada rasa sang istri. Sebaliknya dengan potensi rasa, sang istri memberikan nilai sentuhan kasih-sayang kepada aqal sang suami. Dapat dikata cinta dan kasih-sayang dalam kehidupan rumah-tangga suami-istri tumbuh-berkembang indah dari penyatuan aqal dan rasa yang saling memberikan hak , bukan dari sikap saling menuntut hak. Tegas, salah satu sebab utama terjadinya kehampaan, kehambaran dalam rumah tangga berakar pada sikap menuntut hak lebih diutamakan daripada mendahulukan memberikan hak, baik oleh salah satu pihak maupun kedua belah pihak.

Apatah jadinya, jika dalam kehidupan suami-isteri hanya diwarnai silang sengketa tanpa bisa dikompromikan. Setiap pihak bersikukuh dengan pandang-an dan jalannya sendiri-sendiri, congkak dan laku lajak dipertontonkan setiap hari. Apabila di dunia saja tidak dirasakan perjodohan harmoni, dapatkah di akhirat nanti dipertemukan kembali sebagai pasangan yang dirahmati dan digembirakan sebagaimana dilukiskan dalam QS. 43:70

ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُونَ

Masuklah kamu ke dalam syurga, kamu dan istri-istri kamu digembirakan.”

Ada seorang pujangga yang berkata, “Jika di dunia ini ada syurga, maka syurga dunia itu adalah pernikahan yang bahagia, dan jika di dunia ini ada nera-ka, maka neraka dunia itu adalah pernikahan yang gagal. Namun Rasulullah saw dengan tegas menyatakan, “Baitiy jannatiy” rumah tanggaku adalah syurga-ku, Suasana demikian ini dianugerahkan, karena setiap pihak memiliki kesedia-an untuk membangun rumah tangga Islami. Suami selaku pemimpin memiliki watak berbudi bawa leksana, bermurah hati dan teguh memegang janji suci bertindak dengan keagungan akhlaq, senantiasa ingat bahwa kepemimpinannya akan diminta pertanggung jawaban. Isteri menjadi sebaik-baik hiasan di antara hiasan dunia yang ada, menyenangkan dalam pandangan, patuh dalam binaan dan memelihara kehormatan, dilandasi kesadaran adalah cukup bagi seorang isteri apabila ia telah menunaikan shalat lima waktu, menyempurnakan puasa di bulan Ramadhan, dan taat kepada suami yang berakhlaq, kelak akan disambut oleh Allah untuk masuk ke dalam syurga lewat pintu mana saja yang ia suka.

Kehidupan harmoni bukan berarti bebas sama sekali dari sandungan. Perselisihan kecil terkadang dapat terjadi, namun hal itu tidak dibiarkan berkembang dengan memperuncing persoalan dan membenturkan perbedaan, tetapi dijadikan hikmah dan pengingat bahwa kasih sayang berumah tangga harus senantiasa dirawat, dikembalikan pada khittah pernikahannya.

Dapat diterangkan, perbedaan sifat dasar suami dan isteri ibarat perbedaan nada, dan nada yang dikomposisikan secara tepat menghasilkan irama indah. Keberbedaan yang dipersatukan dalam kebersamaan tujuan gambarannya sebagaimana tertuang dalam salah satu lirik: Langkahku dan langkahmu memang berbeda; namun kita satu di jalan yang sama; tak terpisah walau jarak tetap ada; dan kita saling menjaga; kutrima adamu kau trima apa adaku; cintaku cintamu lekat jadi satu. Untuk menggapai kebersamaan dalam oase surgawi secara ringkas namun meliputi, Allah firmankan:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالمَعْرُوفِ

Dan pergaulilah pasanganmu dengan baik.

Kalau masing-masing berupaya menampilkan akhlaq utama dalam berumah tangga, insya Allah kebaikan dan kenahagiaan menjadi buah panenan.
Akhirnya para undangan selaku penyaksi disini mendo’akan semoga mempelai menjadi pasangan bahagia, langgeng sampai hari tua, seia sekata, koyo mimi lan mintuna, abantal syahadat asapo’ iman, galang dicinto galang buliah, niaik sampai cinto basuo; hidup rukun saling menyayangi bersama anak-anak yang shalih dan shalihah dalam naungan rahmat Allah:

باَرَكَ اللّهُ لَكَ وَباَرَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَ فِيْ خَيْرٍ
أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْم

Oleh: lutfifauzan | Agustus 12, 2012

khutbah Idul Fithri 1433 H

Khutbah Idul Fithri 1433 H

PECUT-KASIH RAMADHAN HANTARKAN FITHRAH JIWA INSANI
DI PUNCAK KENIKMATAN SERAMBI CINTA ILLAHI

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

إِنَّ اْلحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شرَيِكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً
اَللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ
dst …. اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا

Ma’asyiral Muslimin-muslimat rha,

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرْ genderang takbir membahana, saat sang cahaya sabit tampakkan dirinya, isyaratkan syawal pembawa fithrah hadir hantarkan ribuan nikmat tak terbilang jumlahnya. Sujud bersimpuh setiap jiwa semesta, Agungkan Dia Allah dalam rentangan karya-cipta alam semesta tegak-kokoh tampilkan keindah-sempurnaan dalam keteraturan rajutan jala sistem berkesetimbangan. Hina tak berarti jiwa insani tertatap diri laksana setetes air hujan hilang-lenyap di tengah samudera. Demikian keberadaan diri manusia hina tak terpandang berada di tengah samudera Ke-Maha-Agungan Allah. Semata rahmat kasih Ialahi, manusia dicipta sebagai makhluq utama berpakaian derajat kemuliaan mengemban amanah selaku khalifah pemakmur bumi, dalam perantauan kembali ke pangkuan Ilaahi.

لاَ اِلَهَ اِ لاْ الله lantunan tahlil luluh-lantahkan diri berkesombongan, bangkitkan kesadaran rasa-hati membangun pondasi tauhid murni lurus-bergantung bersandar hidup pada Ke-Esaan Kuasa Allah, sujud-bersimpuhlah diri. Pemahaman menghantarkan jiwa menggugah kesadaran getarkan hati ungkapkan kalam: “Esakan Dia Allah”, dari Ke-Maha Tunggalan tercipta rentangan kehidupan dalam satu komando kata kun fayakun, sujud semesta dalam keteraturan satu sistem rajutan getaran ketenagaan Ilaahiyah, jalankan kehidupan tunduk-patuh ikuti kodrat sunnatullah.

وَ للهِ الْحَمْدُ Tahmid bersenandung-rindu mendesak hati lirih-ungkapkan kata: “kemanapun kamu memandang di sanalah wajah Allah” di setiap perbuatan cipta-karya-Nya membatik wujud-pola Keterpujian-Nya. Kasih dan sayang-Nya laksana warna-warni pada setiap lembar benang-benang halus yang terajut indah di lembaran kain, menjadi jala-pancing bagi hamba yang merindukan jalan kembali pada Ilaahi. Gerbang ampunan tempuhan jiwa meraih kedekatan hidup untuk merajut tali hubung bermesra-cinta dalam bersapa-kata

اَللهُ اَكْبَرُ ×3 وَ للهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral Muslimin-muslimat rha,
Seiring-jalan saat surya-mentari tenggelam di ufuk barat kembali ke peraduannya, senja satu syawal si bulan Fithriah hadir beranjangsana di sudut-ruas jiwa semesta dan di pelataran hati insani, disambut indahnya cahaya rembulan tampakkan diri laksana sabit berwarna emas, iring-gantikan kepergian Ramadhan si tamu agung nan mulia. Tanpa kecuali, seluruh makhluq ciptaan di muka bumi diliputi suasana gembira berbaur haru suka cita termasuk manusia yang mampu merasakan suasana keindahannya. Berbagai pernak-pernik tampil menghiasi kumandang takbir, tahlil dan tahmid hingga pelaksanaan shalat Ied. Berbondong-bondong kaum beriman mendatangi tanah lapang dan masjid-masjid yang dimuliakan lengkap berpakaian serba indah dan baru. Lisan-lisan kaum beriman bergetar basahkan bibir perdengarkan merdu ungkapan dzikir: takbir, tahlil dan tahmid. Demikian suasana ritual rutinitas yang selalu terjadi di setiap 1 Syawal. Sesaat indah-gembira suasana tampak mata kepala memandang seakan riuh-gemuruh meriahnya pesta kemenangan. Namun tidak demikian sorotan-pandang tatapan nurulllah, pilu menyayat qalbu yang dirasakan. Dalam bahasa lisan terungkap-ucap: sangat disayangkan tidak setiap jiwa insan yang diliputi suasana suka-cita di hari Fithri adalah mereka yang memperoleh kemenangan meraih nikmat kebaikan yang dibawakan oleh Ramadhan. Sebagaimana disinyalir dalam hadits: Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga saja.

Sinyalemen hadits tersebut memberikan gambaran bahwa: dari tahun ke tahun yang dapat diberlangsungkan dan diperoleh kebanyakan manusia dari kunjungan Ramadhan hanyalah mendatangkan ritual rasa lapar dan dahaga dari puasanya. Tidak ada perubahan dan pembaharuan berarti yang dapat dibukti-rasakan dalam berkehidupan, kecuali yang selalu muncul hanya keluh-kesah atas kesulitan berantai menjalani kehidupan. Seakan hadits tersebut tampil sebagai kaca cermin besar yang menunjukkan puasa kebanyakan manusia layaknya puasa anak-anak. Anak-anak itu berbangga dalam berpuasa agar memperoleh berbagai hadiah yang diiming-imingkan yang kesemuanya bersifat keindahan dan kesenangan nafsu semata. Ketika bentuk keindahan-kesenangan nafsu tidak terpenuhi mereka kecewa putus asa dan perhatiannya lebih terpaku pada kesulitan yang ditemui daripada kasih Ilaahi.

Untuk itu mari sejenak di bulan yang fithrah ini kita tunduk-renungkan diri hadirkan Allah selaku saksi kejujuran, diri bertanya pada nurani-hati. Pada tingkatan puasa apakah yang sudah berhasil kita langsungkan selama ini? Tentunya masing-masing pribadi beriman tidak hendak puasanya dinilai-persepsikam sama dengan puasanya anak-anak, kecuali yang diharapkan dari berpuasa dapat menghantarkan jiwa pada kedekatan cinta dengan Allah. Namun demikiankah yang diperoleh?

Ketika nafsu masih terus menerus bergejolak, lebih diunggulkan daripada tuntunan Kitab Suci,
ketika sesuatu yang terjadi tidak sesuai dengan harapan-keinginan masih melahirkan kecewa-putus asa,
ketika kebencian terhadap sesama muslim ulang-terjadi dan membekas di hati sebagai tanda maaf belum diberi,
ketika kesalahan diri atau fihak lain masih kekeh tersembunyikan dan disimpan rapat pada sudut-sudut kedalaman hati

Dapatkah dikatakan puasanya telah menghantarkan pada kedekatan cinta dengan Allah? Ini baru gambaran segelintir contoh gejolak nafsu dan dosa-kesalahan bertaut-hubung dengan sesama, belum lagi dosa-kesalahan langsung kepada Allah.

Sebagai tolok ukur apakah puasa kita berhasil hantarkan jiwa pada kedekatan cinta dengan Allah, tergantung pada tingkat berhasil tidaknya menata nafsu tunduk-patuh kepada Allah tanpa komentar dan sanggahan, kecuali dengan satu sikap dan ucap: “Sami’na wa atha’na. Demikian itu pertanda nafsu telah tenang dan berdamai dengan unsur ketenagaan ruh, rasa, hati dan ‘aqal. Nafsu berkeadaan demikian itulah yang mendapat sapa-panggilan dari Allah sang Kekasih yang lama dirindukan:
 • •      •       • 
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, Dan masuklah ke dalam syurga-Ku. (Q.S 89:27-30)

Dalam hal ini sang hamba mendapatkan perkenan melangsungkan perjalanan wisata rohani ke suatu wilayah bernama “Daarussalam” dan Allah sendiri sebagai pemandu perjalanannya, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya:
          
Allah menyeru (manusia) ke darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang Lurus (Islam) (Qs.10:25)

اَللهُ اَكْبَرُ ×3 وَ للهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral Muslimin-muslimat rha,
Jiwa siapa yang tidak akan terlena-bahagia, haru dalam kemasyu’an suasana ketika Allah Dzat Maha Mulia menyeru sang hamba dengan keridhaan-Nya. Seketika diri tersungkur-sujud dalam balutan pakaian malu, tak mampu bibir berucap-kata, kecuali desah nafas didalam dada tak henti pujakan Dia Allah, sebagai desak-ungkapan syukur bersama jatuhnya butiran air mata membasahi wajah dan sajadah. Malu, ketika kesadaran menggugahnya, diri tertatap hina bergelimang dosa, namun belaian lembut kasih Allah menyentuh jiwa hampa, seketika diri seakan hilang-fana lebur-tenggelam di tengah ke-Maha-Besaran-Nya di lautan cinta-Nya.

Lapis demi lapis hijab hati disingkap laksana lembar kelopak jantung pisang menghasilkan buah hikmah-manfaat yang dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat. Demikian itulah sebenarnya kehadiran Ramadhan datang berkunjung untuk membuka tirai hijab dosa yang menutupi hati sehingga layak bertandang dalam jamuan Ilaahi. Di saat itulah sang hamba memperoleh ucap salam: “sejahteralah hamba di malam itu sampai terbit fajr. Itulah malam kemuliaan yang selalu dikejar ummat Islam di malam sepuluh hari akhir Ramadhan, namun sayang kebanyakan masih dengan perhitungan untung-rugi dengan hanya mengambil malam-malam ganjil, padahal Rasulullah tidak mengajarkan seperti itu, kecuali lengkap beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir tanpa membedakan tanpa menganaktirikan yang genap dari yang ganjil. Mereka yang meneladani Rasulullah saw adalah hamba-hamba Allah yang berhasil meraih kemenangan di hari fithri.

Masihkah diri merasa telah berhasil menjalankan puasa, bila kenyataan diri belum dapat mengenal Allah dengan segala Kebesaran cinta dan sapa-Nya. Jangankan untuk sampai pada tingkat mengenal Allah, mengenal siapa dirinya sendiri masih banyak yang gagal. Padahal siapa didunia tidak mengenal Allah maka di akhirat ia akan lebih buta.

Anggapan boleh saja berkembang dengan berpuasa diri telah beriman dan berhasil meraih ampunan, dengan bukti-bukti lahiriyah shalat wajib dan sunnah terpenuhi, puasa sebulan dijalani, infaq dan shadaqah tersalurkan. Ketahuilah kesemua itu tidak cukup menjadi jaminan diri berada dalam ampunan dan kedekatan cinta kepada Allah, manakala nafsu terus bergejolak berupaya memenuhi tuntutan, mengejar-inginkan kesenangan dan keuntungan pribadi dan tidak ridha dengan ujian atau musibah yang Allah kirimkan. Di dalam Al-Qur’an Allah berfirman:
 ••     •   
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS.29:2)

Ayat tersebut mengisyaratkan berapa banyak manusia terjebak dalam perangkap anggap-sangka diri telah beriman dengan berbagai ritual rutinitas ibadah dan amal-kebajikan lahiriyah. Sedangkan Allah tidaklah melihat pada perbuatann lahiriyah melainkan lebih kepada hatinya. Hati yang tidak memiliki keikhlasan, keras membatu untuk menerima kebenaran, berontak terhadap taqdir Allah adalah cermin hati yang belum tersucikan dan tersegarkan oleh amal lahiriyahnya.

Demikian halnya dengan hati yang banyak menyimpan dendam-kebencian pada sesama muslim karena dirinya merasa tersakiti, padahal haqiqatnya bukanlah diri itu yang disakiti melainkan ia berbuat dzalim menyakiti dirinya dengan jalan tidak ridha terhadap bala-ujian yang Allah datangkan. Sebagai contoh, bagaimana sambutan sikap hati, ketika Allah menghimbau “jadilah engkau pemaaf”, tersirat makna bahwa diri dihimbau untuk menjalin hubungan baik terhadap orang yang telah berbuat khilaf, yang memusuhi, yang memutus tali silaturrahmi, yang dikenal kikir, dan yang menyakiti, melalui sedekah pemberian maaf. Kepemaafan yang tulus tanpa melihat besar kecilnya kesalahan mencerminkan kesejatian iman seseorang sebagaimana diteladankan oleh Nabi Yusuf as yang memaafkan saudara-saudaranya yang menyakitinya dan Nabi Muhammad saw yang memaafkan orang-orang yang memeranginya. Orang yang bisa memaafkan dengan tulus tahu, bahwa segala sesuatu terjadi menurut kehendak Allah dan berjalan sesuai takdir-Nya, karena itulah mereka berserah diri kepada Allah, menyerahkan semua permasalahan kepada Allah. Mereka tidak terbelenggu dan tersiksa oleh amarah, sakit hati, karena telah dihanyutkan oleh kesegaran memaafkan.

اَللهُ اَكْبَرُ ×3 وَ للهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral Muslimin-muslimat rha,
Banyak manusia tidak mengetahui himbauan berinfaq tidaklah terbatas pada pengertian harta, berinfaq memberi maaf dan menahan amarah termasuk infaq bernilai luhur. Kepada hamba yang demikian itulah Allah menjatuhkan cinta-Nya. Sebagaimana dijelaskan “Pasti akan mendapat cinta-Ku orang-orang yang cinta-mencintai karena Aku, saling mengunjungi karena Aku, dan saling memberi karena Aku.” Nyatalah, baik-buruknya hubungan seseorang dengan Allah tercermin pada baik-buruknya hubungan pada sesama muslim. Buruknya hubungan sesama muslim pertanda buruknya hubungan dengan Allah, meski ibadah ritual shalat, berpuasa dan berinfaq dijalankan tidak dapat mengangkat dirinya bermartabat selaku hamba beriman. Iman bukanlah sekedar merasa anggap-sangka melainkan berbukti pada pakaian akhlaq berbudi luhur. Iman memiliki celupan-batikan khusus pada pakaian akhlaq, yakni bercelupkan dengan asmaul-husna sebagai pakaian yang layak dan seharusnya disandang saat melangsungkan shalat Ied. Itulah pakaian indah dan baru terlahir sebagai fithrah. Pakaian akhlaq itu menjadi indah dan baru karena telah disuci-hamakan melalui ibadah puasa. Sabda Rasulullah Saw.: “Siapa yang puasa di bulan Ramadhan dengan iman dan bermawas diri niscaya Allah mengampuni dosa-dosanya.”

Allah telah mewujudkan kasih sayang kepada hamba-Nya dengan memberi ampunan, kecuali dosa terhadap sesama manusia, yang belum diampuni sampai ada keridhaan dan memaafkan di antara mereka. Untuk menghapus dosa ini tidak cukup dengan memohon ampun kepada Allah SWT.

Allah memerintahkan kita untuk memberi maaf kepada sesama manusia sebagai bukti telah membiasnya sifat Kepemaafan Allah dan sebagai perwujudan karakter orang yang bertaqwa, sebagaimana dinyatakan oleh Allah dalam Al-Quran Surah 3:133-134:
     •     
dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,

         ••    
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Bukankah himbauan Allah tersebut mengarahkan diri pada pembentukan akhlaq luhur dan kebaikan sikap hati. Semakin berat hati menjalankan himbauan Allah tersebut menjadi ukuran besarnya dosa tertimbun di dalam hati.

Musibah pun adakalanya Allah kirimkan sebagai jalan pembersihan dosa. Tidakkah dapat dirasakan betapa kasih-sayang Allah yang tak hendak membiarkan hambaNya bergelimang dosa. Musibah dan ujian yang ditimpakan Allah juga menjadi bukti rahmat kasih-sayangNya kepada manusia. Demikian itu, karena manakala jiwa ridha menerimanya, jadilah ia sebagai jalan pembersihan diri dari dosa dan peningkatan derajatnya di sisi Allah. Pada satu hadits dijelaskan: “Sesungguhnya pahala yang besar itu, bersama dengan cobaan yang besar pula. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan menimpakan musibah kepada mereka. Barangsiapa yang ridha maka Allah akan ridha kepadanya. Dan barangsiapa yang murka, maka Allah murka pula kepadanya”

اَللهُ اَكْبَرُ ×3 وَ للهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral Muslimin-muslimat rha,
Perlu pula disadari, kehadiran Ramadhan sebulan penuh adalah dalam rangka penggemblengan dan pendidikan terhadap nafsu yang selama ini merejalela mempecundangi ruh, rasa, hati dan aqal, akibatnya masing-masing potensi mati tidak dapat menjalankan fungsi sebagaimana mestinya. Ruh yang seharusnya berfungsi menjalin cinta dengan Allah menyimpang mencintai isi dunia, Hati yang seharusnya tempat Allah bersapa-kata membuka kabar-berita menjadi tempat jajahan dan sapa-kata diri dengan syaithan. Rasa yang seharusnya merasakan kelembutan kasih-sayang dari Allah menjadi keras membatu merasakan permasalahan hidup akibat tidak ridha dengan ketentuan Rabb. Aqal yang seharusnya berfungsi merenungkan cipta-karya Allah menjadi sibuk menyoroti keburukan orang lain dan memikirkan keuntungan diri sendiri. Bilamana terhadap sesama unsur di dalam diri gagal mewujudkan perdamaian dengan memberi kesempatan masing-masing unsur berfungsi menjalankan tugasnya bagaimana akan berdamai dan berkasih-sayang dengan sesama.

Begitulah, bila dosa telah menutupi qalbu manusia, sulit baginya memilah-pilih kebaikan dan keburukan. Karat dan kotoran dosa menjadikan manusia tidak lagi mampu mendengar suara nurani karena qalbu sudah kehilangan cahaya-Nya terkikis oleh dosa-kejahatan. Bahkan qalbu sakit yang berada pada stadium kronis, tidak lagi dapat merasakan perbuatan dosa sebagai dosa atau kejahatan, karena syaitan menghiaskan kejahatan seakan-akan kebaikan; dan itulah yang disebut stadium kebangkrutan ruhani, yang menyeret manusia keluar dari keimanan, naudzubillah min dzalik

Semoga dengan pelaksanaan Ramadhan ini kita terlindungi dari kebangkrutan ruhani dan kita termasuk dalam sekelompok kecil insan yang dapat meraih kemenangan di hari fithri ini, yang kembali terlahirkan laksana bayi suci-bersih dari dosa, berkeadaan fithrah meraih kedekatan hidup bercinta dengan Allah. Inilah sesungguhnya kemenangan sejati di hari fithri. Baginya takbir, tahlil dan tahmid merupakan ungkapan rasa cinta antara hamba hina dengan Allah Maha Perkasa dengan segala KemuliaanNya. Baginya pelaksaan sholat Idul Fithri adalah sarana jumpa ungkapkan syukur atas rahmat-nikmat cinta yang diperoleh dari kedatangan Ramadhan yang membawa-bagikan rahmat tak terbilang jumlahnya bagi setiap jiwa yang beriman, sebagaimana dijelaskan: Sesungguhnya telah datang bulan ramadhan kepadamu, bulan yang penuh dengan limpahan rahmat dan berkah. Dengan itu hamba diperjalankan menuju serambi kenikmatan bercinta dengan Ilaahi, di sanalah sang hamba kembali berkumpul layaknya keluarga, karena pada awalnya manusia adalah bagian dari keluarga Allah jua.

Demikianlah pecut ramadhan mengajak kita sejenak merenung mengulang-kaji Ramadhan yang telah kita lalui, sudahkah Ramadhan yang telah berlalu berhasil menghantarkan masing-masing diri kita pada puncak kenikmatan serambi cinta Ilaahi. Ataukah sebagaimana disinyalir hadits baru sebatas memperoleh rasa lapar dan dahaga? Untuk itu janganlah kita berputus-asa dari rahmat ampunan Allah, semoga di tahun mendatang kedatangan Ramadhan lebih bermakna untuk kita tempuh.

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنينَ وَالْمُؤْ مِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالاَمْوَاتِ ِانَّكَ سمِيْعٌ قَرِيْبٌ
مجُيْبُ الدَّعَوَاتِ يَا قَا ضِىَ الحْاَجَاتِ وَيَا كَافيَ الْمُهِمَّاتِ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Ya Allah ya Rabb kami, bila tidak karena apa yang tidak kami ketahui tentang urusan kami, tentulah kami tidak mengadu atas segala kehinaan kami.
Bila tidak karena dosa-dosa kami,
tentulah tidak kami tumpahkan segala air mata kami.
Rabb, dosa-dosa kami telah memenuhi sempadan-sempadan langit dan memberatkan bumi.
Betapa banyak rahmat karunia dan kesempatan yang telah Kau curahkan
hanya kami sajalah yang senantiasa lengah dan tak pandai bersyukur.
Tiada bisa lagi kami beralasan,
sebab, telah putus segala jalan untuk beralasan.
Kami akui segala dosa kami, ampunilah dosa-dosa kami yang banyak itu,
dengan amal kebajikan kami yang sedikit.
Rabb, bila amat kecil ta’at kami,
maka pengharapan kami atas rahmat-Mu amatlah besar.
Bagaimana kami bisa kembali dengan rasa kecewa tidak mendapatkan anugerah-Mu sedangkan kami masih berharap atas kemurahan-Mu.
Ilaahi
Kami adalah manusia yang sangat membutuhkan akan kasih sayang-Mu
Jadikanlah kami manusia yang selalu ingat akan hal itu, dan menjadi aqidah bagi kami,
Sehingga di saat apapun kami selalu mengingat-Mu, memanjatkan do’a kepada-Mu,
dan bersikap ta’at menuju-Mu.
Ilaahi
Pandanglah kami dengan pandangan kasih-Mu
karena dengan pandangan itu kami yang berlumuran dosa
akan mendapat pengampunan-Mu lewat kasih sayang-Mu.
Jauhkanlah azab kesengsaraan dalam hidup kami
Kalaulah itu tetap harus berlaku dengan lantaran takdir-Mu, jadikanlah kami manusia-manusia yang sabar menghadapinya hingga bertemu denganMu.
Ilaahi
Jadikanlah keluarga dan keturunan kami
Keluarga dan keturunan yang selalu beribadah dan mengabdi kepada-Mu
Manakala kami seorang ayah, jadikanlah ayah yang sanggup menjadi imam di antara orang-orang taqwa di keluarga kami.
Manakala kami seorang Ibu, jadikanlah ibu diantara anak-anak kami sebagai tempat tumpuan belai kasih sayang keluarga kami.
Manakala kami sebagai anak, jadikanlah kami anak yang berbakti pada orangtua kami.
اَلَّلهُمَّ أَعِنَّا عَلىَ ذِكْرِكَ وَ شُكْرِكَ وَ حُسْنِ عِبَادَتِكَ
اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَ قِيَامَنَا وَ قِرَاءَتَنَا وَ زَكَاتَنَا وَ عِبَادَتَنَا كُلَّهاَ . اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ يَا كَرِيْمُ
وَ تُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ.
رَبَّنَا آتِنَا فيِ الدُنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قَنَا عَذاَبَ النَارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ اْلعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَاْلحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ .

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Oleh: lutfifauzan | Agustus 11, 2012

Menuju Puncak Ma’rifatullah melalui I’tikaf
di Bulan Ramadhan

Inti tauhid adalah ma’rifatullah (mengenal Allah), sebab alangkah nista jika manusia tidak mengenal siapa yang telah menciptanya. Berpaling dari Allah, tidak mesngenal-Nya merupakan satu bentuk kesombongan manusia terhadap Pencipta. Sudah sampaikah pemahaman pada kita, ketika Allah smendahului memperkenalkan DIRINYA kepada manusia? Susungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada illah kecuali Aku Allah (Q.S.20:14). Bagaimana kedudukan manusia kalau Allah sudah memperkenalkan DIRINYA tetapi manusia tidak mempedulikannya? Allah juga menyayangkan manakala manusia tidak mengenal Allah dengan pengenalan yang benar dengan segala Sifat Indah yang wajib difahami sang hamba (Q.S.22:74) sebagai langkah awal untuk mampu menam-pilkannya dalam perilaku keseharian. Takhalluqu bikhuluqillah, berakhlaqlah engkau dengan akhlaq Allah (al-Hadits).

Di sisi lain Allah juga memerintahkan kepada manusia untuk meneliti apa yang ada pada diri mereka. Wafii anfusikum afala tubshirun, dan di dalam dirimu sendiri apakah engkau tidak memperhatikannya. Penelusuran dan perenungan terhadap jati diri ini diperintahkan karena dapat menghantarkan manusia pada pengenalan terhadap Allah (ma’rifatullah). Ahli hikmah mengatakan: “man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu”, siapa yang mengenal dirinya niscaya ia akan sampai pada pengenalan terhadap Rabbnya.

Allah memerintahkan mencermati berbagai keajaiban yang tergelar di alam semesta, ujung perjalanan yang diharapkan tidak lain supaya manusia sampai pada penyaksian akan Kemahabesaran dan Kemahakuasaan Allah. Lihatlah berulang-ulang adakah dari ciptaan Allah itu yang tidak setimbang? (Q.S.67:3). Alam semesta yang demikian rumit tata susunannya diciptakan dan dikendalikan oleh Allah Yang Tunggal, sekiranya Allah itu berbilang tentulah terjadi benturan-benturan yang menyebabkan kehancuran.

Tiga jalan menuju penyaksian dan pengenalan kepada Allah (ma’rifatullah) sebagaimana dikemukakan tadi dapat ditempuh manusia malalui i’tikaf yang disyariatkan terutama pada 10 hari terakhir bulan ramadhan. Apa inti dan rahasia di sebalik i’tikaf ini?

Kata i’tikaf terbentuk dari kata dasar عكف yang berarti: menetap, ber-mukim, tinggal, bertekun diri. Di dalam Al-Quran terdapat 9 kata yang ter-bentuk dari kata dasar tersebut, namun bentukan kata yang mengarahkan artinya pada ibadah i’tikaf hanya dua. Dua kata itu tercantum pada Q.S. Al-Baqarah 187 عاكفون dan Q.S. Al-Baqarah 125 العكفين yang berarti orang-orang yang beri’tikaf, yakni yang tinggal, berdiam namun tetap bertekun diri. Ini menunjukkan bahwa secara zhahir orang yang beri’tikaf itu tinggal berdiam diri di masjid, namun secara ruhani ia bertekun diri menempuh perjalanan ruhani ( ف = huruf ke 20 = Surah 20) dengan senantiasa memelihara kekhu-su’an suasana (ف + ع = 20+18, senilai kata خشع 18+13+7) dan kesetimbangan gerak aqal dan rasa untuk dapat menyempurnakan perjalanannya ( ك = huruf ke 22= Surah 22, simbol kesetimbangan sempurna) sampai pada puncak penca-paian yakni lebur dalam KEMAHABESARAN ALLAH yang dikenal dengan istilah fana. Manusia fana, lebur dengan Allah namun tidak dalam pengertian manunggaling kawula-Gusti. Allah tetap Allah, manusia tetap sebagai hamba. Leburnya hamba hanyalah ibarat air di dalam botol yang berada pada tengah-tengah samudera. Air dalam botol itu seolah-olah menyatu dengan samudera namun tetap terpisah adanya. Sedang pengalaman spiritual sang hamba, diri su-dah tidak terlihat karena pandangan hanya terpaku pada Keindahan dan Kea-gungan Allah. Itulah puncak ma’rifat (ع / عرف ) yang mampu dicapaikan pada manusia. Perjalanan ruhani sampai pada puncak inilah yang disebut dengan mudik, manusia pulang kembali untuk berkumpul sebagai keluarga Allah (annaasu iyaalullah). Secara ruhani (bukan dalam pandangan syar’i), manusia yang telah mudik inilah yang layak berhari raya karena telah bertemu Allah dan mendapat hidangan langit dari Allah berupa ilmu dan petunjuk (Q.S.64:11) atau bahkan amanat (Q.S.33:72). Pengaruh nyata yang dirasakan oleh hamba pada puncak pencapaian ini adalah ketentraman bathiniah. Sebagaimana dibentangkan penjelasannya oleh Allah pada Q.S. Al-Maidah 113-114:
5:113. mereka berkata: “Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya ten-teram hati Kami dan supaya Kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada Kami, dan Kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu”.
6:114. Isa putera Maryam berdoa: “Ya Tuhan Kami turunkanlah kiranya kepada Kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi Kami Yaitu orang-orang yang bersama Kami dan yang datang sesudah Kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezekilah Kami, dan Engkaulah pemberi rezki yang paling Utama”.

Sangat disayangkan inti perjalanan dan tujuan puncak ibadah seperti ini jarang menjadi perhatian manusia. Kebanyakan manusia beribadah terjebak pada tujuan-tujuan duniawi. Mereka beribadah kepada Allah dengan orientasi dagang, menuntut diperolehnya laba dengan segera. Lihatlah betapa banyak manusia beribadah bukan dalam rangka mewujudkan syukur dan memperoleh ridha Allah kemudian bertemu Allah, melainkan untuk tujuan-tujuan yang remeh, seperti kekayaannya bertambah, sembuh dari sakit, naik pangkat dan jabatannya, usahanya lancar, sekolah mendapat nilai tinggi, lulus dan mudah dapat pekerjaan dan tujuan-tujuan duniawi lainnya, yang ketika itu dirasa tidak dikabulkan mereka kecewa, putus asa dan melontarkan prasangka-prasangka buruk kepada Allah. Padahal ketika Allah telah ridha kepada hamba-Nya maka Allah akan memberikan apa saja yang dapat menyenangkan hamba-Nya. Allah malu jika hamba yang dicintai-Nya sampai lebih dahulu meminta sedangkan Allah Mahatahu terhadap kebutuhan sang hamba.

Jalan perjumpaan melalui i’tikaf
Selama i’tikaf, mu’takif (orang yang i’tikaf) dapat mengisinya dengan berbagai amalan ibadah, seperti: shalat, membaca dan mentadaburi Al-Quran, berdzikir dengan berbagai kalimat thayyibah (baik), saling bertaushiyah dari antara mu’takif yang hadir pada satu masjid, bermunajad dengan berbagai doa, namun yang tidak kalah penting adalah melakukan muhasabah (mawas diri) dengan merenungi keberadaan diri dalam hubungannya dengan tujuan ma’rifat dan penunaian tugas hidup yang telah diamanatkan oleh Allah tanpa tercemari oleh urusan-urusan duniawi.

Bertafakur dalam keadaan berdiri, duduk, ataupun berbaring yang perlu dilakukan adalah mempersambungkan tali hati dengan Satu Titik yaitu Allah dan menyisihkan berbagai pertalian dengan selain-Nya. Ketika berupaya mempersambungkan tali hati ini hendaknya dengan kesadaran bahwa diri ini lemah. Sebab, layakkah manusia merasa dirinya kuat sedangkan Allah nyata menegaskan manusia dicipta dalam keadaan lemah (wakhuliqal insaana dhaifa). Selain kesadaran diri lemah, tidak memiliki daya apa-apa, hendaknya diri juga merasa bodoh, hina, dan tidak memiliki amalan yang berarti, kecuali yang telah diperbuat adalah kezhaliman dan menumpuk-numpuk dosa. Jangan ada perasaan diri sudah mempunyai tabungan melimpah dari ibadah shalat, puasa, infaq, haji yang telah dilakukan berulang. Kita tidak tahu kadar ke-murnian atau keikhlasan ibadah kita yang akan menentukan hasil buahnya bagus ataukah busuk semuanya. Oleh karena itu lebih sopan jika sang hamba, ketika bersimpuh di hadapan Allah mengaku bodoh dan tidak mempunyai amalan yang berguna.

Dalam keadaan seperti itu apalagi yang diharap oleh hamba kecuali am-punan dan rahmat Allah. Harapan yang dibaluri rasa malu dan takut kalau Allah tidak mau memandang pada keberadaan dan kehadiran kita, tidak mau mendengar pinta kita, Allah berpaling dan tidak ngreken kita. Kalau harap dan perasaan malu serta takut itu berpadu akan membentuk kumparan dalam hati yang akan menimbulkan getaran sehingga menggetarkan sendi, kulit, dan pada setiap kalimat thayibah yang kita bisikkan — lisan hanyalah corong dari ungkapan hati.
Lakukanlah proses penempuhan seperti ini secara terus menurus sekalipun dirasakan sulit dan jatuh bangun untuk mempersambungkan hati dengan Satu Titik Allah ini. Pada saatnya, ketika Allah telah menyaksikan bahwa sang hamba telah nyata berusaha dan jatuh bangun hingga kehabisan tenaga, Allah akan mengulurkan tali perolongan-Nya supaya dipegang oleh hamba. Lebih lanjut Allah akan menuntun perjalanan hamba hingga sampai pada puncak ma’rifat dalam keadaan ridha dan diridhai. Jika itu terlaksana, maka fithrah yang selama itu “menghilang” terbungkus oleh debu-debu duniawi, tercabik- cabik oleh berbagai jebakan iblis, terperosok dan tenggelam pada jurang ke-nistaan telah dientaskan melalui proses pertobatan hingga kembali dalam ke-adaan suci, ia mudik sebagai keluarga Allah, maka sebagai rasa syukurnya dikumandangkanlah takbir pada hara raya. Wallahu a’lam bishshawab.
(Lutfi Fauzan)

Oleh: lutfifauzan | Februari 9, 2012

SOAL

1. Jelaskan dimensi-dimensi helping yang penting disadari dan dikuasai helper bagi efektifitas kerja profesionalnya.

2. Mengapa helper disarankan untuk berpijak pada pendekatan pengelolaan masalah dan pengembangan peluang?

3. Sahri kelas 5 SD berperawakan kecil, pendiam dan sering sakit. Perilaku sehari-hari menunjukkan jarang bergabung dengan teman, menghindar    dari teman, kurang terlibat dalam segala kegiatan, seperti tidak berkeinginan memiliki teman, sering menyendiri, dan tidak banyak bicara. Dalam satu kesempatan ia mengeluh kalau sering diejek teman, dan dikucilkan teman serta kurang mendapat perhatian dari orang tua. Pada kegiatan PBM ia hampir tidak pernah mengemukakan pendapat, tidak cepat menjawab pertanyaan, seperti terbebani ketika diminta ke depan kelas, pasif ketika kerja kelompok, dan prestasi belajarnya rendah. Bantulah Sahri tersebut dengan prosedur A Problem Management and Opportunity Development Approach dari stage 1 task 1 sampai dengan stage 2 task 3.

Oleh: lutfifauzan | Januari 28, 2012

KHUTBAH NIKAH: PENYATUAN RASA CINTA

Khutbah Nikah

PENYATUAN RASA INSAN BERCINTA MENUJU PUNCAK CINTA KEPADA RABB SEMESTA

Lutfi Fauzan

Assalaamualaikum wr wb,

اَلْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِىَ لَهُ  اَشْهَدُ اَنْ لاَالهَ اِلاَّ اللهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَرْسَلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ

 اَللّهُمَّ صَلّ وَسَلّمْ وَبَا رِكْ عَلى مُحَمَّدٍ وَعَلى الِه   وَاَصْحَابِه

يَااَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَااَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَاْلاَرْحَامَ اِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَااَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا

يُصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعْ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Pernikahan, secara syar’i adalah ibadah; dan secara ma’nawi merupakan penyatuan dua potensi fitrah yang berbeda untuk diikat dan dihimpun dalam kebersamaan menuju kesempurnaan penjadian selaku hamba yang serba-serbi wajib menurut terhadap kehendak-Nya. Atas dasar ini, menjadi penting dalam penyikapan, agar kiranya sejak dari niat, mempelai  berdua selalu meletakkan peristiwa ini sebagai wujud kecintaan dan pelaksanaan ketaatan kepada Allah swt  dan Rasul-Nya. Perni-kahan adalah sebuah amanah langsung dari Allah dan RasulNya, dan setiap amanat menuntut tanggung jawab. Betapa luar biasanya aqad nikah ini, sekalipun dengan ucapan yang sederhana, dengan adanya aqad nikah, perbuatan yang semula diharamkan menjadi halal, perbuatan yang semula bernilai maksiyat, berubah menjadi ibadah. Dalam kaitan nikah ini Allah berfirman:

وَاَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا

“…. Dan mereka (isteri-isteri) telah mengambil dari kalian penjanjian yang kuat.” (QS. An-Nisa’: 21)

Pernikahan adalah sebuah perjanjian teguh (mitsaqan ghalizha). Kata-kata mitsaqan ghalizha ini hanya disebut tiga kali dalam Al-Qur’an. Penyebutan lain berkenaan dengan perjanjian Allah dengan Bani Israil untuk bersumpah setia dan taat kepada Allah sedang gunung Thursina diangkat di atas kepala mereka (QS. An-Nisa: 154). Penyebutan yang lain berkenaan dengan perjanjian Allah dengan para Nabi yang tergabung dalam Ulul Azmi (Nuh as, Ibrahim as, Musa as, Isa as, dan N. Muhammad saw) untuk menegakkan dan menyebarkan kalimat Allah di muka bumi (QS. Al-Ahzab: 7). Jelaslah bahwa pernikahan ini bukan suatu senda gurau karena sejajar dengan perjanjian Allah dengan Bani Israil dan sejajar pula dengan perjanjian Allah dengan para Nabi yang mulya.

Dalam perjalanannya Bani Israil gagal menunaikan amanah karena adanya ketidakjujuran dan khianat terhadap amanat, sedangkan para Nabi berhasil dengan izin Allah karena dilandasi sifat kejujuran (shiddiq) dan berlaku benar dalam menu-naikan amanah. Dengan demikian pernikahan itu bisa gagal ataupun berhasil sangat bergantung pada sifat yang melandasi ikatan dan bangunan keluarga berdua.

Mengingat agungnya tali ikatan ini, maka ketika ia telah terbuhul tekadkan-lah dalam hati berdua, sejak dari awal, untuk menjaga amanah ini hingga  akhir hayat nanti . Ini menjadi amat penting dalam proses kehidupan berdua selanjutnya. Dengan menempatkan niat dan tekad itu, semoga kiranya Allah swt selalu berkenan hadir dalam kehidupan kalian berdua, baik di kala gembira maupun di saat duka.

Penghargaan Islam terhadap ikatan pernikahan amat besar, sehingga ikatan itu ditetapkan sebanding dengan separuh agama. Anas bin Malik ra berkata : “Telah bersabda Rasulullah saw:

Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi”. (Hadist Riwayat Thabrani dan Hakim).

Betapa Allah memulyakan hamba-hamba-Nya yang mengikuti sunnah Rasul-Nya ini sehingga Allah menjanjikan suatu pertolongan kepada orang yang nikah, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya:

وَاَنكِحُوا اْلاَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَاِمَائِكُمْ اِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمْ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak (bernikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S.24 : 32).

Sebagai ketetapan fitrah, nikah adalah jalan/thariqah dan sebuah lembaga yang telah disyariatkan bahkan sejak nabi Adam as. Firman Allah:

يَاآدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلاَ مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلاَ تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنْ الظَّالِمِينَ

“…. Hai Adam, diamilah dengan tenteram olehmu dan isterimu taman syurga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zhalim.” (Q.S.2: 35)

Dari segi dimensi-dimensinya, pernikahan adalah ikatan kasih sayang. Al-Qur’an mengajarkan kepada kita semua bahwa melalui pernikahan seharusnyalah terwujud suasana kasih sayang, kebahagiaan, sebuah oase surgawi di dunia. Keluarga adalah sebuah wahana untuk mewujudkan kebahagiaan. Berkeluarga merupakan komitmen untuk mewujudkan kebahagiaan itu. Sungguh tidak mudah mendefinisikan kebahagiaan namun jelas bahwa ia berlawanan dengan kekecewaan, kesedihan, kegelisahan, kelesuan, kegalauan dan sejenisnya.

وَمِنْ آيَاتِهِ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ اَنفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً اِنَّ فِي ذَلِكَ لاَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS. 30:21)

Rahasia agung hubungan suami-isteri bagi orang yang beriman adalah sebagai jalan penyatuan rasa yang melalui sentuhan pengalaman itu  diharapkan hamba mampu menjalin penyatuan rasa dan bercinta dengan Rabbnya. Rasulullah saw menyatakan rumah tangganya adalah syurganya , dan Beliau berharap agar umatnya merasakan pula suasana syurgawi itu. Oleh sebab itu Rasulullah saw menyatakan:

“Nikah itu adalah sunnahku, karena itu barang siapa yang membenci sunnahku, ia bukan sebahagian golonganku” (Hadits),

dan pada Sabdanya yang lain:

“Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perba-nyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian di tengah umat yang lain.” (Hadits)

Juga Sabda Rasulullah saw:

Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seo-rang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka, dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehor-matannya”. (H R Ahmad, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim).

Dimensi yang lain dari pernikahan adalah rahmah.  Agama Islam mengatur tanggung jawab dan peran dari pasangan suami-isteri secara seimbang dalam kehidupan berkeluarga. Sempurnakan dan tunaikanlah hal tersebut dalam perjalanan kalian membangun rumah tangga yang semoga dengan begitu kalian akan dirahmati dan diberkahi oleh Allah swt. Tanggung  jawab sebagai kepala keluarga berada di pundak suami dengan tanggung jawab terbesar dan terberat menjaga agar bahtera keluarga selalu berjalan menuju visi abadi: kebahagiaan dunia akhirat dan terhindar dari siksa neraka dalam keadaan ridha dan diridhai.

Teladan mulia bagi istri tentunya adalah Ibunda Khadijatul Kubra, yang selalu memberikan keteduhan, kelembutan, dan  dorongan yang tiada henti kepada suami untuk tetap istiqamah sehingga betapapun berat  tantangan dalam rangka menuju visi abadi itu selalu dapat diatasi dengan baik dan penuh tanggung jawab.

Suatu ketika, seorang sahabat bertanya kepada Aisyah ra. Ia bertanya apa yang paling berkesan dalam kehidupan keluarga Rasulullah saw. Aisyah diam sejenak, kemudian berujar suatu ketika Rasulullah hendak Shalat Tahajud, Beliau meminta izin kepada Aisyah untuk menghadap ke Allah. Demikian santun Rasulullah terhadap isterinya sehingga untuk beribadah pun merasa per lu meminta izin kepada isteri. Selanjutnya Aisyah ditanya bagaimana akhlaq Rasulullah keseluruhannya? Aisyah menjawab, “semuanya mengagumkan”. Mengambil teladan ini, maka sekiranya Allah mentaqdirkan saudara Adi dipanggil Allah lebih dahulu, kemudian kami bertanya kepada isteri saudara, “bagaimana perlakuan suamimu selama ini”?  Berbahagialah engkau saudara Adi apabila isteri saudara menjawab, “Semuanya mengagumkan”. Rasulullah bersabda, “yang paling mulia diantara kalian adalah yang paling baik akhlaqnya terhadap isterinya”.

Pada kali yang lain, Aisyah menampakkan kecemburuan kepada Rasulullah karena selalu mengingat-ingat dan menyebut nama Khadijah ra. Aisyah ra mengatakan,”bukankah ia hanya wanita tua”? Seketika Rasulullah marah dan bersumpah, “Demi Allah, tidak ada wanita yang lebih baik dari dia. Dialah yang membelaku di saat semua orang memusuhiku, dia yang menolongku di saat aku kesulitan, dia yang menghiburku di saat aku sedih, mengorbankan hartanya, dan dia memberiku keturunan yang tidak diberikan oleh isteriku yang lain. Dari teladan ini, maka betapa bahagianya saudari Gresent, sekiranya Allah mentaqdirkan saudari dipanggil lebih dulu, dan kami bertanya kepada saudara Adi, “Bagaimana sikap isterimu selama bersamamu, inginkah kami carikan pengganti untukmu, dengan spontan suami saudari menjawab, “wanita mana yang akan pantas untuk meng-gantikannya, adakah yang lebih baik dari dia”? Dijelaskan oleh Allah “Adapun wanita yang shalihah ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri bila suami tidak ada, sebagaimana Allah telah memelihara mereka”. (An-Nisaa : 34). “Apabila seorang isteri meninggal dunia, dan suaminya ridha terhadapnya maka sang isteri itu dijamin masuk syurga” (Al-Hadits). Dan pada sabdanya yang lain, “Apabila isteri telah menunaikan shalat 5 waktu dan puasa di bulan Ramadhan sedangkan ia taat kepada suaminya (selama suami juga taat kepada Allah) maka kelak Allah berfirman kepadanya: silakan engkau masuk ke dalam syurgaku lewat pintu mana saja yang engkau sukai” (Al-Hadits).

Ingatlah selalu bahwa salah satu fungsi pasangan suami isteri itu  menurut Al-Qur’an (2:187) adalah seperti pakaian:

هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ

…. mereka dalah pakaian bagimu dan kamupun pakaian bagi mereka.

Fungsi pakaian selain untuk keindahan adalah juga untuk menu-tupi aurat, maka suami istri harus saling menutupi kelemahan pasang-annya. Adapun sebaik-baik pakaian adalah pakaian taqwa. Seandainya kalian melihat kelemahan pada pasangan kalian maka berdoalah agar di balik kelemahan itu terdapat kebaikan yang tidak terkira. Ingatlah firman Allah swt (Q.S.4:19): “Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka maka bersabarlah, karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu hal saja, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”.

Hamba yang telah Allah persatukan dalam pertalian nikah Ijab-Qabul, berarti masing-masing telah bersedia dihadapkan pada keberbedaan yang menuntut penyatuan dalam segala hal. Kandas dan hancurnya kehidupan di rumah tangga lebih banyak disebabkan kegagalan dalam penyatuan keberbedaan. Sedang keberbedaan tak dapat dihindari karena bagaimanapun juga antara laki-laki dan wanita 2 makhluq dengan sifat-potensi yang berbeda; masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri, ini bukan berarti perbedaan tidak dapat lebur dalam penyatuan, ada jalan mulia yang Allah rentangkan menuju penyatuan yang tidak hanya sebatas penyatuan sesama makhluq (suami-istri) melainkan dapat mencapai tingkat penyatuan diri dengan Allah dalam pengertian cinta, penyaksian dan kehendak (bukan wihdatul wujud). Jalan yang Allah maksudkan adalah hubungan intim suami-istri, itulah salah satu jalan mulia yang Allah rentangkan bila tepat dalam menjalankan, sebaliknya jalan itu akan tetap menjadi sia-sia bilamana salah dalam menjalankan. Secara umum hubungan suami-istri banyak terpandang sebatas nilai ibadah, sehingga masing-masing pihak (suami-istri) menjalankan hal tersebut sebatas kewajiban dengan harapan ke depan diperoleh nilai pahala. Hal tersebut tidaklah salah, meskipun banyak yang melakukan karena terpaksa (terutama dari pihak istri), sementara dari pihak suami berbuat karena tuntutan hasrat biologis semata. Bila hal ini yang terjadi akan banyak kesulitan dihadapi dalam meleburkan keberbedaan menuju penyatuan.

Banyak manusia khususnya ummat Islam yang tidak menyadari betapa luhur dan agungnya nilai tersembnyi di balik hubungan intim suami-istri bila dii’tikadkan secara benar dengan salah satu kuncinya jika dijalankan dengan ketulus-sucian. Dari ketulus-sucian akan menggugah potensi rasa berjalan dengan kelembutan; dari kelembutan melahirkan tumbuhnya rasa cinta dan kasih-sayang di dalam hati. Bagaimana seorang suami dapat merasakan kelembutan rasa cinta dan kasih-sayang dari dalam hati seorang isteri bila perasaan tak mampu menyentuh rasa isteri, demikian pula sebaliknya sang isteri tidak dapat merasakan hal yang sama jika perasaan hati tak mampu menyentuh rasa suami. Sampai kapanpun rasa tidak akan pernah dapat bersentuhan bila keadaan rasa tumbuh dalam keadaan keras-membatu, karena semua yang bersifat keras bila saling bersentuhan yang terjadi saling benturan. Lain halnya bila yang bersentuhan adalah kelembutan, yang terjadi saling kelekatan atau penyatuan. Ketika hubungan suami-istri berlangsung dengan ketulus-sucian seketika potensi rasa bergerak dengan kelembutan terjadilah saling sentuhan, kelekatan dan penyatuan rasa meleburkan semua keberbedaan. Dalam keadaan tidak disadari ketika rasa saling bersentuhan dan berlebur dalam penyatuan dari fihak suami bergerak potensi ‘aqal yang tertangkap oleh rasa isteri; demikian pula sebaliknya dari fihak istri bergerak potensi kehalusan rasa yang tertangkap oleh ‘aqal suami. Terjadilah saling lintas potensi rasa dan ‘aqal yang dengannya melahirkan manusia cerdik-cerdas-sehat-kuat. Ketika rasa dan aqal saling bergandengan erat tak terpisahkan satu persatu hijab hati terbuka. Selanjutnya sunatullah akan membawa rasa-hati tersebut menjelajahi alam isyarat yang berada di lubuk hati hingga akhirnya sampailah di istana Allah, mulailah sang hamba merasakan tetesan cinta dari Allah hingga akhirnya sang hamba larut-terbuai dalam peraduan cinta bersama Allah.

Sampai kapanpun tidak akan terjadi hubungan cinta antara hamba dengan Pencipta, jika penyatuan rasa antara sesama makhluq tidak bisa dicapai. Itulah sebabnya salah satu rahasia agung dari pernikahan suci  membawa-menuntun manusia menuju penyatuan cinta dengan Allah, dalam hal ini yang paling berperan dalam penyatuan rasa antarsesama maupun antara hamba dengan Allah adalah kelembut-halusan rasa. Ketika seorang hamba mulai merasakan atau memperoleh tetesan cinta dari Allah dengan sendirinya terjadi saling-sapa dan saling memberi kepercayaan serta menjauhkan diri dari kedustaan. Disinilah hati seorang hamba teruji keterbukaan dan kejujurannya, akankah dirinya khianat ataukah amanah baik terhadap sesama maupun terhadap Rabbnya. Apa jadinya bila dalam rumah tangga masing-masing pihak saling berdusta, pertanda jalannya rumah tangga dalam kendali Iblis menuju kehancuran, nyatalah betapa besarnya peran keterbukaan dan kejujuran dalam kehidupan suami-istri. Yahudi dan keterunannya terlaknat salah satunya suka berkhianat terhadap amanah dan merubah-rubah dari pesan kebenaran. Oleh karena itu, pelihara dan pegung teguh amanah yang dilekatkan di pundakmu ini.

Undangan yang hadir  disini akan mendo’akan  kalian berdoa

باَرَكَ اللّهُ لَكَ وَباَرَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَ فِيْ خَيْرٍ

“BAARAKALLAHU LAKA WA BAARAKA’ALAIKA

WAJAMA’ABAINAKUMAA FII KHOIR”

Semoga Allah melimpahkan barakah kepada kamu dan menurunkan kebahagiaan atasmu, serta menghimpun kamu berdua dalam kebaikan.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرّيَّاتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ اِمَامًا

Ya Allah, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri dan keturunan yang menyejukkan sebagai cindera matahati kami, dan jadikanlah kami Imam bagi orang-orang yang bertaqwa”. (Q.S.25: 74)

أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ

Oleh: lutfifauzan | Januari 28, 2012

KHUTBAH NIKAH

Membangun Hunian Masyarakat Makmur-Aman-Sejahtera

Dalam Balutan Cinta dan Kasih-Sayang Dan Nilai-Nilai Fithrah Pernikahan

Lutfi Fauzan

 Assalaamualaikum wr wb,

اَلْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِىَ لَهُ  اَشْهَدُ اَنْ لاَالهَ اِلاَّ اللهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَرْسَلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ

 اَللّهُمَّ صَلّ وَسَلّمْ وَبَا رِكْ عَلى مُحَمَّدٍ وَعَلى الِه   وَاَصْحَابِه

يَااَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَااَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَاْلاَرْحَامَ اِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَااَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا

يُصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعْ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لاَ تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللهِ ذَلِكَ الدّينُ الْقَيّمُ

وَلَكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajah mu dengan lurus kepada agama (Islam) (sesuai) fithrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan Manusia tidak mengerti QS.30:30

Pernikahan adalah bagian dari fithrah jiwa insani dan sunnah para Nabi.  Darinya melahirkan gugusan cahaya keluhuran dan kemuliaan yang mewujud pada akhlaqul karimah dalam kehidupan bermasyarakat. Pernikahan demikian itu tercapai manakala diperjalankan oleh kedua belah-pihak suami-istri dengan niat semata beribadah karena Allah, lurus berada di jalan syar’i, mengikuti sunnah Nabi untuk dapat berlabuh di dermaga syurgawi yakni Rumah tangga yang Sakinah Mawaddah wa Rahmah, sebagaimana kehidupan rumah tangga Nabi Muhammad saw yang masyhur dikenal dari sabdanya “baitiy jannatiy/rumahtanggaku adalah syurgaku”. Inilah inti dan fithrah pernikahan dua insan yang nantinya melahirkan dan menumbuh-kembangkan jiwa-jiwa fithrah berupa generasi sholeh-sholeha. Dengan lahirnya anak turun sholeh-sholehah itu terbentanglah hunian hidup masyarakat Makmur-Aman-Sejahtera Dalam Balutan Cinta dan Kasih-Sayang.

Masyarakat yang marhamah hanya dapat terbangun melalui keluarga sakinah yang penuh dengan cinta dan kasih sayang. Demikian itu karena:

  • Cinta adalah pondasi sekaligus ruh tenaga pengggerak yang akan menjalankan kehidupan rumah tangga.
  • Kasih-sayang adalah naungan atap pelindung bagi rumah tangga.
  • Agar cinta dan kasih-sayang senantiasa seiring-sejalan dalam tujuan harus diikat-rajut dengan Iman yang berfungsi selaku cahaya penerang penuntun ketepat-pastian arah perjalanan kehidupan rumah tangga.
  • Cinta dan Kasih-sayang yang diikat-rajut dengan Iman melahirkan ketenangan-kedamaian berfungsi sebagai oksigen yang memberikan kesejukan nafas kehidupan dalam perjalanan menuju rumah tangga syurgawi.

Untuk itu yang perlu diperhatikan, sebaik-baik cinta adalah cinta yang tumbuh-berkembang karena Allah, sebagaimana dinyatakan salah satu golongan yang mendapat naungan di hari berbangkit dan dapat merasakan lezatnya iman adalah orang-orang yang bercinta karena Allah untuk kemudian hati mereka berlabuh di dermaga cinta Allah. Sungguh luar biasa kekuatan cinta dan kasih-sayang dalam kehidupan rumah tangga yang terjalin-erat karena Allah, memberikan sumbangan tersendiri pada kehidupan alam masyarakat semesta dengan andil memperkokoh tiang semesta.

Kokohnya tiang semesta adalah keadaan yang dibenci iblis, karena semakin kokoh tiang semesta semakin panjang deretan derita-siksa yang dirasakannya. Untuk mempersingkat penyiksaan dari jalan penangguhan hisab, maka dari segala arah-penjuru iblis mengerahkan semua pasukannya untuk membuat kehancuran di muka bumi agar kiamat segera terjadi. Sudah barang tentu karena pangkal kebahagiaan dan ketenteraman hidup ada di dalam rumah tangga, maka rumah tanggalah yang dijadikan sasaran pertama untuk dihancurkan. Adapun jalan kehancuran itu adalah perceraian. Perceraian memang jalan yang Allah halalkan tetapi ia dapat menggoncangkan Arsy Allah. Jika Arsy Allah saja bergoncang saat thalak dijatuhkan, apalagi tiang penyangga semesta.

Perceraian merupakan pisau tajam pemutus tali cinta dan kasih-sayang yang terjalin karena Allah. Generasi yang semula terlahir dari kebahagiaan cinta dan kasih-sayang berubah tumbuh-berkembang tanpa cinta dan kasih-sayang lagi karena adanya perceraian. Generasi yang tumbuh-berkembang tanpa cinta dan kasih-sayang paling mudah dijadikan iblis sebagai sarana kaki tangan untuk melangsungkan kehancuran di muka bumi. Iblis berharap-rencana melalui kehancuran rumah tangga dapat memperkecil lahirnya manusia atau generasi beriman penebar nilai cinta dan kasih-sayang. Generasi beriman penebar cinta kasih sayang itu, keberadaannya dapat mencegah datangnya qiamat — qiamat tidak akan terjadi selama masih banyak manusia beriman.

Jangan dikira penangguhan hukuman yang Allah berikan pada iblis merupakan suatu kenikmatan atau kebaikan; justru dengan penangguhan tersebut adalah siksa sepanjang hidup bagi iblis, sehingga segala cara diupayakan iblis untuk menyegerakan datangnya qiamat-kehancuran agar penyiksaan dapat berakhir. Jalan yang ditempuh iblis membuat kehancuran dalam rumah tangga adalah perceraian. Oleh karena itu mari kita semua selalu ingat dan renungkan firman Allah pada QS.2:102 yang mengisyaratkan Iblis tidak akan pernah tinggal diam melihat kerukunan-kedamaian dalam kehidupan rumah tangga, ia dan pasukannya tiada berhenti menyihir keluarga bahagia untuk bercerai. Sampai kapanpun tidak akan ada kata damai antara anak turun manusia dengan Iblis, sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah Iblis adalah musuh yang nyata (aduwwum mubin) bagi manusia —- Bagi manusia, musuh sudah tersedia yakni Iblis, maka tidak layak jika suami memandang istri sebagai musuh atau sebaliknya istri memandang suami sebagai Iblis.

Sesaat kita kenang kembali bagaimana dengkinya Iblis melihat cinta-kasih dan kebahagiaan yang tercipta antara Nabi Adam dan Hawa. Syahdan saat itu Nabi Adam dan Hawa menempati hunian hidup di syurga dengan segala kenikmatan dan kebahagiaan lengkap-tercukupi, hanya satu yang dilarang mendekati satu pohon yang apabila dilanggar cukup membuat mereka terhina. Menyaksikan cinta-kasih dan kebahagiaan Nabi Adam dan Hawa di syurga menambah dendam dan kedengkian Iblis, maka dengan segala upaya bujuk-rayu digodalah Adam dan Hawa sehingga keluar dari syurga, bahkan hidup terpisah dalam hitungan waktu cukup panjang. Demikian itulah iblis selalu berupaya mencerai-beraikan kehidupan suami-istri.

Tegasnya, kebahagiaan yang tercipta dalam rumah tangga yang terbina melalui cinta dan kasih sayang karena Allah merupakan bagian dari sarana turut andil menjaga kekokohan tiang penyangga semesta. Demikian besarnya pengaruh cinta dan kasih-sayang yang terbina dalam kehidupan rumah tangga wajar jika dinyatakan “pernikahan adalah bagian pelaksanaan separoh dari ibadah sehingga kita diperintahkan untuk memelihara separoh yang lainnya”, sebagaimana penegasan Hadits:

Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi”. (HR Thabrani dan Hakim).

Namun sejauh ini, masih banyak manusia tidak menyadari betapa luhur dan mulianya tujuan pernikahan yang tidak hanya memberikan kebahagiaan pada diri pribadi bersangkutan melalui tersalurnya syahwat yang sebelumnya haram kecuali didahului aqdun nikah, namun secara kesemestaan, alam pun ikut merasakan kebahagiaan karena semakin memperkokoh tiang semesta.

Sadarkah kita bahwa pernikahan  bukan hanya sekedar terpenuhinya shahwat dan untuk kesenangan waktu sesaat ataupun suatu senda gurau yang apabila salah satu pihak mulai merasakan adanya ketidakcocokan, begitu mudah mengungkapkan kata cerai? Padahal melalui pernikahan dapat menghantarkan seorang hamba pada tingkat bercinta dan bercumbu-mesra dengan Allah Sang Pencipta. Manakala suami-istri dalam hubungan biologis tidak semata-mata ditujukan pada terpenuhinya syahwat namun lebih jauh untuk dapat menyatukan dua rasa yang berbeda, hal itu menjadi jalan-sarana menyatunya hamba dalam cinta dan cumbu-mesra dengan Pencipta. Mustahil seorang hamba akan sampai pada puncak percintaan dengan Allah, jika penyatuan rasa suami-istri gagal diperoleh. Luhur dan mulianya tujuan pernikahan tidak saja berdampak pada nilai-nilai rahmatan lil ‘alamin tetapi juga dapat menghantarkan hamba pada jenjang hubbubiyah (tingkatan hamba bercinta dan bercumbu-mesra dengan Allah sebagai puncak dari rasa bersyukurnya).

Pernikahan adalah fithrah dengan kesakralan sedemikian luhur dan agung karena terikat-rajut dalam buhul janji  suci ijab-qobul. Kesetaraan ikrar (ijab dan Qabul) ini, sebagai mitsaqan ghalidha, nilainya sebanding perjanjian Allah dengan Bani Israil, setara pula dengan nilai perjanjian Allah dengan para Nabi. Pertanyaan pada diri kita masing-masing, baik yang telah lama menikah maupun khusus bagi kedua anak kami Rizki dan Nurul yang hendak melangsungkan pernikahan, hendak dibawa kemana ikrar janji suci ijab-Qobul nanti? Apakah akan dikhianati sebagaimana Bani Israil mengkhianati perjanjian dengan Allah, sehingga hidup bersandangkan laknat dan kutukan? Ataukah ijab-qobul dipelihara dan dirawat sebagaimana para Nabi memenuhi perjanjian dengan Allah, sehingga  hidup mulya di dunia dan akhirat? Kesemuanya berpulang pada niat tulus kalian berdua.

Perlu kita ketahui kehidupan di akhirat adalah kelanjutan dari kehidupan di dunia, apabila di dunia yang ditumbuhkan suasana kehidupan syurga Insya Allah kelanjutan di akhirat adalah syurga, sebaliknya bila yang dirasa dan dijalankan dalam kehidupan dunia suasana kemarahan tanpa kedamaian dipastikan kelanjutan di kehidupan akhirat adalah neraka.

Sebenarnya tidaklah terlalu sulit untuk memulai membina rumah-tangga dengan nuansa syurgawi. Diawali dengan hal yang mudah dan tampaknya sangat sederhana yaitu menghias-hidupkan suasana kamar peraduan dengan lantunan lembut wahyu Al-Qur’an cukup sudah untuk mengundang hadirnya para Malaikat yang senantiasa memayungi kebersamaan dan memohonkan ampunan serta rahmat untuk kita. Bukankah hal ini sangat mudah dan sederhana, hanya dengan melantunkan wahyu Al-Qur’an di antara dua pasangan, sembari berbaring di peraduan, yang dijadikan kalam penutup aktivitas harian, dilakukan setiap kali hendak tidur, mempunyai nilai-makna yang luar biasa dalam membina cinta dan kasih-sayang dalam kehidupan rumah tangga. Belum terlambat bagi kita yang sudah memasuki usia pernikahan dalam hitungan tahun, dan sangat baik bagi anak kami berdua Rizki dan Nurul, memulai membangun rumah tangga dengan menghias-hidupkan kamar peraduan dengan senandung lantunan lembut wahyu Al-Qur’an.

Pernah dikisahkan dalam kehidupan salah satu keluarga Muslim; saat itu disuatu malam menjelang tidur sang istri meminta suaminya membacakan wahyu Al-Qur’an, karena sang istri memang sangat suka dengan suara bacaan Al-Qur’an suaminya. Suami pun memenuhi permintaan sang istri, wahyu Al-Qur’an dibacakan dalam keadaan sang istri bermanja mesra sambil mengikuti bacaan sang suami. Apa yang terjadi dalam tidurnya sang istri dimimpikan, para Malaikat berebut untuk mendekat. Terbuai para Malaikat dalam bauran rasa tertegun-heran, tersipu-malu dan riang bergembira melihat keadaan suami-istri bermesra-manja sambil melantunkan wahyu Al-Qur’an. Keterkaguman makluq Malaikat pada penyaksian terungkap dalalm kata: “betapa indahnya hati insan suami-istri bercinta, berkasih-sayang dalam rajutan dan lantunan kalam Ilahi. Seketika itu pula, makhluq terlaknat, iblis, lari menjauh dengan ketakutan tak mampu menjamah apalagi sampai menggoda. Sedangkan Malaikat sepanjang malam menjaga ke dua pasangan itu.

Sudah barang tentu, akan lebih indah lagi bila lantunan firman Allah tersebut diikuti dengan penghayatan akan isi-makna yang ditindaklanjuti dengan penyikapan dan pengamalan. Langit yang gelap seakan terang-benderang memancarkan cahaya penerang, menuntun hati dan jiwa hanyut dalam Ke-Agungan dan kebesaran nikmat Allah. Damailah dunia, kokohlah singgasana Arsy Allah dalam ikatan kuat tali hamba bercinta dan berkasih-sayang karena Allah.

Banyak kaum Muslim tidak mengetahui haqiqi kebersamaan kasih-sayang sejati yang timbul dalam keadaan masing-masing hati lepas dari beban fikiran dan perasaan, tetapi menyatu dalam kemesraan dan keromantisan irama merdu wahyu Al-Qur’an. Keadaan suami-istri demikian itu dapat dijelaskan secara isyarat-perlambang awal Nabi menerima wahyu dalam keadaan ketakutan bersambutkan  dengan pelukan istrinya, Khodijah. Demikian pula, wahyu banyak turun di kamar ‘Aisyah dalam suasana bahagia, hati berbaur dalam kasih sayang.

Oleh karena itu, perlu disadari kedua belah pihak suami-istri dalam  mengarungi samudra kehidupan rumah tangga adalah tekad dan kesadaran akan makna tujuan pernikahan. Luruskanlah niat sejak awal bahwa pernikahan dilangsungkan atas dasar ibadah semata karena Allah, yang dengan sendirinya masing-masing fihak suami-istri akan sadar dengan fungsi dan tanggung-jawabnya masing-masing. Binalah rumah tangga dengan cinta dan kasih-sayang karena Allah, karena tanpa kecuali di dalam setiap jiwa insani merindukan adanya tautan tempat bersandarnya cinta. Pernikahan adalah bagian dari jalan mempertautkan cinta. Betapa luhurnya harkat-martabat manusia, ia dicipta untuk dicinta oleh Allah Sang Maha Pencipta lagi Maha Pencinta terhadap hambaNya. Subhanalllah adalah kata paling utama diungkapkan manakala kita sadar azas penciptaan kita adalah cinta. Jika pada masing-masing suami-istri menyadari haqiqi dipersatukan dengan ijab-qobul karena cinta, tentu akan selalu berupaya menjaga cinta itu agar tetap tumbuh indah dalam kerekatan kasih-sayang.

Mengakhiri khutbah ini saya mewakili kedua orang tua hendak menyampaikan pesan kepada ananda berdua Rizki dan Nurul: Hari ini akan menjadi satu di antara hari-hari paling indah dan bersejarah di dalam kehidupan ananda berdua. Sebentar lagi ananda akan menjadi sepasang suami-isteri, darinya kelak akan lahir anak-anak yang sholeh dan sholehah yang akan menambah indahnya rentangan hunian hidup yang syurgawi.

Rentang waktu perjalanan hidup manusia yang dirasa begitu panjang, sebenarnya sangat singkat. Begitu pula dengan gelombang-badai, liku-liku dan pernak-pernik kerumitan hidup, sesungguhnya bila dihayati, sederhana pula, sepanjang kesadaran tetap terjaga bahwa kita semua diciptakan oleh ALLAH dengan takdir dan kehendak-Nya dan untuk beribadah semata kepada-NYA. Dan akhir dari perjalanan hidup ini adalah perjumpaan dengan Allah yang sudah barang tentu jalan perjumpaan tersebut hanya lewat jalan yang Allah ridhai. Untuk itu perlu adanya upaya masing-masing pihak suami istri untuk menyelaraskan kehendak diri pada sunnah Nabi dan segala bentuk sikap dan tindakan hendaklah didasari atas dasar semata-mata di dalam rangka menperoleh ridha Allah.

Kepada ananda Rizki selaku calon suami saya ingatkan:

Wanita dinikahi karena empat perkara yaitu hartanya, keturunannya, kecantikannya dan  agamanya. Maka seutama-utama memilih wanita adalah karena agamanya, Insya Allah sebagai suami akan mudah membawanya menuju mahligai kehidupan syurgawi. Dihimbaukan kepada suami agar mempergauli istri dengan cara baik.

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالمَعْرُوفِ

Dan pergaulilah pasanganmu dengan baik

Adapun tauladan yang baik bagi seorang suami adalah Nabi Muhammad saw yang begitu sangat lembut memperlakukan istri. Kita sama-sama ketahui perumpamaan penciptaan wanita adalah laksana tulang rusuk yang bengkok, apabila ia diluruskan dengan cara keras dan paksa patahlah tulang rusuk tersebut, sebaliknya bila didiamkan saja tentu ia akan bengkok selamanya. Baik tidaknya dalam mempergauli istri menjadi cermin kadar keimanan diri sekaligus kesempurnaan akhlaq. Jika diibaratkan rumah tangga adalah kapal yang sedang berlayar maka akhlaq adalah sebagai bahan bakar atau bahan perlengkapan dalam perjalanan. Suami adalah imam atau pemimpin bagi wanita atau laksana Nakhoda yang menentukan arah perjalanan bahtera rumah tangga. Sebagai suami agar dapat memimpin rumah tangga dengan baik penuhilah syarat sebagai seorang pemimpin di antaranya: berupaya untuk memenuhi keperluam-kebutuhan nafkah lahir-batin, membimbing-menuntun ke arah jalan taqwa, dan mengayomi. Jadilah suami yang bertanggung jawab, arif, lemah-lembut terhadap keluarga,  sehingga isteri merasa hangat, tentram dan damai di sisi suami, menjadi teladan yang baik bagi istri dan anak-anak nanti, yang dengan hal itu dapat menimbul rasa bangga dan bahagia pada anak-isteri.

 

Selanjutnya, kepada ananda Nurul selaku calon istri saya ingatkan:

Dalam Hadits disebutkan apabila datang seorang laki-laki yang baik agama (akhlaqnya) terimalah ia, atau jika tidak, maka dapat menimbulkan fitnah. Kita yakin ananda Nurul menerima Rizki sebagai calon suami dengan pertimbangan karena agama dan akhlaqnya. Oleh karena itu, sebagai calon istri luruskanlah niat-hati melalui pernikahan ini sebagai jalan beribadah dan berbakti kepada suami. Disebutkan seutama-utama pengabdian laki-laki adalah kepada ibunya dan seutama-utama pengabdian seorang wanita adalah kepada suami. Bahkan dengan tegas Nabi mengatakan sekiranya diperkenankan antara sesama makhluq untuk bersujud, maka mula pertama yang diperintahkan sujud adalah istri kepada suaminya. Oleh karena itu kepada Nurul sebagai calon istri kami berharap-doa agar menjadi istri yang sholehah, yang dapat menyejukkan pandangan suami. Sebagai orang tua kami menghimbau :

  • Terima dan sambutlah suamimu  dengan kehangatan cinta
  • Layanilah ia dengan ketaatan dan kasih-sayang
  • Manjakanlah ia dengan belain lembut dan tutur kata yang indah
  • Semangatkanlah ia dengan kelincahan dan kecerdasan jiwa
  • Bantulah ia dengan doa dan kesabaran
  • Hiburlah ia dengan tutur kata berhikmah
  • Gairahkanlah ia dengan keceriaan dan kelembutan bermanja
  • Tutupilah kekurangannya dengan menampilkan selalu kelebihannya 

Apabila keadaan demikian itu berhasil diwujudkan seorang istri tidak ada kata dan penghargaan yang dapat diberikan kecuali predikat selaku wanita-istri yang sholehah. Bagi wanita, tidak banyak yang dituntut dalam beribadah, cukup dengan menjalankan sholat wajib dan puasa wajib di bulan Romadhan serta mentaati suami (selama suami itu taat kepada Allah), maka ia berhak memasuki syurga dari pintu mana saja yang ia suka.

إذا صلت المرأة خمسها و صامت شهرها وحصنت فرجها وأطاعت زوجها قيل لها

ادخلي الجنة من أي أبواب الجنة شئت

 “Apabila isteri telah menunaikan shalat 5 waktu dan puasa di bulan Ramadhan sedangkan ia taat kepada suaminya (selama suami juga taat kepada Allah) maka kelak Allah berfirman kepadanya: silakan engkau masuk ke dalam syurgaku lewat pintu mana saja yang engkau sukai” (HR Ahmad, At Thabrany dan dishahihkan oleh Al Albany).

 Kalau dunia adalah perhiasan dalam kehidupan maka sebaik-baik nilai perhiasan adalah istri yang sholehah. Satu hal yang banyak tidak diketahi para wanita dalam kegiatannya sehari-hari selaku istri, apabila kesibukkan atau kegiatan rutinnya sehari-hari di dalam rumah tangga diniat-lakukan sebagai bakti pada suami karena taqwa, maka semuanya akan bernilai ibadah. Sekiranya hal ini disadari para istri tentunya tidak akan mudah baginya menghadirkan dan menyerahkan urusan rumah tangga pada pembantu, apalagi yang berkaitan langsung dengan suami. Disadari ataupun tidak, istri yang dalam kegiatan rumah-tangganya lebih banyak diserahkan pembantu, langsung ataupun tidak langsung akan membentuk pribadi yang suka memerintah, yang pada akhirnya akan mudah pula baginya untuk bersikap memerintah kepada suami. Untuk itu tidak ada salahnya dalam kesempatan ini kita kenang dan hayati kembali pesan-nasihat Nabi saw kepada putrinya, Fatimah, dengan harapan kita yang telah menjadi penganten lawas dapat merenofasi citra dan nuansa kehidupan rumah tangga ke arah syurgawi, sedangkan untuk ananda berdua, Rizki dan Nurul, sedari dini berupayalah menghiasi rumah tangga dengan nuansa syurgawi. Pesan-nasehat Nabi pada putrinya Fatimah terangkum pada satu riwayat:

Suatu hari Rasulullah Saw datang menjenguk Fatimah. Ditemuinya Fatimah sedang membuat tepung dengan alat penggiling sambil menangis. Rasulullah Saw bertanya, “kenapa menangis wahai anakku?” Fatimah menjawab,” ayah, aku menangis karena batu penggiling ini, dan aku menangis karena merasa lelah dengan kesibukanku yang silih berganti. Fatimah kemudian meminta kepada Nabi saw agar Ali ra membelikan seorang budak yang dapat meringankan pekerjaannya. Apakah Nabi memenuhi permintaan Fatimah. Nasihat yang diberikan Nabi saw kepada Fatimah diantaranya ialah:

Wahai Fatimah

  • Setiap istri membuatkan tepung untuk suami dan anak-anaknya, maka Allah mencatat baginya kebajikan dari setiap butir biji yang tergiling dan menghapus keburukannya serta meninggikan derajatnya. Betapa mulia dan mudahnya bagi seorang istri hanya dengan membuatkan hidangan atau masakan bagi suami dapat mendatangkan kebajikan dan peningkatan derajat.
  • Setiap istri yang berkeringat karena membuatkan bahan makanan untuk suaminya, maka Allah pisahkan antara dirinya dengan neraka
  • Setiap istri menyisirkan rambut anak-anaknya serta mencucikan baju mereka, Allah catatkan untuknya pahala seperti pahala orang yang memberi makan seribu orang sedang kelaparan, dan seperti pahala orang yang memberi pakaian seribu orang telanjang.
  • Apabila  seorang istri mengandung, maka para malaikat memohonkan ampun untuknya dan setiap hari baginya dicatat memperoleh seribu kebajikan dan seribu keburukannya dihapus, apabila rasa sakit (menjelang melahirkan) datang, Allah mencatat untuknya pahala seperti pahala orang-orang berjihad di jalan Allah.
  • Setiap istri yang melayani suaminya dengan niat yang benar, maka dirinya terbebas dari dosa-dosanya sebagaimana ia dilahirkan. Dan Allah memberinya pahala seperti seribu orang berhaji dan berumroh dan seribu malaikat memohonkan ampunan untuknya hingga kiamat.
  • Dan Setiap istri yang tersenyum manis di hadapan suaminya, Allah memperhatikannya dengan penuh rahmat

Sebagai penutup untuk ananda berdua, Rizki dan Nurul, melalui rangkaian ayat-ayat suci Al Qur’an dan Hadits-Hadits Nabi, Kami semua hanya dapat mengantar kalian hingga di dermaga, selanjutnya bahtera rumah-tangga  akan ananda arungi berdua. Samudera manapun  tidak akan sepi dari ombak dan badai. Oleh karena itu berpegang-teguhlah selalu pada wahyu Al-Qur’an selaku pedoman atau kompas yang akan menngarahkan perjalanan menuju keselamatan dan tetaplah berada di atas jalan taqwa, Insya Allah akan kalian dapati Allah memberikan jalan kelapangan dan kemudahan.

Akhirnya para undangan yang hadir  selaku penyaksi disini akan mendo’akan  kalian berdoa

باَرَكَ اللّهُ لَكَ وَباَرَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَ فِيْ خَيْرٍ

“BAARAKALLAHU LAKA WA BAARAKA’ALAIKA

WAJAMA’ABAINAKUMAA FII KHOIR”

Semoga Allah melimpahkan barakah kepada kamu dan menurunkan kebahagiaan atasmu, serta menghimpun kamu berdua dalam kebaikan.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرّيَّاتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ اِمَامًا

Ya Allah, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri dan keturunan yang menyejukkan sebagai cindera matahati kami, dan jadikanlah kami Imam bagi orang-orang yang bertaqwa”. (Q.S.25: 74)

أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ

 

Kesejatian Iman Bertauhid dengan Untaian Akhlaq Ilahiyah

Labuhkan Jiwa Kehidupan di Dermaga Hunian Berkah Berkemakmuran

Lutfi Fauzan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ اَنْزَلَ الْعِيْدَ مِنْ اَكْبَرِ شَعَآ ئِرِ الاِسْلاَمِ

اَشْهَدُ اَنْ لآ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَه لاَ شَرِيْكَ لَه اِلهٌ اِبْتَلى اِبْرَا هِيْمَ خَلِيْلَه

وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُه وَرَسُوْلُه لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ

اَللّهُمَّ صَلّ وَسَلّمْ وَبَا رِكْ عَلى مُحَمَّدٍ وَعَلى الِه   وَصَحْبِه

كَمَا صَلَّيْتَ  وَسَلَّمْتَ عَلى اِبْرَا هِيْمَ وَعَلى الِ اِبْرَا هِيْمَ وَسَلّم تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا   اَمَّا بَعْدُ

فَيَآ اَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ وَالْمُسْلِمَاتُ رَحِمَكُمُ اللهُ اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِىْ بِتَقْوَى اللهَ وَكُوْ نُوْا مَعَ الصَّادِقِيْنَ

اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَا تِه وَلاَ تَمُوْ تُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

اَللهُ اَكْبرَ اَللهُ اَكْبرَ  لآ اِلهَ اِلاَّ اللهُ  وَاَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبرَ وَللهِ الْحَمْدُ

اَللهُ اَكْبرَ كَبِيْرًا وَّالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَّسُبْحنَ اللهِ بُكْرَةً وَّاَصِيْلاً لآ اِلهَ اِلاَّ اللهُ  وَاَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبرَ وَللهِ الْحَمْدُ

قَالَ اللهُ تَعَالى فِىْ كِتَابِهِ الْعَزِيْزُ 

اِنَّآ اَعْطَيْنكَ الْكَوْثَرَط فَصَلّ لِرَبّكَ وَانْحَرْط اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الاَ بْتَرُ

  اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ gema takbir hangat berkumandang di bentangan samudra ke-MahabesaranNYA, bangkit-getarkan kesadaran jiwa-insani yang terlena-buai dalam ayunan kegelap-bodohan, tak sadar laku diri telah guncang-hancurkan tata-rajutan kesetimbangan bersemesta, bukti iman kandas-terupuruk di lumpur keingkaran.

لآ اِلهَ اِ لاَّ الله syahdu lembut tahlil mengalunkan ke-Esaan Ilaahi, di hamparan lorong-lorong hati yang tandus kering-kerontang, bak daun-daun kering berguguran, hina tak berdaya dalam kuasa putaran angin, dengan sentuhan lembut kasih Ilaahi tumbuhkan bibit kesadaran merakit iman dan pandangan tegakkan hidup berpondasi ketauhidan.

وَ لله الْحَمْدُ lantunan merdu senandung tahmid tampilkan keterpujian Ilaahi, dalam keajaiban Maha-karya Ilaahi pada hamparan semesta, dalam jalinan nilai ke-Esaan himpunkan satu-rajutan angggun berkesetimbangan, tumbuh-berkembang dalam kedamaian isyaratkan hidup tanpa pembangkangan melainkan utuh dalam kemurniaan ketaatan.

Ma’asyiral Muslimin-Muslimat rahimakumullah,

10 Dzulhijjah, seiring fajar bergerak berjenjang naik menyibak tirai kegelapan hidup,  getar menggema alunan takbir, tahlil dan tahmid, berkumandang syahdu di seluruh ruas-lorong alam semesta. Jiwa-jiwa yang sakit tertimpa puing-puing runtuhan iman pun turut merangkak bersatu dalam barisan derap langkah berketauhidan iman, berbondong-bondong menuju tanah-tanah lapang dan masjid-masjid yang dimulyakan untuk bersholat Id— Idul Adha bertandang disambut oleh ummat dalam ragam kualitas iman.

اَللهُ اَكْبرَ وَللهِ الْحَمْد

Sebagian yang imannya baru sebatas pengenalan bercampur keraguan, mereka melantunkan takbir dan melaksanakan shalat  sebatas taklid ikut-ikutan tanpa ilmu dan pengertian, mereka mengagungkan Allah masih dalam keadaan mabuk karena tidak mengerti apa yang diucapkan. Mereka hidup dalam keredupan cahaya iman namun sering sombong dan berbangga dengan dosa kebodohan dan keingkaran. Mereka datang bersholat Id dengan memamerkan pakaian batikan warna-warni kemusyrikan dan kemunafiqan, tanpa  beban rasa malu di hadapan Allah. Hidup terjerat dalam rangkaian kesulitan dan musibah pun tidak disadari sebagai akibat laku perbuatan diri menelantarkan iman. Kemusyriqan paling nyata berlangsung pada diri mereka adalah mempersekutukan Allah dengan hawa nafsu, karena gerak-laku perbuatannya dipimpin dan diperintahkan syahwat yang rendah, bukan dari iman yang tumbuh berakar di dalam hati, mereka menjadi orang-orang yang diperbudak nafsunya sendiri.

Sebagian yang lain, yang imannya penuh keyakinan, takbir, tahlil dan tahmid serta sholat Idul Adha yang ditegakkan adalah bagian dari luapan gelora kerinduan bersegera jumpa-sapa dengan Robbnya. Shalatnya sebagai wujud syukur atas limpahan nikmat rahmat dan berkah dalam segala keadaan.  Bukankah nyata wujud kerinduan hati kala bibir-bibir insan-insan berkeimanan murni basah-bergetar tiada henti memuja Kebesaran-Kemuliaan dan Keagungan Robbnya dalam bentuk ungkapan takbir tahlil dan tahmid. Hanya jiwa-jiwa berkelembutan hati yang dapat menyerap setiap getar alunan takbir, tahlil dan tahmid,  lanjut menyusup lembut  di relung-relung hati paling dalam, menyibak-singkap ihwal keberadaan diri yang sesungguhnya lenyap sirna di hamparan samudra ke-Agungan dan ke-Muliaan Ilaahi. tidak ada lagi keakuan diri yang ada dan tampak hanya Dia Allah dengan segala kuasa perbuatan-Nya. Laksana setetes air hujan jatuh di tengah samudra luas, sirnalah diri dari pandangan, demikian haqiqat keberadaan diri kecil tiada berarti lenyap tak terpandang di tengah hamparan kemahabesaran Ilaahi pada bentangan kuasa-ciptaNya di tengah-tengah kehidupan bersemesta. Mereka berada dalam kesaksian  nyata, kemanapun mereka memandang yang terlihat hanyalah ke-Agungan dan ke-Indahan wajah Allah. Pujian terhadap Allah bukan sekedar ungkapan lisan, melainkan bersumber dari ketauhidan-iman, hadirkan cahaya batin menuntun sorot-persaksian Rubbubiyah, sebagaimana penyaksian Nabi Musa di Bukit Thursina, sesaat diri pinsan lenyap dalam leburan Kebesaran Ilaahi lanjut kemudian bangkit ihlaskan hati dalam berketaatan. Hati mereka indah-bersinar terang dalam celup-batikan Asma  Indah Allah. Perbuatan mereka disandangi pakaian indah bermodelkan akhlaq Ilaahiyah indah nan terpuji. Jiwa mereka benar-benar tulus kepada Allah, pengenalan dan pendekatan kepada Allah mereka lakukan melalui penyucian jiwa dan pengolahan akhlaq indah-terpuji. Terbentuklah pada pribadi mereka  keselarasan sifat dengan sifat Allah.

اَللهُ اَكْبرَ وَللهِ الْحَمْد

Apabila hamba berakhlaq terpuji pasti melahirkan perbuatan terpuji pula, maka alam semesta turut menyambut dan menyapa ramah kepada mereka karena turut merasakan pengaruh positif atas keberadaan hamba mukmin sejati, sebagaimana Nabi Muhammad saw, kehadirannya menebarkan rahmat bagi semesta. Sebagai timbal baliknya, alam pun menyerahkan dirinya untuk dikelola, didayamanfaatkan oleh manusia, sehingga terjadilah persahabatan di antara insan dan alam, maka goncangan musibah pun enggan bertandang. Kandungan kekayaan alam yang tersimpan menyerahkan diri kepada hamba beriman selaku khalifatullah di muka bumi untuk merakit-bangun kemakmuran hidup bagi terwujudnya peradaban luhur-sejahtera sebagaimana Allah perintahkan.

اِنَّا نَحْنُ نَرِثُ اْلاَرْضَ وَمَنْ عَلَيْهَا وَاِلَيْنَا يُرْجَعُونَ

Sesungguhnya Kami mewarisi bumi dan semua orang-orang yang ada di atasnya, dan hanya kepada Kamilah mereka dikembalikan. (QS. 19:40)

ُ هُوَ اَنشَاَكُمْ مِنْ اْلاَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا اِلَيْهِ اِنَّ رَبّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ

… Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya kemudian bertobatlah kepada-Nya… (QS. 11:61)

Demikian hamparan kehidupan yang terjadi, bila penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa maka Allah berkahi mereka dari langit dan bumi. Sebagaimana difirmankan:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنْ السَّمَاءِ وَاْلاَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَاَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. 7:96)

اَللهُ اَكْبرَ وَللهِ الْحَمْد

Jamaah Shalat Id rahimakumullah,

Dalam rangkaian ibadah Idul Adha salah satunya disyariatkan memotong hewan qorban, mengisyaratkan manusia diperintahkan menyembelih atau mengorbankan nafsu kebinatangan pada dirinya. Mudah bagi orang berkemampuan harta untuk mengorbankan seekor binatang. namun bagaimana kesediaan mereka mengorbankan nafsu kebinatangannya? Kasihan pula mereka yang berkekurangan harta yang tidak mampu menyediakan binatang qorban jika dipandang syariat itu hanya menyangkut mengorbankan binatang. Dalam makna yang luas sesungguhnya Allah telah memberikan kesempatan kepada setiap hamba-Nya tanpa pandang bulu untuk bersedia mengorbankan nafsu kebinatangannya. Tamak, serakah, tak tahu adat, menindas yang lemah, hanya mengutamakan kepentingan diri adalah contoh-contoh nafsu kebinatangan yang dapat merusak tatanan kehidupan. Selama nafsu tercela dominan di dalam diri, dipastikan segala perbuatan seseorang meskipun tampak bernilai kemanusiaan pada akhirnya menghasilkan kerusakan bagi diri dan pihak lain. Kemakmuran hanya akan terwujud manakala kehidupan tidak lagi didominasi nafsu yang gemar pada ketercelaan akhlaq.

Keimanan tauhid murni akan membawa jiwa seseorang pada tingkat rela berqorban. mengutamakan kepentingan pihak lain dari pada kepentingan diri pribadi sekalipun diri sangat membutuhkan. Sebagaimana dicatat dengan tinta emas dalam tarikh perang Yarmuk. Setelah pasukan Muslim berhasil memukul mundur pasukan Roma, ditemukanlah 3 orang mujahid terluka parah, meregang nyawa dan sangat kehausan. Mereka adalah Al-Harits bin Hisyam, Ayyasy bin Abi Rabi’ah dan Ikrimah bin Abu Jahal. Al-Harits meminta air minum kepada yang tampak membawa kantung minum. Ketika air didekatkan ke mulutnya, ia melihat Ikrimah dalam keadaan seperti yang ia alami. “Berikan dulu kepada Ikrimah,” kata Al-Harits. Ketika air didekatkan ke mulut Ikrimah, ia melihat Ayyasy menengok kepadanya. “Berikan dulu kepada Ayyasy!” ujar Ikrimah. Ketika air minum didekatkan ke mulut Ayyasy, dia telah wafat. Orang yang memberikan air minum segera kembali ke hadapan Harits dan Ikrimah, namun keduanya pun telah menghembuskan nafas terakhirnya sebagai syuhada. Demikian itu gambaran akhlaq terpuji dalam keadaan sakit dan membutuhkan masih juga mengutamakan pihak lain, cerminan jiwa berqorban yang tidak diragukan lagi. Al-Quran juga mengabadikan sikap orang-orang Anshar terhadap kaum Muhajirin yang cintanya kepada saudaranya melebihi cintanya kepada diri sendiri, Sebagaimana difirmankan:

وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ

Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (Q.S. 59: 9)

  Kalau cermin itu kita kita terakan pada kehidupan masyarakat kita dalam berbangsa dan bernegara apa yang dapat kita katakan? Masih tumbuh suburkah karakter masyarakat yang gemar bergotong royong, santun, bersahaja, dan peduli kepada pihak lain itu? Ataukah semua telah tergerus oleh sikap pragmatis-materialistik yang masing-masing maunya mementingkan dan memperkaya diri sendiri sehingga memandang remeh terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Hubungan dengan sesama tidak lebih hanya untuk kepentingan sesaat dan memperalat.  Bagaimana suatu bangsa dapat menghamparkan hunian anggun-berkemakmuran, jika masing-masing pribadi bangsa dan para pelaku jalannya kehidupan bangsa bersibuk diri memenuhi kepentingan pribadi karena rendahnya akhlaq yang mereka miliki. Jaya atau hancurnya suatu bangsa sangat ditentukan pada ada tidaknya akhlaq indah-terpuji, yang diawali pada masing-masing pribadi, dilazimkan dalam keluarga dan disebarkan dalam kehidupan bermasyarakat dengan poros penggeraknya adalah para pemimpin, karena pemimpin mempunyai fungsi untuk mempengaruhi dan mengarahkan yang dipimpin.

اَللهُ اَكْبرَ وَللهِ الْحَمْد

Manusia diperintahkan agar berakhlaq sebagaimana akhlaq Allah dan tidaklah Rasulullah Muhammad saw diperintah kecuali untuk menyempurnakan akhlaq manusia. Nabi adalah ukuran dan teladan dalam akhlaq indah terpuji, dan ketika ‘Aisyah ditanya tentang akhlaq Nabi, dijawab akhlaqnya adalah Al-Qur’an. Lalu, bagaimanakah akhlaq indah terpuji itu tampil dalam berkehidupan jika masyarakat telah meninggalkan Al-Quran. Al-Furqan ayat 25 sangat relevan untuk menggambarkan keadaan masyarakat saat ini:

وَقَالَ الرَّسُولُ يَارَبّ اِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

Berkatalah Rasul: “Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang tidak diacuhkan”. (QS. 25:30)

Ma’asyiral Muslimin-Muslimat rahimakumullah,

Sejenak kita buka lembaran sejarah kehidupan Nabi Ibrahim a.s. sebagai Bapak tauhid dan pemimpin orang-orang bertaqwa yang membangun pondasi ketauhidan pada kehidupan keluarga dan masyarakt dengan buah akhlaq indah-terpuji.  Nabi ibrahim a.s. dapat merubah keadaan  yang semula hamparan tandus menjadi makmur. Tidakkah kita perhatikan betapa dahsyat luar biasanya pengaruh tauhid pada orang  beriman, baik sebagi pribadi maupun sebagai pemimpin yang peduli terhadap generasi yang berada di bawah tanggung jawab kepemimpinannya. Telah ditunjukkan oleh Ibrahim as dan keluarganya,  dari ketauhidan melahirkan jiwa yang fithrah (Ismail as), dari kefithrahan melahirkan mata air pertanda kesubur-makmuran suatu hunian. Dilambangkan ketika Siti Hajar berlari-lari mencari air dihamparan padang pasir tandus, dengan ketauhidan dan berserah diri kepada Allah, dari kaki mungil Nabi Ismail yang dihentakkan memancarkan mata air zam-zam yang hingga saat ini tak pernah ada habisnya. Dari ritual Idul Adha yang terjadi pada peritiwa Nabi Ibrahim as dan kelurganya menyimpulkan keyakinan kita bahwa ketauhidan menyebabkan makmurnya kehidupan suatu bangsa, sebaliknya syirik menyebabkan kehancuran.

Allah telah memulyakan Ibrahim as dan menjadikannya hamba pilihan karena kemurnian tauhidnya yang melahirkan akhlak tinggi, ditunjukkan pada kepeduliannya terhadap genarasi keturunan dan umat yang dipimpinnya

اِنَّا اَخْلَصْنَاهُمْ بِخَالِصَةٍ ذِكْرَى الدَّارِ

Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. (QS. 38:46)

Kepedulian Ibrahim as sebagian tercermin dari doanya:

رَبّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ اَنْ نَعْبُدَ اْلاَصْنَامَ

… “Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala. (QS. 14:35)

 Hasilnya, N. Ibrahim as meninggalkan generasi dengan akhlak yang tinggi pula. Dapat kita perhatikan akhlaq terpuji tercermin dari jawaban pemuda Ismail as yang meskipun siap untuk melaksanakan perintah Allah swt berupa penyembelihan dirinya, mengorbankan diri demi tegaknya tauhid dan terpeliharanya kemakmuran, namun ia tidak mengakui dirinya sebagai orang yang paling baik atau paling sabar, tetapi ia merasa hanyalah bagian dari orang-orang yang sabar karena generasi terdahulu juga sudah banyak yang sabar.

Pertanyaan diarahkan kepada kaum pemuda selaku generasi bangsa, sumbangan apakah yang hendak dipersembahkan sebagai bentuk keikutsertaan membangun tauhid dan kemakmuran bangsa. Akankah pemuda  malah turut andil memperpuruk kondisi negeri dan bangsa yang telah kehilangan pondasi sekaligus pilar-pilar ketauhidan iman dan terlepas dari naungan akhlaq indah terpuji. Menghabiskan waktu di hadapan tayangan tidak bermutu atau suntuk berselancar pada situs-situs murahan dan tak bermoral juga pada aneka game yang tidak mencerdaskan serta membunuh waktu emasmu dengan kegiatan yang tidak bermanfaat dan meningkatkan martabat? Wahai Pemuda Muslim, ketika generasi tua telah meremehkan pentingnya keteladanan, kalianlah harapan bagi negeri ini. Jadilah kalian pemuda yang berpendirian. Tetaplah berpihak pada kebenaran. Pelihara iman dan semangat fitrah kebaikan yang ada pada kalian. Jangan biarkan tercemar oleh virus-virus sekelompok pihak yang tak berguna dan tak bertanggung jawab. Ingatlah jaya-mulya atau runtuhnya suatu bangsa bergantung pada bagaimana akhlak yang disandang pendudukannya, terutama kaum pemuda. Suatu bangsa akan kekal dan berkemakmuran selama masing-masing individu penghuni masyarakat tersebut berpayung-pagar akhlak terpuji. Sebaliknya bila akhlak terpuji telah lenyap, lenyaplah bangsa itu dengan nilai-nilai peradabannya.

اَللهُ اَكْبرَ وَللهِ الْحَمْد

Ma’asyiral Muslimin-Muslimat rahimakumullah,

Pertanyaan untuk kita renung-fikirkan bersama, melihat kenyataan di negeri kita dengan mayoritas Islam terbesar di dunia, marak dilanda bencana-musibah berantai, keramahan persahabatan alamkah terjadi atau kemarahan alam. Boleh jadi muncul pandangan yang lahir dari sebatas mata kepala memandang; “musibah alam adalah bagian dari prilaku alam yang wajar terjadi dalam kurun waktu tertentu”. Pandangan-pendapat demikian hanya akan menjauhkan kehidupan manusia dari keimanan. Mereka dilengah-lalaikan oleh pandangan nafsu-fikiran, hati mereka dibutakan dari kekuasaan Allah, sesungguhnya Allah  yang telah mencipta segala sesuatu dan kehidupan di langit dan di bumi berada dalam genggaman-Nya. Hukum-Nya telah pasti, “Apabila kamu bersyukur Kami Allah tambahkan nikmat kepadamu, dan apabila kamu kufur ketahuilah sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (Q.S.14:7). Lebih lanjut Allah ingatkan melalui firman-Nya pula, “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya” (Q.S.8:25). Kalau mata rantai kesulitan-musibah yang saat ini terus melanda kehidupan belum berhasil menyentuh hati-kesadaran, akankah kita menunggu sehingga dihancurkan sehancur-hancurnya sebagaimana umat-umat terdahulu? Naudzubillah min dzalik. Hanya kemudian Allah menghimbau dengan kelembutan: Belum tibakah saatnya, bagi orang-orang beriman itu untuk tunduk hati mengingat  kepada Allah dan pada kebenaran yang telah turun kepada mereka? (Q.S.57:16).

 Takbir, tahlil dan tahmid menghimbau penuh kasih, pada jiwa-jiwa renta  terbuai nikmat dosa, bangkit membuka kesadaran hati

Lepas-tinggalkan nafsu angkara dilema-nista, bertahta dalam kepongahan jiwa, korbankan fihak lain dengan tekan-paksa

Tunas-tunas muda tertimbun kubur kedzoliman berkuasa, terhentak bangkit tumbuhkan   semangat baru nan membaja

Buka lembar-kelopak kehidupan terpadu dalam kemerdekaan dan keadilan  dalam naungan mahkamah kebenaran

 Langkah tersimpang terjerat di jurang kebanggaan hidup hanya pertontonkan dosa nan nista

Berpacu waktu berkendara kemunafiqan iman menggapai ranumnya buah kejahatan dosa

Jiwa-jiwa ringkih berucap dusta  bagai rongsokan tua pasrah digilas bujuk manis dunia

Terbuai lena dalam masa yang panjang disuntik bius nikmatnya kursi kekuasaan

Tak sadari diri gadaikan iman murni berketauhidan, generasi pun ditelantarkan

 Lihainya virus kegelapan  mencumbu jiwa, tiada sadar hanyut dibawa arus kebodohan

Terjerat langkah di lubang kesulitan berantai, tak sadari wujud dari kemurkaan Ilaahi

Mahligai khayal jadikan manusia mati terkubur tak mampu melihat tanda isyarat

Sesaat boleh jadi berkuasa, tapi tunas kebenaran tak dapat ditimbun rekayasa

Pertolongan Ilaahi bebaskan tunas kebenara dari penjajahan panjangnya

Buka kehidupan makmur bersahaja pondasi santun-berkesetimbangan

Demikianlah takbir, tahlil dan tahmid pada hari  Idul Adha bawakan pesan bagi ummat manusia

Akhirnya, harapan hamba-Mu di tempat ini dan di tempat lainnya Ya Allah:

اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنينَ وَالْمُؤْ مِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالاَمْوَاتِ

Ya Allah ya Rabb kami, bila tidak karena apa yang tidak kami ketahui tentang urusan kami, tentulah kami tidak mengeluh atas segala kehinaan kami. Bila tidak karena dosa-dosa kami, tentulah tidak kami tumpahkan segala air mata kami. Ya Allah ya Rabb kami, dosa-dosa kami telah memenuhi sempadan-sempadan langit dan memberatkan bumi. Betapa banyak rahmat karunia dan kesempatan yang telah Kau curahkan kepada kami, hanya kami sajalah yang senantiasa lengah dan tak pandai bersyukur. Tiada bisa lagi kami beralasan, sebab, telah putus segala jalan untuk beralasan. Kami akui segala dosa kami, ampunilah dosa-dosa kami yang banyak itu, dengan amalan-amalan kebajikan kami yang sedikit.

Rabb, bila Engkau tidak merahmati kecuali yang sungguh-­sungguh ta’at kepada-Mu, maka kami adalah orang yang bersalah – yang bersandar kepada-Mu. Bila Engkau tidak memulia­kan kecuali pada mereka yang berbuat baik, maka kami telah berbuat banyak kesalahan. Jika di hari kiamat kelak tidak ada yang selamat kecuali hanya mereka yang bertaqwa, maka, bagaimanakah kami yang banyak dosa akan berharap per­tolongan? Rabb bila Engkau berkenan mengampuni kami, itu adalah hak dan kuasa-Mu yang Mahaterpuji, tetapi Ya Allah, bagaimana jika Engkau berpaling dari kami, tak mau lagi mendengar kami, dan tidak mengampuni kami, lalu pada siapa kami harus memohon ampun. Sedangkan pemilik ampunan dan rahmat hanyalah Engkau. Jika Engkau berpaling dan tak mau menganggap lagi kepada kami, lalu pada bumi mana kami akan berpijak, pada langit mana kami akan bernaung, sedang seluruh isi semesta adalah milik-Mu, Dan kami tidak lain hanyalah makhluk ciptaan dan hamba-Mu.

Rabb, bila amat kecil ta’at kami, maka pengharapan kami atas rahmat-Mu amatlah besar. Bagaimana kami bisa kembali dengan rasa kecewa sebab tidak mendapatkan anugerah-Mu sedangkan kami masih berharap atas kemurahan-Mu. Rabb, bila dosa-dosa kami mengecilkan harapan atas kemurahan-Mu, maka, besarnya keyakinan kami terhadap kemurah­an-Mu lah yang membesarkan hati kami. Kami masih berbaik sangka dan penuh harap atas kemurahan-Mu. Kami bukanlah mereka yang berputus asa untuk mendapatkan rahmat-Mu. Karena itu, janganlah Engkau kecewa­kan kami.

Rabb, bila Engkau tidak menunjukkan Kebenaran Kalam-Mu, tak mungkin kami sampai padanya. Bila Engkau tidak melepaskan lidahku dan Kau buka hati kami buat berdo’a pada-Mu, tak mungkin kami bisa berdo’a. Rabb, jiwa kami telah Engkau muliakan dengan beriman kepada-Mu, bagaimana akan Engkau hinakan di tumpukan bara api-Mu. Rabb, Engkau telah menunjukkan untuk memohon syurga sebelum kami me­ngenalnya. Lalu, bagaimanakah bila Engkau menolak setelah kami me­mohonnya? Bukankah Engkau Maha Terpuji atas segala apa yang Engkau lakukan, wahai Dzat yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi!

Rabb, jika kami tidak pantas untuk mendapatkan rahmat yang selalu  kami mohon, maka sesungguhnya Engkaulah Dzat yang Mahapan­tas melimpahkan rahmat-Mu kepada kaum yang berdosa berkat Kemahaluasan rahmat-Mu.

Rabb, ketenangan kami takkan terwujud melain­kan dengan pemberian-Mu; cita-cita kami takkan terpenuhi melainkan dengan karuniaMu. Rabb, kumohon petunjuk yang selalu mendekat­kan kami kepada-Mu.

رَبَّنَا اتِنَا فِى الدّنْيَا حَسَنَةً وَّفِىالاخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبّكَ رَبّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلمٌ عَلى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

 

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Catatan: untuk khutbah lisan seyogyanya lebih diringkaskan. Syukron

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.